jump to navigation

Retardasi Mental Februari 2, 2010

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Keterlambatan perkembangan merupakan istilah untuk mengindikasikan adanya perkembangan syaraf yang tidak normal, dimana terdapat kegagalan dalam pencapaian milestones usia yang tepat. Keterlambatan perkembangan atau retarded delay menunjukkan adanya kemampuan yang terlambat antara usia kalender dengan usia mentalnya. Yang terjadi adalah hanya perkembangannya yang terhambat, namun akan ada kemampuan optimal yang dapat dicapai. Dengan stimulasi yang tepat maka akan dapat mengejar ketertinggalannya. Kemampuan yang terlambat ini bukan berarti penderita retardasi mental tidak memiliki potensi. Yang mereka perlukan adalah optimalisasi dari apa yang mereka miliki. Stimulasi yang tepat akan dapat membantu mereka mencapai potensi maksimalnya.

Sebagai ilustrasi, Maria melihat beberapa tanda perkembangan yang tidak normal pada anaknya yang bernama David. Sebagai bayi, David menunjukkan sedikit ketertarikan terhadap lingkungan dan tidak terlalu perhatian. David tahan duduk dalam kursi bayi waktu yang lama tanpa mengeluh. Walaupun Maria berusaha menyusuinya, isapan David lemah, dan ia sering memuntahkan susunya. Untuk perkembangan motorik kasar, David tidak bisa menahan kepalanya sampai di usia 4 bulan (seharusnya sudah bisa di usia 1 bulan), berguling di usia 8 bulan (seharusnya 5 bulan), dan baru dapat duduk di usia 14 bulan (seharusnya 7 bulan). Untuk perkembangan sosial dan motorik halus, David juga mengalami ketertinggalan dari norma usianya. Orang tua David, khawatir mengenai keterlambatan yang dialami anaknya.  Ketika David berusia 15 bulan, mereka mengkonsultasikan kepada dokter anak. Ketika David diberikan tes BSID-2 (Bayley Scales of Infant Development-Second Edition) pada usia 16 bulan, ditemukan bahwa usia mental David berada di usia 7 bulan dan IQ David dibawah 50.

Ketika anak mengalami keterlambatan pada seluruh aspek perkembangan, diagnosanya ia mungkin mengalami retardasi mental. Menurut Batshaw (2000),   Retardasi mental (keterbelakangan mental) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada di bawah rata-rata disertai dengan gangguan terhadap fungsi adaptif paling sedikit 2 misalnya komunikasi, kemampuan menolong diri sendiri, berumah tangga, sosial, pekerjaan, kesehatan dan keamanan, yang mulai timbul sebelum usia 18 tahun. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo=kurang atau sedikit dan fren=jiwa) atau tuna mental.

Menurut J.P. Chaplin, Intelegensi adalah kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara tepat dan efektif, kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, kemampuan memahami dan belajar dengan cepat. Ketiganya tidak terlepas satu sama lain.

IQ (Intelligence Quotient) adalah angka normatif dari hasil intelegensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient).

Cara pengukuran IQ

IQ dapat diukur menggunakan tes intelegensi atau tes IQ yang standar yang banyak digunakan oleh para ahli psikolog di dunia, termasuk di Indonesia.  Tes iQ dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok. Beberapa model tes yang dapat mengukur IQ adalah: Stanford-Binet intelligence scale, The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R), The Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R), The Standard Progressive Matrices, The Kaufman Assessment Battery for Children (K-ABC), Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI) dan masih banyak lagi.

Berdasarkan DSM-IV-TR, terdapat beberapa klasifikasi retardasi mental yaitu :

Klasifikasi IQ

Keterangan

Ekspektasi Pendidikan
Retardasi mental berat sekali (profound) dibawah 20 atau 25 Biasanya tidak dapat berjalan, berbicara atau memahami.

Biasanya tidak mampu belajar walaupun mempunyai kemampuan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Keinginan biasanya membutuhkan perhatian yang penuh dan pengawasan untuk waktu seumur hidup.

Retardasi mental berat (severe) Sekitar 20-25 sampai 35-40 Dapat dilatih meskipun agak lebih susah dibandingkan dengan anak retardasi mental moderat.

Kemampuan belajar hanya pada area bantu diri seperti mandi, buang air, kemampuan terbatas dalam bidang akademik. Kemampuan penyesuaian sosial biasanya terbatas hanya pada anggota keluarga atau orang yang dikenal lainnya. Kemampuan kerja biasanya dapat terlihat ketika bekerja dibawah setting workshop atau naungan suatu lembaga tertentu.

Retardasi mental moderat (moderate) Sekitar 35-40 sampai 50-55 Mengalami kelambatan  dalam belajar berbicara dan kelambatan dalam mencapai tingkat perkembangan lainnya (misalnya duduk dan berbicara). Dengan latihan dan dukungan dari lingkungannya, mereka dapat hidup dengan tingkat kemandirian tertentu.

Dapat mengikuti sekolah sampai kelas dua sampai kelas lima. Dalam hal penyesuaian sosial menampakkan kemandirian dalam komunitas. Dalam hal kemampuan kerja harus didukung secara penuh atau hanya secara parsial.

Retardasi mental ringan (mild) Sekitar 50-55 sampai 70 Bisa mencapai kemampuan membaca sampai kelas 4-6.

Dapat mempelajari kemampuan pendidikan dasar yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memerlukan pengawasan dan bimbingan serta pelatihan dan pendidikan khusus.

Borderline Sekitar 70 sampai 89 Penyesuaian sosial yang tidak berpola akan berbeda dengan populasinya walaupun pada segmen yang lebih bawah penyesuaiannya akan baik, dalam arti lain perkembangan anak dalam penyesuaian sosial akan berbeda dengan teman-teman seusianya yang normal.

Mampu mengikuti kegiatan sekolah sampai pada jenjang tertentu yang dapat dicapai tidak sesuai dengan tahapan usia kalender. Memperoleh kepuasan kerja dibidang non-teknis yang disertai dengan dukungan diri yang penuh bila diperlukan

Penderita mental retardasi memerlukan pendidikan untuk memperoleh keterampilan dan kemandirian. Pendidikan untuk penderita mental retardasi perlu dilakukan berulang-ulang (remedial) agar kemampuan yang telah dicapai tidak menurun.

Tingkat kecerdasan ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Pada sebagian besar kasus retardasi mental, penyebabnya tidak diketahui; hanya 25 % kasus yang memiliki penyebab yang spesifik.

Penyebab retardasi mental

Penyebab retardasi mental dibagi menjadi beberapa kelompok:

  1. Trauma (sebelum dan sesudah lahir) : pendarahan intrakranial sebelum atau sesudah lahir; cedera hipoksia (kekurangan oksigen) sebelum, selama atau sesudah lahir; cedera kepala yang berat.
  2. Infeksi (bawaan dan sesudah lahir) : Rubella kongenitalis, Meningitis, infeksi sitomegalovirus bawaan, Ensefalitis, Toksoplasmosis kongenitalis, Listeriosis, infeksi HIV.
  3. Kelainan kromosom : kesalahan pada jumlah kromosom (Sindroma Down), defek pada kromosom (sindroma X yang rapuh, sindroma Angelman, sindroma Prader-Will).
  4. Kelainan genetik dan kelainan metabolik yang diturunkan: Galaktosemia, penyakit Tay-Sachs, Fenilketonuria ,Sindroma Hunter, Sindroma Hurler, Sindroma Santifilipo, Leukodistrofi metakromatik, Adrenoleukodistrofi, Sindroma Lesch-Nyhan, Sindroma Rett, Sklerosis tuberosa.
  5. Metabolik: Sindroma Reye, Dehidrasi hipernatrenik, Hipotiroid kongenital, Hipoglikemia (Diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik).
  6. Keracunan: pemakaian alkohol, kokain, amfetamin dan obat lainnya pada ibu hamil; keracunan metilmerkuri, keracunan timah hitam.
  7. Gizi: Kwashiorkor, Marasmus, Malnutrisi.
  8. Lingkungan: kemiskinan, status ekonomi rendah, sindroma deprivasi.

Penanganan Retardasi Mental.

Penanganan anak dengan retardasi mental memerlukan integrasi multidisiplin untuk membantu anak-anak ini:

  • Remedial Teaching

Perlu pengulangan secara terus menerus di berbagai situasi dan kesempatan untuk membantu mereka memahami hal-hal yang baru dipelajari.

  • Pelayanan Pendidikan

Pendidikan merupakan aspek yang paling penting berkaitan dengan treatment pada anak penderita retardasi mental. Pencapaian hasil yang “baik” bergantung pada interaksi antara guru dan murid. Program pendidikan harus berkaitan dengan kebutuhan anak dan mengacu pada kelemahan dan kelebihan anak. Target pendidikan tidak hanya berkaitan dengan bidang akademik saja. Secara umum, anak penderita retardasi mental membutuhkan bantuan dalam memperoleh pendidikan dan keterampilan untuk mandiri.

  • Kebutuhan-kebutuhan Kesenangan dan Rekreasi

Idealnya, anak penderita retardasi mental dapat berpartisipasi dalam aktivitas bermain dan rekreasi. Ketika anak tidak ikut dalam aktivitas bermain, pada saat remaja akan kesulitan untuk dapat berinteraksi sosial dengan tepat dan tidak kompetitif dalam aktivitas olahraga. Partisipasi dalam olahraga memiliki beberapa keuntungan, yaitu pengaturan berat badan, perkembangan koordinasi fisik, pemeliharaan kesehatan kardiovaskular, dan peningkatan self-image (gambaran diri).

  • Kontrol Gangguan Tingkah laku

Gangguan tingkah laku dapat dihasilkan dari ekspektasi/harapan orang tua yang tidak tepat, masalah organik, dan atau kesulitan keluarga. Kemungkinan lain, gangguan tingkah laku dapat muncul sebagai usaha anak untuk memperoleh perhatian atau untuk menghindari frustrasi. Dalam mengukur tingkah laku, kita harus mempertimbangkan apakah tingkah lakunya tidak sesuai dengan usia mental anak, daripada dengan usia kronologisnya. Pada  beberapa anak, mereka memerlukan teknik manajemen tingkah laku dan atau penggunaan obat.

  • Mengatasi Gangguan

Jika terdapat gangguan lain- Cerebral palsy; gangguan visual & pendengaran; gangguan epilepsi; gangguan bicara dan gangguan lain dalam bahasa, tingkahlaku dan persepsi- maka yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang optimal adalah diperlukan terapi fisik terus menerus, terapi okupasi, terapi bicara-bahasa, perlengkapan adaptif seperti kaca mata, alat bantu dengar, obat anti epilepsi dan lain sebagainya. Perlu diagnosa yang tepat untuk menetapkan gangguan, diluar hanya masalah taraf intelegensi.

  • Konseling Keluarga

Banyak keluarga yang dapat beradaptasi dengan baik ketika memiliki anak yang menderita retardasi mental, tetapi ada pula yang tidak. Diantaranya karena faktor-faktor yang berkaitan dengan kemampuan keluarga dalam menghadapi masalah perkawinan, usia orang tua, self-esteem (harga diri) orang tua, banyaknya saudara kandung, status sosial ekonomi, tingkat kesulitan, harapan orang tua & penerimaan diagnosis, dukungan dari anggota keluarga dan tersedianya program-program dan pelayanan masyarakat.

Salah satu bagian yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan bagi keluarga penderita retardasi mental, agar keluarga dapat tetap menjaga rasa percaya diri dan mempunyai harapan-harapan yang realistik tentang penderita. Perlu penerimaan orang tua mengenai taraf kemampuan yang dapat dicapai anak. Orang tua disarankan untuk menjalani konsultasi dengan tujuan mengatasi rasa bersalah, perasaan tidak berdaya, penyangkalan dan perasaan marah terhadap anak. Selain itu orang tua dapat berbagi informasi mengenai penyebab, pengobatan dan perawatan penderita baik dengan ahli maupun dengan orang tua lain.

  • Evaluasi Secara Berkala

Walaupun retardasi mental adalah suatu gangguan statis, kebutuhan-kebutuhan anak dan keluarga berubah setiap waktu. Seiring perkembangan anak, informasi tambahan harus diberikan kepada orang tua, dan tujuan harus ditetapkan kembali, serta program perlu diatur.


Tujuan Penanganan

Tujuan penanganan anak retardasi mental yang utama adalah mengembangkan potensi anak semaksimal mungkin. Sedini mungkin diberikan pendidikan dan pelatihan khusus, yang meliputi pendidikan dan pelatihan kemampuan sosial untuk membantu anak berfungsi senormal mungkin.

Pencarian bakat dan minat juga perlu digali dan dikenali agar anak dapat diarahkan pada latihan dan keterampilan yang dapat menunjang kehidupan mereka selanjutnya. Banyak cara dan variasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan adaptasi pada penderita retardasi mental, baik intervensi pribadi atau kombinasi. Terapi perilaku berguna untuk membentuk tingkah laku sosial, mengontrol perilaku agresif atau tingkah laku yang merusak.

Daftar referensi :

  • Children with Disabilities.Batshaw:2000
  • http://www.medicastore.com
  • American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and statistical manual of mental disorders
  • Pengantar Psikologi intelegensi. Drs. Saifuddin Azwar, MA:1999
  • Kamus Lengkap Psikologi.J.P.Chaplin: 1999

%d blogger menyukai ini: