jump to navigation

ANAK ‘CLUMSY’……, kenali mereka yuk…! Oktober 21, 2009

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
trackback

          Orang tua dan dokter sering “lolos” mengenali adanya gangguan motorik yang tidak terlalu jelas. Padahal sekitar 6% anak usia sekolah mengalami masalah koordinasi motorik yang cukup serius yang mengganggu prestasi akademis dan personal sosial anak tsb. Masalah ini biasanya mulai muncul di tahun-tahun pertama usia sekolah, dan nampak sebagai kesulitan dalam menjalankan tugas motorik yang sederhana seperti berlari, mengancingkan baju atau memegang dan menggunting kertas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan motorik ini akan tetap ada walaupun usia anak menginjak usia remaja sampai dewasa. Bahkan tidak jarang gangguan koordinasi motorik ini malah ditambah dengan masalah lain seperti misalnya gangguan pemusatan perhatian-hiperaktivitas (GPPH) atau yang dikenali juga sebagai attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan belajar, ketrampilan menggambar dan menulis yang buruk dan ketidakmatangan emosi.  Di usia remaja, masalah bisa menjadi tambah pelik, karena anak “clumsy” cenderung memiliki masalah emosi, sosial dan pendidikan yang lebih rumit dibandingkan anak normal yang lain. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk dapat mengenali gangguan ini, sehingga dapat memberikan intervensi yang terbaik bagi putra putri mereka.

 

Sekitar 6% anak usia sekolah mengalami masalah koordinasi motorik yang cukup serius yang mengganggu prestasi akademis dan personal sosialnya.

 

BAGAIMANA ORANG TUA MENGENALINYA….

          Perkembangan motorik anak “clumsy” biasanya masih dalam batas normal jika dilihat berdasarkan usianya. Jadi, mereka tidak terlambat duduk, atau terlambat berjalan misalnya.  Namun, keterlambatan akan jadi nampak jelas jika sudah mulai berhubungan dengan perkembangan sosial-adaptif. Anak “clumsy” nampak tidak setrampil anak lain dan harus “berjuang” dulu agar bisa trampil dalam bermain sepeda, menangkap bola, memegang pensil atau menggunting garis lurus pada kertas. Selain itu anak juga terlambat menguasai ketrampilan harian yang diperlukan untuk kemandirian, misalnya mengancingkan baju, melipat baju olah raga, menutup tutup termos minum,  menyimpulkan tali sepatu.  Di sekolah, hampir tiap saat anak “clumsy” menabrak temannya, atau menyenggol sudut meja saat berjalan, atau tidak sengaja membenturkan lututnya ke pinggir meja belajar saat bangkit dari tempat duduknya. Tidak jarang pula anak “clumsy” dilaporkan menjatuhkan atau membenturkan barang yang sedang dipegangnya secara tidak sengaja.  Mungkin juga anak mulai dikucilkan dari pergaulan teman sebayanya karena prilakunya yang cenderung sembrono dan “grasa grusu”. Lama kelamaan mereka menjadi tidak percaya diri, dan mengisolir diri dari keterlibatan aktivitas yang membutuhkan ketrampilan koordinasi motorik, misalnya olah raga. Tabel 1 dan 2 menunjukkan usia rata-rata seharusnya suatu ketrampilan motorik dan sensorik dikuasai oleh anak normal.

 Tabel 1.

Usia rata-rata pencapaian ketrampilan motorik sosial dan adaptif

 

Ketrampilan                                                       Usia rata-rata (dalam tahun)

Mengancing dan melepas kancing                                              4

Berpakaian                                                                                          4,5

Bersepeda dengan roda bantuan                                               4,5

Menggunting kertas dengan gunting                                        4,5

Mewarnai tidak keluar garis batas                                            4,5

Menyimpulkan tali sepatu                                                           5,5

Menulis nama lengkap                                                                  5,5

Loncat dari ketinggian beberapa anak tangga                    5,5

Bersepeda tanpa roda bantuan                                                   6

Adapted from Blondis TA. Motor disorders and attention-deficit/hyperactivity disorder. Pediatr Clin North Am 1999;46:905

 

Tabel 2.

Usia rata-rata pencapaian ketrampilan sensoris dan motorik

 

Ketrampilan                                                       Usia rata-rata (dalam tahun)

Menggambar kotak                                                                             5

Berdiri pada satu kaki selama 15 detik                                       5

Memegang pensil seperti orang dewasa (tripod)                5,5

Melompat dengan ritmis                                                                6

Menggambar garis diagonal                                                         

Dengan mata tertutup, mampu menyebutkan                       7

Jari mana yang disentuh                                                                 8

Lompat dengan tumpuan kaki yang bergantian                  8,5

Menggambar garis silang yang membagi

Dua bidang sama besar                                                                         9

Dengan mata tertutup mampu berdiri angkat

Satu kaki selama 10 detik                                                                   10

Menggambar kubus 3 dimensi dengan baik                               12

Adapted from Blondis TA. Motor disorders and attention-deficit/hyperactivity disorder. Pediatr Clin North Am 1999;46:906

 

 

BAGAIMANA DOKTER MENDIAGNOSISNYA………..

           Istilah anak “clumsy” sudah diperkenalkan sejak tahun 1975 dengan terminologi “clumsy child syndrome”. Istilah ini kemudian berkembang menjadi “developmental coordination disorder” (DCD) dan akhirnya diformulasikan suatu kriteria diagnostik untuk DCD ini dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV (DSM-IV). Yang termasuk dalam kriteria ini adalah anak yang mempunyai tingkat kepandaian normal, tidak mempunyai gangguan kesehatan atau kelainan saraf (neurologis), tapi menunjukkan masalah dalam koordinasi, sehingga mengganggu prestasi akademis, dan atau kehidupan sosial anak tersebut. Gangguan belajar, masalah emosi, conduct disorder, dan oppositional defiant disorder ditemukan lebih sering pada anak DCD ini. Anak DCD yang disertai GPPH pasti berisiko mendapatkan masalah lebih besar dalam kehidupan sosialnya kelak.

           Dokter biasanya akan menggali adanya sifat “clumsy” yang tersembunyi pada anak yang dikonsultasikan dengan keluhan gangguan belajar, anak dengan masalah prilaku, atau anak yang sering mengeluh sakit atau nyeri di bagian tertentu dari tubuhnya tapi sebetulnya tidak mengalami sakit apa-apa (psychosomatic ache or pain).

            Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensif, mulai dari tinggi badan, berat badan, lingkar kepala dan tentu saja pemeriksaan neurologis (saraf) termasuk pemeriksaan mata, saraf-saraf otak, kekuatan dan tonus otot, serta berbagai refleks dan tes-tes keseimbangan. Jika ditemukan adanya kelemahan otot, ketidak seimbangan motorik, atau tonus otot yang melemah atau meningkat, maka anak tidak termasuk kriteria “clumsy” seperti yang disepakati dalam DSM-IV. 

          Sifat “clumsy” pada anak DCD bukan merupakan sesuatu yang progresif atau berlangsung makin lama makin hebat. Jika seorang anak yang tadinya normal lalu tiba-tiba mundur ketrampilannya dari hari ke hari, hal tersebut bukan suatu “clumsy” yang disepakati sebagai DCD dalam DSM-IV.

 

Gangguan motorik yang disebabkan DCD cenderung bertahan sampai dewasa dan dapat mengakibatkan gangguan fungsi sosial yang bermakna.

 

 APA PENYEBABNYA….?

           Penyebab pasti anak “clumsy” belum diketahui benar. Namun terdapat beberapa teori yang berusaha menjelaskan penyebab terjadinya DCD ini. Sebagian peneliti menganggap DCD disebabkan gangguan fungsi perencanaan motorik, yang dikenal sebagai “dyspraxia”. Peneliti lain mengatakan bahwa anak DCD mengalami gangguan proprioseptif dan gangguan mengintegrasikan berbagai rangsang sensoris. Ada pula penelitian yang menunjukkan bahwa anak “clumsy” mengalami gangguan bermakna dalam memproses input visual.

 

 KONDISI APA SAJA YANG MIRIP DCD…?

             Banyak kondisi atau penyakit yang menampilkan gejala mirip anak “clumsy”. Yang tersering diantaranya adalah keterbelakangan mental, ADHD, cedera otak (jatuh dari ketinggian, shaken baby syndrome), gangguan penglihatan, gangguan tulang, cerebral palsy ringan, dan hereditary ataxia.

 

BISA SEMBUH gak….?

           Seperti telah disebutkan tadi, bahwa berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan koordinasi pada anak DCD cenderung menetap sampai dewasa dan berpengaruh terhadap prestasi akademis, fungsi sosial emosi dan prilaku individu tersebut kelak.

 

APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN UNTUK MEREKA….?

            Yang dapat kita lakukan adalah mengurangi tingkat “keparahan” gangguan koordinasi motorik yang mereka alami. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa terapi okupasi yang disesuaikan untuk setiap individu DCD (individualized occupational therapy)  dapat meningkatkan beberapa ketrampilan motorik tertentu, sehingga menumbuhkan kepercayaan diri pada individu “clumsy” dan kepada keluarganya.

            Dalam kegiatan harian atau sekolah, anak DCD diajak untuk lebih banyak aktif dalam kegiatan olah raga seperti renang atau menunggang kuda. Selain itu dilakukan konseling keluarga untuk memberikan wawasan kepada keluarga mengenai gangguan tersebut, dan mendukung mereka dalam menciptakan kondisi yang lebih baik bagi anak DCD.

 

Individualized occupational therapy merupakan terapi terbaik bagi anak “clumsy”.

 

 Referensi:

–   Hamilton SS. Evaluation of clumsiness in children. Am Fam Physician 2002;66:1435-40

–   Floet AMW. Motor Skills Disorder. www.emedicine.com. Download January 2007.

–   Lynn D. How to help a clumsy children. Scouting magazine. October 1999

–   Sigmundsson H, Hansen PC, Talcott JB. Do clumsy children have visual deficits. Behavioural Brain Research 139 (2003) 123-129

Penulis

Kristiantini Dewi, dr., SpA

Komentar

1. indigrow - Oktober 21, 2009

Trimakasih dok…atas bagi-bagi ilmunya, semoga tulisannya bermanfaat bagi saya dan siapapun trutama untuk semua orang-orang yang bergerak dibidang anak (pendidikan, maupun medis)

Birulangit

2. Okka Fitriansyah - Desember 24, 2009

Terima kasih atas info nya..sangat bermanfaat bagi kami orang tua yang mempunyai anak clumsy…adakah sekolah yang khusus bagi anak clumsy namun dengan biaya murah ? mengingat saya hanya karyawan biasa….mohon bantuannya.

indigrow - Januari 6, 2010

Terimakasih atas apresiasinya,
oh ya saudara Okka tinggalnya di daerah mana ya?

Okka Fitriansyah - Januari 12, 2010

Saya tinggal di daerah Harmoni tepat nya di Petojo Binatu.
Tahun ini saya akan berupaya men-sekolahkan anak saya di sekolah khusus…mohon bantuan informasinya untuk sekolah khusus yg tidak mahal biayanya.

indigrow - Januari 13, 2010

Oh ya maaf, kami belum mempunyai referensi untuk sekolah yang cukup memahami masalah ini yang ada di daerah jakarta.


Sorry comments are closed for this entry

%d blogger menyukai ini: