jump to navigation

NONTON TV….., dampingi yuk…!! September 30, 2010

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , ,
comments closed

Banyak orang tua yang sangat mengkhawatirkan kebiasaan putra putrinya menonton televisi. Seperti yang sering kita temui dalam banyak keluarga, anak berteman dekat, bahkan seperti yang “nempel” dengan si kotak ajaib tersebut. Tidak jarang kita lihat anak yang punya kebiasaan bangun tidur langsung nonton tv, lalu makan pagi, makan siang maupun makan malam, semuanya dilakukan sambil nonton tv. Bahkan serin pula kita temukan anak yang belajar nya pun sambil menonton tv. Kalau sudah seperti ini, hirauan dari ayah dan bunda pun sepertinya angin lalu saja, malah kadang-kadang terpaksa harus “mengalah” pada kemauan anak-anaknya… Wah, sepertinya orang tua perlu kiat-kiat khusus ya untuk menyikapi “adat” si kecil…. Kita simak yuk, apa saja sih keuntungan dan kerugian menonton tv bagi si kecil, dan bagaimana trik nya agar putra putri kita mendapatkan manfaat maksimal dari kegiatan yang mengasyikan ini….

Keuntungan dan kerugian :

Tidak dapat disangkal lagi menonton tv memang merupakan kegiatan yang mengasyikkan, tidak hanya untuk anak-anak kita, tapi juga bagi kita orang dewasa. Televisi memang sarat dengan hiburan yang menyenangkan untuk segala usia, dan juga merupakan sarana pendidikan yang cukup efektif. Sebetulnya sudah banyak program pendidikan yang dikemas menarik ditayangkan di televisi, seperti tentang program mengenal huruf, mengenal angka, mempelajari benda-benda dan kegiatan-kegiatan sehari-hari, memperkenalkan adat istiadat tiap suku, sampai dengan program yang memandu anak membuat karya tertentu atau mengajak mereka mengenali dan memahami proses pembuatan suatu hal yang menarik (proses pembuatan film kartun, proses pembuatan coklat, dan lain-lain). Namun, jika kegiatan menonton tv menjadi dominan dalam kehidupan anak, dengan sendirinya akan membatasi peluang anak untuk melakukan kegiatan lain, yang mungkin tidak kalah pentingnya bagi perkembangan sang anak. Menonton tv merupakan kegiatan yang pasif, tidak ada interaksi aktif antara anak dengan acara yang ditontonnya. Padahal anak tumbuh dan berkembang membutuhkan kegiatan lain yang sifatnya interaktif, seperti bermain, berkomunikasi dengan lingkungannya, berolah raga, mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, dan juga butuh pengalaman nyata atas berbagai situasi dan kondisi dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal seperti itu tentu tidak bisa didapatkan dari hanya sekedar menonton tv. Selain itu, respons tiap anak terhadap acara tv sangat tergantung kepada usianya dan kematangan kepribadian / mentalnya. Kalau salah-salah menyajikan tontonan pada putra putri kita, wah…bisa-bisa bukan manfaat yang didapatkan melainkan hanya buang-buang waktu dan energi saja.

Sebetulnya apa saja yang mungkin didapatkan oleh si kecil saat menonton TV, coba simak berikut ini:

  • Menonton tv merupakan media dimana anak menyaksikan sesuatu yang berulang-ulang, misalnya pola prilaku tokoh-tokoh tertentu dalam sebuah film, pola kehidupan para orang dewasa (misalnya artis), pola kejahatan, dan lain sebagainya. Bukan tidak mungkin, akhirnya tanpa kita sadari, anak mengadopsi pola yang disaksikannya tersebut sehingga mempengaruhi cara berpikirnya, cara berbicaranya, cara mengatasi masalah, cara berinteraksi dengan orang lain. Kalau yang disaksikan mereka adalah sesuatu yang bersifat positif, tentu ada kebaikan yang dapat kita petik. Tapi bagaimana kalau yang dilihat berulang-ulang adalah tayangan yang sifatnya negatif, atau tidak sesuai dengan usia anak? Tentunya berpengaruh buruk juga pada perkembangan mereka.
  • Penelitian menunjukkan bahwa anak yang baru saja selesai menonton tv, mengalami kesulitan menekuni „tugas belajar“ atau permainan edukatif tertentu yang sifatnya membutuhkan waktu agak lama, seperti membaca, atau bermain puzzle. Dan anak yang memiliki pesawat tv dalam kamar pribadinya (otomatis pola menonton tv tidak terkendali oleh orang tuanya), memiliki prestasi akademis yang lebih buruk dibandingkan yang tidak melakukan hal yang sama.
  • Anak yang terlalu „nempel“ dengan si kotak ajaib, kehilangan kesempatan untuk bermain, belajar, berkomunikasi, berpikir, bersosialisasi dan berolahraga, atau dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya „active learning“.
  • Anak usia dibawah 6 tahun masih sulit membedakan antara khayalan dengan kenyataan yang ditampilkan di tv. Mereka belum mengerti membedakan sebab dan akibat.
  • Anak usia 6-9 tahun juga masih sering belum dapat menerima suatu tayangan sebagai suatu „rekayasa“, apalagi jika yang ditampilkan tersebut terjadi dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka juga sangat mengagung-agungkan idolanya.
  • Anak baru gede (alias ABG = remaja) sangat terpengaruh dengan tayangan yang sarat dengan unsur materi, dan mereka sangat tertarik pada tayangan yang memuat dunia mereka yaitu tentang pergaulan laki dengan perempuan, tentang hal-hal yang berbau seks dan juga gaya hidup remaja.
  • Anak dibawah 8 tahun „sangat percaya“ pada iklan yang dilihatnya, bahkan „termakan“ rayuan iklan yang belum tentu baik untuk tumbuh kembangnya.
  • Anak di segala usia akan terganggu dan tidak nyaman menyaksikan tayangan yang bermuatan kesadisan atau kekejaman, baik kejahatan yang menimpa binatang, menimpa anak seusianya, atau kejahatan yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Tayangan kejahatan dapat mengakibatkan anak menjadi lebih agresif dalam menyelesaikan masalah, atau mereka menjadi cemas / ketakutan jika membayangkan hal-hal tersebut terjadi dalam kehidupan sebenarnya, atau mereka malah menjadi individu yang „kurang sensitif“ terhadap adanya tindak kejahatan di sekitarnya.
  • Anak yang masih muda cenderung belum siap dan tidak dapat membedakan apakah berita yang terjadi di televisi akan sangat mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari atau hanya peristiwa yang mungkin terjadi namun langka.
  • Jika suatu berita terus ditayangkan berulang-ulang (misalnya: tsunami, gempa bumi, huru hara, dsb), anak bisa berpikir bahwa kejadian tersebut memang secara nyata terjadi berulang-ulang juga
  • Anak laki, anak yang menonton TV 3 jam atau lebih dalam sehari, dan anak-anak dengan latar belakang mengalami kekerasan dalam keluarga, serta anak dari keluarga yang tidak harmonis, merupakan kelompok anak yang paling rentan terpengaruh atas tayangan bermuatan kejahatan.

Kalau begitu, apa yang dapat kita lakukan sebagai orang tua agar mereka mendapatkan keuntungan maksimal dari kegiatan menonton tv, dan sebaliknya, meminimalisasi segala efek buruk yang mungkin didapat putra putri kita?

  • Ajarkan anak untuk ikut mengelompokkan tayangan-tayangan yang mereka sukai menjadi kelompok „Perlu ditonton“ (P), „Boleh ditonton“ (B), dan „Tidak bermanfaat ditonton“ (TB)
  • Ajak putra putri anda untuk ikut merencanakan tayangan mana yang akan ditonton, dan buat kesepakatan berapa jam sehari mereka boleh menonton. Arahkan mereka untuk memprioritaskan menonton tayangan kategori „P“, baru kategori „B“, dan sedapat mungkin meninggalkan tayangan kategori „TB“.
  • Dampingi selalu anak-anak saat menonton TV, pancing mereka agar terjadi dialog interaktif dengan orang tua dengan topik isi tayangan tersebut. Tanyakan apa yang mereka pikirkan tentang tayangan tersebut, dan sampaikan pendapat orang tua mengenai acara tersebut, dst.
  • Tanyakan perasaan anak setelah menonton tayangan tersebut, dan jika mereka menjadi agak stres setelah menonton tayangan tertentu, biarkan anak menceritakan apa yang dirasakannya, dan mengapa dia merasa seperti itu. Anak mungkin pernah mengalami hal yang sama sebelumnya, entah di lingkungan rumah, atau di lingkungan sekolahnya, yang telah membuat dia stres karena takut akan berulang lagi. Bicaralah pada mereka dengan lembut dan tenangkan.
  • Buat peraturan dimana TV tidak akan dinyalakan sebelum seluruh kewajiban selesai dilaksanakan (belajar, makan, les, dsb), atau jika memang belum jadwal nonton TV yang disepakati
  • Tempatkan TV di ruang keluarga, sehingga orang tua dapat mengontrol kapan anak menonton tv.
  • Hindari menonton tv saat sebelum berangkat sekolah, karena dapat berpengaruh terhadap „mood“ anak selanjutnya di hari itu dan mungkin anak jadi terburu-buru sarapan pagi dan tidak siap ke sekolah tepat waktu.
  • Hindari nonton tv berlebihan. Anak dibawah 2 tahun hanya sebentar saja menonton tv, anak usia pra sekolah kurang dari 1 jam per hari waktunya diperkenankan untuk menonton tv, sedangkan anak 5-8 tahun tidak lebih dari 1 jam per hari. Anak yang lebih besar, mungkin dapat diperkenankan menghabiskan 1,5 jam per hari untuk menonton tv.

Ingatlah, bahwa anak masih dalam taraf „meniru“. Jadi kebiasaannya menonton tv pun akan meniru kebiasaan orang tuanya. Jika anda tidak dapat mengendalikan diri di depan putra putri anda, tentu sulit bagi mereka untuk membatasi diri.

Jadi…., boleh aja si kecil nonton tv, tapi…….DAMPINGI YUK !!

Oleh: dr. Kristiantini Dewi, S.PA

indiGrow Child  Development Center

Perkembangan Prilaku Seksual Anak Februari 9, 2010

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
comments closed

Kristiantini Dewi, dr., SpA

indiGrow Child Development Center
Bandung Jl Haruman 35 Tlp. 022-7303244

Anak belajar mengenai seks sama pentingnya dengan mereka belajar hal lain. Anak perlu merasa bahwa organ seksual mereka sama pentingnya dengan bagian tubuh lainnya seperti tangan dan kaki. Mereka harus bangga menjadi seorang laki-laki atau seorang perempuan. Dan jika orang tua mengajak anak membicarakan anggota-anggota tubuh mereka,  tentang prilaku serta perasaan anak mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan seks, seharusnya anak merasa “nyaman” dan “aman” dapat berkomunikasi tentang hal ini dengan orang tuanya. Hal ini penting sekali bagi terciptanya kondisi dimana anak merasa bahwa orang tuanya lah tempat bertanya, mengadu, dan “curhat” untuk hal yang paling ditabukan sekalipun.

Pengaruh pada perilaku seksual anak

  • Orangtua

Apa yang orangtua pikirkan mengenai seksualitas anak memberi pengaruh yang kuat bagaimana anda merespon prilaku seksual anak. Apa yang orang tua atau leluhur anda katakan, lakukan, keyakinan agama yang dianut, latar belakang kebudayaan dan perasaan anda, semuanya akan memberi warna tentang bagaimana anda menyikapi perkembangan seksual putra putri anda. Anda dapat menolong anak anda untuk merasa nyaman, sehat dan normal, atau sebaliknya, yaitu merasa malu, bersalah dan buruk, semuanya tergantung bagaimana cara anda merespons putra-putri anda.

  • Televisi, radio dan majalah

Anak dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat, dengar dan baca. Mereka mungkin melihat atau mengetahui seks melalui berbagai cara termasuk melalui media televisi, video, koran, papan iklan dan majalah. Mereka belajar dari apa yang mereka baca dan lihat itu mengenai apa artinya menjadi seorang laki-laki atau seorang perempuan, dan bagaimana seorang laki-laki atau seorang perempuan berprilaku. Kadang mereka melihat gambar kekerasan sesual atau gambar aktivitas seksual yang mana mereka belum cukup dewasa untuk mengerti artinya dan hal ini membuat mereka cemas.

  • Bagaimana orang tua memperlakukan orang lain

Anak belajar dari orang tuanya – guru pertama mereka ! Mereka melihat bagaimana orang tua memperlakukan orang lain, bagaimana anda memberi perhatian, menghargai orang lain atau sebaliknya. Beberapa anak mempunyai pengalaman melihat orang tuanya mentertawakan atau mempermalukan orang lain karena perbedaan jenis kelaminnya. Hal ini memberi pengaruh buruk bagi anak karena dia mungkin merasa tidak nyaman dengan status seksualnya sebagai laki atau perempuan, dan mengajarkan mereka untuk takut atau tidak menghargai orang yang berjenis kelamin berbeda dengannya.

  • Sekolah

Sebaiknya sekolah dan tempat-tempat terapi anak tidak hanya  mengajarkan mereka anggota tubuh, nama dan kegunaannya tapi juga mengajarkan anak bagaimana menyikapi prilaku orang lain terhadap anggota tubuh mereka (termasuk organ seksual) yang tidak aman dan tidak senonoh bagi mereka, serta cara mengatasinya.

Perkembangan seksual anak

Anak memiliki perasaan seksual sejak lahir. Bayi laki-laki mengalami ereksi dan baik bayi laki maupun perempuan sama-sama memiliki perasaan senang jika ada sentuhan pada organ genitalia mereka.

  • Usia Prasekolah

Bayi biasanya belum meng”eksplor” organ genitalianya sampai usianya 1 tahunan karena organ ini memang lebih sulit terlihat dibandingkan dengan anggota tubuh lainnya seperti tangan dan kaki. Bayi sering menyentuh organ genitalnya karena mereka menimbulkan rasa “enak” atau menimbulkan rasa nyaman jika mereka sedang cemas dan marah.

Bayi satu tahun sudah mulai memainkan genitalnya saat diganti celananya dan kadang mereka juga memainkan ee nya saat dibersihkan. Hal ini wajar saja sebagai bagian dari rasa keingintahuan mereka.

Anak dibawah usia 3 tahun belum mengerti bahwa seluruh bagian tubuhnya merupakan satu kesatuan dari badannya dan merupakan sesuatu yang permanen. Oleh karena itu anak laki kadang jadi “cemas” penis nya hilang atau tidak ada saat mereka melihat anak perempuan tidak memiliki genitalia yang sama, atau sebaliknya.

Anak usia prasekolah sering belum “aware” terhadap tubuhnya dan masih belum terlalu mengerti “malu” dalam keadaan telanjang.

Anak usia prasekolah tertarik untuk melihat tubuhnya sendiri dan tubuh teman-temannya. Mereka sering bermain peran dokter – perawat sehingga mereka bisa saling melihat dan menyentuh satu sama lain.

Mereka sering tertarik pada bagian-bagian tubuh orang tuanya dan ingin menyentuhnya jika mereka kebetulan melihatnya di kamar atau di kamar mandi.

Mereka mulai tertarik konsep dari mana bayi berasal dan bagaimana bayi keluar dari perut ibunya.

Sebelum usia 3 tahun, anak dapat menyampaikan jenis kelaminnya. Dan pada usia 6 tahun atau 7 tahun mereka mengerti bahwa organ genital bukanlah sesuatu yang bisa berubah lagi (laki berubah jadi perempuan, dan sebaliknya). Saat usia 4 tahun mereka sangat tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan kamar mandi dan toilet.

  • Di tahun-tahun pertama sekolah dasar

Anak biasanya mengetahui bahwa  memperhatikan tubuh orang lain dan masturbasi merupakan kegiatan yang dilakukan orang dewasa secara pribadi. Di umur ini anak masih bermain peran yang melibatkan perbedaan jenis kelamin karena rasa keingintahuannya. Anak mulai mendengar dan memperhatikan kata-kata yang “berbau” seks, kadang mereka menggunakan istilah-istilah tertentu yang mereka dapatkan dari teman-temannya. Mereka masih merasa tertarik pada proses kehamilan dan persalinan. Anak mulai memlih teman sejenis sebagai teman dekatnya. Anak sudah malu jika tidak berpakaian dengan baik di depan orang lain dan juga di depan orang tuanya. Mereka mulai mengangkat topik seks dalam obrolan atau gurauan dengan teman-temannya. Permainan “seksual” yang sering diperankan adalah permainan bermain saling memperolok atau berpura-pura mengenai perkawinan atau bermain peran “dokter-pasien/perawat”.

Masturbasi

Dalam masa kanak-kanak dini, menyentuh organ genital dapat berarti:
– mencari dan menemukan anggota tubuhnya
– anak merasa nyaman
– anak ingin pergi ke toilet
– memberikan rasa aman saat anak sedang dalam keadaan cemas

Di tahun pertama sekolahnya anak belajar bahwa masturbasi adalah sesuatu yang dilakukan sangat privabadi (jadi jika anak melakukannya di depan umum biasanya menunjukkan adanya gangguan pada anak). Saat anak mencapai usia pra sekolah, anda mungkin ingin membicarakan masalah masturbasi. Katakan pada anak anda bahwa masturbasi menimbulkan rasa nyaman, namun hal tersebut hanya boleh dilakukan oleh diri sendiri  bahkan tanpa kehadiran orang lain.

Jika anak sering masturbasi, mungkin ada suatu masalah yang dipikirkannya dan hal ini sangat penting untuk dikenali oleh orang tuanya dan dicari solusinya. Anak-anak yang masih kecil mungkin belum bisa menceritakan apa yang mengganggu pikirannya tapi orang tua harus terus mencari kemungkinan penyebabnya misalnya adanya adik bayi yang baru dilahirkan, atau karena orang tua kembali bekerja, dsb.

Mengatakan pada anak yang melakukan masturbasi dalam rangka mencari kenyamanan, biasanya malah menambah ketegangan pada anak. Sebaiknya coba katakan:”Ibu tau kamu lagi gak enak ya…., sini ibu peluk”

Sentuhan

Menyentuh anak, memeluknya, mengelus, mengusap, menggendong anak oleh kedua orang tua merupakan hal penting bagi anak untuk merasa dicintai dan belajar bagaimana menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang. Beberapa ayah dan ayah tiri ragu untuk memeluk anaknya karena takut dituduh melakukan pelecekan seksual. Seyogyanya orang tua mengerti perbedaan antara menyentuh, memeluk dan mengusap karena ekspresi kasih sayang atau sesuatu yang dilakukan karena untuk memenuhi hasrat seksusal orang tuanya. Hal yang terakhir tersebut merupakan tanggung jawab orang tua untuk tidak melakukannya.

Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua

Dari sejak usia dini anak sudah besar rasa ingin tahunya dari mana mereka datang atau dilahirkan. Anda dapat jelaskan secara sederhana dan seringkali hal tersebut sudah dapat memuaskan rasa ingin tahunya. Jelaskan bahwa mereka terbentuk dari pertemuan sel telur ibu dan sel sperma ayah dan bentuk pertemuan ini makin hari tumbuh makin besar di tempat yang istimewa dalam perut ibunya sampai tiba saatnya nanti dilahirkan menjadi bentuk yang sempurna seperti dia.

Dengan bertambahnya usia mereka, anak dapat diberi penjelasan yang lebih rinci, misalnya dari mana asalnya sel sperma dan sel telur. Misalnya, karena ayah dan ibu demikian saling menyayangi, mereka sering saling bersama, sehingga sperma yang terpilih dari ayah bisa masuk menemui sel telur terpilih juga dari ibu, sehingga menghasilkan anak yang istimewa seperti dia. Sebagian anak ingin mendengarkan penjelasan ini berulang-ulang. Buku dengan banyak gambar yang ilustratif dapat menolong mereka mengerti apa yang disampaikan oleh orang tua. Jawablah pertanyaan mereka dengan jujur dan sewajarnya sehingga mereka merasa bahwa mereka dapat berdiskusi dengan orang tuanya jika mereka ingin tahu lebih banyak tentang sesuatu hal. Bahkan jika orang tua memberi istilah tertentu pada genitalianya misalnya “titot” untuk genitalia laki-laki, anak harus tahu terminology yang sesungguhnya sebelum anak usia sekolah. Perlihatkan buku-buku bergambar tentang anggota tubuh dan cara kerjanya masing-masing.

Jika orang tua kesulitan memperkenalkan terminology original untuk organ-organ seksual, maka perkenalkan istilah tersebut sejak anak usia sangat dini sehingga orang tua tidak jadi “malu” menyebutkannya. Jangan lupa ajarkan anak untuk menghargai individu dari kedua jenis kelamin..

Kebanyakan orang tua menginginkan anaknya memiliki prilaku yang sehat mengenai seks. Cara orang tua bersikap atau beraksi terhadap pembicaraan mengenai seks akan mempengaruhi bagaimana anak berpikir, bersikap tentang masalah tersebut dan tentang diri mereka sendiri.

“SEXUAL GAMES”

Masa kanak-kanak merupakan masa belajar dan eksplorasi. Anak mengeksplorasi tubuhnya selama masa ini, termasuk mengeksplor  organ genitalianya. Mereka belajar dengan cara melihat, memegang organ-organ tersebut saat bermain dengan temannya misalnya bermain peran “dokter-perawat”. Namun orang tua tidak perlu terlalu khawatir mengenai hal ini karena ketertarikan anak pada seks dan permainan peran yang melibatkan pemahaman seks ini hanya merupakan sebagian hal yang ingin mereka pelajari dan eksplor. Permainan seperti ini tidak sama dengan yang terjadi pada orang dewasa. Anak hanya merasa “penasaran” , ingin tahu mengenai organ organ tubuhnya dan tentang perbedaan jenis kelamin.

Orang tua tidak perlu terlalu khawatir selama anak memainkan peran ini dengan anak yang sebaya dan selama mereka tidak dipaksa untuk melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin lakukan, dan selama mereka tidak melakukan hal-hal yang biasanya tidak diketahui oleh anak seusianya. Sangat dianjurkan agar orang tua senantiasa berada di sekitar anak jika mereka bermain peran seperti ini sehingga anda dapat yakin bahwa anak-anak melakukan permainan yang “aman”.

Jika anda melihat anak anda melakukan “sex games”

Anak biasanya menikmati permainan ini seperti halnya menikmati permainan lainnya. Jika anak kedapatan sedang bermain “sex games” oleh orang tuanya, biasanya mereka jadi malu. Apalagi kalau orang tuanya juga tidak berkenan dan juga malu. Banyak hal yang dirasa membingungkan dan menakutkan bagi anak adalah disebabkan sikap atau reaksi orang tua terhadap mereka.

Jika anak bermain “sex game” dan anda tidak yakin bagaimana harus bersikap, tarik napas dalam dan berpikirlah sejenak. Hal ini dapat mencegah anda untuk melakukan hal-hal yang menambah takut mereka. Pikirkan baik-baik hal apa yang hendak anda sampaikan dan efeknya bagi anak.  Isi pesan dan bagaimana pesan disampaikan, tentu tergantung pada umur kematangan anak. Jelaskan pada mereka bahwa ingin tahu sesuatu tentang orang lain bisa jadi sesuatu yang baik tapi yang pasti organ-organ genitalia adalah termasuk sesuatu yang mutlak sangat pribadi bagi siapapun.

Jika anda membutuhkan pertolongan mengenai perkembangan seksual anak anda

Ada beberapa hal ganjil yang mungkin akan dilakukan anak jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada mereka atau dikenal sebagai child abuse. Kalau hal itu sampai terjadi, orang tua sangat dibutuhkan untuk melindungi mereka dan menempatkan mereka dalam situasi dan kondisi yang aman.

Jika terjadi sesuatu hal seperti dibawah ini, segera bawa anak anda ke dokter untuk konsultasi lebih jauh:

Anak mengetahui dan menguasai masalah seksual lebih jauh dibandingkan yang seharusnya seusia dia misalnya anak usia pra sekolah mengerti rinci tentang hubungan intim / hubungan seksual suami istri

Terdapat kemerahan atau luka lecet di sekitar organ genitalia (vagina, anus, bottom, penis atau mulut) tanpa penyebab yang jelas

Memaksa temannya untuk bermain “sex games”

Bermain “sex games”  dengan anak yang jauh lebih muda usianya

Melakukan masturbasi sangat sering sampai mengganggu kegiatan bermain, atau depan umum saat anak usia sekolah dasar

Selalu menggambar bagian genitalia saja

Ketakutan atau marah jika orang membicarakan tubuhnya atau jenis kelaminnya

Sangat “anxious” jika berdekatan dengan orang tertentu tanpa alasan yang jelas

Tanda-tanda stress, seperti kembali mengompol, bab di celana dalam, atau mencederai dirinya sendiri , mungkin merupakan tanda-tanda “sexual abuse” atau tanda-tanda stress akibat hal-hal lain.  Usahakan untuk tidak terlalu menginterogasi anak karena mungkin dia tambah ketakutan dan tidak kooperatif dalam pemeriksaan.

Jika Anak Anda Mengalami “SEXUAL ABUSED”

  • Petugas hukum Negara akan mewawancarai orang tua perihal laporan kecurigaan suatu “sexual abused”, sehingga hal ini merupakan masa masa sulit bagi anda yang masih sangat emosional menghadapi musibah yang menimpa anak anda dan keluarga.
  • Untuk mengatasi rasa kecewa, sedih dan marah yang berkecamuk di hati, anda butuh seseorang yang dapat mendengarkan dan mengerti perasaan anda sehingga anda dapat mengendalikan keadaan dan dapat menghadapi anak anda dengan lebih bijaksana.
  • Jika anak anda tahu dan menyadari bahwa anda sendiri tidak dapat mengendalikan perasaan, biasanya mereka merasa lebih tidak enak lagi. Karena itu jangan terbawa emosi saat di depan anak anda, fokuskan pada pemenuhan kebutuhan anak anda yang sedang sangat terpukul itu.
  • Anak yang baru mengalami “sexual abused” bisa menjadi bingung membedakan antara sentuhan tulus penuh kasih sayang dari orang tua, atau sentuhan sarat hasrat seksual. Hal ini membuat mereka cemas dan ketakutan akan berulangnya hal yang sama. Sangat penting bagi anak untuk melihat orang tuanya terus memberikan sentuhan kasih sayang dalam bentuk yang “aman” untuknya.
  • Yang paling penting, yakinkan pada anak bahwa “sexual abuse” tidak boleh pernah  terjadi pada siapapun termasuk dia, dan apapun yang terjadi padanya maka “sexual abuse” yang telah terjadi bukanlah kesalahan dia.

INGATLAH!

  • Membicarakan masalah seksual dengan anak tidak membuat anak menjadi lebih tertarik pada masalah tersebut, namun membuat mereka lebih mudah untuk datang kepada orang tua setiap saat mereka menghadapi masalah apapun.
  • Memperkenalkan organ-organ tubuh termasuk organ genitalia lebih mudah jika dibiasakan untuk diperkenalkan sejak usia dini
  • Anak harus mengerti bahwa organ seksual  merupakan bagian tubuh mereka yang sama baiknya dengan organ atau anggota tubuh yang lain.
  • Anak harus tahu nama original dari organ atau alat tubuh mereka.
  • Anak harus bangga atas keberadaannya sebagai anak lelaki atau sebagai anak perempuan.
  • Berikan anak sebanyak-banyaknya sentuhan, usapan dan pelukan tanda cinta dan kasih sayang yang tulus dari orang tua.
  • Apa yang orang tua yakini, rasakan dan apa yang anak anda lihat pada diri orang tuanya saat orang tuanya bicara dan bersikap, akan sangat mempengaruhi kehidupan seksual anak anda kelak.
  • Yang paling dibutuhkan anak adalah perasaan dicintai dan mencintai oleh orang tua dan keluarga.

Resources

“ANAKKU TERLAMBAT BICARA” Februari 9, 2010

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments closed

Oleh : dr. Kristiantini Dewi, SpA

(indiGrow Child Development Center)

Kapan ya seorang anak dikatakan terlambat bicara, apakah sejak usia dini, ataukah sebaiknya orang tua menunggu sampai usia 2 tahun baru diperiksakan ke dokter? Apakah semua keterlambatan bicara memang harus diperiksakan ke dokter? Bukankah nanti juga anak anak bisa sendiri berbicara dengan lancar…?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang kerap timbul di benak orang tua, dan seringkali mitos lebih banyak menjawab pertanyaan tersebut dibandingkan informasi dari dokter. Oleh karena itu kita simak yuk penjelasan di bawah ini.

Sebelumnya perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan bicara adalah kemampuan individu untuk memproduksi suara, sedangkan berbahasa adalah kemampuan individu untuk berbicara dalam konteks untuk berkomunikasi.

Kapan seorang anak dikatakan terlambat bicara dan berbahasa

Sebetulnya aspek bicara dan berbahasa merupakan salah satu aspek perkembangan seorang bayi/anak yang dimulai sejak lahir. Kemampuan bayi untuk berkomunikasi dimulai dengan reaksinya terhadap bunyi bunyian atau suara ibu bapaknya, bahkan di usia 2 bulan bayi sudah menunjukkan senyum sosial pada semua orang yang berinteraksi dengannya. Hal ini diikuti dengan kemampuan bayi mengeluarkan suara “cooing” berupa “aaahh…., uuuhh…” dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. Dengan bertambahnya usia bayi kemampuan bayi mengeluarkan suara bertambah menjadi “babbling”  di usia 6 bulan, yakni memproduksi suara konsonan “ba….”, “da…” sampai akhirnya menjadi “laling” di usia 8 bulan, yakni mengulang dua suara konsonan “bababa….”, “dadada…..”, “mamama……….” Sehingga akhirnya di usia 1 tahun bayi sudah mampu mengatakan 3 kata bermakna untuk berkomunikasi, biasanya “mama” untuk ibunya, “papa” untuk ayahnya dan satu kata lagi yang biasa dipergunakan di rumahnya, misalnya “mbak” untuk pengasuhnya. Di usia 18 bulan anak sudah mampu memahami dan mengeluarkan sekitar 20 kosa kata yang bermakna. Sedangkan di usia 2 tahun sudah mampu mengucapkan 1 kalimat yang terdiri dari 2 kata, misalnya “mama pergi”, “aku pipis”, dsb.

Anak dikatakan terlambat bicara dan berbahasa, jika pada usia tertentu kemampuannya memproduksi suara dan berkomunikasi di bawah rata-rata anak seusianya.

Seperti apa yang dimaksud dengan gangguan bicara

Gangguan bicara adalah ketidakmampuan atau kesulitan seorang anak untuk memproduksi suara yang spesifik untuk bicara atau adanya gangguan dalam kualitas suara. Hal ini bisa berupa gangguan pada artikulasi, gangguan pada fonasi, gangguan irama kelancaran bicara, gangguan tekanan suara (pitch). Gangguan artikulasi dapat berupa penggantian satu suara dengan suara lain atau bahkan menjadi suara lain sama sekali. Misalnya “mobil” jadi “obin”, atau “pelangi” jadi “telangi”, dsb. Gangguan irama kelancaran bicara dapat berupa bicara cepat atau “cluttering” sehingga tidak jelas kata-kata yang diucapkan. Bentuk lain dari gangguan irama kelancaran adalah gagap atau “stuttering”, yaitu irama kelancaran bicara menjadi terputus-putus. Gagap biasanya muncul di usia 3 atau 4 tahun setelah itu hilang sendiri. Namun gagap yang menetap perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk dipertimbangakan perlunya terapi wicara. Selain itu juga dapat berupa gangguan dalam „pitch“, volume ataupun kualitas suara. Gangguan suara tipikal misalnya suara kasar, suara terputus-putus atau terengah-engah, suara yang terpecah jika dalam intonasi atau pitch yang tinggi.

Apa yang dimaksud dengan gangguan berbahasa

Gangguan berbahasa dapat dibagi menjadi gangguan berbahasa ekspresif dan gangguan berbahasa campuran (ekspresif-reseptif). Yang dimaksud dengan gangguan berbahasa ekspresif adalah ketidakmampuan anak untuk mengekspresikan ide, pikiran dan pendapatnya melalui kata-kata atau secara verbal yang sesuai dengan usianya, sekalipun anak tersebut mempunyai pemahaman yang sesuai dengan usianya. Anak dengan gangguan bahasa ekspresif tipe perkembangan ini biasanya dibawa orang tuanya dengan keluhan „terlambat bicara“ atau mungkin dengan keluhan „agresif“ dan „tidak bisa diam“. Keluhan tersebut memang dapat terjadi mengingat anak tersebut dapat mengalami „frustrasi“ karena tidak dapat mengutarakan keinginannya dengan baik sehingga mengganggu interaksinya dengan orang lain. Hal ini berujung pada sikapnya yang cenderung agresif dan tidak bisa diam.

Yang dimaksud dengan gangguan berbahasa campuran (ekspresif-reseptif) adalah ketidakmampuan anak untuk mengekspresikan idenya sekaligus dengan keterbatasannya untuk memahami pembicaraan orang lain. Tentunya keadaan ini lebih buruk dibandingkan dengan sekedar gangguan berbahasa ekspresif saja.

Apa saja yang perlu dipikirkan pada keadaan terlambat bicara

Jika kita mendapatkan suatu kasus terlambat bicara maka ada beberapa hal yang harus diperiksa dengan seksama oleh dokter anak.

Pertama, dokter akan memeriksa dengan teliti seluruh modalitas yang dibutuhkan untuk terjadinya produksi suara yang baik, ataupun adanya hal hal yang memungkinkan terganggunya produksi suara, yakni organ-organ mulut, hidung, bibir, gusi, lidah, langit-langit, pita suara, tonsil, tenggorokan, paru-paru dan diafragma. Kelainan pada aspek ini dapat berupa celah bibir, celah gusi, celah langit-langit, lidah pendek, dll.

Kedua, dokter akan memeriksa apakah ada kemungkinan anak tersebut mengalami gangguan pendengaran. Tes sederhana yang dapat dikerjakan di poliklinik dapat berupa menggesek-gesekan kertas / membunyikan lonceng di belakang bayi dan melihat reaksinya. Namun jika dianggap perlu, dokter anak akan merujuknya ke dokter ahli THT (audiologi) untuk pemeriksaan lebih lanjut yaitu pemeriksaan OAE (Oto Acustic Emisssion) dan BERA (Brain Evoked Respons Auditory). Kedua pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mendapatkan data objektif mengenai keadaan jaras pendengaran bayi mulai dari telinga luar sampai dengan telinga dalam (saraf pendengaran). Kelainan pada aspek ini dapat berupa ganguan dengar ringan sampai berat.

Ketiga, dokter anak akan memastikan keadaan susunan saraf pusat (otak) bayi dengan serangkaian pemeriksaan neurologis (saraf). Susunan saraf pusat yang terganggu memungkinkan anak tidak mampu memfungsikan modalitas alat-alat pemproduksi suara bahkan anak jadi tidak mampu memahami berbagai kosa kata/kalimat yang dikomunikasikan padanya. Kelainan pada aspek ini misalnya Cerebral palsy (CP), keterbelakangan mental, sindrom sindrom tertentu, dll.

Keempat, dokter anak tidak luput memperhatikan aspek prilaku dan interaksi sosial dari anak yang dikeluhkan terlambat bicara. Anak yang tidak mampu berkomunikasi disertai dengan prilaku yang tidak biasa, misalnya mojok, bermain sendiri, memainkan benda benda yang tidak biasanya (menggoyang-goyangkan tali di hadapannya, memutar-mutar ban mobil-mobilan sampai berjam-jam), mencederai diri sendiri (memukul mukul kepalanya, menggigit jari tangannya), disertai dengan tidak ada kontak sama sekali dengan siapapun, mungkin sekali menuntun dokter untuk mencurigai suatu keadaan yang kita kenal sebagai autis. Sedangkan perilaku anak yang dikeluhkan tidak bisa berkomunikasi, sekaligus tidak memahami konteks pembicaraan, namun masih ada kontak dengan sekitarnya, disertai dengan prilaku yang agresif, mungkin dengan prilaku yang primitif (masih nge-ces, BAB dan BAK di sembarang tempat) dapat merupakan petunjuk adanya suatu keterbelakangan mental yang berat.

Apa yang seharusnya dilakukan orang tua

Segera konsultasikan anak anda yang diyakini menunjukkan tanda tanda keterlambatan bicara maupun bahasa. Dokter anak akan memeriksa dengan seksama dan menganjurkan beberapa pemeriksaan penunjang ataupun rujukan ke dokter ahli lain bilamana dianggap perlu.

Anak akan mendapatkan intervensi yang sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan penyebabnya, mulai dari terapi wicara sampai dengan alat bantu dengar atau terapi lain yang sesuai misalnya terapi prilaku untuk anak autis dan terapi okupasi bagi penyandang tuna grahita.

Kapan harus waspada

Keterlambatan bicara dan bahasa sangat perlu diwaspadai pada anak anak dengan gangguan saraf (misal: cerebral palsy), anak yang mengalami kesulitan menyusu, mengunyah dan masih ngiler sampai usia 12 bulan, anak yang tidak juga mengeluarkan babbling sampai usia 10 bulan, dan anak yang tidak mampu mengucapkan 1 kata pun di usia 18 bulan.

Semakin dini (< 2 tahun) anak diketahui mengalami keterlambatan bicara-bahasa, semakin cepat pula intervensi dapat dilakukan sehingga kita dapat mengharapkan hasil yang lebih baik.

Oleh karena itu, tunggu apa lagi. Bawa si kecil untuk konsultasi yuk….!

REFERENSI

Children with disabilities, Fourth Edition. Mark L. Batshaw, MD, 1997

Disability Fact Sheet on Speech/Language Disorders (FS11). January 2004. National Dissemination Center for Children with Disabilities

US Department of Education

ANAK GAK BISA DIAM…, apakah termasuk ANAK BERBAKAT ? Februari 2, 2010

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , ,
comments closed

Dari ruang praktek dokter anak

Mamah Rio merasa sudah saatnya berkonsultasi ke dokter mengenai prilaku buah hatinya yang akhir-akhir ini mengkhawatirkannya. Pasalnya, sudah 3 bulan ini, Rio – sekarang berusia 5 tahun 3 bulan – mulai bersekolah di TK B yang baru, setelah setahun sebelumnya bersekolah di tempat lain untuk jenjang TK A. Dan dalam kurun waktu yang cukup singkat itu, Mamah Rio sudah beberapa kali “diundang” oleh pihak sekolah untuk mendiskusikan prilaku Rio. Memang, acara pindah sekolah ini sebetulnya usulan Rio sendiri, karena sekolah yang baru ini lebih banyak mainannya. Begitu kata Rio. Tapi kalau boleh jujur, sebetulnya Mamah Rio menyetujui usulan sang anak karena guru di TK yang lama tersebut pernah mengutarakan mereka kewalahan menghadapi Rio yang tidak bisa diam, selalu bertanya ini itu tidak ada habisnya, bahkan selalu menyerobot kesempatan menjawab yang diberikan bu guru untuk teman-temannya. Tapi ternyata di sekolahnya yang barupun, guru mengeluhkan hal yang sama. Malah keluhan gurunya lebih spektakuler lagi. Menurut laporan guru, kalau aktivitas belajar adalah seputar hal-hal yang baru, Rio pasti semangat sekali mengerjakannya. Apalagi kalau kelihatannya hal baru tersebut cukup menantang atau cukup sulit, seperti menyusun puzzle, membuat model tertentu dari lego, atau menggunting pola dan menempelkannya. Rio bisa asyik sendiri sampai lebih dari setengah jam tanpa teralihkan dengan kegiatan lain. Selain itu Rio sangat suka dan sangat pandai menggambar. Walaupun Rio cenderung tidak menuruti aturan menggambar yang baku, seperti menggambar matahari ada 5, lalu diajarkan berlatih menggambar lingkaran, Rio malah membuat tokoh kartun dari lingkaran yang sudah dibuatnya tersebut. Rio selalu mempunyai alasan menarik atas semua hasil pekerjaannya yang lain dari teman-temannya itu. Walaupun Rio sering mendominasi kelas, tapi dia juga sering tampil bak pahlawan, menolong teman-temannya yang kesulitan, misalnya membantu mewarnai, mengguntingkan pola, atau menyusun puzzle.  Kadang terdengar komentar Rio menasihati temannya, seperti gaya orang dewasa. Tapi, kalau kegiatan yang diberikan guru tidak menarik bagi Rio atau memang sudah pernah diajarkan, maka Rio jadi seperti uring-uringan, hilir mudik di dalam kelas, tidak mau mengerjakan instruksi bu guru, atau malah seperti orang yang melamun dan kebosanan.

Sekilas cerita di atas mencerminkan prilaku anak yang tidak bisa diam, dan jika dokter tidak cermat melakukan penilaian dapat tertukar-tukar menggolongkan Rio sebagai anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau yang dikenal sebagai Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), atau mungkin tertukar dengan gangguan prilaku lainnya. Padahal kita simak tadi, Rio bisa menghabiskan waktu cukup lama pada aktivitas yang disukainya. Tentu hal ini menyingkirkan kemungkinan Rio tergolong anak ADHD.

Setelah dilakukan penilaian dan observasi prilaku yang cermat, juga serangkaian psikotest, ternyata didapatkan tingkat kognisi (IQ) Rio sangat jauh di atas rata-rata, yaitu 147. Level IQ yang lebih dari 130 disebut juga dengan GIFTEDNESS atau ANAK BERBAKAT. Sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan anak berbakat?

Anak berbakat adalah anak yang menunjukkan kemampuan luar biasa di dalam bidang intelektual (level IQ>130; Level IQ normal adalah 90-110), kreatif, atau berprestasi sangat istimewa di bidang akademis tertentu, biasanya disertai kemampuan memimpin, atau berprestasi luar biasa di bidang seni.  Sebanyak 3 sampai 5% dari populasi anak merupakan anak berbakat (di Amerika Serikat) dan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan seorang anak menjadi anak berbakat yaitu faktor genetik, kemampuan untuk mengerti simbol-simbol, adanya kesempatan untuk mengembangkan bakat, dukungan orang tua untuk mengembangkan bakat, adanya aktivitas yang mengakomodasi bakatnya, dan pengaruh positif teman sebaya serta lingkungannya terhadap bakat yang dimilikinya.

Biasanya anak berbakat memiliki kepribadian yang baik, cenderung sensitif dan mudah berempati. Mereka juga biasanya sangat perfeksionis, sangat akurat, sangat mengedepankan logika, tekun dan gigih dalam mengerjakan suatu “tugas” yang menantang. Di satu pihak, mereka sangat semangat mempelajari hal-hal baru, dan memang sangat cepat menangkap pelajaran, namun mereka tidak begitu saja langsung menurut pada instruksi atau aturan yang diberikan. Mereka cenderung mempertanyakan alasan-alasan kenapa peraturan tersebut diberlakukan, atau kenapa mereka harus mengerjakan sesuatu hal, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan lain yang sering diajukan adalah seputar hal-hal yang abstrak atau gaib, seperti pertanyaan mengenai Tuhan, malaikat, dsb. Anak berbakat menunjukkan kemampuan berpikir kompleks dan memiliki kemampuan “judgement” moral yang lebih “advanced” dibandingkan usianya. Misalnya, Rio tidak mau ada keluarga yang main kartu di rumah, karena menurutnya bermain kartu itu sama dengan bermain judi, sedangkan judi adalah kegiatan yang haram, dan Rio tidak suka rumahnya dijadikan tempat kegiatan haram.  Anak berbakat juga sangat kreatif, dan senang bermain konstruktif atau menciptakan sesuatu. Rio bisa asyik bermain lego menghasilkan berbagai model yang menyerupai aslinya, misalnya robot-robotan, jerapah, kereta api, mobil, dll, padahal Rio melakukan itu tanpa mencontoh pola. Rio juga bisa menggambar hal-hal yang tidak sesuai “pakem” yang diajarkan, karena kreativitasnya.

Nah, kalau Rio memang berbakat, kenapa orang tua dan gurunya jadi kewalahan? Ternyata baik Mamah Rio maupun sebagian guru tidak mengenali bakat Rio sehingga Rio sering nampak sebagai anak yang tidak penurut, semaunya sendiri, tidak bisa diam, dan selalu harus terpenuhi keinginannya. Setelah dilakukan pertemuan antara dokter, Mamah Rio dan pihak guru, dibuatlah situasi yang sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi bakat Rio tanpa mengganggu lingkungan sosialnya. Guru memberikan kesempatan pada Rio untuk mengerjakan permainan atau tugas yang sama dengan teman-temannya, tapi khusus untuk Rio, diberikan instruksi yang lebih banyak dan lebih kompleks, sesuai dengan kemampuannya. Rio juga banyak diajak berdialog mengenai hal-hal yang bervariasi, tidak hanya seputar kegiatan sekolah tapi juga mengenai kehidupan sehari-hari yang menarik bagi Rio dan dapat dijelaskan secara logis, misalnya membahas tentang kenapa dan kapan timbul pelangi, membahas kenapa bisa turun hujan, atau bisa terjadi guntur, dan seterusnya. Rio juga diperkenankan membawa buku buku ceritanya ke sekolah dan menceritakannya di depan teman-temannya dan gurunya. Selain itu Rio diperkenankan menjadi “asisten” bu guru jika ada teman-teman yang kesulitan mengerjakan tugas.  Ternyata pola kegiatan baru tersebut sangat menyenangkan bagi Rio. Rio tambah semangat pergi ke sekolah, bahkan sudah “sibuk” menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke sekolah, dan tidak pernah hilir mudik atau bersikap kebosanan di dalam kelas. Dukungan pihak sekolah dan orang tua sangat mempengaruhi sikap, kepribadian dan prestasi Rio di kemudian hari.

Referensi:

Giftedness. JM. Sattler. Assessment of children, behavioral and clinical applications, Jerome M. Sattler, Publisher, Inc, San Diego, 2002

Kristiantini Dewi, dr., SpA

indiGrow Child Development Center

Jalan Haruman 35 Bandung Telp. 022-7303244

Retardasi Mental Februari 2, 2010

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments closed

Keterlambatan perkembangan merupakan istilah untuk mengindikasikan adanya perkembangan syaraf yang tidak normal, dimana terdapat kegagalan dalam pencapaian milestones usia yang tepat. Keterlambatan perkembangan atau retarded delay menunjukkan adanya kemampuan yang terlambat antara usia kalender dengan usia mentalnya. Yang terjadi adalah hanya perkembangannya yang terhambat, namun akan ada kemampuan optimal yang dapat dicapai. Dengan stimulasi yang tepat maka akan dapat mengejar ketertinggalannya. Kemampuan yang terlambat ini bukan berarti penderita retardasi mental tidak memiliki potensi. Yang mereka perlukan adalah optimalisasi dari apa yang mereka miliki. Stimulasi yang tepat akan dapat membantu mereka mencapai potensi maksimalnya.

Sebagai ilustrasi, Maria melihat beberapa tanda perkembangan yang tidak normal pada anaknya yang bernama David. Sebagai bayi, David menunjukkan sedikit ketertarikan terhadap lingkungan dan tidak terlalu perhatian. David tahan duduk dalam kursi bayi waktu yang lama tanpa mengeluh. Walaupun Maria berusaha menyusuinya, isapan David lemah, dan ia sering memuntahkan susunya. Untuk perkembangan motorik kasar, David tidak bisa menahan kepalanya sampai di usia 4 bulan (seharusnya sudah bisa di usia 1 bulan), berguling di usia 8 bulan (seharusnya 5 bulan), dan baru dapat duduk di usia 14 bulan (seharusnya 7 bulan). Untuk perkembangan sosial dan motorik halus, David juga mengalami ketertinggalan dari norma usianya. Orang tua David, khawatir mengenai keterlambatan yang dialami anaknya.  Ketika David berusia 15 bulan, mereka mengkonsultasikan kepada dokter anak. Ketika David diberikan tes BSID-2 (Bayley Scales of Infant Development-Second Edition) pada usia 16 bulan, ditemukan bahwa usia mental David berada di usia 7 bulan dan IQ David dibawah 50.

Ketika anak mengalami keterlambatan pada seluruh aspek perkembangan, diagnosanya ia mungkin mengalami retardasi mental. Menurut Batshaw (2000),   Retardasi mental (keterbelakangan mental) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada di bawah rata-rata disertai dengan gangguan terhadap fungsi adaptif paling sedikit 2 misalnya komunikasi, kemampuan menolong diri sendiri, berumah tangga, sosial, pekerjaan, kesehatan dan keamanan, yang mulai timbul sebelum usia 18 tahun. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo=kurang atau sedikit dan fren=jiwa) atau tuna mental.

Menurut J.P. Chaplin, Intelegensi adalah kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara tepat dan efektif, kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, kemampuan memahami dan belajar dengan cepat. Ketiganya tidak terlepas satu sama lain.

IQ (Intelligence Quotient) adalah angka normatif dari hasil intelegensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient).

Cara pengukuran IQ

IQ dapat diukur menggunakan tes intelegensi atau tes IQ yang standar yang banyak digunakan oleh para ahli psikolog di dunia, termasuk di Indonesia.  Tes iQ dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok. Beberapa model tes yang dapat mengukur IQ adalah: Stanford-Binet intelligence scale, The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R), The Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R), The Standard Progressive Matrices, The Kaufman Assessment Battery for Children (K-ABC), Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI) dan masih banyak lagi.

Berdasarkan DSM-IV-TR, terdapat beberapa klasifikasi retardasi mental yaitu :

Klasifikasi IQ

Keterangan

Ekspektasi Pendidikan
Retardasi mental berat sekali (profound) dibawah 20 atau 25 Biasanya tidak dapat berjalan, berbicara atau memahami.

Biasanya tidak mampu belajar walaupun mempunyai kemampuan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Keinginan biasanya membutuhkan perhatian yang penuh dan pengawasan untuk waktu seumur hidup.

Retardasi mental berat (severe) Sekitar 20-25 sampai 35-40 Dapat dilatih meskipun agak lebih susah dibandingkan dengan anak retardasi mental moderat.

Kemampuan belajar hanya pada area bantu diri seperti mandi, buang air, kemampuan terbatas dalam bidang akademik. Kemampuan penyesuaian sosial biasanya terbatas hanya pada anggota keluarga atau orang yang dikenal lainnya. Kemampuan kerja biasanya dapat terlihat ketika bekerja dibawah setting workshop atau naungan suatu lembaga tertentu.

Retardasi mental moderat (moderate) Sekitar 35-40 sampai 50-55 Mengalami kelambatan  dalam belajar berbicara dan kelambatan dalam mencapai tingkat perkembangan lainnya (misalnya duduk dan berbicara). Dengan latihan dan dukungan dari lingkungannya, mereka dapat hidup dengan tingkat kemandirian tertentu.

Dapat mengikuti sekolah sampai kelas dua sampai kelas lima. Dalam hal penyesuaian sosial menampakkan kemandirian dalam komunitas. Dalam hal kemampuan kerja harus didukung secara penuh atau hanya secara parsial.

Retardasi mental ringan (mild) Sekitar 50-55 sampai 70 Bisa mencapai kemampuan membaca sampai kelas 4-6.

Dapat mempelajari kemampuan pendidikan dasar yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memerlukan pengawasan dan bimbingan serta pelatihan dan pendidikan khusus.

Borderline Sekitar 70 sampai 89 Penyesuaian sosial yang tidak berpola akan berbeda dengan populasinya walaupun pada segmen yang lebih bawah penyesuaiannya akan baik, dalam arti lain perkembangan anak dalam penyesuaian sosial akan berbeda dengan teman-teman seusianya yang normal.

Mampu mengikuti kegiatan sekolah sampai pada jenjang tertentu yang dapat dicapai tidak sesuai dengan tahapan usia kalender. Memperoleh kepuasan kerja dibidang non-teknis yang disertai dengan dukungan diri yang penuh bila diperlukan

Penderita mental retardasi memerlukan pendidikan untuk memperoleh keterampilan dan kemandirian. Pendidikan untuk penderita mental retardasi perlu dilakukan berulang-ulang (remedial) agar kemampuan yang telah dicapai tidak menurun.

Tingkat kecerdasan ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Pada sebagian besar kasus retardasi mental, penyebabnya tidak diketahui; hanya 25 % kasus yang memiliki penyebab yang spesifik.

Penyebab retardasi mental

Penyebab retardasi mental dibagi menjadi beberapa kelompok:

  1. Trauma (sebelum dan sesudah lahir) : pendarahan intrakranial sebelum atau sesudah lahir; cedera hipoksia (kekurangan oksigen) sebelum, selama atau sesudah lahir; cedera kepala yang berat.
  2. Infeksi (bawaan dan sesudah lahir) : Rubella kongenitalis, Meningitis, infeksi sitomegalovirus bawaan, Ensefalitis, Toksoplasmosis kongenitalis, Listeriosis, infeksi HIV.
  3. Kelainan kromosom : kesalahan pada jumlah kromosom (Sindroma Down), defek pada kromosom (sindroma X yang rapuh, sindroma Angelman, sindroma Prader-Will).
  4. Kelainan genetik dan kelainan metabolik yang diturunkan: Galaktosemia, penyakit Tay-Sachs, Fenilketonuria ,Sindroma Hunter, Sindroma Hurler, Sindroma Santifilipo, Leukodistrofi metakromatik, Adrenoleukodistrofi, Sindroma Lesch-Nyhan, Sindroma Rett, Sklerosis tuberosa.
  5. Metabolik: Sindroma Reye, Dehidrasi hipernatrenik, Hipotiroid kongenital, Hipoglikemia (Diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik).
  6. Keracunan: pemakaian alkohol, kokain, amfetamin dan obat lainnya pada ibu hamil; keracunan metilmerkuri, keracunan timah hitam.
  7. Gizi: Kwashiorkor, Marasmus, Malnutrisi.
  8. Lingkungan: kemiskinan, status ekonomi rendah, sindroma deprivasi.

Penanganan Retardasi Mental.

Penanganan anak dengan retardasi mental memerlukan integrasi multidisiplin untuk membantu anak-anak ini:

  • Remedial Teaching

Perlu pengulangan secara terus menerus di berbagai situasi dan kesempatan untuk membantu mereka memahami hal-hal yang baru dipelajari.

  • Pelayanan Pendidikan

Pendidikan merupakan aspek yang paling penting berkaitan dengan treatment pada anak penderita retardasi mental. Pencapaian hasil yang “baik” bergantung pada interaksi antara guru dan murid. Program pendidikan harus berkaitan dengan kebutuhan anak dan mengacu pada kelemahan dan kelebihan anak. Target pendidikan tidak hanya berkaitan dengan bidang akademik saja. Secara umum, anak penderita retardasi mental membutuhkan bantuan dalam memperoleh pendidikan dan keterampilan untuk mandiri.

  • Kebutuhan-kebutuhan Kesenangan dan Rekreasi

Idealnya, anak penderita retardasi mental dapat berpartisipasi dalam aktivitas bermain dan rekreasi. Ketika anak tidak ikut dalam aktivitas bermain, pada saat remaja akan kesulitan untuk dapat berinteraksi sosial dengan tepat dan tidak kompetitif dalam aktivitas olahraga. Partisipasi dalam olahraga memiliki beberapa keuntungan, yaitu pengaturan berat badan, perkembangan koordinasi fisik, pemeliharaan kesehatan kardiovaskular, dan peningkatan self-image (gambaran diri).

  • Kontrol Gangguan Tingkah laku

Gangguan tingkah laku dapat dihasilkan dari ekspektasi/harapan orang tua yang tidak tepat, masalah organik, dan atau kesulitan keluarga. Kemungkinan lain, gangguan tingkah laku dapat muncul sebagai usaha anak untuk memperoleh perhatian atau untuk menghindari frustrasi. Dalam mengukur tingkah laku, kita harus mempertimbangkan apakah tingkah lakunya tidak sesuai dengan usia mental anak, daripada dengan usia kronologisnya. Pada  beberapa anak, mereka memerlukan teknik manajemen tingkah laku dan atau penggunaan obat.

  • Mengatasi Gangguan

Jika terdapat gangguan lain- Cerebral palsy; gangguan visual & pendengaran; gangguan epilepsi; gangguan bicara dan gangguan lain dalam bahasa, tingkahlaku dan persepsi- maka yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang optimal adalah diperlukan terapi fisik terus menerus, terapi okupasi, terapi bicara-bahasa, perlengkapan adaptif seperti kaca mata, alat bantu dengar, obat anti epilepsi dan lain sebagainya. Perlu diagnosa yang tepat untuk menetapkan gangguan, diluar hanya masalah taraf intelegensi.

  • Konseling Keluarga

Banyak keluarga yang dapat beradaptasi dengan baik ketika memiliki anak yang menderita retardasi mental, tetapi ada pula yang tidak. Diantaranya karena faktor-faktor yang berkaitan dengan kemampuan keluarga dalam menghadapi masalah perkawinan, usia orang tua, self-esteem (harga diri) orang tua, banyaknya saudara kandung, status sosial ekonomi, tingkat kesulitan, harapan orang tua & penerimaan diagnosis, dukungan dari anggota keluarga dan tersedianya program-program dan pelayanan masyarakat.

Salah satu bagian yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan bagi keluarga penderita retardasi mental, agar keluarga dapat tetap menjaga rasa percaya diri dan mempunyai harapan-harapan yang realistik tentang penderita. Perlu penerimaan orang tua mengenai taraf kemampuan yang dapat dicapai anak. Orang tua disarankan untuk menjalani konsultasi dengan tujuan mengatasi rasa bersalah, perasaan tidak berdaya, penyangkalan dan perasaan marah terhadap anak. Selain itu orang tua dapat berbagi informasi mengenai penyebab, pengobatan dan perawatan penderita baik dengan ahli maupun dengan orang tua lain.

  • Evaluasi Secara Berkala

Walaupun retardasi mental adalah suatu gangguan statis, kebutuhan-kebutuhan anak dan keluarga berubah setiap waktu. Seiring perkembangan anak, informasi tambahan harus diberikan kepada orang tua, dan tujuan harus ditetapkan kembali, serta program perlu diatur.


Tujuan Penanganan

Tujuan penanganan anak retardasi mental yang utama adalah mengembangkan potensi anak semaksimal mungkin. Sedini mungkin diberikan pendidikan dan pelatihan khusus, yang meliputi pendidikan dan pelatihan kemampuan sosial untuk membantu anak berfungsi senormal mungkin.

Pencarian bakat dan minat juga perlu digali dan dikenali agar anak dapat diarahkan pada latihan dan keterampilan yang dapat menunjang kehidupan mereka selanjutnya. Banyak cara dan variasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan adaptasi pada penderita retardasi mental, baik intervensi pribadi atau kombinasi. Terapi perilaku berguna untuk membentuk tingkah laku sosial, mengontrol perilaku agresif atau tingkah laku yang merusak.

Daftar referensi :

  • Children with Disabilities.Batshaw:2000
  • http://www.medicastore.com
  • American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and statistical manual of mental disorders
  • Pengantar Psikologi intelegensi. Drs. Saifuddin Azwar, MA:1999
  • Kamus Lengkap Psikologi.J.P.Chaplin: 1999

ANAK ‘CLUMSY’……, kenali mereka yuk…! Oktober 21, 2009

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
comments closed

          Orang tua dan dokter sering “lolos” mengenali adanya gangguan motorik yang tidak terlalu jelas. Padahal sekitar 6% anak usia sekolah mengalami masalah koordinasi motorik yang cukup serius yang mengganggu prestasi akademis dan personal sosial anak tsb. Masalah ini biasanya mulai muncul di tahun-tahun pertama usia sekolah, dan nampak sebagai kesulitan dalam menjalankan tugas motorik yang sederhana seperti berlari, mengancingkan baju atau memegang dan menggunting kertas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan motorik ini akan tetap ada walaupun usia anak menginjak usia remaja sampai dewasa. Bahkan tidak jarang gangguan koordinasi motorik ini malah ditambah dengan masalah lain seperti misalnya gangguan pemusatan perhatian-hiperaktivitas (GPPH) atau yang dikenali juga sebagai attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan belajar, ketrampilan menggambar dan menulis yang buruk dan ketidakmatangan emosi.  Di usia remaja, masalah bisa menjadi tambah pelik, karena anak “clumsy” cenderung memiliki masalah emosi, sosial dan pendidikan yang lebih rumit dibandingkan anak normal yang lain. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk dapat mengenali gangguan ini, sehingga dapat memberikan intervensi yang terbaik bagi putra putri mereka.

 

Sekitar 6% anak usia sekolah mengalami masalah koordinasi motorik yang cukup serius yang mengganggu prestasi akademis dan personal sosialnya.

 

BAGAIMANA ORANG TUA MENGENALINYA….

          Perkembangan motorik anak “clumsy” biasanya masih dalam batas normal jika dilihat berdasarkan usianya. Jadi, mereka tidak terlambat duduk, atau terlambat berjalan misalnya.  Namun, keterlambatan akan jadi nampak jelas jika sudah mulai berhubungan dengan perkembangan sosial-adaptif. Anak “clumsy” nampak tidak setrampil anak lain dan harus “berjuang” dulu agar bisa trampil dalam bermain sepeda, menangkap bola, memegang pensil atau menggunting garis lurus pada kertas. Selain itu anak juga terlambat menguasai ketrampilan harian yang diperlukan untuk kemandirian, misalnya mengancingkan baju, melipat baju olah raga, menutup tutup termos minum,  menyimpulkan tali sepatu.  Di sekolah, hampir tiap saat anak “clumsy” menabrak temannya, atau menyenggol sudut meja saat berjalan, atau tidak sengaja membenturkan lututnya ke pinggir meja belajar saat bangkit dari tempat duduknya. Tidak jarang pula anak “clumsy” dilaporkan menjatuhkan atau membenturkan barang yang sedang dipegangnya secara tidak sengaja.  Mungkin juga anak mulai dikucilkan dari pergaulan teman sebayanya karena prilakunya yang cenderung sembrono dan “grasa grusu”. Lama kelamaan mereka menjadi tidak percaya diri, dan mengisolir diri dari keterlibatan aktivitas yang membutuhkan ketrampilan koordinasi motorik, misalnya olah raga. Tabel 1 dan 2 menunjukkan usia rata-rata seharusnya suatu ketrampilan motorik dan sensorik dikuasai oleh anak normal.

 Tabel 1.

Usia rata-rata pencapaian ketrampilan motorik sosial dan adaptif

 

Ketrampilan                                                       Usia rata-rata (dalam tahun)

Mengancing dan melepas kancing                                              4

Berpakaian                                                                                          4,5

Bersepeda dengan roda bantuan                                               4,5

Menggunting kertas dengan gunting                                        4,5

Mewarnai tidak keluar garis batas                                            4,5

Menyimpulkan tali sepatu                                                           5,5

Menulis nama lengkap                                                                  5,5

Loncat dari ketinggian beberapa anak tangga                    5,5

Bersepeda tanpa roda bantuan                                                   6

Adapted from Blondis TA. Motor disorders and attention-deficit/hyperactivity disorder. Pediatr Clin North Am 1999;46:905

 

Tabel 2.

Usia rata-rata pencapaian ketrampilan sensoris dan motorik

 

Ketrampilan                                                       Usia rata-rata (dalam tahun)

Menggambar kotak                                                                             5

Berdiri pada satu kaki selama 15 detik                                       5

Memegang pensil seperti orang dewasa (tripod)                5,5

Melompat dengan ritmis                                                                6

Menggambar garis diagonal                                                         

Dengan mata tertutup, mampu menyebutkan                       7

Jari mana yang disentuh                                                                 8

Lompat dengan tumpuan kaki yang bergantian                  8,5

Menggambar garis silang yang membagi

Dua bidang sama besar                                                                         9

Dengan mata tertutup mampu berdiri angkat

Satu kaki selama 10 detik                                                                   10

Menggambar kubus 3 dimensi dengan baik                               12

Adapted from Blondis TA. Motor disorders and attention-deficit/hyperactivity disorder. Pediatr Clin North Am 1999;46:906

 

 

BAGAIMANA DOKTER MENDIAGNOSISNYA………..

           Istilah anak “clumsy” sudah diperkenalkan sejak tahun 1975 dengan terminologi “clumsy child syndrome”. Istilah ini kemudian berkembang menjadi “developmental coordination disorder” (DCD) dan akhirnya diformulasikan suatu kriteria diagnostik untuk DCD ini dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV (DSM-IV). Yang termasuk dalam kriteria ini adalah anak yang mempunyai tingkat kepandaian normal, tidak mempunyai gangguan kesehatan atau kelainan saraf (neurologis), tapi menunjukkan masalah dalam koordinasi, sehingga mengganggu prestasi akademis, dan atau kehidupan sosial anak tersebut. Gangguan belajar, masalah emosi, conduct disorder, dan oppositional defiant disorder ditemukan lebih sering pada anak DCD ini. Anak DCD yang disertai GPPH pasti berisiko mendapatkan masalah lebih besar dalam kehidupan sosialnya kelak.

           Dokter biasanya akan menggali adanya sifat “clumsy” yang tersembunyi pada anak yang dikonsultasikan dengan keluhan gangguan belajar, anak dengan masalah prilaku, atau anak yang sering mengeluh sakit atau nyeri di bagian tertentu dari tubuhnya tapi sebetulnya tidak mengalami sakit apa-apa (psychosomatic ache or pain).

            Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensif, mulai dari tinggi badan, berat badan, lingkar kepala dan tentu saja pemeriksaan neurologis (saraf) termasuk pemeriksaan mata, saraf-saraf otak, kekuatan dan tonus otot, serta berbagai refleks dan tes-tes keseimbangan. Jika ditemukan adanya kelemahan otot, ketidak seimbangan motorik, atau tonus otot yang melemah atau meningkat, maka anak tidak termasuk kriteria “clumsy” seperti yang disepakati dalam DSM-IV. 

          Sifat “clumsy” pada anak DCD bukan merupakan sesuatu yang progresif atau berlangsung makin lama makin hebat. Jika seorang anak yang tadinya normal lalu tiba-tiba mundur ketrampilannya dari hari ke hari, hal tersebut bukan suatu “clumsy” yang disepakati sebagai DCD dalam DSM-IV.

 

Gangguan motorik yang disebabkan DCD cenderung bertahan sampai dewasa dan dapat mengakibatkan gangguan fungsi sosial yang bermakna.

 

 APA PENYEBABNYA….?

           Penyebab pasti anak “clumsy” belum diketahui benar. Namun terdapat beberapa teori yang berusaha menjelaskan penyebab terjadinya DCD ini. Sebagian peneliti menganggap DCD disebabkan gangguan fungsi perencanaan motorik, yang dikenal sebagai “dyspraxia”. Peneliti lain mengatakan bahwa anak DCD mengalami gangguan proprioseptif dan gangguan mengintegrasikan berbagai rangsang sensoris. Ada pula penelitian yang menunjukkan bahwa anak “clumsy” mengalami gangguan bermakna dalam memproses input visual.

 

 KONDISI APA SAJA YANG MIRIP DCD…?

             Banyak kondisi atau penyakit yang menampilkan gejala mirip anak “clumsy”. Yang tersering diantaranya adalah keterbelakangan mental, ADHD, cedera otak (jatuh dari ketinggian, shaken baby syndrome), gangguan penglihatan, gangguan tulang, cerebral palsy ringan, dan hereditary ataxia.

 

BISA SEMBUH gak….?

           Seperti telah disebutkan tadi, bahwa berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan koordinasi pada anak DCD cenderung menetap sampai dewasa dan berpengaruh terhadap prestasi akademis, fungsi sosial emosi dan prilaku individu tersebut kelak.

 

APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN UNTUK MEREKA….?

            Yang dapat kita lakukan adalah mengurangi tingkat “keparahan” gangguan koordinasi motorik yang mereka alami. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa terapi okupasi yang disesuaikan untuk setiap individu DCD (individualized occupational therapy)  dapat meningkatkan beberapa ketrampilan motorik tertentu, sehingga menumbuhkan kepercayaan diri pada individu “clumsy” dan kepada keluarganya.

            Dalam kegiatan harian atau sekolah, anak DCD diajak untuk lebih banyak aktif dalam kegiatan olah raga seperti renang atau menunggang kuda. Selain itu dilakukan konseling keluarga untuk memberikan wawasan kepada keluarga mengenai gangguan tersebut, dan mendukung mereka dalam menciptakan kondisi yang lebih baik bagi anak DCD.

 

Individualized occupational therapy merupakan terapi terbaik bagi anak “clumsy”.

 

 Referensi:

–   Hamilton SS. Evaluation of clumsiness in children. Am Fam Physician 2002;66:1435-40

–   Floet AMW. Motor Skills Disorder. www.emedicine.com. Download January 2007.

–   Lynn D. How to help a clumsy children. Scouting magazine. October 1999

–   Sigmundsson H, Hansen PC, Talcott JB. Do clumsy children have visual deficits. Behavioural Brain Research 139 (2003) 123-129

Penulis

Kristiantini Dewi, dr., SpA

Perkembangan Sensori-Motor April 2, 2009

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , , ,
comments closed

Perkembangan Sensori-Motor

Dr. Kristiantini Dewi, SpA

Tidak ada yang lebih penting bagi orang tua selain yakin bahwa pertumbuhan dan perkembangan buah hatinya berjalan normal sesuai dengan tahapan / milestone normalnya. Orang tua bersedia bersusah payah melakukan apa saja demi tumbuh kembang si kecil, mulai dari menyediakan makanan yang segar untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, sampai memutarkan musik klasik ala Mozart dengan harapan dapat meningkatkan intelegensi sang anak. Namun seringkali orang tua tidak terlalu ambil pusing dengan perkembangan sensori-motor anaknya karena berpikir bahwa ketrampilan, kekuatan dan koordinasi motorik akan berkembang dengan sendirinya tanpa masalah yang berarti. Padahal, perkembangan sensori-motor, afeksi (emosi), dan kognisi saling berhubungan erat dalam satu siklus sensory input dan motor output yang berkesinambungan. Input sensoris (misalnya, ibu menyentuh pipi bayi) akan menyebabkan terjadinya output motorik (bayi secara otomatis akan menolehkan kepalanya ke arah sentuhan). Semakin banyak input sensoris yang diterima, makin banyak pula jawaban output motorik yang ditimbulkannya. Sebaliknya, jika perkembangan motorik mengalami hambatan, maka input sensoris pun mengalami hal yang sama. Jika seorang bayi tidak dapat merangkak menuju mainan yang dilihatnya berada di seberang ruangan (berarti terjadi hambatan motorik), maka bayi tersebut cenderung “melupakan” mainan tersebut. Jika dia melupakan mainan tersebut, maka dia tidak dapat mengeksplorasi karakteristik mainan tersebut, baik bentuknya, warnanya, tekstur maupun rasanya (berarti terjadi hambatan sensoris). Dengan demikian jika bayi tidak mampu mengeksplorasi sesuatu objek karena hambatan motoriknya, maka otaknya tidak akan pernah mempelajari karakteristik objek tersebut lebih jauh atau kehilangan input sensorisnya.

Hubungan yang erat antara pergerakan (motorik) dengan sistem sensoris dapat digambarkan dalam ilustrasi di bawah ini:

Sensory input

Motor input Motor input

Sensory input

Semakin banyak input selalu menghasilkan lebih banyak output, dan begitu sebaliknya. Siklus ini merupakan landasan bagaimana kita belajar untuk mengeksplor dan memahami lingkungan kita. Supaya siklus ini dapat terus berlangsung, sistem saraf pusat harus memproses dan merespons input sensoris melalui pergerakan motorik yang terjadi. Sedangkan untuk dapat terjadi suatu pergerakan motorik, dibutuhkan berbagai mekanisme yang cukup kompleks dan saling mendukung satu sama lain.

Banyak orang tidak menyadari bahwa sebetulnya sangat banyak komponen yang dibutuhkan seorang individu untuk dapat melakukan gerakan yang amat sederhana sekalipun. Seorang bayi yang melakukan gerakan berguling dari posisi telentang, sebetulnya melakukan gerakan gerakan kombinasi antara gerakan refleks maupun gerakan yang disengaja (voluntary movements) dan bayi tersebut menggunakan bantuan dari hampir seluruh panca inderanya. Pergerakan berguling tersebut membutuhkan kestabilan di tiap tiap tahap pergerakannya, dan juga membutuhkan tonus otot yang baik. Pergerakan motorik biasanya terjadi sebagai respons terhadap stimulasi sensoris baik visual, taktil, maupun pendengaran. Sebagai contoh, bayi mungkin melakukan gerakan berguling (motorik) karena dia mendengar suara ibunya (sensoris) tapi dia tidak dapat menemukan / melihat di mana ibunya berada. Atau bayi melakukan gerakan tersebut mungkin karena ia ingin meraih mainannya yang tidak mungkin terjangkau jika dia tidak mendekati mainan tersebut. Saat dia berguling, bayi membutuhkan kesadaran persepsi untuk mengetahui tungkai mana yang harus bergerak lebih dulu dan bergerak kemudian. Kemampuan sensoris proprioseptif nya akan membuat dia mengetahui bagaimana dan kemana tungkainya harus bergerak, sedangkan kemampuan sensoris vestibular nya membuat dia merasa aman melakukan gerakan berguling tersebut. Selain itu, gerakan tersebut juga dibarengi dengan kemampuan bayi memperkirakan kecepatan gerakan berguling tersebut dan besarnya usaha/tenaga yang harus dikeluarkan bayi untuk melakukan gerakan motorik tersebut.

SISTEM SENSORI-MOTOR YANG ”TIDAK KELIHATAN”

Tidak seperti sistem lain dalam tubuh kita yang mudah terlihat dan dimengerti, yaitu sistem jantung, sistem pernapasan, sistem pencernaan – sistem sensori-motor merupakan sistem yang mempunyai peranan penting dalam pengaturan fungsi tubuh, namun mungkin lebih sulit dipahami karena ”tidak kelihatan”. Sistem sensoris ini merupakan sistem yang terbangun dari berbagai sistem yang saling berhubungan satu sama lain. Jika kita misalkan otak kita sebagai komputer, maka sistem sensoris ini – yaitu mata, kulit, saraf – bertindak sebagai kabel dan konduktor dari komputer tersebut, dan bertanggung jawab pada sistem transmisi semua data yang masuk untuk diteruskan ke dalam komputer dan diproses lebih lanjut. Baik tidaknya integrasi sistem tersebut mempengaruhi sikap, emosi dan kualitas pergerakan motorik individu yang bersangkutan.

Mudah untuk dimengerti bahwa sistem sensoris (panca indera) berperan ”menolong” kita: indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan dan penghidu melindungi kita dari lingkungan yang membahayakan. Indera-indera tersebut membuat kita menyadari adanya stimulus bahaya di lingkungan kita: misalnya seorang anak menyadari untuk tidak memegang tutup panci yang panas karena tangannya dapat terbakar, kita tahu untuk tidak menyebrang jalan manakala melihat hiruk pikuk kendaraan yang berlari kencang atau mendengar bunyi klakson mendekat ke arah kita, atau kita dapat mencium bau asap dan seketika mampu mendeteksi adanya bahaya jauh sebelum kita mencapai lokasi penyebab kebakaran terjadi.

BAGAIMANA SISTEM SARAF PUSAT (SENSORIS) MEMPROSES PERGERAKAN (MOTORIK)

Seperti yang telah dijelaskan, pergerakan motorik terjadi berdasarkan adanya stimulasi input sensoris. Hal tersebut terjadi melalui serangkaian proses yang terorganisasi melalui sistem saraf pusat. Sistem ini menerima input sensori dari reseptor-reseptor eksteroseptif (yaitu reseptor untuk penglihatan, pendengaran, pengecapan, penghidu, rasa nyeri dan reseptor pengenalan suhu), dari propioseptor (reseptor yang terdapat pada otot, tendo, ligamen, sendi dan selaput otot), serta dari sistem vestibular (informasi diterima melalui telinga bagian dalam mengenai keseimbangan, pergerakan dan gravitasi).

Sistem vestibular terdapat di telinga bagian dalam dan diaktifkan oleh pergerakan kepala dan gravitasi. Sistem ini menolong kita mengetahui apakah kita sedang bergerak atau tidak atau apakah benda benda di sekitar kita sedang bergerak atau tidak. Pergerakan cairan di telinga bagian dalam akan memberi input pada otak tentang ke arah mana kita sedang bergerak – horisontal, vertikal, rotasional. Sistem vestibular mengkomunikasikan perubahan posisi ini kepada otot otot mata dan bagian lain di otak yang mengendalikan pergerakan. Sistem ini juga mengatur kecepatan dan durasi pergerakan yang terjadi, mengendalikan posisi kita untuk berdiri dan melawan gravitasi. Selain itu juga turut berperan dalam mengatur keseimbangan postur tubuh, tonus otot dan pergerakan otot bola mata secara cepat. Dengan adanya sistem vestibular yang berfungsi dengan baik, seorang anak akan tetap merasa aman sekalipun berada dalam ayunan / gendongan orang tuanya, atau saat melompat-lompat di atas tempat tidur, saat memanjat tangga atau bergelantungan di atas pohon.

Sistem proprioseptif diaktifkan oleh pergerakan yang menstimulasi reseptor-reseptor khusus yang terdapat pada otot, sendi dan kulit. Sistem ini memberitahu kita di mana letak kepala, badan dan tungkai kita tanpa kita perlu melihat ke arah organ organ tersebut berada. Kita tahu bahwa kedua tungkai kita bersilangan di bawah meja, mampu menyalin suatu tulisan tanpa perlu melihat bagaimana jari-jari kita bergerak, mampu membuka pintu atau menyalakan lampu dalam kegelapan sekalipun. Sistem ini juga membuat kita tahu seberapa banyak tenaga yang dipergunakan oleh otot kita untuk bergerak dan seberapa cepat otot tersebut mengalami peregangan. Sistem proprioseptif yang bekerja sama dengan sistem vestibular yang baik membantu kita bergerak dalam koordinasi dan kendali yang baik: tidak terlalu cepat ataupun tidak terlalu lambat. Selain itu, kedua sistem yang berjalan baik ini juga membantu seorang anak untuk melakukan perencanaan gerak yang lebih baik. Kemampuan perencanaan gerak (praxis) adalah kemampuan untuk merencanakan, mengatur dan menjalankan suatu gerakan motorik tertentu. Anak yang memiliki kemampuan praxis yang baik dapat merangkak di bawah meja tanpa membenturkan kepalanya, atau dapat merangkak di sepanjang lorong tanpa kehilangan arah, atau dapat memanjat kursi dan duduk sendiri tanpa terjatuh.

Kebanyakan orang akan menjawab bahwa indera terpenting adalah indera penglihatan dan pendengaran karena penggunaan dan fungsi kedua panca indera tersebut memang terlihat nyata. Namun sebenarnya indera perabaan (taktil), pergerakan dan posisi tubuh juga memegang peranan sangat penting dalam fungsi kehidupan bayi sehari-hari. Bahkan indera perabaan dan sistem vestibular serta proprioseptif ini sudah mulai berfungsi dalam sistem yang terintegrasi segera setelah bayi dilahirkan.

Di bulan-bulan pertama kehidupannya, bayi belajar mengenal lingkungannya terutama sekali melalui sentuhan karena sistem sensoris sentuhan (taktil) inilah yang paling banyak berkembang di awal kehidupannya. Sistem taktil ini ada yang berfungsi sebagai sistem proteksi atau perlindungan dan ada juga yang berfungsi sebagai sistem diskriminasi atau pembedaan. Sistem proteksi membuat bayi menyadari adanya stimulasi bahaya. Misalnya bayi menyadari sesuatu benda yang panas dan tidak mau menyentuhnya. Sedangkan sistem diskriminasi memberi tahu bayi mengenai sifat alamiah, kualitas dan kuantitasi stimulus yang masuk. Bayi dapat membedakan di bagian mana tubuhnya sedang dibelai, dicium, merasakan apakah sedang mendapatkan sentuhan ringan atau pelukan erat, dan sebagainya. Bayi juga belajar mengenali bentuk, tekstur serta ukuran suatu objek melalui (awalnya) pengecapan (mouthing object) dan selanjutnya melalui manipulasi objek tersebut menggunakan kedua tangannya.

Untuk dapat menginterpretasikan seluruh stimulus yang terdapat di sekitarnya secara akurat dan memberi respons terhadap stimulus tersebut dengan akurat juga, maka seluruh sistem sensoris harus dapat berfungsi dengan tepat dan berintegrasi satu sama lain. Kemampuan ini dikenal dengan nama integrasi sensoris (sensory integration).

PERKEMBANGAN SENSORI-MOTOR

Di usia satu bulan, otot leher bayi belum cukup kuat untuk menyangga kepalanya untuk waktu yang lama. Bayi hanya dapat mengangkat kepalanya untuk beberapa saat jika dalam posisi telungkup. Pergerakan tungkai dipengaruhi oleh refleks-refleks primitifnya misalnya startle reflex dimana bayi akan merentangkan seluruh tungkai dan tangannya dan meregangkan jari jarinya saat mendapatkan stimulus suara yang keras atau tiba-tiba. Setelah mencapai usia 6 minggu, refleks refleks primitif berangsur menghilang dan kekuatan serta koordinasi bayi menjadi lebih baik.

Di usia 3 bulan, bayi mulai dapat mengontrol pergerakan kepalanya. Dalam posisi telungkup bayi akan melatih kekuatan otot leher dan pergerakan kepalanya. Sekitar usia 4 bulan, bayi dapat mengendalikan keseimbangan posturalnya antara kepala, leher dan badannya; kebanyakan bayi dapat mengendalikan keseimbangan kepalanya untuk beberapa saat jika berada dalam posisi yang stabil . Di usia ini pula, bayi mulai bermain dengan tangannya dan mulai meraih objek dengan sengaja, bukan merupakan suatu gerakan refleks..

Antara usia 4-6 bulan, keseimbangan dan pergerakan bayi bertambah baik seiring kemampuannya untuk menggunakan dan mengkoordinasikan otot-otot besar. Bayi mulai dapat berguling dan mungkin dapat belajar duduk dengan sokongan tangan mereka di depan badan (posisi tripod). Bayi mulai meraih objek dengan kedua tangannya atau kedua telapak tangannya.

Kekuatan dan koordinasi otot makin baik saat bayi memasuki usia 6-9 bulan. Di usia 7 bulan bayi hampir sudah dapat melihat objek sebagaimana kemampuan orang dewasa. Bayi mampu mengkoordinasikan pergerakan tungkai dan batang tubuh, mulai duduk sendiri dengan stabil, merangkak menggunakan bantuan kedua tangan dan kakinya. Sebagian bayi bahkan sudah mulai berusaha melakukan gerakan untuk berdiri.

Antara usia 9 dan 12 bulan, bayi mulai mengeksplor dunia sekitarnya menggunakan panca indera mereka. Bersamaan dengan itu, bayi semakin pandai mengkoordinasikan gerakan otot otot halus (otot tangan dan jari-jari) sehingga mampu mengambil objek yang lebih kecil dengan ibu jari dan jari jari lainnya. Di usia ini bayi kerap memasukkan objek ke dalam mulutnya untuk “mempelajari” rasa dan tekstur suatu objek. Selain itu, bayi sudah semakin baik mengkoordinasikan otot otot besarnya sehingga mulai mampu berdiri dan merambat dari satu tempat ke tempat lain sambil berpegangan pada kursi/meja untuk kemudian mampu berjalan.

Sejalan dengan semakin matangnya pertumbuhan dan perkembangan otak, maka anak mulai mampu berjalan di usia rata-rata 12 bulan. Setelah anak mampu mencapai kemampuan berjalan , berarti dia sudah ”siap” untuk mempelajarai ketrampilan-ketrampilan lain yang membutuhkan koordinasi otot otot kecil misalnya ketrampilan memegang alat tulis, memegang sendok untuk makan dan memainkan objek objek kecil lainnya.

Di usia 12 sampai 15 bulan anak mampu berlutut, membungkuk dan berjalan mundur. Selain itu juga mulai mampu bermain dan melempar bola yang belum terarah, memasukkan benda benda kecil dalam suatu wadah / cangkir, menirukan tepuk tangan dan membuka tutup pintu sendiri.

Antara usia 15 sampai 18 bulan anak mulai belajar naik turun tangga walau masih menggunakan bantuan kedua tangannya, mampu berjalan mundur sambil menarik mainan dengan tali, menggunakan sendok dengan lebih baik, memindahkan kubus dari satu wadah ke wadah lain, menyusun 4-5 kubus ke atas, dan mulai mengenal satu organ tubuhnya sendiri misalnya mata atau hidung.

Menjelang usia 24 bulan anak sudah mampu menendang bola yang lebih kecil (ukuran bola tennis) dan mulai mampu melempar bola terarah ke suatu keranjang yang besar. Anak sudah bisa melompat, mulai mampu membuka sepatu dan kaos kakinya sendiri, menggunakan alat makan lebih trampil lagi, mengenal organ tubuh lebih banyak dan menyusun kubus lebih banyak dan lebih rapi lagi.

Referensi:

Keterlambatan Motorik: Apakah Suatu Cerebral Palsy (CP)? April 2, 2009

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , , ,
add a comment

Dr. Kristiantini Dewi, SpA

INDIGROW – Februari 2009

Perkembangan mental bayi sampai usia 18 bulan tergantung pada kemampuannya bergerak secara normal. Gangguan (sensori) motor menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk mengenali lingkungannya. Misalnya seorang anak 9 bulan yang belum bisa duduk tegak tidak akan menampilkan respons maksimal jika diajak memanipulasi suatu mainan yang membutuhkan koordinasi lebih kompleks dari kedua tangannya, hal ini disebabkan karena anak tersebut masih sibuk memikirkan upaya untuk menjaga agar postur duduknya mantap terlebih dahulu.

Kemampuan motorik normal yang ditandai dengan perkembangan tonus otot yang normal, menghilangnya refleks primitif (yaitu reflex yang hanya normal ada pada bayi baru lahir), munculnya reaksi “righting” atau “balancing”, SANGAT BERGANTUNG pada manipulasi / stimulus yang dialami bayi melalui pengasuhan ibu dan lingkungannya.

Apakah bayi saya berkembang normal…

  • Yang TERPENTING à pelajari, kuasai milestone tahapan perkembangan normal
  • Setiap bayi mempunyai kecepatan perkembangan yang mungkin berbeda tetapi HARUS TETAP DALAM RENTANG NORMAL.
  • Setiap kali ditemukan milestone perkembangan yang terlambat, HARUS DIANGGAP TIDAK NORMAL sampai dibuktikan sebaliknya oleh dokter

Salah satu bentuk tersering dari suatu keterlambatan motorik adalah suatu Cerebral Palsy (CP). Oleh karena itu mari kita mengenal CP lebih dalam lagi.

APA ITU CP?

Suatu gangguan motorik yang ditandai dengan gangguan postur dan gerakan, yang disebabkan adanya cedera pada otak saat otak masih dalam masa pertumbuhan (masih imatur). CP biasanya disertai dengan gangguan lain, dan seringkali diikuti masalah emosi dan kesulitan masalah sosial dalam keluarga.

Tingkat keparahan suatu CP bervariasi, mulai dari “gak bisa apa-apa sama sekali” , “gangguan berbahasa” , sampai dengan …”bisa jalan, lari, ataupun melakukan ketrampilan lain, walaupun dengan kualitas yang tidak sempurna (clumsy)”.

Angka kejadian di Amerika: 2-3 bayi per 1000 kelahiran.

APA PENYEBAB CP ?

CP terjadi akibat adanya suatu cedera pada otak (sistem susunan saraf pusat) sebelum otak sempurna berkembang (yakni sejak dalam episode janin sampai dengan 2 tahun pertama kehidupannya), berarti cedera tersebut dapat terjadi sebelum lahir, saat lahir, segera setelah lahir atau setelah lahir. Cedera pada otak mengakibatkan perkembangan sistem saraf menjadi terganggu, yang ditandai dengan terganggunya kontrol postural, keseimbangan dan pergerakan. Selain itu otot yang terkena menjadi tidak berfungsi maksimal dan tidak terkoordinasi. Akibatnya, otot jadi lemah, dengan tonus yang tidak normal (tonus terlalu tinggi, atau tonus terlalu lemah)

FAKTOR RISIKO

Risiko tertinggi terjadinya CP adalah usia kehamilan < 32 minggu (prematur), kesulitan bernapas saat bayi dilahirkan dan berat janin saat dilahirkan < 2500 gram.

Faktor Risiko lain……….SANGAT BANYAK, namun TIDAK SEMUA bayi dengan faktor risiko tersebut kelak menjadi CP.

FAKTOR RISIKO LAIN

  1. Gangguan sistem reproduksi, riwayat kehamilan yang tidak normal sebelumnya, misalnya janin mati dalam kandungan, keguguran
  2. Komplikasi tali pusat (infeksi, perkapuran)
  3. Perdarahan saat trimester terakhir kehamilan
  4. Presentasi bahu
  5. Preeklampsia atau eklampsia
  6. Infeksi janin dalam kandungan (misal:TORCH)
  7. Gangguan kesehatan ibu dengan komplikasi jantung dan paru
  8. Trauma / benturan keras pada perut saat hamil
  9. Konsumsi obat-obatan yang merusak janin
  10. Faktor genetik
  11. Pertumbuhan janin lambat karena malnutrisi
  12. Kehamilan ganda
  13. Malformasi kongenital, misal: gangguan sistem saraf pusat
  14. Faktor sosial ekonomi yang kurang baik

BAGAIMANA CP DIDIAGNOSIS

Biasanya penyandang CP datang dengan gambaran klinis yang khas yaitu postur tubuh yang abnormal. Keluhan lain biasanya keterlambatan pencapaian ketrampilan baru sesuai dengan usia anak (terlambat duduk, terlambat merangkak, dsb.

Dokter yang memeriksa akan menemukan gejala sbb:

  • Menetapnya perilaku infantil (bayi baru lahir) termasuk menetapnya refleks primitif
  • Adanya gambaran perkembangan motorik yang lain, yang tidak seperti bayi /

anak normal lainnya: hipertonus, hipotonus, gerakan tidak terkendali, dsb

tanda-tanda lesi upper motor neuron

Tidak ada uji laboratorium yang spesifik untuk CP

USIA BERAPA YANG PALING DIPERCAYA UNTUK MENEGAKKAN DIAGNOSIS CP

Perkembangan fungsi sistem saraf sangat pesat dan mempunyai “rentang” normal yang cukup besar sampai usia 1 tahun, seringkali masih agak sulit untuk menegakkan diagnosis CP sebelum 1 tahun.

Setelah usia 1-1,5 tahun, keterlambatan motorik lebih jelas, gangguan fungsi sistem saraf lebih spesifik sehingga tidak perlu ada keraguan lagi dalam menegakkan diagnosis CP setelah usia 1 tahun.

PERUBAHAN MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis CP bisa berubah sejalan dengan kematangan perkembangan sistem saraf pusat. Diagnosis bisa jadi berubah sejalan dengan tumbuh kembang sang bayi menjadi individu anak yang lebih besar dan lebih aktif. Contoh: kekakuan semakin meningkat, gerakan tidak terkendali baru mulai terlihat setelah usia 2 atau 3 tahun, ataksia dapat didiagnosis setelah anak bisa berjalan, atau saat diharapkan kemampuan menggenggamnya menjadi lebih sempurna, kelumpuhan satu tungkai (monoplegia) menjadi satu sisi tubuh (hemiplegia).

GANGGUAN DAN HENDAYA YANG SERING MENYERTAI CP

  • Gangguan penglihatan
  • Gangguan pendengaran
  • Gangguan berbahasa ekspresif
  • Gangguan berbahasa reseptif
  • Gangguan persepsi (agnosia)
  • Gangguan visual-motor (dyspraxia)
  • Gangguan prilaku
  • Kesulitan belajar
  • Kesulitan komunikasi
  • Epilepsi
  • Gangguan kognisi (retardasi mental)
  • Gangguan kehidupan sosial
  • Gangguan nutrisi

YANG MEMPENGARUHI LONG-TERM OUTCOME PENYANDANG CP

  • Berat ringannya CP
  • Gangguan yang menyertai: Ada/tidak, jenisnya, jumlahnya
  • Faktor Usia
  • Faktor Sosial
  • Faktor Ekonomi
  • Faktor kepribadian
  • Tingkat kepandaian / kognisi

TANDA BAHAYA GANGGUAN MOTORIK !!

  • Tubuh terlalu lemas, atau tubuh terlalu kaku
  • Tangan masih mengepal di usia > 4 bulan
  • Terlambat à 3 bulan belum bisa angkat kepala, 9 bulan belum bisa duduk, dsb
  • Gangguan postural
  • Kedua tungkai bawah menyilang (posisi menggunting) jika badan diberdirikan, jika berjalan; berjalan selalu jinjit
  • Berjalan dengan paha dan lutut menekuk
  • Tidak dapat menjumput benda kecil dengan ujung jari sampai usia 1 tahun
  • Adanya dominasi salah satu sisi tangan sebelum usia 18 bulan
  • Tetap memasukkan benda ke dalam mulut disertai ngiler berlebihan sampai usia 2 tahun

PENTING !

  1. Stimulasi lingkungan SANGAT PENTING bagi perkembangan motorik.
  2. Pencapaian “milestone” perkembangan memang penting, namun lebih penting lagi untuk mengetahui juga KUALITAS perkembangan tersebut.
  3. Penyimpangan perkembangan TIDAK LANGSUNG BERARTI bahwa anak pasti mengalami gangguan neurologis namun TIDAK BIJAKSANA untuk berdiam diri tanpa intervensi.
  4. Ditemukannya suatu deviasi / penyimpangan perkembangan motorik, HARUS dianggap sebagai suatu gangguan motorik akibat gangguan sistem saraf pusat, kecuali jika deviasi tersebut berdiri tunggal.
  5. Penelitian menunjukkan bahwa kecepatan tertinggi manusia mempelajari sesuatu adalah di periode 24 bulan pertama kehidupannya.

Intervensi dan terapi DINI adalah SANGAT UTAMA jika ditemukan kecurigaan suatu keterlembatan !

Daftar pusaka

Menkes JH, Sarnat HB. Perinatal asphyxia and trauma. Child neuroloy, seventh edition. Lippincott Williams & Wilkins, 2006.

Motor development in children, Ermellina Fedrizzi, Guilano Avanzini and aolo Crenna (Eds), 1994 John Libbey & Company Ltd. pp.51-58.