jump to navigation

“DISKALKULIA: apakah selalu mengikuti disleksia?” Maret 18, 2010

Posted by indigrow in Specific Learning Disability.
Tags: , , , , ,
trackback

Oleh: Dr. Kristiantini Dewi, SpA

Beberapa waktu yang lalu telah kita bahas mengenai disleksia, yakni suatu kesulitan belajar spesifik berupa kesulitan dalam membaca, mengeja dan menulis yang dijumpai pada anak dengan level intelegensi yang normal atau bahkan pada anak-anak yang cerdas. Disleksia dapat juga bermanifestasi sebagai gangguan berkomunikasi ataupun kesulitan dalam matematika. Kali ini kita akan bahas lebih banyak mengenai kesulitan matematika pada anak penyandang disleksia atau yang dikenal sebagai “diskalkulia”.

Bagi sebagian penyandang disleksia, sukses dalam bidang matematika mungkin merupakan sesuatu yang harus dicapai dengan penuh perjuangan. Terdapat berbagai penelitian yang melaporkan masalah ini. Salah satu peneliti (Steeves, 1983) melaporkan bahwa justru banyak anak disleksia yang  jenius di bidang matematika. Sebaliknya, Joffe (1990) melaporkan bahwa 10% anak disleksia menunjukkan prestasi yang sangat baik di bidang matematika, sedangkan 30% lainnya tidak menunjukkan kesulitan sama sekali di bidang hitung menghitung ini. Namun Miles dan Miles (1992) melaporkan bahwa sebagian besar penyandang disleksia mengalami diskalkulia.

Terdapat mitos yang beredar di masyarakat bahwa disleksia-diskalkulia ini lebih sering disandang oleh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Namun analisis terkini menunjukkan bahwa anggapan tersebut timbul dikarenakan penelitian-penelitian yang menjadi sumber datanya adalah penelitian yang subjeknya berasal dari kelompok anak yang sudah dirujuk untuk suatu gangguan prilaku, dan kebanyakan subjek tersebut adalah laki-laki.  Penelitian terkini menunjukkan bahwa penyandang disleksia-diskalkulia sama banyak laki dan perempuan.

Jika anak disleksia-diskalkulia mendapatkan terapi yang tepat, mereka mampu memahami konsep-konsep perhitungan, mampu mengerjakan tugas matematika dengan benar bahkan akhirnya menunjukkan ke-jenius-an mereka di bidang hitung menghitung ini sesuai dengan potensi kecerdasan yang mereka miliki. Kadang, kita tidak dapat melihat prestasi ini saat anak berada di usia sekolah melainkan terlihat saat anak sudah beranjak besar. Salah satu contohnya adalah .seorang ilmuwan yang terkenal, Albert Einstein, di awal usia sekolahnya menunjukkan kesulitan yang amat sangat di bidang aritmetika. Saat itu ke-jenius-annya di bidang matematika belum nampak karena dia tidak mampu memberikan jawaban yang cepat, akurat dan “hafal mati” seperti yang diharapkan gurunya. Tentu saja hal ini diakibatkan karena Albert Einstein menyandang disleksia. Beruntung, di kemudian hari Albert Einstein tidak membiarkan ke-disleksia-diskalkulia-annya ini menghambatnya untuk terus berkarya di bidang matematika.

Kesulitan-kesulitan matematika yang sering dihadapi oleh penyandang disleksia cukup bervariasi, sehingga satu individu disleksia bisa menunjukkan banyak kesulitan, namun individu disleksia lain mungkin menunjukkan diskalkulia ringan saja.

Berikut adalah berbagai aspek kesulitan yang mungkin ditemukan pada anak penyandang diskalkulia:

  • Membaca kalimat dalam soal matematika
    • Anak disleksia-diskalkulia mengalami kesulitan dalam memaknai kata-kata / istilah-istilah yang sering tampil dalam soal-soal matematika. Anak sulit memahami pengertian-pengertian sebagai berikut: ‘kurang lebih sama dengan’, ‘ diantaranya’, ‘ sejajar’, ‘ jalan lain, ‘sama banyak dengan’, ‘ di pinggir’, ‘ di atas dari’, ‘ di bawah dari’, ‘ di samping dari’, ‘ jauh dari’, ‘ seimbang’,  ‘sama dengan’, ‘ lebih besar dari’, ‘ lebih tinggi dari ‘, ‘di depan dari’, ‘di sudut dari ‘, ‘perkirakan’, ‘kurang dari’,  ‘garis yang simetris’, ‘ganjil’, ‘genap’, ‘simetris’, ‘rata-rata’, ‘secukupnya’, dll
  • Membaca angka, membaca angka dari kanan, menyalin angka
    • Sesuai dengan karakteristik disleksianya, anak seringkali salah “lihat” angka, lalu salah menyalinnya. Sering pula dijumpai mereka tidak dapat mengelompokkan angka dari kanan pada angka dengan jumlah digit yang banyak, misalnya: 752250, seharusnya dituliskan sebagai 752.250.
  • Memahami nilai satuan, puluhan, ratusan sehingga menyulitkan pada penulisan, apalagi pada operasi perhitungan yang lebih kompleks lainnya misalnya pada operasi penjumlahan ke bawah, mereka menyusun nilai satuan di kelompok puluhan, atau nilai ratusan di puluhan.
  • Mengenali simbol operasi perhitungan
    • Anak disleksia-diskalkulia mengalami kesulitan untuk memahami symbol (+), (-), (x), (:), dan symbol-simbol lain yang lebih rumit. Soal-soal yang ditulis dengan symbol (-), mungkin malah dikerjakan  selayaknya instruksi (+). Bahkan pada sebagian anak dengan gangguan berat, mereka merasa tidak yakin apakah yang dimaksud dengan “bertambah” atau “berkurang”.
  • Mengidentifikasi bentuk, apalagi jika bentuknya dibolak balik (missal: segitiga sama sisi, segitiga sama kaki)
  • Mengenali dan memahami tanda “,” sebagai tanda desimal
  • Menghitung ke depan dan ke belakang
  • Melakukan perhitungan di luar kepala
  • Membaca, memahami dan mengingat “time table”
  • Mengatakan hari dalam seminggu, bulan dalam setahun
  • Menyebutkan waktu dan memahami konsep waktu
  • Memahami konsep uang
  • Menggunakan kalkulator dengan benar
  • Memahami persentase
  • Mengestimasi
  • Menggunakan rumus
  • Menggunakan rumus yang sama untuk soal yang berbeda

Selain kesulitan memahami bahasa matematika , anak disleksia-diskalkulia juga mengalami kesulitan dalam memaknai istilah-istilah non matematika, hal ini yang membuat mereka semakin susah menyelesaikan soal-soal matematika, terutama yang berbentuk soal cerita.

Contoh:

  • Untuk belajar membuat robot, Ayah harus membayar seratus ribu rupiah untuk empat kali pertemuan dimana satu kali pertemuan adalah 2 jam lamanya.
  • Anak disleksia bingung memaknai istilah “dimana”, “lamanya”

Apa yang dapat kita lakukan bagi penyandang disleksia-diskalkulia?

  • Gunakan bahasa matematika yang lebih sederhana, jelas dan lebih mudah dipahami anak disleksia
  • Latih anak untuk memahami dan menguasai simbol angka, dan symbol operasi perhitungan matematika
  • Bantu anak memahami soal cerita dengan cara menghadirkan benda-benda yang disebutkan dalam soal secara visual à Belajar praktikal
  • Gunakan kertas berpetak untuk membantu operasi perhitungan susun ke bawah
  • Lakukan fragmentasi soal cerita yang panjang menjadi kalimat kalimat pendek yang mudah dipaham.
  • Latih anak untuk mengerti dan menguasai konsep uang, misalnya dengan berlatih berbelanja sendiri mulai dari sejumlah barang yang sedikit sampai dengan yang cukup banyak
  • Kertas kerja dibacakan dan direkam dalam audio tape, anak membaca sambil menyimak audio tape
  • Gunakan buku agenda untuk mencatat kegiatan kegiatan dan pekerjaan rumah
  • Yakinkan bahwa instruksi disampaikan dengan jelas, perlahan sehingga murid mengerti
  • Gunakan kertas untuk menutup soal yang sudah atau belum dikerjakan, soal yang terlihat hanya soal yang sedang dikerjakan

Selain pendekatan khusus untuk aspek diskalkulianya, jangan lupakan strategi pembelajaran umum bagi anak penyandang disleksia yaitu digunakan pendekatan multisensoris (dapat berupa bantuan gambar, audiotape, dll), mengajarkan anak untuk menggunakan logikanya, bukan menghafal mati, berikan materi bertahap satu per satu, dan berikan materi dalam unit-unit kecil. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah memperhatikan aspek emosi anak. Selalu berikan semangat dan pujian pada setiap usaha perbaikan yang telah mereka tunjukkan.

REFERENSI:

  • Henderson (1998). Maths for the dyslexic. A Practical guide. David Fulton, New York.
  • C.M. Stowe (2000). How to reach & teach children & teens with dyslexia. Jossey-Bass, San Fransisco.
%d blogger menyukai ini: