jump to navigation

“ANAKKU TERLAMBAT BICARA” Februari 9, 2010

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Oleh : dr. Kristiantini Dewi, SpA

(indiGrow Child Development Center)

Kapan ya seorang anak dikatakan terlambat bicara, apakah sejak usia dini, ataukah sebaiknya orang tua menunggu sampai usia 2 tahun baru diperiksakan ke dokter? Apakah semua keterlambatan bicara memang harus diperiksakan ke dokter? Bukankah nanti juga anak anak bisa sendiri berbicara dengan lancar…?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang kerap timbul di benak orang tua, dan seringkali mitos lebih banyak menjawab pertanyaan tersebut dibandingkan informasi dari dokter. Oleh karena itu kita simak yuk penjelasan di bawah ini.

Sebelumnya perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan bicara adalah kemampuan individu untuk memproduksi suara, sedangkan berbahasa adalah kemampuan individu untuk berbicara dalam konteks untuk berkomunikasi.

Kapan seorang anak dikatakan terlambat bicara dan berbahasa

Sebetulnya aspek bicara dan berbahasa merupakan salah satu aspek perkembangan seorang bayi/anak yang dimulai sejak lahir. Kemampuan bayi untuk berkomunikasi dimulai dengan reaksinya terhadap bunyi bunyian atau suara ibu bapaknya, bahkan di usia 2 bulan bayi sudah menunjukkan senyum sosial pada semua orang yang berinteraksi dengannya. Hal ini diikuti dengan kemampuan bayi mengeluarkan suara “cooing” berupa “aaahh…., uuuhh…” dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. Dengan bertambahnya usia bayi kemampuan bayi mengeluarkan suara bertambah menjadi “babbling”  di usia 6 bulan, yakni memproduksi suara konsonan “ba….”, “da…” sampai akhirnya menjadi “laling” di usia 8 bulan, yakni mengulang dua suara konsonan “bababa….”, “dadada…..”, “mamama……….” Sehingga akhirnya di usia 1 tahun bayi sudah mampu mengatakan 3 kata bermakna untuk berkomunikasi, biasanya “mama” untuk ibunya, “papa” untuk ayahnya dan satu kata lagi yang biasa dipergunakan di rumahnya, misalnya “mbak” untuk pengasuhnya. Di usia 18 bulan anak sudah mampu memahami dan mengeluarkan sekitar 20 kosa kata yang bermakna. Sedangkan di usia 2 tahun sudah mampu mengucapkan 1 kalimat yang terdiri dari 2 kata, misalnya “mama pergi”, “aku pipis”, dsb.

Anak dikatakan terlambat bicara dan berbahasa, jika pada usia tertentu kemampuannya memproduksi suara dan berkomunikasi di bawah rata-rata anak seusianya.

Seperti apa yang dimaksud dengan gangguan bicara

Gangguan bicara adalah ketidakmampuan atau kesulitan seorang anak untuk memproduksi suara yang spesifik untuk bicara atau adanya gangguan dalam kualitas suara. Hal ini bisa berupa gangguan pada artikulasi, gangguan pada fonasi, gangguan irama kelancaran bicara, gangguan tekanan suara (pitch). Gangguan artikulasi dapat berupa penggantian satu suara dengan suara lain atau bahkan menjadi suara lain sama sekali. Misalnya “mobil” jadi “obin”, atau “pelangi” jadi “telangi”, dsb. Gangguan irama kelancaran bicara dapat berupa bicara cepat atau “cluttering” sehingga tidak jelas kata-kata yang diucapkan. Bentuk lain dari gangguan irama kelancaran adalah gagap atau “stuttering”, yaitu irama kelancaran bicara menjadi terputus-putus. Gagap biasanya muncul di usia 3 atau 4 tahun setelah itu hilang sendiri. Namun gagap yang menetap perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk dipertimbangakan perlunya terapi wicara. Selain itu juga dapat berupa gangguan dalam „pitch“, volume ataupun kualitas suara. Gangguan suara tipikal misalnya suara kasar, suara terputus-putus atau terengah-engah, suara yang terpecah jika dalam intonasi atau pitch yang tinggi.

Apa yang dimaksud dengan gangguan berbahasa

Gangguan berbahasa dapat dibagi menjadi gangguan berbahasa ekspresif dan gangguan berbahasa campuran (ekspresif-reseptif). Yang dimaksud dengan gangguan berbahasa ekspresif adalah ketidakmampuan anak untuk mengekspresikan ide, pikiran dan pendapatnya melalui kata-kata atau secara verbal yang sesuai dengan usianya, sekalipun anak tersebut mempunyai pemahaman yang sesuai dengan usianya. Anak dengan gangguan bahasa ekspresif tipe perkembangan ini biasanya dibawa orang tuanya dengan keluhan „terlambat bicara“ atau mungkin dengan keluhan „agresif“ dan „tidak bisa diam“. Keluhan tersebut memang dapat terjadi mengingat anak tersebut dapat mengalami „frustrasi“ karena tidak dapat mengutarakan keinginannya dengan baik sehingga mengganggu interaksinya dengan orang lain. Hal ini berujung pada sikapnya yang cenderung agresif dan tidak bisa diam.

Yang dimaksud dengan gangguan berbahasa campuran (ekspresif-reseptif) adalah ketidakmampuan anak untuk mengekspresikan idenya sekaligus dengan keterbatasannya untuk memahami pembicaraan orang lain. Tentunya keadaan ini lebih buruk dibandingkan dengan sekedar gangguan berbahasa ekspresif saja.

Apa saja yang perlu dipikirkan pada keadaan terlambat bicara

Jika kita mendapatkan suatu kasus terlambat bicara maka ada beberapa hal yang harus diperiksa dengan seksama oleh dokter anak.

Pertama, dokter akan memeriksa dengan teliti seluruh modalitas yang dibutuhkan untuk terjadinya produksi suara yang baik, ataupun adanya hal hal yang memungkinkan terganggunya produksi suara, yakni organ-organ mulut, hidung, bibir, gusi, lidah, langit-langit, pita suara, tonsil, tenggorokan, paru-paru dan diafragma. Kelainan pada aspek ini dapat berupa celah bibir, celah gusi, celah langit-langit, lidah pendek, dll.

Kedua, dokter akan memeriksa apakah ada kemungkinan anak tersebut mengalami gangguan pendengaran. Tes sederhana yang dapat dikerjakan di poliklinik dapat berupa menggesek-gesekan kertas / membunyikan lonceng di belakang bayi dan melihat reaksinya. Namun jika dianggap perlu, dokter anak akan merujuknya ke dokter ahli THT (audiologi) untuk pemeriksaan lebih lanjut yaitu pemeriksaan OAE (Oto Acustic Emisssion) dan BERA (Brain Evoked Respons Auditory). Kedua pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mendapatkan data objektif mengenai keadaan jaras pendengaran bayi mulai dari telinga luar sampai dengan telinga dalam (saraf pendengaran). Kelainan pada aspek ini dapat berupa ganguan dengar ringan sampai berat.

Ketiga, dokter anak akan memastikan keadaan susunan saraf pusat (otak) bayi dengan serangkaian pemeriksaan neurologis (saraf). Susunan saraf pusat yang terganggu memungkinkan anak tidak mampu memfungsikan modalitas alat-alat pemproduksi suara bahkan anak jadi tidak mampu memahami berbagai kosa kata/kalimat yang dikomunikasikan padanya. Kelainan pada aspek ini misalnya Cerebral palsy (CP), keterbelakangan mental, sindrom sindrom tertentu, dll.

Keempat, dokter anak tidak luput memperhatikan aspek prilaku dan interaksi sosial dari anak yang dikeluhkan terlambat bicara. Anak yang tidak mampu berkomunikasi disertai dengan prilaku yang tidak biasa, misalnya mojok, bermain sendiri, memainkan benda benda yang tidak biasanya (menggoyang-goyangkan tali di hadapannya, memutar-mutar ban mobil-mobilan sampai berjam-jam), mencederai diri sendiri (memukul mukul kepalanya, menggigit jari tangannya), disertai dengan tidak ada kontak sama sekali dengan siapapun, mungkin sekali menuntun dokter untuk mencurigai suatu keadaan yang kita kenal sebagai autis. Sedangkan perilaku anak yang dikeluhkan tidak bisa berkomunikasi, sekaligus tidak memahami konteks pembicaraan, namun masih ada kontak dengan sekitarnya, disertai dengan prilaku yang agresif, mungkin dengan prilaku yang primitif (masih nge-ces, BAB dan BAK di sembarang tempat) dapat merupakan petunjuk adanya suatu keterbelakangan mental yang berat.

Apa yang seharusnya dilakukan orang tua

Segera konsultasikan anak anda yang diyakini menunjukkan tanda tanda keterlambatan bicara maupun bahasa. Dokter anak akan memeriksa dengan seksama dan menganjurkan beberapa pemeriksaan penunjang ataupun rujukan ke dokter ahli lain bilamana dianggap perlu.

Anak akan mendapatkan intervensi yang sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan penyebabnya, mulai dari terapi wicara sampai dengan alat bantu dengar atau terapi lain yang sesuai misalnya terapi prilaku untuk anak autis dan terapi okupasi bagi penyandang tuna grahita.

Kapan harus waspada

Keterlambatan bicara dan bahasa sangat perlu diwaspadai pada anak anak dengan gangguan saraf (misal: cerebral palsy), anak yang mengalami kesulitan menyusu, mengunyah dan masih ngiler sampai usia 12 bulan, anak yang tidak juga mengeluarkan babbling sampai usia 10 bulan, dan anak yang tidak mampu mengucapkan 1 kata pun di usia 18 bulan.

Semakin dini (< 2 tahun) anak diketahui mengalami keterlambatan bicara-bahasa, semakin cepat pula intervensi dapat dilakukan sehingga kita dapat mengharapkan hasil yang lebih baik.

Oleh karena itu, tunggu apa lagi. Bawa si kecil untuk konsultasi yuk….!

REFERENSI

Children with disabilities, Fourth Edition. Mark L. Batshaw, MD, 1997

Disability Fact Sheet on Speech/Language Disorders (FS11). January 2004. National Dissemination Center for Children with Disabilities

US Department of Education

Komentar

1. Endah Kurniati - Februari 21, 2010

Selamat siang dr.Dewi. Perkenalkan nama saya Endah Kurniati, salah satu mahasiswa Terapi Wicara Politeknik Kesehaan Surakarta, tingkat akhir.
Saya sangat tertarik dengan artikel ini. Karena berhubungan erat dengan bidang saya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca yang lain. Terimakasih….

indigrow - Maret 2, 2010

Terimakasih atas apresiasinya…


Sorry comments are closed for this entry

%d blogger menyukai ini: