jump to navigation

Alamat indiGrow Oktober 22, 2009

Posted by indigrow in Pofil indiGrow.
Tags: ,
comments closed

  • Jl. Haruman No. 35 Bandung
  • Telp. (022) 7303244
  • e-mail: indigrow1@yahoo.com
  • Tentang indiGrow April 2, 2009

    Posted by indigrow in Pofil indiGrow.
    Tags: , , , , , , , , , , ,
    comments closed

    Setiap Anak Unik

    Setiap anak unik dan berhak tumbuh dan berkembang optimal. Oleh karenanya setiap anak perlu memperoleh stimulasi, pendidikan dan penanganan yang sesuai agar mampu mengembangkan seluruh potensi fisik, emosi, kognisi, bahasa dan kemandiriannya.

    Jika anak memiliki hambatan dalam satu atau lebih aspek perkembangan tentu iaa tidak berkembang optimal sesuai usia dan potensinya. Oleh karenanya hambatan yang dimiliki anak harus dideteksi sedini mungkin sehingga dapat ditangani dengan cepat untuk hasil yang lebih baik.

    Hambatan dan potensi anak berbeda-beda

    maka penangannya pun akan berbeda

    tergantung kebutuhan setiap anak

    Penangan yang terpadu akan memberikan konsistensi dalam pendekatan, penetapan tujuan dan evaluasi secara menyeluruh terhadap setiap anak sehingga diharapkan dapat dicapai proses pengembangan anak secara optimal.

    Pelayanaan Terpadu

    indiGrow hadir sebagai partner orang tua dan sekolah dalam mengembangkan anak mencapai potensinya. indiGrow membantu menangani masalah perkembangan anak secara terpadu dengan tim ahli perkembangan anak dari berbagai disiplin ilmu: Dokter spesialis anak & konsultan syaraf anak, dokter rehabilitasi medik, psikolog, terapis perilaku, terapis okupasi dan sensori integrasi, terapi wicara serta fisoterapi.

    Pemeriksaan dan Assesment

    • Konsultasi dan pemeriksaan tumbuh kembang dan neurologi anak.
    • Konsultasi dan pemeriksaan psikologi, meliputi: tes potensi/intelegensi, tes kepribadian, tes kematangan sekolah, tes minat dan bakat.
    • Pemeriksaan tim (Dokter spesialis anak & konsultan syaraf anak + psikolog/terapis) Khusus untuk anak dengan kesuitan belajar (disleksia, diskalkulia, disgrafia, autis, asperger, PDD-NOS dan ADD/ADHD.

    Terapi dan Stimulasi

    • Terapi perilaku
    • Terapi wicara
    • Terapi okupasi
    • Terapi sensori integrasi
    • Fisioterapi
    • Remdial terapi/paedagogi
    • Home program untuk menstimulasi perkembangan anak di rumah

    Parent Education and Support Group

    • Evaluasi perkembangan anak secara berkala
    • Family Gathering
    • Seminar dan pelatihan untuk orang tua

    Fasilitas

    indiGrow menyediakan tempat yang nyaman, aman dan menyenangkan serta dilengkapi dengan fasilitas:

    • Ruang individual dan group therapy
    • Ruang trampoline, Gym, dan taman senori
    • Ruang konsultasi dokter dan psikolog
    • Berbagai alat dan mainan edukatif yang mendukung kegiatan terapi

    indiGrow

    “We Treat You Like Family”

    Nutrisi Untuk Miningkatkan Kekebalan Tubuh Anak September 7, 2012

    Posted by indigrow in Uncategorized.
    add a comment

    Tubuh manusia secara terus menerus melindungi dirinya dari “serangan” yang datang dari lingkungan yang membahayakan dirinya. Hal ini dapat dilakukan karena tubuh diperlengkapi dengan serangkaian sistem yang kompleks, terdiri dari sel-sel, berbagai senyawa biokimia, jaringan dan organ-organ tubuh tertentu yang saling berinteraksi membentuk sistem kekebalan tubuh atau yang disebut juga sistem imunitas tubuh.


    Bagaimana tubuh melindungi diri dari pengaruh lingkungan yang buruk..?
    Tubuh manusia secara terus menerus melindungi dirinya dari “serangan” yang datang dari lingkungan yang membahayakan dirinya. Hal ini dapat dilakukan karena tubuh diperlengkapi dengan serangkaian sistem yang kompleks, terdiri dari sel-sel, berbagai senyawa biokimia, jaringan dan organ-organ tubuh tertentu yang saling berinteraksi membentuk sistem kekebalan tubuh atau yang disebut juga sistem imunitas tubuh. Sistem ini bekerja melalui beberapa peran. Sebagai contoh, peran dari sistem saluran cerna.

    Saluran cerna tidak hanya menyarikan dan menyerap zat-zat gizi dari makanan yang masuk tapi juga menghancurkan organisma-organisma patogen yang terkandung dalam makanan tersebut. Kerja sistem imun lain yang berperan lebih fokus dilakukan oleh sel-sel darah putih yang memang mempunyai tugas khusus untuk memerangi organisma-organisma asing yang menyerang tubuh manusia. Adanya defek atau “kelemahan” sistem imun dapat mengganggu kemampuannya untuk mengenali dan menghancurkan organisma asing sehingga meningkatkan kerentanan terhadap timbulnya berbagai penyakit.

    Bagaimana supaya sistem kekebalan tubuh tetap bekerja optimal..?
    Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fungsi kekebalan tubuh tergantung pada beberapa hal, terutama asupan makanan dan pola kehidupan yang sehat. Disebutkan juga bahwa aktifitas fisik dan status emosi yang sehat merupakan faktor penting yang mendukung sistem kekebalan tubuh agar dapat berfungsi dengan baik.

    Apakah si kecil sudah mendapatkan asupan makanan sehat..?
    Nutrisi yang tepat adalah asupan makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral dalam jumlah dan proporsi yang seimbang sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan, energi, sistem kekebalan  dan status kesehatan secara keseluruhan. Jumlah makanan tentu disesuaikan dengan usia anak. Sedangkan komposisi makanan dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok karbohidrat yang terdiri dari roti, sereal, nasi dan pasta; kelompok kedua adalah sayuran, kelompok ketiga adalah buah-buahan, kelompok keempat adalah makanan sarat protein seperti daging, ikan, ayam/unggas, telur, dan kacang-kacangan, dan kelompok kelima adalah produk susu yang terdiri dari susu atau yogurt dan berbagai produk terbuat dari keju. Kelima kelompok makanan ini tersusun dalam bentuk piramid, dimana kelompok pertama merupakan dasar piramid, disusul kelompok makanan kedua dan ketiga di atasnya, dan kelompok makanan keempat dan kelima di atasnya lagi.

    Yang menjadi puncak piramid makanan adalah makanan mengandung lemak, minyak dan gula. Hal ini menunjukkan bahwa tiap kelompok makanan mengandung sebagian, tapi tidak semua, dari kandungan gizi yang dibutuhkan. Makanan dari kelompok yang satu tidak dapat menggantikan makanan di kelompok lainnya. Tidak ada satu kelompok makanan pun yang lebih penting daripada yang lain. Untuk mendapatkan asupan makanan yang sehat, anak harus mendapatkan semua kelompok makanan tersebut dalam jumlah dan proporsi yang seimbang seperti yang telah digambarkan di dalam piramid makanan tersebut.

    Karbohidrat
    Karbohidrat  ditemukan pada tumbuhan dalam bentuk gula dan zat tepung. Zat tepung merupakan gula dalam bentuk rantai yang lebih panjang dan kompleks, dan sebelum diserap di usus halus, zat ini dipecah dulu menjadi bentuk gula yang lebih sederhana. Zat gula pun terdiri dari berbagai bentuk seperti sukrosa, laktosa dan glukosa.
    Baik zat gula dan zat tepung memberikan energi bagi tubuh untuk terus beraktivitas. Makanan yang mengandung zat tepung juga mengandung serat dan vitamin.
    Gula bisa didapatkan dari buah, susu (laktosa), atau gula meja; sedangkan zat tepung diperoleh dari sereal, buah, sayur dan kacang.

    Serat
    Kenapa disebut “serat”? Sebagian makanan yang telah diproses ternyata sulit dicerna oleh usus halus, menyerupai sifat serat, itulah sebabnya kelompok makanan ini disebut makanan berserat. Serat mempunyai tugas penting untuk menjaga usus besar sehat. Pada anak, asupan serat yang cukup akan membantu menghindari buang air besar yang keras karena serat memperbaiki pergerakan usus, melunakkan tinja, dan mempercepat waktu yang dibutuhkan makanan untuk berjalan melalui usus halus. Kebanyakan makanan yang berasal dari tumbuhan mengandung serat. Serat banyak ditemukan dalam kulit padi, sereal (terutama biji-biji padian), beras merah, kacang-kacangan seperti kacang polong, buah dan sayuran. Jus buah hanya mengandung sedikit serat, oleh karena itu lebih dianjurkan untuk memakan buah secara utuh.

    Protein
    Protein merupakan zat yang terbentuk dari serangkaian asam amino. Tubuh kita dapat membuat sebagian dari asam amino tersebut, namun sebagian lagi harus didapatkan dari luar tubuh berupa makanan. Protein berfungsi untuk pembentukan organ tubuh. Otot dan darah kaya akan kandungan protein. Dimana protein bisa didapatkan? Protein hewani didapatkan dari daging, ikan, keju, yogurt, telur dan susu, dan mengandung asam amino yang lengkap. Sedangkan protein nabati (dari tumbuhan) didapatkan dari buncis, kacang polong, biji padi, dan kacang-kacangan lainnya, namun kelompok ini  mengandung protein yang kandungan asam aminonya tidak selengkap protein hewani.
    Anak membutuhkan protein untuk pertumbuhan dan perkembangan organ-organ tubuhnya, termasuk pembentukan jaringan baru, dan juga membentuk antibodi yang merupakan salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh. Tanpa asam amino esensial, anak menjadi jauh lebih rentan terhadap penyakit-penyakit serius.

    Lemak
    Lemak menghasilkan energi dan tenaga bagi tubuh, namun jika tidak segera digunakan maka lemak akan disimpan sebagai cadangan energi saat kita kelaparan. Selain sebagai salah satu sumber energi, lemak dibutuhkan untuk mendukung berbagai proses dalam tubuh seperti metabolime tubuh, pembekuan darah, dan untuk proses penyerapan vitamin-vitamin tertentu.  Oleh karena itu lemak penting untuk menjadi salah satu asupan makanan anak. Namun konsumsi tinggi lemak terutama lemak yang tersaturasi (daging sapi, babi, kambing, susu, keju dan es krim) dapat berkontribusi menimbulkan plak atau sumbatan di pembuluh darah, serta meningkatkan tekanan darah di kemudian hari. Oleh karena itu anak usia diatas 2 tahun disarankan untuk mulai mengkonsumsi makanan dengan kandungan lemak yang lebih rendah, tidak tersaturasi (minyak sayur dan minyak ikan), rendah kolesterol (seperti: ayam, ikan, daging yang direbus, dibakar atau dipanggang; bukan digoreng), margarin rendah lemak (sebagai  pengganti mentega), produk susu yang rendah lemak, dan minyak sayuran yang rendah lemak.

    VITAMIN dan MINERAL
    Kedua kelompok  ini merupakan elemen penting dari keseluruhan kebutuhan zat gizi anak. Karena tubuh manusia tidak dapat mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral, maka kedua zat ini harus didapatkan dari asupan makanan. Tubuh hanya membutuhkan sejumlah kecil vitamin, dan jika asupan makanan anak cukup baik dan seimbang, biasanya kebutuhan akan vitamin dan mineral sudah mencukupi dan tidak dibutuhkan suplementasi lagi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa vitamin dan mineral tertentu merupakan nutrient yang berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh manusia, yaitu vitamin A, vitamin C, vitamin D, vitamin E, zat besi dan zinc.
    Vitamin A
    Vitamin A sebagai retinol atau beta-carotene merupakan immune-supportive nutrient. Banyak penelitian menunjukkan kemampuan vitamin A untuk menurunkan insidensi dan tingkat keparahan penyakit-penyakit infeksi. Vitamin A mendukung kekebalan tubuh dengan cara memelihara integritas atau keutuhan dari permukaan mukosa. Membran mukosa adalah permukaan lapis terluar yang melindung sistem organ di dalam tubuh, misalnya sistem saluran napas dan sistem saluran cerna. Membran mukosa pada kedua sistem ini secara natural bertugas sebagai barrier atau pelindung tubuh dari segala organisma pathogen yang masuk. Vitamin A juga meningkatkan respons antibodi dan meningkatkan penggandaan jumlah sel darah putih yang dikenal sebagai salah satu komponen sistem kekebalan tubuh.. Selain itu vitamin A membantu fungsi penglihatan dimalam hari serta kemampuan membedakan warna. Sumber yang kaya vitamin A adalah sayuran berwarna hijau, merah dan oranye (terutama karoten dalam wortel), produk susu dan hati.

    Vitamin C (asam askorbat)
    Vitamin C merupakan vitamin yang paling dikenal sebagai immune-stimulating nutrient.  Banyak penelitian menunjukkan bahwa vitamin C bekerja pada beberapa tingkat untuk mendukung fungsi kekebalan tubuh. Selain itu, untuk meningkatkan aktivitas sel-sel imun, vitamin C berperan sebagai cofactor dalam pembentukan kolagen, yang merupakan protein utama pada seluruh jaringan kolagen.  Dengan cara membantu memelihara dan menjaga keutuhan struktur jaringan tubuh yang saling berkoneksitas satu sama lain, maka vitamin C mencegah penyebaran infeksi ke seluruh bagian tubuh. Selain memperkuat otot dan kulit, vitamin C juga mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan kekebalan terhadap infeksi. Manusia tidak dapat memproduksi vitamin C dalam tubuhnya sehingga harus didapatkan asupan dari makanan sehari-hari misalnya dari buah sitrus, stroberi, tomat, kentang, bayam, brokoli, kubis, dan tauge.

    Vitamin D (Cholecalciferol)
    Vitamin D merupakan zat nutrisi yang dapat ditemukan dalam lemak, tapi dapat juga dibentuk oleh tubuh dari sinar matahari yang mengenai kulit manusia. Vitamin D mengatur metabolisme kalsium dan fosfor sehingga penting untuk pembentukan tulang yang kuat. Selain itu vitamin D ini juga terlibat dalam proses pertumbuhan sel dan pembentukan sistem kekebalan tubuh. Makanan yang kaya vitamin D antara lain adalah ikan, hati, mentega, margarine dan telur.

    Vitamin E (Tocopherol)
    Vitamin E yang terkandung dalam sel-sel imun mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan yang terkandung dalam sel-sel lainnya. Sel darah putih sebagai salah satu “sel imun”, sering menggunakan radikal bebas untuk membantu menghancurkan organisma patogen. Makin tinggi konsentrasi antioksidan nya – termasuk vitamin E – makin memungkinkan sel darah putih untuk menggunakan kekuatan radikal bebas tanpa “melukai” sel darah putih nya itu sendiri. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa manusia dengan kadar vitamin E lebih rendah, secara bermakna menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap infeksi dibandingkan dengan manusia yang memiliki kadar vitamin E lebih tinggi.  Vitamin E ditemukan pada minyak sayur, ikan laut, kacang, telur dan sereal.

    Zat Besi
    Zat besi merupakan mineral penting dalam diet anak karena zat ini dibutuhkan untuk membuat haemoglobin, (bagian “merah” dari darah), yang tugasnya membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh. Zat besi juga penting bagi sistem saraf (untuk pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak), untuk pertumbuhan badan dan membantu tubuh melawan infeksi. Zat besi ditemukan pada daging, terutama daging merah (sapi, kalkun, babi), hati, telur, makanan laut, biji padi, sereal dan kacang polong. Kekurangan zat besi atau anemia zat besi pada anak dapat terjadi saat fase pacu tumbuh (seperti saat sebelum lahir, dan beberapa bulan setelah lahir) dan saat terjadi kehilangan darah secara regular yaitu pada anak perempuan yang sudah mengalami menstruasi. Hal ini akan mengganggu tingkat energi, pertumbuhan dan perkembangan anak.

    Zinc
    Zinc merupakan mineral yang berfungsi mempercepat pertumbuhan sel-sel imun.  Zinc membantu memelihara kesehatan kelenjar timus dan meningkatkan fungsi sel-sel imun penting lainnya, seperti imfosit dan sel imun lain yang berfungsi sebagai penghancur organisma patogen, sehingga membantu proses penyembuhan luka atau penyakit infeksi. Selain mendukung sistem kekebalan tubuh, Zinc juga dibutuhkan untuk pertumbuhan, penglihatan, pengecapan dan pembauan (smell). Zinc ditemukan pada daging, makanan laut, telur, dan produk susu.
    Sistem kekebalan tubuh yang baik merupakan pertahanan tubuh natural yang akan melawan organisma patogen penyebab berbagai penyakit. Oleh karena itu sudah saatnya kita memperhatikan asupan makanan putra putri kita agar sesuai dengan pola makanan yang sehat baik jumlah, proporsi maupun kandungan zat-zat yang dibutuhkan untuk mendukung kekebalan tubuhnya.

    dr. Kristiantini Dewi Sp.A

    DISLEKSIA (Si Pintar yang Sulit Membaca) Oktober 29, 2010

    Posted by indigrow in Specific Learning Disability.
    Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
    comments closed

    Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan moment istimewa yang senantiasa menjadi bagian perhatian orang tua. Setiap ada kemampuan baru yang dicapainya merupakan prestasi tak ternilai bagi sang ayah bunda, dan sebaliknya, setiap hambatan dalam tumbuh kembangnya merupakan hal yang sangat merisaukan orang tua. Kemunduran dalam prestasi belajar termasuk salah satu diantara hal yang cukup mengkhawatirkan orang tua, apalagi jika pihak sekolah sudah mulai memberi “peringatan” atau “label-label” tertentu pada sang buah hati. Sayangnya, orang tua dan guru seringkali terlambat mengenali penyebab permasalahan yang dihadapi anak kita, sehingga anak baru dibawa berkonsultasi setelah mengalami gangguan belajar yang sangat mengkhawatirkan bahkan tidak jarang anak sudah terlanjur mengalami stress atau depresi akibat masalah yang dihadapinya tersebut. Oleh karena itu kali ini kita akan bahas salah satu penyebab gangguan belajar (learning disability = LD) yang tersering terjadi, yang kita kenal dengan istilah disleksia.

    Disleksia (atau disebut juga sebagai gangguan membaca spesifik) pada anak dilaporkan pertama kali pada tahun 1896 dan merupakan salah satu bentuk gangguan belajar yang paling sering, yaitu mengenai sekitar 80% dari kelompok individu dengan gangguan belajar.

    APA YANG DIMAKSUD DENGAN DISLEKSIA

    Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia ini tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya di atas normal. Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan  dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol. Beberapa ahli lain mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi pemprosesan input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali ditandai dengan kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi area kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi dan pengendalian gerak. Dapat terjadi kesulitan visual dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek perkembangan.

    Secara lebih khusus, anak disleksia biasanya mengalami masalah masalah berikut:

    1. Masalah fonologi

    Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran namun berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.

    2. Masalah mengingat perkataan

    Kebanyakan anak disleksia mempunyai level intelegensi normal atau di atas normal namun mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama teman-temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu cerita namun tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.

    3. Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial

    Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa” susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal orang tua sudah mengingatkannya bahkan mungkin sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang jam 8 pagi. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung” dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.

    4. Masalah ingatan jangka pendek

    Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR matematikanya ya”, maka kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya.

    5. Masalah pemahaman sintaks

    Anak disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan Diterangkan–Menerangkan (contoh: tas merah), namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan Menerangkan-Diterangkan (contoh: red bag).

     

    DISLEKSIA DAN OTAK KITA

    Pada tahun 1878 dr. Kussmaul dari Jerman melaporkan adanya seorang lelaki yang mempunyai kecerdasan normal tapi tidak dapat membaca, beliau menamakan keadaan ini sebagai “buta membaca” (reading blindness). Tahun 1891 Dejerine telah melaporkan bahwa proses membaca diatur oleh bagian khusus dari system saraf manusia yaitu di bagian belakang otak.  Pada tahun 1896, British Medical Journal melaporkan artikel dari Dr. Pringle Morgan, mengenai seorang anak laki berusia 14 tahun bernama Percy yang pandai dan mampu menguasai permainan dengan cepat tanpa kekurangan apapun dibandingkan teman temannya yang lain namun Percy tidak mampu mengeja, bahkan mengeja namanya sendiri sebagai “Precy”.

    Penelitian terkini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan anatomi antara otak anak disleksia dengan anak normal, yakni di bagian temporal-parietal-oksipitalnya (otak bagian samping dan bagian belakang). Pemeriksaan functional Magnetic Resonance Imaging yang dilakukan untuk memeriksa otak saat dilakukan aktivitas membaca ternyata menunjukkan bahwa aktivitas otak individu disleksia jauh berbeda dengan individu biasa terutama dalam hal pemprosesan input huruf/kata yang dibaca lalu “diterjemahkan” menjadi suatu makna.


    BAGAIMANA MENGENALI DISLEKSIA

    Berikut ini adalah tanda tanda disleksia yang mungkin dapat dikenali oleh orang tua atau guru:

    • Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya
    • Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay
    • Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’
    • Membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya
      • Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).
      • Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”)
      • Tdak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai
      • Tertukar tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama)
    • Daya ingat jangka pendek yang buruk
    • Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar
    • Tulisan tangan yang buruk
    • Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung
    • Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek
    • Kesulitan dalam mengingat kata-kata
    • Kesulitan dalam  diskriminasi visual
    • Kesulitan dalam persepsi spatial
    • Kesulitan mengingat nama-nama
    • Kesulitan / lambat mengerjakan PR
    • Kesulitan memahami konsep waktu
    • Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan
    • Kebingungan atas konsep alfabet dan simbol
    • Kesulitan mengingat rutinitas aktivitas sehari hari
    • Kesulitan membedakan kanan kiri

     

    DIAGNOSIS

    Tidak ada satu jenis tes pun yang khusus atau spesifik untuk menegakkan diagnosis disleksia. Diagnosis disleksia ditegakkan secara klinis berdasarkan cerita dari orang tua, observasi dan tes tes psikometrik yang dilakukan oleh dokter anak atau psikolog. Selain dokter anak dan psikolog, professional lain seyogyanya juga terlibat dalam observasi dan penilaian anak disleksia yaitu dokter saraf anak (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan neurologis), audiologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan pendengaran), opthalmologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan penglihatan), dan tentunya guru sekolah.

    Anak disleksia di usia pra sekolah menunjukkan adanya keterlambatan berbahasa atau  mengalami gangguan dalam mempelajari kata-kata yang bunyinya mirip atau salah dalam pelafalan kata-kata, dan mengalami kesulitan untuk mengenali huruf-huruf dalam alphabet, disertai dengan riwayat disleksia dalam keluarga.

    Keluhan utama pada anak disleksia di usia sekolah biasanya berhubungan dengan prestasi sekolah, dan biasanya orang tua  ”tidak terima” jika guru melaporkan bahwa penyebab kemunduran prestasinya adalah kesulitan membaca. Kesulitan yang dikeluhkan meliputi kesulitan dalam berbicara dan kesulitan dalam membaca (table 1).

    Tabel 1. Pertanda disleksia pada anak usia sekolah dasar

    Kesulitan dalam berbicara

    Salah pelafalan kata-kata yang panjang

    Bicara tidak lancar

    Menggunakan kata-kata yang tidak tepat dalam berkomunikasi

    Kesulitan dalam membaca

    Sangat lambat kemajuannya dalam ketrampilan membaca

    Sulit menguasai / membaca kata-kata baru

    Kesulitan melafalkan kata kata yang baru dikenal

    Kesulitan membaca kata-kata ”kecil” seperti : di, pada, ke

    Kesulitan dalam mengerjakan tes pilihan ganda

    Kesulitan menyelesaikan tes dalam waktu yang ditentukan

    Kesulitan mengeja

    Membaca sangat lambat dan melelahkan

    Tulisan tangan berantakan

    Sulit mempelajari bahasa asing (sebagai bahasa kedua)

    Riwayat adanya disleksia pada anggota keluarga lain

    Shaywitz S. Overcoming dyslexia. Ney York: Alfred A Knopf, 2003:12-124

     

    JENIS-JENIS DISLEKSIA

    Sebagian ahli membagi disleksia sebagai disleksia visual, disleksia auditori dan disleksia kombinasi (visual-auditori). Sebagian ahli lain membagi disleksia berdasarkan apa yang dipersepsi oleh mereka yang mengalaminya yaitu persepsi pembalikan konsep (suatu kata dipersepsi sebagai lawan katanya), persepsi disorientasi vertical atau horizontal (huruf atau kata berpindah tempat dari depan ke belakang atau sebaliknya, dari barisan atas ke barisan bawah dan sebaliknya), persepsi teks terlihat terbalik seperti di dalam cermin, dan persepsi dimana huruf atau kata-kata tertentu jadi seperti “ menghilang”.

    Tidak semua anak disleksia menampilkan seluruh tanda / ciri /karakteristik seperti yang disebutkan di atas. Oleh karena itu terdapat gradasi mulai dari disleksia yang bersifat ringan, sedang sampai berat.

     

    SIAPA SAJA YANG DAPAT MENGALAMI DISLEKSIA ?

    Siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa atau latar belakang sosio-ekonomi-pendidikan, bisa mengalami disleksia, namun riwayat keluarga dengan disleksia merupakan faktor risiko terpenting karena 23-65% orang tua dileksia mempunyai anak disleksia juga. Pada awalnya anak lelaki dianggap lebih banyak menyandang disleksia, tapi penelitian-penelitian terkini menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara jumlah laki dan perempuan yang mengalami disleksia. Namun karena sifat perangai laki-laki lebih kentara jika terdapat tingkah laku yang bermasalah, maka sepertinya kasus disleksia pada laki-laki lebih sering dikenali dibandingkan pada perempuan.

    BISA SEMBUH ‘GAK…?

    Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. ”Ketidak mampuannya” di masa anak yang nampak seperti ”menghilang” atau ”berkurang” di masa dewasa bukanlah karena disleksia nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya tersebut.

    APA YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK ANAK DISLEKSIA

    • Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
    • Anak duduk di barisan paling depan di kelas
    • Guru senantiasa mengawasi/ mendampingi saat anak diberikan tugas, misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
    • Guru dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas)
    • Anak disleksia yang sudah menunjukkan usaha keras untuk berlatih dan belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup
    • Melatih anak menulis sambung sambil memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan sambung memudahkan murid membedakan antara huruf yang hampir sama misalnya ’b’ dengan ’d’. Murid harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung karena kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja. Pembentukan huruf yang betul sangatlah penting dan murid harus dilatih menulis huruf huruf yang hampir sama berulang kali. Misalnya huruf-huruf dengan bentuk bulat: ”g, c, o, d, a, s, q”, bentuk zig zag:”k, v, x, z”, bentuk linear:”J, t, l, u, y, j”, bentuk hampir serupa:”r, n, m, h”
    • Guru dan orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka lebih senang menggunakan sistem belajar yang praktikal. Selain itu kita perlu menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu soal matematika, oleh karena itu tidak bijaksana untuk ”memaksakan” cara penyelesaian yang klasik jika cara tersebut sukar diterima oleh sang anak.
    • Aspek emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman-temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat ”perbedaan” yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak percaya diri. Dan jika hal ini tidak segera diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah orang-orang terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.

     

    Mengingat demikian ”kompleks”nya keadaan disleksia ini, maka sangat disarankan bagi orang tua yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda seperti tersebut di atas, agar segera membawa anaknya berkonsultasi kepada tenaga medis profesional yang kapabel di bidang tersebut. Karena semakin dini kelainan ini dikenali, semakin ”mudah” pula intervensi yang dapat dilakukan, sehingga anak tidak terlanjur larut dalam kondisi yang lebih parah.

    Kristiantini Dewi dr., SpA (Indigrow Child Development Center)

    Referensi:

    • J.H. Menkes, H.B. Sarnat B.L. Maria (2005). Learning disabilities, dalam: JH. Menkes, HB. Sarnat (penyunting). Child neurology, edisi ke-7. Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia
    • Sally, Shaywitz, Bennett (2006). Dyslexia, dalam: KF. Swaiman, S. Ashwal, DM. Ferreier (penyunting). Pediatric neurology principles and practice, volume 1, edisi ke-4. Mosby, Philadelphia
    • S. Devaraj, S. Roslan (2006). Apa itu disleksia, panduan untuk ibu bapa, guru dan kaunselor, dalam: S. Amirin (penyunting).  PTS Profesional, Kuala Lumpur
    • G. Reid (2004). Dyslexia: A complete guide for parents. John Wiley and Sons, Ltd, England
    • R. Frank (2002). The secret life of dyslexic child, a practical guide for parents and educators. The Philip Lief Group, Inc, 2002

    NONTON TV….., dampingi yuk…!! September 30, 2010

    Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
    Tags: , , , , ,
    comments closed

    Banyak orang tua yang sangat mengkhawatirkan kebiasaan putra putrinya menonton televisi. Seperti yang sering kita temui dalam banyak keluarga, anak berteman dekat, bahkan seperti yang “nempel” dengan si kotak ajaib tersebut. Tidak jarang kita lihat anak yang punya kebiasaan bangun tidur langsung nonton tv, lalu makan pagi, makan siang maupun makan malam, semuanya dilakukan sambil nonton tv. Bahkan serin pula kita temukan anak yang belajar nya pun sambil menonton tv. Kalau sudah seperti ini, hirauan dari ayah dan bunda pun sepertinya angin lalu saja, malah kadang-kadang terpaksa harus “mengalah” pada kemauan anak-anaknya… Wah, sepertinya orang tua perlu kiat-kiat khusus ya untuk menyikapi “adat” si kecil…. Kita simak yuk, apa saja sih keuntungan dan kerugian menonton tv bagi si kecil, dan bagaimana trik nya agar putra putri kita mendapatkan manfaat maksimal dari kegiatan yang mengasyikan ini….

    Keuntungan dan kerugian :

    Tidak dapat disangkal lagi menonton tv memang merupakan kegiatan yang mengasyikkan, tidak hanya untuk anak-anak kita, tapi juga bagi kita orang dewasa. Televisi memang sarat dengan hiburan yang menyenangkan untuk segala usia, dan juga merupakan sarana pendidikan yang cukup efektif. Sebetulnya sudah banyak program pendidikan yang dikemas menarik ditayangkan di televisi, seperti tentang program mengenal huruf, mengenal angka, mempelajari benda-benda dan kegiatan-kegiatan sehari-hari, memperkenalkan adat istiadat tiap suku, sampai dengan program yang memandu anak membuat karya tertentu atau mengajak mereka mengenali dan memahami proses pembuatan suatu hal yang menarik (proses pembuatan film kartun, proses pembuatan coklat, dan lain-lain). Namun, jika kegiatan menonton tv menjadi dominan dalam kehidupan anak, dengan sendirinya akan membatasi peluang anak untuk melakukan kegiatan lain, yang mungkin tidak kalah pentingnya bagi perkembangan sang anak. Menonton tv merupakan kegiatan yang pasif, tidak ada interaksi aktif antara anak dengan acara yang ditontonnya. Padahal anak tumbuh dan berkembang membutuhkan kegiatan lain yang sifatnya interaktif, seperti bermain, berkomunikasi dengan lingkungannya, berolah raga, mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, dan juga butuh pengalaman nyata atas berbagai situasi dan kondisi dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal seperti itu tentu tidak bisa didapatkan dari hanya sekedar menonton tv. Selain itu, respons tiap anak terhadap acara tv sangat tergantung kepada usianya dan kematangan kepribadian / mentalnya. Kalau salah-salah menyajikan tontonan pada putra putri kita, wah…bisa-bisa bukan manfaat yang didapatkan melainkan hanya buang-buang waktu dan energi saja.

    Sebetulnya apa saja yang mungkin didapatkan oleh si kecil saat menonton TV, coba simak berikut ini:

    • Menonton tv merupakan media dimana anak menyaksikan sesuatu yang berulang-ulang, misalnya pola prilaku tokoh-tokoh tertentu dalam sebuah film, pola kehidupan para orang dewasa (misalnya artis), pola kejahatan, dan lain sebagainya. Bukan tidak mungkin, akhirnya tanpa kita sadari, anak mengadopsi pola yang disaksikannya tersebut sehingga mempengaruhi cara berpikirnya, cara berbicaranya, cara mengatasi masalah, cara berinteraksi dengan orang lain. Kalau yang disaksikan mereka adalah sesuatu yang bersifat positif, tentu ada kebaikan yang dapat kita petik. Tapi bagaimana kalau yang dilihat berulang-ulang adalah tayangan yang sifatnya negatif, atau tidak sesuai dengan usia anak? Tentunya berpengaruh buruk juga pada perkembangan mereka.
    • Penelitian menunjukkan bahwa anak yang baru saja selesai menonton tv, mengalami kesulitan menekuni „tugas belajar“ atau permainan edukatif tertentu yang sifatnya membutuhkan waktu agak lama, seperti membaca, atau bermain puzzle. Dan anak yang memiliki pesawat tv dalam kamar pribadinya (otomatis pola menonton tv tidak terkendali oleh orang tuanya), memiliki prestasi akademis yang lebih buruk dibandingkan yang tidak melakukan hal yang sama.
    • Anak yang terlalu „nempel“ dengan si kotak ajaib, kehilangan kesempatan untuk bermain, belajar, berkomunikasi, berpikir, bersosialisasi dan berolahraga, atau dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya „active learning“.
    • Anak usia dibawah 6 tahun masih sulit membedakan antara khayalan dengan kenyataan yang ditampilkan di tv. Mereka belum mengerti membedakan sebab dan akibat.
    • Anak usia 6-9 tahun juga masih sering belum dapat menerima suatu tayangan sebagai suatu „rekayasa“, apalagi jika yang ditampilkan tersebut terjadi dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka juga sangat mengagung-agungkan idolanya.
    • Anak baru gede (alias ABG = remaja) sangat terpengaruh dengan tayangan yang sarat dengan unsur materi, dan mereka sangat tertarik pada tayangan yang memuat dunia mereka yaitu tentang pergaulan laki dengan perempuan, tentang hal-hal yang berbau seks dan juga gaya hidup remaja.
    • Anak dibawah 8 tahun „sangat percaya“ pada iklan yang dilihatnya, bahkan „termakan“ rayuan iklan yang belum tentu baik untuk tumbuh kembangnya.
    • Anak di segala usia akan terganggu dan tidak nyaman menyaksikan tayangan yang bermuatan kesadisan atau kekejaman, baik kejahatan yang menimpa binatang, menimpa anak seusianya, atau kejahatan yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Tayangan kejahatan dapat mengakibatkan anak menjadi lebih agresif dalam menyelesaikan masalah, atau mereka menjadi cemas / ketakutan jika membayangkan hal-hal tersebut terjadi dalam kehidupan sebenarnya, atau mereka malah menjadi individu yang „kurang sensitif“ terhadap adanya tindak kejahatan di sekitarnya.
    • Anak yang masih muda cenderung belum siap dan tidak dapat membedakan apakah berita yang terjadi di televisi akan sangat mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari atau hanya peristiwa yang mungkin terjadi namun langka.
    • Jika suatu berita terus ditayangkan berulang-ulang (misalnya: tsunami, gempa bumi, huru hara, dsb), anak bisa berpikir bahwa kejadian tersebut memang secara nyata terjadi berulang-ulang juga
    • Anak laki, anak yang menonton TV 3 jam atau lebih dalam sehari, dan anak-anak dengan latar belakang mengalami kekerasan dalam keluarga, serta anak dari keluarga yang tidak harmonis, merupakan kelompok anak yang paling rentan terpengaruh atas tayangan bermuatan kejahatan.

    Kalau begitu, apa yang dapat kita lakukan sebagai orang tua agar mereka mendapatkan keuntungan maksimal dari kegiatan menonton tv, dan sebaliknya, meminimalisasi segala efek buruk yang mungkin didapat putra putri kita?

    • Ajarkan anak untuk ikut mengelompokkan tayangan-tayangan yang mereka sukai menjadi kelompok „Perlu ditonton“ (P), „Boleh ditonton“ (B), dan „Tidak bermanfaat ditonton“ (TB)
    • Ajak putra putri anda untuk ikut merencanakan tayangan mana yang akan ditonton, dan buat kesepakatan berapa jam sehari mereka boleh menonton. Arahkan mereka untuk memprioritaskan menonton tayangan kategori „P“, baru kategori „B“, dan sedapat mungkin meninggalkan tayangan kategori „TB“.
    • Dampingi selalu anak-anak saat menonton TV, pancing mereka agar terjadi dialog interaktif dengan orang tua dengan topik isi tayangan tersebut. Tanyakan apa yang mereka pikirkan tentang tayangan tersebut, dan sampaikan pendapat orang tua mengenai acara tersebut, dst.
    • Tanyakan perasaan anak setelah menonton tayangan tersebut, dan jika mereka menjadi agak stres setelah menonton tayangan tertentu, biarkan anak menceritakan apa yang dirasakannya, dan mengapa dia merasa seperti itu. Anak mungkin pernah mengalami hal yang sama sebelumnya, entah di lingkungan rumah, atau di lingkungan sekolahnya, yang telah membuat dia stres karena takut akan berulang lagi. Bicaralah pada mereka dengan lembut dan tenangkan.
    • Buat peraturan dimana TV tidak akan dinyalakan sebelum seluruh kewajiban selesai dilaksanakan (belajar, makan, les, dsb), atau jika memang belum jadwal nonton TV yang disepakati
    • Tempatkan TV di ruang keluarga, sehingga orang tua dapat mengontrol kapan anak menonton tv.
    • Hindari menonton tv saat sebelum berangkat sekolah, karena dapat berpengaruh terhadap „mood“ anak selanjutnya di hari itu dan mungkin anak jadi terburu-buru sarapan pagi dan tidak siap ke sekolah tepat waktu.
    • Hindari nonton tv berlebihan. Anak dibawah 2 tahun hanya sebentar saja menonton tv, anak usia pra sekolah kurang dari 1 jam per hari waktunya diperkenankan untuk menonton tv, sedangkan anak 5-8 tahun tidak lebih dari 1 jam per hari. Anak yang lebih besar, mungkin dapat diperkenankan menghabiskan 1,5 jam per hari untuk menonton tv.

    Ingatlah, bahwa anak masih dalam taraf „meniru“. Jadi kebiasaannya menonton tv pun akan meniru kebiasaan orang tuanya. Jika anda tidak dapat mengendalikan diri di depan putra putri anda, tentu sulit bagi mereka untuk membatasi diri.

    Jadi…., boleh aja si kecil nonton tv, tapi…….DAMPINGI YUK !!

    Oleh: dr. Kristiantini Dewi, S.PA

    indiGrow Child  Development Center

    POLA TIDUR DAN MASALAH YANG BIASA DIHADAPI PADA BAYI 0-6 BULAN Juli 20, 2010

    Posted by indigrow in Uncategorized.
    Tags: , , , , , , , , , , , , ,
    comments closed

    MENGAPA “TIDUR” MERUPAKAN MASALAH YANG BEGITU PENTING

    Anak susah tidur, kurang tidur, tidur ‘gak bener’, dan segala kecemasan mengenai hal tersebut telah lama menjadi masalah bagi orang tua. Bukan hanya mengenai anak yang sudah bersekolah, namun juga pada bayi yang baru lahir dan di usia dini kehidupannya.

    Tidur dengan ‘enak’ dan sehat sepertinya mudah saja untuk bayi baru lahir. Mereka bisa langsung tidur dan tetap tidur. Namun, dalam beberapa minggu dan bulan pertama kehidupannya, pola tidur ini akan  berubah seiring dengan bertambah matangnya perkembangan otak mereka. Perubahan ini membawa ‘kebingungan’ membedakan siang dan malam, kadang bayi malah tidur di siang hari dan bermain di alam hari. Hal ini tentu sangat mengganggu sebagian besar orang tua. Tapi tidak perlu khawatir karena setelah beberapa minggu, orang tua dapat membantu ‘membentuk’ pola tidur yang baik menjadi kebiasaan tidur yang baik bagi buah hatinya.

    Tidur merupakan sumber kekuatan yang menjadikan pikiran kita jernih, waspada dan rileks. Setiap proses tidur, baik tidur malam atau tidur siang, terjadi “recharge” dari fungsi otak. Tidur dengan kualitas baik akan meningkatkan fungsi otak karena dengan tidur yang baik akan meningkatkan rentang atensi, menimbulkan rasa rileks dan  sekaligus menjaga situasi mental untuk tetap waspada.

    Proses tidur secara umum dibagi atas 2 fase yaitu fase Rapid Eye Movement (REM) dan fase non REM.  Pada fase REM  terjadi peningkatan aliran darah ke otak sehingga terjadi fungsi otak menjadi lebih baik, sel-sel otak tumbuh lebih cepat, dan hal ini akan memberi pengaruh pada restorasi fungsi emosi dan kognisi.

    Sedangkan pada fase non REM terjadi peningkatan pelepasan hormone pertumbuhan sehingga tubuh mendapat kesempatan untuk tumbuh, memperbaiki sel-sel tubuh, membangun otot dan jaringan pendukung serta menguatkan tulang   sehingga sangat berpengaruh pada restorasi fisik.

    SLEEP MILESTONE

    BAYI BARU LAHIR

    Bayi baru lahir tidur sekitar 16-18 jam per hari. Karena bayi baru lahir belum mempunyai ritme sikardian yang matur (ritme sikardian adalah „jam tubuh“ yang mengatur berapa banyak seorang individu bisa terjaga, mengatur kapan seorang individu jadi merasa mengantuk pada waktu-waktu tertentu dalam satu hari, dan perlu di re-setting setiap harinya sehingga jadwal internal ini akan sesuai dengan agenda kehidupan selama 24 jam) , maka pola tidur bayi baru lahir sangatlah berbeda dengan orang dewasa. Bayi baru lahir tidur lebih ‚ringan’ dibandingkan dewasa, mempunyai siklus tidur yang lebih singkat, dan mengalami beberapa periode transisi diantara beberapa fase tidur. Dibawah ini terdapat beberapa hal penting yang perlu diketahui oleh orang tua tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tidur pada bayi baru lahir:

    1. Bayi baru lahir tidur sebentar-sebentar  tapi terbagi rata di sepanjang hari. Tidak seperti orang dewasa yang tidur terutama di malam hari, bayi baru lahir tidur dalam 6 sampai 7 periode tidur yang terbagi rata sepanjang hari.
    2. Bayi baru lahir tidur lebih lama pada malam hari dibandingkan siang hari. Hal ini mungkin disebabkan karena hormon ibu yang dilepaskan saat kehamilan, atau karena program tidur-terjaga sang ibu saat hamil secara tidak langsung memprogram bayi baru lahir untuk mengikuti pola yang sama.
    3. Bayi baru lahir membutuhkan tidur jauh lebih banyak dibandingkan dewasa karena mereka tumbuh dalam kecepatan tinggi. Ibu tentu tahu bahwa berat bayi menjadi 2 kali lipat saat berumur 6 bulan, dan menjadi 3 kali lipat di ulang tahun pertamanya.
    4. Pola tidur bayi baru lahir sangat berbeda dari pola tidur dewasa. Ada dua pola tidur yaitu

    1. Tidur aktif

    Pada bayi baru lahir, fase tidur REM seperti pada orang dewasa, yaitu terjadi relaksasi dari otot-otot, tidaklah sepenuhnya terjadi. Bahkan orang tua seringkali menganggap pada fase ini bayi tidur tidak tenang, bergerak-gerak, dan menunjukkan pola bernapas yang tidak seperti biasa. Oleh karena itu fase REM ini disebut juga fase tidur aktif.

    2. Tidur tenang

    Pada bayi baru lahir, fase non REM ini terlihat jauh lebih tenang dan nyenyak dibandingkan pada orang dewasa.

    1. Bayi baru lahir menghabiskan lebih dari separuh waktunya dalam fase tidur aktif, yaitu sekitar 8-9 jam per hari. Hal ini karena terjadi banyak maturasi sel-sel otak segera setelah lahir.  Para peneliti telah membuktikan bahwa tahap tidur aktif ini memegang peranan penting dalam tahap perkembangan otak, terutama dalam mengolah semua pengalaman belajar yang terjadi selama sehari penuh.
    2. Bayi baru lahir banyak menghabiskan waktunya untuk tidur, tapi mereka seringkali hanya „tidur ringan“, sehingga mereka mudah dan sering terjaga. Bayi baru lahir mempunyai siklus tidur sekitar 50-80 menit. Siklus ini jauh lebih singkat dibandingkan dengan siklus tidur pada dewasa, dan bayi baru lahir akan tidur melalui siklus ini lebih sering dibandingkan dewasa. Bayi juga mengalami fase terjaga saat mereka transisi dari satu fase ke fase tidur lainnya.

    Tabel 1.

    Bagaima Pola Tidur Bayi berubah sepanjang waktu

    Usia           Persentasi Tidur Aktif             Rata-rata durasi siklus tidur-bangun

    Bayi baru lahir                  50-60%                                    50-80 menit

    6 bulan                                  30%                                              60 menit

    Balita dan anak                 30%                                                90 menit

    Sleep solutions for your baby; Ann Douglas: 2006

    1. Kebanyakan bayi baru lahir „siap“ untuk kembali tidur setelah 2 jam terjaga. Beberapa bayi baru lahir tidur siang sekitar 30-45 menit, sedangkan bayi lain mungkin tidur lebih panjang.
    2. Awalnya, siklus tidur bayi baru lahir sangat mengikuti jadwal menyusunya. Bayi baru lahir tidur hampir disepanjang waktunya, bangun hanya jika mereka merasa lapar, lalu menyusui dan kemudian segera kembali tidur setelah menyusu dan sedikit ‚bermain’ dengan anda.
    3. Setelah itu pola tidur nya berangsur berubah dengan makin banyaknya kalori yang dikonsumsi saat menyusui dan bayi mulai lebih banyak terjaga di siang hari. Tidur siang mulai menjadi teratur dan tidur di malam hari mulai berpola.
    4. Pola tidur bayi yang menyusui ASI dengan yang menyusu formula mungkin berbeda karena ASI memang lebih mudah diserap sehingga bayi yang menyusu ASI akan lebih sering menyusu yang berarti lebih sering terbangun di malam hari.
    5. Para peneliti mengungkapkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI mengalami  fase REM lebih lama dibandingkan bayi yang mendapatkan susu formula. Hal ini tentu saja baik bagi restorasi emosi dan kognitif sang bayi.

    SETELAH 2 MINGGU SAMPAI 6 MINGGU

    Sampai 1 bulan, periode tidur malamnya akan lebih panjang dibandingkan periode tidur siangnya. Sekitar usia 4 – 6 minggu, pola tidur bayi menjadi sedikit lebih teratur menjadi beberapa  kali tidur panjang, yaitu sekitar 3 sampai 4 jam. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah ‚awareness’ bayi terhadap siang-malam, siklus menyusui, beberapa proses biologis-hormonal.  Namun jangan terlalu berharap anda sudah akan mendapatkan pola tidur yang tetap di usia ini, namun mulailah untuk memperkenalkan perbedaan siang dan malam padanya. Kebanyakan bayi menjadi sangat rewel, sering nangis, dan sering terjaga adalah di usia 6 minggu Setelah bayi melalui usia 6 minggu, kemungkinan besar bayi mulai bisa tidur sampai 2 bahkan 3 jam. Bahkan di sore hari bayi dapat tidur nyenyak sampai 3-5 jam.

    Saat bayi berusia 1 atau 2 minggu, bayi mulai terjaga lebih lama, dan memperlihatkan prilaku yang „gassy“ dan „fussy“. Hal ini berlangsung sampai sekitar usia 6 minggu, dan setelah itu mereka jadi „tenang“ lagi. Perilaku yang irritable, rewel dan sering terjaga ini sering disalah artikan sebagai „ibu yang stress“ atau ketidakcukupan suplai asi, atau bahkan dianggap sebagai akibat ASI yang buruk. Hal ini tentu saja tidak benar. Fase ini memang normal adanya sejalan dengan perkembangan kematangan otaknya. Bersikaplah tenang. Fase ini akan berlalu dan jangan menyalahkan diri sendiri.

    BAYI USIA 6 MINGGU -6 BULAN

    Setelah bayi melalui usia 6 minggu, kemungkinan besar bayi mulai bisa tidur sampai 2 bahkan 3 jam. Bahkan di sore hari bayi dapat tidur nyenyak sampai 3-5 jam. Bayi sampai usia 3 bulan, kebanyakan bayi terjaga di siang hari dan pada senja hari. Kebiasaan tidur ini menjadi dapat diprediksi. Mereka cederung tidur siang 2 atau 3 kali lebih lama. Waktu tidur malam mulai bergeser jadi sedikit „lebih pagi“. Sampai usia 3 atau 4 bulan, bayi anda sudah mulai mengantuk sekitar jam 7.30 malam atau jam 8.30 malam. Pada usia ini, ritme suhunya pun semakin teratur sehingga membantu mereka untuk tidur lebih baik dan teratur. Di usia ini, ibu masih harus ‚mengikuti’ kebutuhan bayi untuk bisa tidur dengan baik. Susui mereka saat lapar, ganti popoknya saat basah dan tidurkan mereka saat mereka membutuhkannya. Jangan terlalu berharap sudah ada jadwal yang pasti dan jangan terlalu memaksakan kehendak ibu pada mereka. Setelah bayi melewati usia 6 bulan maka bayi akan mulai menunjukkan pola tidur yang teratur dan dapat diprediksi.

    Tidur merupakan hasil interaksi yang kompleks antara berbagai peristiwa biologis-kimia-hormonal dan pola tidur sangat berhubungan proses pematangan atau maturasi fungsi otak. Oleh karena itu, tidur sangat penting bagi perkembangan fisik dan mental anak.

    Dengan memahami dasar ilmiah terjadinya proses tidur pada bayi anda – mengapa pola tidur bayi begitu berbeda dengan pola tidur dewasa – dapat membantu orang tua menemukan pola asuh yang tepat dan mengurangi rasa ‘frustrasi’ orang tua dalam mengasuh bayi mereka.

    REFERENSI:

    Thiedke CC. Sleep disorders and sleep problems in childhood. Am Fam Physician 2000;63:277-84

    The science of sleep.  Douglas A. Sleep solutions for your baby, toddler, and preschoolers. John Wiley and Son, Publisher, Canada, 2006.

    How parents can help their children establish healthy seep habits. Weissbluth M. Healthy seep habits, happy child.  The random house publishing group, USA, 2003.

    Kristiantini Dewi, dr, SpA.

    indiGrow Child Development Center.

    MEMBANGKITKAN MINAT BACA PADA ANAK Juli 20, 2010

    Posted by indigrow in Specific Learning Disability.
    Tags: , , , , , ,
    comments closed

    Oleh: dr. Kristiantini Dewi., Sp.A

    Inginkah anak kita gemar membaca, tanpa beban, tanpa paksaan…? Tentu kita semua tahu manfaat dari kebiasaan baik ini…, namun tidak semua anak atau keluarga mempunyai kebiasaan membaca sejak dini. Ada anak tertentu yang malah nampak seperti ‘tersiksa’ jika diminta untuk membaca. Padahal, membaca merupakan salah satu akses mendapatkan informasi, pendidikan, bahkan permainan dan kesenangan. Dengan banyak membaca, ilmu pengetahuan dan wawasan menjadi bertambah luas, sehingga otomatis anak menjadi lebih pandai. Sebaliknya, anak yang jarang membaca, bahkan tidak senang membaca, akan dekat dengan ketidaktahuan dan mungkin “kebodohan”. Kebodohan ini kelak dapat menjadi dekat dengan kemiskinan. Nah…, berikut ini ada tips buat orang tua yang dapat membantu menciptakan kebiasaan senang membaca pada putra putri anda. Selamat mencoba!

    TIPS AGAR ANAK SENANG MEMBACA

    1. Bacakan buku pada anak secara teratur
    2. Menjadi teladan bagi anak bahwa orang tua juga senang membaca
    3. Limpahi anak dengan buku, majalah, koran, komik, dll
    4. Jadikan buku sebagai hadiah
    5. Biarkan anak memilih bukunya sendiri
    6. Awali dengan buku yang mereka sudah pilih sendiri lalu arahkan ke buku yang menurut kita pas untuk anak
    7. Ciptakan waktu khusus untuk membaca yang disepakati (ruangan sunyi, jam tertentu)
    8. Jangan bersikap memaksa, berikan pengertian perlahan tentang pentingnya dan asyiknya membaca, namun katakan pada anak bahwa tidak apa-apa jika tidak terlalu suka buku
    9. Berikan semangat pada anak agar berusaha terus membaca setiap tulisan dimanapun, misalnya di papan iklan, di kardus makanan, dll
    10. Tidak perlu menanyakan „apa pesan moral yang kamu dapatkan dari cerita tsb, Nak?“
    11. Puji anak jika sudah membaca buku dengan baik, namun jangan mengeluh jika anak belum lancar membaca, melainkan bantu mengkoreksinya dan terus berikan semangat pada anak.
    12. Biasakan membacakan cerita dari buku cerita menarik, bukan belajar mengeja atau membaca satu satu kata
    13. Ajak anak untuk membuat catatan pribadi di buku harian masing masing
    14. Biasakan komunikasi tertulis di rumah, misalnya catatan komunikasi ditempel di kulkas, atau di papan komunikasi, catatan daftar kegiatan yang akan dilakukan, catatan daftar belanja, dsb
    15. Baca symbol-simbol visual
    16. Tempel dan perlihatkan hasil karya anak berupa tulisan mereka di dinding atau di papan komunikasi, atau kirim untuk dimuat di majalah anak
    17. Buat situasi atau keadaan dimana anak menjadi “penasaran” dengan kata-kata baru
    18. Ajak anak ke toko buku, perpustakaan dan museum
    19. Ijinkan anak untuk memiliki privasi sendiri untuk membaca dan menulis
    20. Ajak mereka membaca cerita-cerita rakyat
    21. Ajak mereka untuk membaca pertama kali dengan bahasa ibu atau bahasa yang mereka paling kuasai.
    22. Ajak anak berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang mereka sukai, terutama dalam aspek tulis menulis. Misalnya dalam rangka persiapan ulang tahun anak, ajak anak untuk menulis daftar belanja makanan atau kue, daftar undangan, dsb.

    “DISKALKULIA: apakah selalu mengikuti disleksia?” Maret 18, 2010

    Posted by indigrow in Specific Learning Disability.
    Tags: , , , , ,
    comments closed

    Oleh: Dr. Kristiantini Dewi, SpA

    Beberapa waktu yang lalu telah kita bahas mengenai disleksia, yakni suatu kesulitan belajar spesifik berupa kesulitan dalam membaca, mengeja dan menulis yang dijumpai pada anak dengan level intelegensi yang normal atau bahkan pada anak-anak yang cerdas. Disleksia dapat juga bermanifestasi sebagai gangguan berkomunikasi ataupun kesulitan dalam matematika. Kali ini kita akan bahas lebih banyak mengenai kesulitan matematika pada anak penyandang disleksia atau yang dikenal sebagai “diskalkulia”.

    Bagi sebagian penyandang disleksia, sukses dalam bidang matematika mungkin merupakan sesuatu yang harus dicapai dengan penuh perjuangan. Terdapat berbagai penelitian yang melaporkan masalah ini. Salah satu peneliti (Steeves, 1983) melaporkan bahwa justru banyak anak disleksia yang  jenius di bidang matematika. Sebaliknya, Joffe (1990) melaporkan bahwa 10% anak disleksia menunjukkan prestasi yang sangat baik di bidang matematika, sedangkan 30% lainnya tidak menunjukkan kesulitan sama sekali di bidang hitung menghitung ini. Namun Miles dan Miles (1992) melaporkan bahwa sebagian besar penyandang disleksia mengalami diskalkulia.

    Terdapat mitos yang beredar di masyarakat bahwa disleksia-diskalkulia ini lebih sering disandang oleh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Namun analisis terkini menunjukkan bahwa anggapan tersebut timbul dikarenakan penelitian-penelitian yang menjadi sumber datanya adalah penelitian yang subjeknya berasal dari kelompok anak yang sudah dirujuk untuk suatu gangguan prilaku, dan kebanyakan subjek tersebut adalah laki-laki.  Penelitian terkini menunjukkan bahwa penyandang disleksia-diskalkulia sama banyak laki dan perempuan.

    Jika anak disleksia-diskalkulia mendapatkan terapi yang tepat, mereka mampu memahami konsep-konsep perhitungan, mampu mengerjakan tugas matematika dengan benar bahkan akhirnya menunjukkan ke-jenius-an mereka di bidang hitung menghitung ini sesuai dengan potensi kecerdasan yang mereka miliki. Kadang, kita tidak dapat melihat prestasi ini saat anak berada di usia sekolah melainkan terlihat saat anak sudah beranjak besar. Salah satu contohnya adalah .seorang ilmuwan yang terkenal, Albert Einstein, di awal usia sekolahnya menunjukkan kesulitan yang amat sangat di bidang aritmetika. Saat itu ke-jenius-annya di bidang matematika belum nampak karena dia tidak mampu memberikan jawaban yang cepat, akurat dan “hafal mati” seperti yang diharapkan gurunya. Tentu saja hal ini diakibatkan karena Albert Einstein menyandang disleksia. Beruntung, di kemudian hari Albert Einstein tidak membiarkan ke-disleksia-diskalkulia-annya ini menghambatnya untuk terus berkarya di bidang matematika.

    Kesulitan-kesulitan matematika yang sering dihadapi oleh penyandang disleksia cukup bervariasi, sehingga satu individu disleksia bisa menunjukkan banyak kesulitan, namun individu disleksia lain mungkin menunjukkan diskalkulia ringan saja.

    Berikut adalah berbagai aspek kesulitan yang mungkin ditemukan pada anak penyandang diskalkulia:

    • Membaca kalimat dalam soal matematika
      • Anak disleksia-diskalkulia mengalami kesulitan dalam memaknai kata-kata / istilah-istilah yang sering tampil dalam soal-soal matematika. Anak sulit memahami pengertian-pengertian sebagai berikut: ‘kurang lebih sama dengan’, ‘ diantaranya’, ‘ sejajar’, ‘ jalan lain, ‘sama banyak dengan’, ‘ di pinggir’, ‘ di atas dari’, ‘ di bawah dari’, ‘ di samping dari’, ‘ jauh dari’, ‘ seimbang’,  ‘sama dengan’, ‘ lebih besar dari’, ‘ lebih tinggi dari ‘, ‘di depan dari’, ‘di sudut dari ‘, ‘perkirakan’, ‘kurang dari’,  ‘garis yang simetris’, ‘ganjil’, ‘genap’, ‘simetris’, ‘rata-rata’, ‘secukupnya’, dll
    • Membaca angka, membaca angka dari kanan, menyalin angka
      • Sesuai dengan karakteristik disleksianya, anak seringkali salah “lihat” angka, lalu salah menyalinnya. Sering pula dijumpai mereka tidak dapat mengelompokkan angka dari kanan pada angka dengan jumlah digit yang banyak, misalnya: 752250, seharusnya dituliskan sebagai 752.250.
    • Memahami nilai satuan, puluhan, ratusan sehingga menyulitkan pada penulisan, apalagi pada operasi perhitungan yang lebih kompleks lainnya misalnya pada operasi penjumlahan ke bawah, mereka menyusun nilai satuan di kelompok puluhan, atau nilai ratusan di puluhan.
    • Mengenali simbol operasi perhitungan
      • Anak disleksia-diskalkulia mengalami kesulitan untuk memahami symbol (+), (-), (x), (:), dan symbol-simbol lain yang lebih rumit. Soal-soal yang ditulis dengan symbol (-), mungkin malah dikerjakan  selayaknya instruksi (+). Bahkan pada sebagian anak dengan gangguan berat, mereka merasa tidak yakin apakah yang dimaksud dengan “bertambah” atau “berkurang”.
    • Mengidentifikasi bentuk, apalagi jika bentuknya dibolak balik (missal: segitiga sama sisi, segitiga sama kaki)
    • Mengenali dan memahami tanda “,” sebagai tanda desimal
    • Menghitung ke depan dan ke belakang
    • Melakukan perhitungan di luar kepala
    • Membaca, memahami dan mengingat “time table”
    • Mengatakan hari dalam seminggu, bulan dalam setahun
    • Menyebutkan waktu dan memahami konsep waktu
    • Memahami konsep uang
    • Menggunakan kalkulator dengan benar
    • Memahami persentase
    • Mengestimasi
    • Menggunakan rumus
    • Menggunakan rumus yang sama untuk soal yang berbeda

    Selain kesulitan memahami bahasa matematika , anak disleksia-diskalkulia juga mengalami kesulitan dalam memaknai istilah-istilah non matematika, hal ini yang membuat mereka semakin susah menyelesaikan soal-soal matematika, terutama yang berbentuk soal cerita.

    Contoh:

    • Untuk belajar membuat robot, Ayah harus membayar seratus ribu rupiah untuk empat kali pertemuan dimana satu kali pertemuan adalah 2 jam lamanya.
    • Anak disleksia bingung memaknai istilah “dimana”, “lamanya”

    Apa yang dapat kita lakukan bagi penyandang disleksia-diskalkulia?

    • Gunakan bahasa matematika yang lebih sederhana, jelas dan lebih mudah dipahami anak disleksia
    • Latih anak untuk memahami dan menguasai simbol angka, dan symbol operasi perhitungan matematika
    • Bantu anak memahami soal cerita dengan cara menghadirkan benda-benda yang disebutkan dalam soal secara visual à Belajar praktikal
    • Gunakan kertas berpetak untuk membantu operasi perhitungan susun ke bawah
    • Lakukan fragmentasi soal cerita yang panjang menjadi kalimat kalimat pendek yang mudah dipaham.
    • Latih anak untuk mengerti dan menguasai konsep uang, misalnya dengan berlatih berbelanja sendiri mulai dari sejumlah barang yang sedikit sampai dengan yang cukup banyak
    • Kertas kerja dibacakan dan direkam dalam audio tape, anak membaca sambil menyimak audio tape
    • Gunakan buku agenda untuk mencatat kegiatan kegiatan dan pekerjaan rumah
    • Yakinkan bahwa instruksi disampaikan dengan jelas, perlahan sehingga murid mengerti
    • Gunakan kertas untuk menutup soal yang sudah atau belum dikerjakan, soal yang terlihat hanya soal yang sedang dikerjakan

    Selain pendekatan khusus untuk aspek diskalkulianya, jangan lupakan strategi pembelajaran umum bagi anak penyandang disleksia yaitu digunakan pendekatan multisensoris (dapat berupa bantuan gambar, audiotape, dll), mengajarkan anak untuk menggunakan logikanya, bukan menghafal mati, berikan materi bertahap satu per satu, dan berikan materi dalam unit-unit kecil. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah memperhatikan aspek emosi anak. Selalu berikan semangat dan pujian pada setiap usaha perbaikan yang telah mereka tunjukkan.

    REFERENSI:

    • Henderson (1998). Maths for the dyslexic. A Practical guide. David Fulton, New York.
    • C.M. Stowe (2000). How to reach & teach children & teens with dyslexia. Jossey-Bass, San Fransisco.

    Perkembangan Prilaku Seksual Anak Februari 9, 2010

    Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
    Tags: , , , , , , , , , , , ,
    comments closed

    Kristiantini Dewi, dr., SpA

    indiGrow Child Development Center
    Bandung Jl Haruman 35 Tlp. 022-7303244

    Anak belajar mengenai seks sama pentingnya dengan mereka belajar hal lain. Anak perlu merasa bahwa organ seksual mereka sama pentingnya dengan bagian tubuh lainnya seperti tangan dan kaki. Mereka harus bangga menjadi seorang laki-laki atau seorang perempuan. Dan jika orang tua mengajak anak membicarakan anggota-anggota tubuh mereka,  tentang prilaku serta perasaan anak mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan seks, seharusnya anak merasa “nyaman” dan “aman” dapat berkomunikasi tentang hal ini dengan orang tuanya. Hal ini penting sekali bagi terciptanya kondisi dimana anak merasa bahwa orang tuanya lah tempat bertanya, mengadu, dan “curhat” untuk hal yang paling ditabukan sekalipun.

    Pengaruh pada perilaku seksual anak

    • Orangtua

    Apa yang orangtua pikirkan mengenai seksualitas anak memberi pengaruh yang kuat bagaimana anda merespon prilaku seksual anak. Apa yang orang tua atau leluhur anda katakan, lakukan, keyakinan agama yang dianut, latar belakang kebudayaan dan perasaan anda, semuanya akan memberi warna tentang bagaimana anda menyikapi perkembangan seksual putra putri anda. Anda dapat menolong anak anda untuk merasa nyaman, sehat dan normal, atau sebaliknya, yaitu merasa malu, bersalah dan buruk, semuanya tergantung bagaimana cara anda merespons putra-putri anda.

    • Televisi, radio dan majalah

    Anak dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat, dengar dan baca. Mereka mungkin melihat atau mengetahui seks melalui berbagai cara termasuk melalui media televisi, video, koran, papan iklan dan majalah. Mereka belajar dari apa yang mereka baca dan lihat itu mengenai apa artinya menjadi seorang laki-laki atau seorang perempuan, dan bagaimana seorang laki-laki atau seorang perempuan berprilaku. Kadang mereka melihat gambar kekerasan sesual atau gambar aktivitas seksual yang mana mereka belum cukup dewasa untuk mengerti artinya dan hal ini membuat mereka cemas.

    • Bagaimana orang tua memperlakukan orang lain

    Anak belajar dari orang tuanya – guru pertama mereka ! Mereka melihat bagaimana orang tua memperlakukan orang lain, bagaimana anda memberi perhatian, menghargai orang lain atau sebaliknya. Beberapa anak mempunyai pengalaman melihat orang tuanya mentertawakan atau mempermalukan orang lain karena perbedaan jenis kelaminnya. Hal ini memberi pengaruh buruk bagi anak karena dia mungkin merasa tidak nyaman dengan status seksualnya sebagai laki atau perempuan, dan mengajarkan mereka untuk takut atau tidak menghargai orang yang berjenis kelamin berbeda dengannya.

    • Sekolah

    Sebaiknya sekolah dan tempat-tempat terapi anak tidak hanya  mengajarkan mereka anggota tubuh, nama dan kegunaannya tapi juga mengajarkan anak bagaimana menyikapi prilaku orang lain terhadap anggota tubuh mereka (termasuk organ seksual) yang tidak aman dan tidak senonoh bagi mereka, serta cara mengatasinya.

    Perkembangan seksual anak

    Anak memiliki perasaan seksual sejak lahir. Bayi laki-laki mengalami ereksi dan baik bayi laki maupun perempuan sama-sama memiliki perasaan senang jika ada sentuhan pada organ genitalia mereka.

    • Usia Prasekolah

    Bayi biasanya belum meng”eksplor” organ genitalianya sampai usianya 1 tahunan karena organ ini memang lebih sulit terlihat dibandingkan dengan anggota tubuh lainnya seperti tangan dan kaki. Bayi sering menyentuh organ genitalnya karena mereka menimbulkan rasa “enak” atau menimbulkan rasa nyaman jika mereka sedang cemas dan marah.

    Bayi satu tahun sudah mulai memainkan genitalnya saat diganti celananya dan kadang mereka juga memainkan ee nya saat dibersihkan. Hal ini wajar saja sebagai bagian dari rasa keingintahuan mereka.

    Anak dibawah usia 3 tahun belum mengerti bahwa seluruh bagian tubuhnya merupakan satu kesatuan dari badannya dan merupakan sesuatu yang permanen. Oleh karena itu anak laki kadang jadi “cemas” penis nya hilang atau tidak ada saat mereka melihat anak perempuan tidak memiliki genitalia yang sama, atau sebaliknya.

    Anak usia prasekolah sering belum “aware” terhadap tubuhnya dan masih belum terlalu mengerti “malu” dalam keadaan telanjang.

    Anak usia prasekolah tertarik untuk melihat tubuhnya sendiri dan tubuh teman-temannya. Mereka sering bermain peran dokter – perawat sehingga mereka bisa saling melihat dan menyentuh satu sama lain.

    Mereka sering tertarik pada bagian-bagian tubuh orang tuanya dan ingin menyentuhnya jika mereka kebetulan melihatnya di kamar atau di kamar mandi.

    Mereka mulai tertarik konsep dari mana bayi berasal dan bagaimana bayi keluar dari perut ibunya.

    Sebelum usia 3 tahun, anak dapat menyampaikan jenis kelaminnya. Dan pada usia 6 tahun atau 7 tahun mereka mengerti bahwa organ genital bukanlah sesuatu yang bisa berubah lagi (laki berubah jadi perempuan, dan sebaliknya). Saat usia 4 tahun mereka sangat tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan kamar mandi dan toilet.

    • Di tahun-tahun pertama sekolah dasar

    Anak biasanya mengetahui bahwa  memperhatikan tubuh orang lain dan masturbasi merupakan kegiatan yang dilakukan orang dewasa secara pribadi. Di umur ini anak masih bermain peran yang melibatkan perbedaan jenis kelamin karena rasa keingintahuannya. Anak mulai mendengar dan memperhatikan kata-kata yang “berbau” seks, kadang mereka menggunakan istilah-istilah tertentu yang mereka dapatkan dari teman-temannya. Mereka masih merasa tertarik pada proses kehamilan dan persalinan. Anak mulai memlih teman sejenis sebagai teman dekatnya. Anak sudah malu jika tidak berpakaian dengan baik di depan orang lain dan juga di depan orang tuanya. Mereka mulai mengangkat topik seks dalam obrolan atau gurauan dengan teman-temannya. Permainan “seksual” yang sering diperankan adalah permainan bermain saling memperolok atau berpura-pura mengenai perkawinan atau bermain peran “dokter-pasien/perawat”.

    Masturbasi

    Dalam masa kanak-kanak dini, menyentuh organ genital dapat berarti:
    – mencari dan menemukan anggota tubuhnya
    – anak merasa nyaman
    – anak ingin pergi ke toilet
    – memberikan rasa aman saat anak sedang dalam keadaan cemas

    Di tahun pertama sekolahnya anak belajar bahwa masturbasi adalah sesuatu yang dilakukan sangat privabadi (jadi jika anak melakukannya di depan umum biasanya menunjukkan adanya gangguan pada anak). Saat anak mencapai usia pra sekolah, anda mungkin ingin membicarakan masalah masturbasi. Katakan pada anak anda bahwa masturbasi menimbulkan rasa nyaman, namun hal tersebut hanya boleh dilakukan oleh diri sendiri  bahkan tanpa kehadiran orang lain.

    Jika anak sering masturbasi, mungkin ada suatu masalah yang dipikirkannya dan hal ini sangat penting untuk dikenali oleh orang tuanya dan dicari solusinya. Anak-anak yang masih kecil mungkin belum bisa menceritakan apa yang mengganggu pikirannya tapi orang tua harus terus mencari kemungkinan penyebabnya misalnya adanya adik bayi yang baru dilahirkan, atau karena orang tua kembali bekerja, dsb.

    Mengatakan pada anak yang melakukan masturbasi dalam rangka mencari kenyamanan, biasanya malah menambah ketegangan pada anak. Sebaiknya coba katakan:”Ibu tau kamu lagi gak enak ya…., sini ibu peluk”

    Sentuhan

    Menyentuh anak, memeluknya, mengelus, mengusap, menggendong anak oleh kedua orang tua merupakan hal penting bagi anak untuk merasa dicintai dan belajar bagaimana menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang. Beberapa ayah dan ayah tiri ragu untuk memeluk anaknya karena takut dituduh melakukan pelecekan seksual. Seyogyanya orang tua mengerti perbedaan antara menyentuh, memeluk dan mengusap karena ekspresi kasih sayang atau sesuatu yang dilakukan karena untuk memenuhi hasrat seksusal orang tuanya. Hal yang terakhir tersebut merupakan tanggung jawab orang tua untuk tidak melakukannya.

    Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua

    Dari sejak usia dini anak sudah besar rasa ingin tahunya dari mana mereka datang atau dilahirkan. Anda dapat jelaskan secara sederhana dan seringkali hal tersebut sudah dapat memuaskan rasa ingin tahunya. Jelaskan bahwa mereka terbentuk dari pertemuan sel telur ibu dan sel sperma ayah dan bentuk pertemuan ini makin hari tumbuh makin besar di tempat yang istimewa dalam perut ibunya sampai tiba saatnya nanti dilahirkan menjadi bentuk yang sempurna seperti dia.

    Dengan bertambahnya usia mereka, anak dapat diberi penjelasan yang lebih rinci, misalnya dari mana asalnya sel sperma dan sel telur. Misalnya, karena ayah dan ibu demikian saling menyayangi, mereka sering saling bersama, sehingga sperma yang terpilih dari ayah bisa masuk menemui sel telur terpilih juga dari ibu, sehingga menghasilkan anak yang istimewa seperti dia. Sebagian anak ingin mendengarkan penjelasan ini berulang-ulang. Buku dengan banyak gambar yang ilustratif dapat menolong mereka mengerti apa yang disampaikan oleh orang tua. Jawablah pertanyaan mereka dengan jujur dan sewajarnya sehingga mereka merasa bahwa mereka dapat berdiskusi dengan orang tuanya jika mereka ingin tahu lebih banyak tentang sesuatu hal. Bahkan jika orang tua memberi istilah tertentu pada genitalianya misalnya “titot” untuk genitalia laki-laki, anak harus tahu terminology yang sesungguhnya sebelum anak usia sekolah. Perlihatkan buku-buku bergambar tentang anggota tubuh dan cara kerjanya masing-masing.

    Jika orang tua kesulitan memperkenalkan terminology original untuk organ-organ seksual, maka perkenalkan istilah tersebut sejak anak usia sangat dini sehingga orang tua tidak jadi “malu” menyebutkannya. Jangan lupa ajarkan anak untuk menghargai individu dari kedua jenis kelamin..

    Kebanyakan orang tua menginginkan anaknya memiliki prilaku yang sehat mengenai seks. Cara orang tua bersikap atau beraksi terhadap pembicaraan mengenai seks akan mempengaruhi bagaimana anak berpikir, bersikap tentang masalah tersebut dan tentang diri mereka sendiri.

    “SEXUAL GAMES”

    Masa kanak-kanak merupakan masa belajar dan eksplorasi. Anak mengeksplorasi tubuhnya selama masa ini, termasuk mengeksplor  organ genitalianya. Mereka belajar dengan cara melihat, memegang organ-organ tersebut saat bermain dengan temannya misalnya bermain peran “dokter-perawat”. Namun orang tua tidak perlu terlalu khawatir mengenai hal ini karena ketertarikan anak pada seks dan permainan peran yang melibatkan pemahaman seks ini hanya merupakan sebagian hal yang ingin mereka pelajari dan eksplor. Permainan seperti ini tidak sama dengan yang terjadi pada orang dewasa. Anak hanya merasa “penasaran” , ingin tahu mengenai organ organ tubuhnya dan tentang perbedaan jenis kelamin.

    Orang tua tidak perlu terlalu khawatir selama anak memainkan peran ini dengan anak yang sebaya dan selama mereka tidak dipaksa untuk melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin lakukan, dan selama mereka tidak melakukan hal-hal yang biasanya tidak diketahui oleh anak seusianya. Sangat dianjurkan agar orang tua senantiasa berada di sekitar anak jika mereka bermain peran seperti ini sehingga anda dapat yakin bahwa anak-anak melakukan permainan yang “aman”.

    Jika anda melihat anak anda melakukan “sex games”

    Anak biasanya menikmati permainan ini seperti halnya menikmati permainan lainnya. Jika anak kedapatan sedang bermain “sex games” oleh orang tuanya, biasanya mereka jadi malu. Apalagi kalau orang tuanya juga tidak berkenan dan juga malu. Banyak hal yang dirasa membingungkan dan menakutkan bagi anak adalah disebabkan sikap atau reaksi orang tua terhadap mereka.

    Jika anak bermain “sex game” dan anda tidak yakin bagaimana harus bersikap, tarik napas dalam dan berpikirlah sejenak. Hal ini dapat mencegah anda untuk melakukan hal-hal yang menambah takut mereka. Pikirkan baik-baik hal apa yang hendak anda sampaikan dan efeknya bagi anak.  Isi pesan dan bagaimana pesan disampaikan, tentu tergantung pada umur kematangan anak. Jelaskan pada mereka bahwa ingin tahu sesuatu tentang orang lain bisa jadi sesuatu yang baik tapi yang pasti organ-organ genitalia adalah termasuk sesuatu yang mutlak sangat pribadi bagi siapapun.

    Jika anda membutuhkan pertolongan mengenai perkembangan seksual anak anda

    Ada beberapa hal ganjil yang mungkin akan dilakukan anak jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada mereka atau dikenal sebagai child abuse. Kalau hal itu sampai terjadi, orang tua sangat dibutuhkan untuk melindungi mereka dan menempatkan mereka dalam situasi dan kondisi yang aman.

    Jika terjadi sesuatu hal seperti dibawah ini, segera bawa anak anda ke dokter untuk konsultasi lebih jauh:

    Anak mengetahui dan menguasai masalah seksual lebih jauh dibandingkan yang seharusnya seusia dia misalnya anak usia pra sekolah mengerti rinci tentang hubungan intim / hubungan seksual suami istri

    Terdapat kemerahan atau luka lecet di sekitar organ genitalia (vagina, anus, bottom, penis atau mulut) tanpa penyebab yang jelas

    Memaksa temannya untuk bermain “sex games”

    Bermain “sex games”  dengan anak yang jauh lebih muda usianya

    Melakukan masturbasi sangat sering sampai mengganggu kegiatan bermain, atau depan umum saat anak usia sekolah dasar

    Selalu menggambar bagian genitalia saja

    Ketakutan atau marah jika orang membicarakan tubuhnya atau jenis kelaminnya

    Sangat “anxious” jika berdekatan dengan orang tertentu tanpa alasan yang jelas

    Tanda-tanda stress, seperti kembali mengompol, bab di celana dalam, atau mencederai dirinya sendiri , mungkin merupakan tanda-tanda “sexual abuse” atau tanda-tanda stress akibat hal-hal lain.  Usahakan untuk tidak terlalu menginterogasi anak karena mungkin dia tambah ketakutan dan tidak kooperatif dalam pemeriksaan.

    Jika Anak Anda Mengalami “SEXUAL ABUSED”

    • Petugas hukum Negara akan mewawancarai orang tua perihal laporan kecurigaan suatu “sexual abused”, sehingga hal ini merupakan masa masa sulit bagi anda yang masih sangat emosional menghadapi musibah yang menimpa anak anda dan keluarga.
    • Untuk mengatasi rasa kecewa, sedih dan marah yang berkecamuk di hati, anda butuh seseorang yang dapat mendengarkan dan mengerti perasaan anda sehingga anda dapat mengendalikan keadaan dan dapat menghadapi anak anda dengan lebih bijaksana.
    • Jika anak anda tahu dan menyadari bahwa anda sendiri tidak dapat mengendalikan perasaan, biasanya mereka merasa lebih tidak enak lagi. Karena itu jangan terbawa emosi saat di depan anak anda, fokuskan pada pemenuhan kebutuhan anak anda yang sedang sangat terpukul itu.
    • Anak yang baru mengalami “sexual abused” bisa menjadi bingung membedakan antara sentuhan tulus penuh kasih sayang dari orang tua, atau sentuhan sarat hasrat seksual. Hal ini membuat mereka cemas dan ketakutan akan berulangnya hal yang sama. Sangat penting bagi anak untuk melihat orang tuanya terus memberikan sentuhan kasih sayang dalam bentuk yang “aman” untuknya.
    • Yang paling penting, yakinkan pada anak bahwa “sexual abuse” tidak boleh pernah  terjadi pada siapapun termasuk dia, dan apapun yang terjadi padanya maka “sexual abuse” yang telah terjadi bukanlah kesalahan dia.

    INGATLAH!

    • Membicarakan masalah seksual dengan anak tidak membuat anak menjadi lebih tertarik pada masalah tersebut, namun membuat mereka lebih mudah untuk datang kepada orang tua setiap saat mereka menghadapi masalah apapun.
    • Memperkenalkan organ-organ tubuh termasuk organ genitalia lebih mudah jika dibiasakan untuk diperkenalkan sejak usia dini
    • Anak harus mengerti bahwa organ seksual  merupakan bagian tubuh mereka yang sama baiknya dengan organ atau anggota tubuh yang lain.
    • Anak harus tahu nama original dari organ atau alat tubuh mereka.
    • Anak harus bangga atas keberadaannya sebagai anak lelaki atau sebagai anak perempuan.
    • Berikan anak sebanyak-banyaknya sentuhan, usapan dan pelukan tanda cinta dan kasih sayang yang tulus dari orang tua.
    • Apa yang orang tua yakini, rasakan dan apa yang anak anda lihat pada diri orang tuanya saat orang tuanya bicara dan bersikap, akan sangat mempengaruhi kehidupan seksual anak anda kelak.
    • Yang paling dibutuhkan anak adalah perasaan dicintai dan mencintai oleh orang tua dan keluarga.

    Resources

    “ANAKKU TERLAMBAT BICARA” Februari 9, 2010

    Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
    Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
    comments closed

    Oleh : dr. Kristiantini Dewi, SpA

    (indiGrow Child Development Center)

    Kapan ya seorang anak dikatakan terlambat bicara, apakah sejak usia dini, ataukah sebaiknya orang tua menunggu sampai usia 2 tahun baru diperiksakan ke dokter? Apakah semua keterlambatan bicara memang harus diperiksakan ke dokter? Bukankah nanti juga anak anak bisa sendiri berbicara dengan lancar…?

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang kerap timbul di benak orang tua, dan seringkali mitos lebih banyak menjawab pertanyaan tersebut dibandingkan informasi dari dokter. Oleh karena itu kita simak yuk penjelasan di bawah ini.

    Sebelumnya perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan bicara adalah kemampuan individu untuk memproduksi suara, sedangkan berbahasa adalah kemampuan individu untuk berbicara dalam konteks untuk berkomunikasi.

    Kapan seorang anak dikatakan terlambat bicara dan berbahasa

    Sebetulnya aspek bicara dan berbahasa merupakan salah satu aspek perkembangan seorang bayi/anak yang dimulai sejak lahir. Kemampuan bayi untuk berkomunikasi dimulai dengan reaksinya terhadap bunyi bunyian atau suara ibu bapaknya, bahkan di usia 2 bulan bayi sudah menunjukkan senyum sosial pada semua orang yang berinteraksi dengannya. Hal ini diikuti dengan kemampuan bayi mengeluarkan suara “cooing” berupa “aaahh…., uuuhh…” dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. Dengan bertambahnya usia bayi kemampuan bayi mengeluarkan suara bertambah menjadi “babbling”  di usia 6 bulan, yakni memproduksi suara konsonan “ba….”, “da…” sampai akhirnya menjadi “laling” di usia 8 bulan, yakni mengulang dua suara konsonan “bababa….”, “dadada…..”, “mamama……….” Sehingga akhirnya di usia 1 tahun bayi sudah mampu mengatakan 3 kata bermakna untuk berkomunikasi, biasanya “mama” untuk ibunya, “papa” untuk ayahnya dan satu kata lagi yang biasa dipergunakan di rumahnya, misalnya “mbak” untuk pengasuhnya. Di usia 18 bulan anak sudah mampu memahami dan mengeluarkan sekitar 20 kosa kata yang bermakna. Sedangkan di usia 2 tahun sudah mampu mengucapkan 1 kalimat yang terdiri dari 2 kata, misalnya “mama pergi”, “aku pipis”, dsb.

    Anak dikatakan terlambat bicara dan berbahasa, jika pada usia tertentu kemampuannya memproduksi suara dan berkomunikasi di bawah rata-rata anak seusianya.

    Seperti apa yang dimaksud dengan gangguan bicara

    Gangguan bicara adalah ketidakmampuan atau kesulitan seorang anak untuk memproduksi suara yang spesifik untuk bicara atau adanya gangguan dalam kualitas suara. Hal ini bisa berupa gangguan pada artikulasi, gangguan pada fonasi, gangguan irama kelancaran bicara, gangguan tekanan suara (pitch). Gangguan artikulasi dapat berupa penggantian satu suara dengan suara lain atau bahkan menjadi suara lain sama sekali. Misalnya “mobil” jadi “obin”, atau “pelangi” jadi “telangi”, dsb. Gangguan irama kelancaran bicara dapat berupa bicara cepat atau “cluttering” sehingga tidak jelas kata-kata yang diucapkan. Bentuk lain dari gangguan irama kelancaran adalah gagap atau “stuttering”, yaitu irama kelancaran bicara menjadi terputus-putus. Gagap biasanya muncul di usia 3 atau 4 tahun setelah itu hilang sendiri. Namun gagap yang menetap perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk dipertimbangakan perlunya terapi wicara. Selain itu juga dapat berupa gangguan dalam „pitch“, volume ataupun kualitas suara. Gangguan suara tipikal misalnya suara kasar, suara terputus-putus atau terengah-engah, suara yang terpecah jika dalam intonasi atau pitch yang tinggi.

    Apa yang dimaksud dengan gangguan berbahasa

    Gangguan berbahasa dapat dibagi menjadi gangguan berbahasa ekspresif dan gangguan berbahasa campuran (ekspresif-reseptif). Yang dimaksud dengan gangguan berbahasa ekspresif adalah ketidakmampuan anak untuk mengekspresikan ide, pikiran dan pendapatnya melalui kata-kata atau secara verbal yang sesuai dengan usianya, sekalipun anak tersebut mempunyai pemahaman yang sesuai dengan usianya. Anak dengan gangguan bahasa ekspresif tipe perkembangan ini biasanya dibawa orang tuanya dengan keluhan „terlambat bicara“ atau mungkin dengan keluhan „agresif“ dan „tidak bisa diam“. Keluhan tersebut memang dapat terjadi mengingat anak tersebut dapat mengalami „frustrasi“ karena tidak dapat mengutarakan keinginannya dengan baik sehingga mengganggu interaksinya dengan orang lain. Hal ini berujung pada sikapnya yang cenderung agresif dan tidak bisa diam.

    Yang dimaksud dengan gangguan berbahasa campuran (ekspresif-reseptif) adalah ketidakmampuan anak untuk mengekspresikan idenya sekaligus dengan keterbatasannya untuk memahami pembicaraan orang lain. Tentunya keadaan ini lebih buruk dibandingkan dengan sekedar gangguan berbahasa ekspresif saja.

    Apa saja yang perlu dipikirkan pada keadaan terlambat bicara

    Jika kita mendapatkan suatu kasus terlambat bicara maka ada beberapa hal yang harus diperiksa dengan seksama oleh dokter anak.

    Pertama, dokter akan memeriksa dengan teliti seluruh modalitas yang dibutuhkan untuk terjadinya produksi suara yang baik, ataupun adanya hal hal yang memungkinkan terganggunya produksi suara, yakni organ-organ mulut, hidung, bibir, gusi, lidah, langit-langit, pita suara, tonsil, tenggorokan, paru-paru dan diafragma. Kelainan pada aspek ini dapat berupa celah bibir, celah gusi, celah langit-langit, lidah pendek, dll.

    Kedua, dokter akan memeriksa apakah ada kemungkinan anak tersebut mengalami gangguan pendengaran. Tes sederhana yang dapat dikerjakan di poliklinik dapat berupa menggesek-gesekan kertas / membunyikan lonceng di belakang bayi dan melihat reaksinya. Namun jika dianggap perlu, dokter anak akan merujuknya ke dokter ahli THT (audiologi) untuk pemeriksaan lebih lanjut yaitu pemeriksaan OAE (Oto Acustic Emisssion) dan BERA (Brain Evoked Respons Auditory). Kedua pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mendapatkan data objektif mengenai keadaan jaras pendengaran bayi mulai dari telinga luar sampai dengan telinga dalam (saraf pendengaran). Kelainan pada aspek ini dapat berupa ganguan dengar ringan sampai berat.

    Ketiga, dokter anak akan memastikan keadaan susunan saraf pusat (otak) bayi dengan serangkaian pemeriksaan neurologis (saraf). Susunan saraf pusat yang terganggu memungkinkan anak tidak mampu memfungsikan modalitas alat-alat pemproduksi suara bahkan anak jadi tidak mampu memahami berbagai kosa kata/kalimat yang dikomunikasikan padanya. Kelainan pada aspek ini misalnya Cerebral palsy (CP), keterbelakangan mental, sindrom sindrom tertentu, dll.

    Keempat, dokter anak tidak luput memperhatikan aspek prilaku dan interaksi sosial dari anak yang dikeluhkan terlambat bicara. Anak yang tidak mampu berkomunikasi disertai dengan prilaku yang tidak biasa, misalnya mojok, bermain sendiri, memainkan benda benda yang tidak biasanya (menggoyang-goyangkan tali di hadapannya, memutar-mutar ban mobil-mobilan sampai berjam-jam), mencederai diri sendiri (memukul mukul kepalanya, menggigit jari tangannya), disertai dengan tidak ada kontak sama sekali dengan siapapun, mungkin sekali menuntun dokter untuk mencurigai suatu keadaan yang kita kenal sebagai autis. Sedangkan perilaku anak yang dikeluhkan tidak bisa berkomunikasi, sekaligus tidak memahami konteks pembicaraan, namun masih ada kontak dengan sekitarnya, disertai dengan prilaku yang agresif, mungkin dengan prilaku yang primitif (masih nge-ces, BAB dan BAK di sembarang tempat) dapat merupakan petunjuk adanya suatu keterbelakangan mental yang berat.

    Apa yang seharusnya dilakukan orang tua

    Segera konsultasikan anak anda yang diyakini menunjukkan tanda tanda keterlambatan bicara maupun bahasa. Dokter anak akan memeriksa dengan seksama dan menganjurkan beberapa pemeriksaan penunjang ataupun rujukan ke dokter ahli lain bilamana dianggap perlu.

    Anak akan mendapatkan intervensi yang sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan penyebabnya, mulai dari terapi wicara sampai dengan alat bantu dengar atau terapi lain yang sesuai misalnya terapi prilaku untuk anak autis dan terapi okupasi bagi penyandang tuna grahita.

    Kapan harus waspada

    Keterlambatan bicara dan bahasa sangat perlu diwaspadai pada anak anak dengan gangguan saraf (misal: cerebral palsy), anak yang mengalami kesulitan menyusu, mengunyah dan masih ngiler sampai usia 12 bulan, anak yang tidak juga mengeluarkan babbling sampai usia 10 bulan, dan anak yang tidak mampu mengucapkan 1 kata pun di usia 18 bulan.

    Semakin dini (< 2 tahun) anak diketahui mengalami keterlambatan bicara-bahasa, semakin cepat pula intervensi dapat dilakukan sehingga kita dapat mengharapkan hasil yang lebih baik.

    Oleh karena itu, tunggu apa lagi. Bawa si kecil untuk konsultasi yuk….!

    REFERENSI

    Children with disabilities, Fourth Edition. Mark L. Batshaw, MD, 1997

    Disability Fact Sheet on Speech/Language Disorders (FS11). January 2004. National Dissemination Center for Children with Disabilities

    US Department of Education

    ANAK GAK BISA DIAM…, apakah termasuk ANAK BERBAKAT ? Februari 2, 2010

    Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
    Tags: , , , , , , , ,
    comments closed

    Dari ruang praktek dokter anak

    Mamah Rio merasa sudah saatnya berkonsultasi ke dokter mengenai prilaku buah hatinya yang akhir-akhir ini mengkhawatirkannya. Pasalnya, sudah 3 bulan ini, Rio – sekarang berusia 5 tahun 3 bulan – mulai bersekolah di TK B yang baru, setelah setahun sebelumnya bersekolah di tempat lain untuk jenjang TK A. Dan dalam kurun waktu yang cukup singkat itu, Mamah Rio sudah beberapa kali “diundang” oleh pihak sekolah untuk mendiskusikan prilaku Rio. Memang, acara pindah sekolah ini sebetulnya usulan Rio sendiri, karena sekolah yang baru ini lebih banyak mainannya. Begitu kata Rio. Tapi kalau boleh jujur, sebetulnya Mamah Rio menyetujui usulan sang anak karena guru di TK yang lama tersebut pernah mengutarakan mereka kewalahan menghadapi Rio yang tidak bisa diam, selalu bertanya ini itu tidak ada habisnya, bahkan selalu menyerobot kesempatan menjawab yang diberikan bu guru untuk teman-temannya. Tapi ternyata di sekolahnya yang barupun, guru mengeluhkan hal yang sama. Malah keluhan gurunya lebih spektakuler lagi. Menurut laporan guru, kalau aktivitas belajar adalah seputar hal-hal yang baru, Rio pasti semangat sekali mengerjakannya. Apalagi kalau kelihatannya hal baru tersebut cukup menantang atau cukup sulit, seperti menyusun puzzle, membuat model tertentu dari lego, atau menggunting pola dan menempelkannya. Rio bisa asyik sendiri sampai lebih dari setengah jam tanpa teralihkan dengan kegiatan lain. Selain itu Rio sangat suka dan sangat pandai menggambar. Walaupun Rio cenderung tidak menuruti aturan menggambar yang baku, seperti menggambar matahari ada 5, lalu diajarkan berlatih menggambar lingkaran, Rio malah membuat tokoh kartun dari lingkaran yang sudah dibuatnya tersebut. Rio selalu mempunyai alasan menarik atas semua hasil pekerjaannya yang lain dari teman-temannya itu. Walaupun Rio sering mendominasi kelas, tapi dia juga sering tampil bak pahlawan, menolong teman-temannya yang kesulitan, misalnya membantu mewarnai, mengguntingkan pola, atau menyusun puzzle.  Kadang terdengar komentar Rio menasihati temannya, seperti gaya orang dewasa. Tapi, kalau kegiatan yang diberikan guru tidak menarik bagi Rio atau memang sudah pernah diajarkan, maka Rio jadi seperti uring-uringan, hilir mudik di dalam kelas, tidak mau mengerjakan instruksi bu guru, atau malah seperti orang yang melamun dan kebosanan.

    Sekilas cerita di atas mencerminkan prilaku anak yang tidak bisa diam, dan jika dokter tidak cermat melakukan penilaian dapat tertukar-tukar menggolongkan Rio sebagai anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau yang dikenal sebagai Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), atau mungkin tertukar dengan gangguan prilaku lainnya. Padahal kita simak tadi, Rio bisa menghabiskan waktu cukup lama pada aktivitas yang disukainya. Tentu hal ini menyingkirkan kemungkinan Rio tergolong anak ADHD.

    Setelah dilakukan penilaian dan observasi prilaku yang cermat, juga serangkaian psikotest, ternyata didapatkan tingkat kognisi (IQ) Rio sangat jauh di atas rata-rata, yaitu 147. Level IQ yang lebih dari 130 disebut juga dengan GIFTEDNESS atau ANAK BERBAKAT. Sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan anak berbakat?

    Anak berbakat adalah anak yang menunjukkan kemampuan luar biasa di dalam bidang intelektual (level IQ>130; Level IQ normal adalah 90-110), kreatif, atau berprestasi sangat istimewa di bidang akademis tertentu, biasanya disertai kemampuan memimpin, atau berprestasi luar biasa di bidang seni.  Sebanyak 3 sampai 5% dari populasi anak merupakan anak berbakat (di Amerika Serikat) dan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan seorang anak menjadi anak berbakat yaitu faktor genetik, kemampuan untuk mengerti simbol-simbol, adanya kesempatan untuk mengembangkan bakat, dukungan orang tua untuk mengembangkan bakat, adanya aktivitas yang mengakomodasi bakatnya, dan pengaruh positif teman sebaya serta lingkungannya terhadap bakat yang dimilikinya.

    Biasanya anak berbakat memiliki kepribadian yang baik, cenderung sensitif dan mudah berempati. Mereka juga biasanya sangat perfeksionis, sangat akurat, sangat mengedepankan logika, tekun dan gigih dalam mengerjakan suatu “tugas” yang menantang. Di satu pihak, mereka sangat semangat mempelajari hal-hal baru, dan memang sangat cepat menangkap pelajaran, namun mereka tidak begitu saja langsung menurut pada instruksi atau aturan yang diberikan. Mereka cenderung mempertanyakan alasan-alasan kenapa peraturan tersebut diberlakukan, atau kenapa mereka harus mengerjakan sesuatu hal, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan lain yang sering diajukan adalah seputar hal-hal yang abstrak atau gaib, seperti pertanyaan mengenai Tuhan, malaikat, dsb. Anak berbakat menunjukkan kemampuan berpikir kompleks dan memiliki kemampuan “judgement” moral yang lebih “advanced” dibandingkan usianya. Misalnya, Rio tidak mau ada keluarga yang main kartu di rumah, karena menurutnya bermain kartu itu sama dengan bermain judi, sedangkan judi adalah kegiatan yang haram, dan Rio tidak suka rumahnya dijadikan tempat kegiatan haram.  Anak berbakat juga sangat kreatif, dan senang bermain konstruktif atau menciptakan sesuatu. Rio bisa asyik bermain lego menghasilkan berbagai model yang menyerupai aslinya, misalnya robot-robotan, jerapah, kereta api, mobil, dll, padahal Rio melakukan itu tanpa mencontoh pola. Rio juga bisa menggambar hal-hal yang tidak sesuai “pakem” yang diajarkan, karena kreativitasnya.

    Nah, kalau Rio memang berbakat, kenapa orang tua dan gurunya jadi kewalahan? Ternyata baik Mamah Rio maupun sebagian guru tidak mengenali bakat Rio sehingga Rio sering nampak sebagai anak yang tidak penurut, semaunya sendiri, tidak bisa diam, dan selalu harus terpenuhi keinginannya. Setelah dilakukan pertemuan antara dokter, Mamah Rio dan pihak guru, dibuatlah situasi yang sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi bakat Rio tanpa mengganggu lingkungan sosialnya. Guru memberikan kesempatan pada Rio untuk mengerjakan permainan atau tugas yang sama dengan teman-temannya, tapi khusus untuk Rio, diberikan instruksi yang lebih banyak dan lebih kompleks, sesuai dengan kemampuannya. Rio juga banyak diajak berdialog mengenai hal-hal yang bervariasi, tidak hanya seputar kegiatan sekolah tapi juga mengenai kehidupan sehari-hari yang menarik bagi Rio dan dapat dijelaskan secara logis, misalnya membahas tentang kenapa dan kapan timbul pelangi, membahas kenapa bisa turun hujan, atau bisa terjadi guntur, dan seterusnya. Rio juga diperkenankan membawa buku buku ceritanya ke sekolah dan menceritakannya di depan teman-temannya dan gurunya. Selain itu Rio diperkenankan menjadi “asisten” bu guru jika ada teman-teman yang kesulitan mengerjakan tugas.  Ternyata pola kegiatan baru tersebut sangat menyenangkan bagi Rio. Rio tambah semangat pergi ke sekolah, bahkan sudah “sibuk” menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke sekolah, dan tidak pernah hilir mudik atau bersikap kebosanan di dalam kelas. Dukungan pihak sekolah dan orang tua sangat mempengaruhi sikap, kepribadian dan prestasi Rio di kemudian hari.

    Referensi:

    Giftedness. JM. Sattler. Assessment of children, behavioral and clinical applications, Jerome M. Sattler, Publisher, Inc, San Diego, 2002

    Kristiantini Dewi, dr., SpA

    indiGrow Child Development Center

    Jalan Haruman 35 Bandung Telp. 022-7303244

    Retardasi Mental Februari 2, 2010

    Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
    Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
    comments closed

    Keterlambatan perkembangan merupakan istilah untuk mengindikasikan adanya perkembangan syaraf yang tidak normal, dimana terdapat kegagalan dalam pencapaian milestones usia yang tepat. Keterlambatan perkembangan atau retarded delay menunjukkan adanya kemampuan yang terlambat antara usia kalender dengan usia mentalnya. Yang terjadi adalah hanya perkembangannya yang terhambat, namun akan ada kemampuan optimal yang dapat dicapai. Dengan stimulasi yang tepat maka akan dapat mengejar ketertinggalannya. Kemampuan yang terlambat ini bukan berarti penderita retardasi mental tidak memiliki potensi. Yang mereka perlukan adalah optimalisasi dari apa yang mereka miliki. Stimulasi yang tepat akan dapat membantu mereka mencapai potensi maksimalnya.

    Sebagai ilustrasi, Maria melihat beberapa tanda perkembangan yang tidak normal pada anaknya yang bernama David. Sebagai bayi, David menunjukkan sedikit ketertarikan terhadap lingkungan dan tidak terlalu perhatian. David tahan duduk dalam kursi bayi waktu yang lama tanpa mengeluh. Walaupun Maria berusaha menyusuinya, isapan David lemah, dan ia sering memuntahkan susunya. Untuk perkembangan motorik kasar, David tidak bisa menahan kepalanya sampai di usia 4 bulan (seharusnya sudah bisa di usia 1 bulan), berguling di usia 8 bulan (seharusnya 5 bulan), dan baru dapat duduk di usia 14 bulan (seharusnya 7 bulan). Untuk perkembangan sosial dan motorik halus, David juga mengalami ketertinggalan dari norma usianya. Orang tua David, khawatir mengenai keterlambatan yang dialami anaknya.  Ketika David berusia 15 bulan, mereka mengkonsultasikan kepada dokter anak. Ketika David diberikan tes BSID-2 (Bayley Scales of Infant Development-Second Edition) pada usia 16 bulan, ditemukan bahwa usia mental David berada di usia 7 bulan dan IQ David dibawah 50.

    Ketika anak mengalami keterlambatan pada seluruh aspek perkembangan, diagnosanya ia mungkin mengalami retardasi mental. Menurut Batshaw (2000),   Retardasi mental (keterbelakangan mental) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada di bawah rata-rata disertai dengan gangguan terhadap fungsi adaptif paling sedikit 2 misalnya komunikasi, kemampuan menolong diri sendiri, berumah tangga, sosial, pekerjaan, kesehatan dan keamanan, yang mulai timbul sebelum usia 18 tahun. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo=kurang atau sedikit dan fren=jiwa) atau tuna mental.

    Menurut J.P. Chaplin, Intelegensi adalah kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara tepat dan efektif, kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, kemampuan memahami dan belajar dengan cepat. Ketiganya tidak terlepas satu sama lain.

    IQ (Intelligence Quotient) adalah angka normatif dari hasil intelegensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient).

    Cara pengukuran IQ

    IQ dapat diukur menggunakan tes intelegensi atau tes IQ yang standar yang banyak digunakan oleh para ahli psikolog di dunia, termasuk di Indonesia.  Tes iQ dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok. Beberapa model tes yang dapat mengukur IQ adalah: Stanford-Binet intelligence scale, The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R), The Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R), The Standard Progressive Matrices, The Kaufman Assessment Battery for Children (K-ABC), Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI) dan masih banyak lagi.

    Berdasarkan DSM-IV-TR, terdapat beberapa klasifikasi retardasi mental yaitu :

    Klasifikasi IQ

    Keterangan

    Ekspektasi Pendidikan
    Retardasi mental berat sekali (profound) dibawah 20 atau 25 Biasanya tidak dapat berjalan, berbicara atau memahami.

    Biasanya tidak mampu belajar walaupun mempunyai kemampuan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Keinginan biasanya membutuhkan perhatian yang penuh dan pengawasan untuk waktu seumur hidup.

    Retardasi mental berat (severe) Sekitar 20-25 sampai 35-40 Dapat dilatih meskipun agak lebih susah dibandingkan dengan anak retardasi mental moderat.

    Kemampuan belajar hanya pada area bantu diri seperti mandi, buang air, kemampuan terbatas dalam bidang akademik. Kemampuan penyesuaian sosial biasanya terbatas hanya pada anggota keluarga atau orang yang dikenal lainnya. Kemampuan kerja biasanya dapat terlihat ketika bekerja dibawah setting workshop atau naungan suatu lembaga tertentu.

    Retardasi mental moderat (moderate) Sekitar 35-40 sampai 50-55 Mengalami kelambatan  dalam belajar berbicara dan kelambatan dalam mencapai tingkat perkembangan lainnya (misalnya duduk dan berbicara). Dengan latihan dan dukungan dari lingkungannya, mereka dapat hidup dengan tingkat kemandirian tertentu.

    Dapat mengikuti sekolah sampai kelas dua sampai kelas lima. Dalam hal penyesuaian sosial menampakkan kemandirian dalam komunitas. Dalam hal kemampuan kerja harus didukung secara penuh atau hanya secara parsial.

    Retardasi mental ringan (mild) Sekitar 50-55 sampai 70 Bisa mencapai kemampuan membaca sampai kelas 4-6.

    Dapat mempelajari kemampuan pendidikan dasar yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memerlukan pengawasan dan bimbingan serta pelatihan dan pendidikan khusus.

    Borderline Sekitar 70 sampai 89 Penyesuaian sosial yang tidak berpola akan berbeda dengan populasinya walaupun pada segmen yang lebih bawah penyesuaiannya akan baik, dalam arti lain perkembangan anak dalam penyesuaian sosial akan berbeda dengan teman-teman seusianya yang normal.

    Mampu mengikuti kegiatan sekolah sampai pada jenjang tertentu yang dapat dicapai tidak sesuai dengan tahapan usia kalender. Memperoleh kepuasan kerja dibidang non-teknis yang disertai dengan dukungan diri yang penuh bila diperlukan

    Penderita mental retardasi memerlukan pendidikan untuk memperoleh keterampilan dan kemandirian. Pendidikan untuk penderita mental retardasi perlu dilakukan berulang-ulang (remedial) agar kemampuan yang telah dicapai tidak menurun.

    Tingkat kecerdasan ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Pada sebagian besar kasus retardasi mental, penyebabnya tidak diketahui; hanya 25 % kasus yang memiliki penyebab yang spesifik.

    Penyebab retardasi mental

    Penyebab retardasi mental dibagi menjadi beberapa kelompok:

    1. Trauma (sebelum dan sesudah lahir) : pendarahan intrakranial sebelum atau sesudah lahir; cedera hipoksia (kekurangan oksigen) sebelum, selama atau sesudah lahir; cedera kepala yang berat.
    2. Infeksi (bawaan dan sesudah lahir) : Rubella kongenitalis, Meningitis, infeksi sitomegalovirus bawaan, Ensefalitis, Toksoplasmosis kongenitalis, Listeriosis, infeksi HIV.
    3. Kelainan kromosom : kesalahan pada jumlah kromosom (Sindroma Down), defek pada kromosom (sindroma X yang rapuh, sindroma Angelman, sindroma Prader-Will).
    4. Kelainan genetik dan kelainan metabolik yang diturunkan: Galaktosemia, penyakit Tay-Sachs, Fenilketonuria ,Sindroma Hunter, Sindroma Hurler, Sindroma Santifilipo, Leukodistrofi metakromatik, Adrenoleukodistrofi, Sindroma Lesch-Nyhan, Sindroma Rett, Sklerosis tuberosa.
    5. Metabolik: Sindroma Reye, Dehidrasi hipernatrenik, Hipotiroid kongenital, Hipoglikemia (Diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik).
    6. Keracunan: pemakaian alkohol, kokain, amfetamin dan obat lainnya pada ibu hamil; keracunan metilmerkuri, keracunan timah hitam.
    7. Gizi: Kwashiorkor, Marasmus, Malnutrisi.
    8. Lingkungan: kemiskinan, status ekonomi rendah, sindroma deprivasi.

    Penanganan Retardasi Mental.

    Penanganan anak dengan retardasi mental memerlukan integrasi multidisiplin untuk membantu anak-anak ini:

    • Remedial Teaching

    Perlu pengulangan secara terus menerus di berbagai situasi dan kesempatan untuk membantu mereka memahami hal-hal yang baru dipelajari.

    • Pelayanan Pendidikan

    Pendidikan merupakan aspek yang paling penting berkaitan dengan treatment pada anak penderita retardasi mental. Pencapaian hasil yang “baik” bergantung pada interaksi antara guru dan murid. Program pendidikan harus berkaitan dengan kebutuhan anak dan mengacu pada kelemahan dan kelebihan anak. Target pendidikan tidak hanya berkaitan dengan bidang akademik saja. Secara umum, anak penderita retardasi mental membutuhkan bantuan dalam memperoleh pendidikan dan keterampilan untuk mandiri.

    • Kebutuhan-kebutuhan Kesenangan dan Rekreasi

    Idealnya, anak penderita retardasi mental dapat berpartisipasi dalam aktivitas bermain dan rekreasi. Ketika anak tidak ikut dalam aktivitas bermain, pada saat remaja akan kesulitan untuk dapat berinteraksi sosial dengan tepat dan tidak kompetitif dalam aktivitas olahraga. Partisipasi dalam olahraga memiliki beberapa keuntungan, yaitu pengaturan berat badan, perkembangan koordinasi fisik, pemeliharaan kesehatan kardiovaskular, dan peningkatan self-image (gambaran diri).

    • Kontrol Gangguan Tingkah laku

    Gangguan tingkah laku dapat dihasilkan dari ekspektasi/harapan orang tua yang tidak tepat, masalah organik, dan atau kesulitan keluarga. Kemungkinan lain, gangguan tingkah laku dapat muncul sebagai usaha anak untuk memperoleh perhatian atau untuk menghindari frustrasi. Dalam mengukur tingkah laku, kita harus mempertimbangkan apakah tingkah lakunya tidak sesuai dengan usia mental anak, daripada dengan usia kronologisnya. Pada  beberapa anak, mereka memerlukan teknik manajemen tingkah laku dan atau penggunaan obat.

    • Mengatasi Gangguan

    Jika terdapat gangguan lain- Cerebral palsy; gangguan visual & pendengaran; gangguan epilepsi; gangguan bicara dan gangguan lain dalam bahasa, tingkahlaku dan persepsi- maka yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang optimal adalah diperlukan terapi fisik terus menerus, terapi okupasi, terapi bicara-bahasa, perlengkapan adaptif seperti kaca mata, alat bantu dengar, obat anti epilepsi dan lain sebagainya. Perlu diagnosa yang tepat untuk menetapkan gangguan, diluar hanya masalah taraf intelegensi.

    • Konseling Keluarga

    Banyak keluarga yang dapat beradaptasi dengan baik ketika memiliki anak yang menderita retardasi mental, tetapi ada pula yang tidak. Diantaranya karena faktor-faktor yang berkaitan dengan kemampuan keluarga dalam menghadapi masalah perkawinan, usia orang tua, self-esteem (harga diri) orang tua, banyaknya saudara kandung, status sosial ekonomi, tingkat kesulitan, harapan orang tua & penerimaan diagnosis, dukungan dari anggota keluarga dan tersedianya program-program dan pelayanan masyarakat.

    Salah satu bagian yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan bagi keluarga penderita retardasi mental, agar keluarga dapat tetap menjaga rasa percaya diri dan mempunyai harapan-harapan yang realistik tentang penderita. Perlu penerimaan orang tua mengenai taraf kemampuan yang dapat dicapai anak. Orang tua disarankan untuk menjalani konsultasi dengan tujuan mengatasi rasa bersalah, perasaan tidak berdaya, penyangkalan dan perasaan marah terhadap anak. Selain itu orang tua dapat berbagi informasi mengenai penyebab, pengobatan dan perawatan penderita baik dengan ahli maupun dengan orang tua lain.

    • Evaluasi Secara Berkala

    Walaupun retardasi mental adalah suatu gangguan statis, kebutuhan-kebutuhan anak dan keluarga berubah setiap waktu. Seiring perkembangan anak, informasi tambahan harus diberikan kepada orang tua, dan tujuan harus ditetapkan kembali, serta program perlu diatur.


    Tujuan Penanganan

    Tujuan penanganan anak retardasi mental yang utama adalah mengembangkan potensi anak semaksimal mungkin. Sedini mungkin diberikan pendidikan dan pelatihan khusus, yang meliputi pendidikan dan pelatihan kemampuan sosial untuk membantu anak berfungsi senormal mungkin.

    Pencarian bakat dan minat juga perlu digali dan dikenali agar anak dapat diarahkan pada latihan dan keterampilan yang dapat menunjang kehidupan mereka selanjutnya. Banyak cara dan variasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan adaptasi pada penderita retardasi mental, baik intervensi pribadi atau kombinasi. Terapi perilaku berguna untuk membentuk tingkah laku sosial, mengontrol perilaku agresif atau tingkah laku yang merusak.

    Daftar referensi :

    • Children with Disabilities.Batshaw:2000
    • http://www.medicastore.com
    • American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and statistical manual of mental disorders
    • Pengantar Psikologi intelegensi. Drs. Saifuddin Azwar, MA:1999
    • Kamus Lengkap Psikologi.J.P.Chaplin: 1999