jump to navigation

DISLEKSIA (Si Pintar yang Sulit Membaca) Oktober 29, 2010

Posted by indigrow in Specific Learning Disability.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments closed

Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan moment istimewa yang senantiasa menjadi bagian perhatian orang tua. Setiap ada kemampuan baru yang dicapainya merupakan prestasi tak ternilai bagi sang ayah bunda, dan sebaliknya, setiap hambatan dalam tumbuh kembangnya merupakan hal yang sangat merisaukan orang tua. Kemunduran dalam prestasi belajar termasuk salah satu diantara hal yang cukup mengkhawatirkan orang tua, apalagi jika pihak sekolah sudah mulai memberi “peringatan” atau “label-label” tertentu pada sang buah hati. Sayangnya, orang tua dan guru seringkali terlambat mengenali penyebab permasalahan yang dihadapi anak kita, sehingga anak baru dibawa berkonsultasi setelah mengalami gangguan belajar yang sangat mengkhawatirkan bahkan tidak jarang anak sudah terlanjur mengalami stress atau depresi akibat masalah yang dihadapinya tersebut. Oleh karena itu kali ini kita akan bahas salah satu penyebab gangguan belajar (learning disability = LD) yang tersering terjadi, yang kita kenal dengan istilah disleksia.

Disleksia (atau disebut juga sebagai gangguan membaca spesifik) pada anak dilaporkan pertama kali pada tahun 1896 dan merupakan salah satu bentuk gangguan belajar yang paling sering, yaitu mengenai sekitar 80% dari kelompok individu dengan gangguan belajar.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN DISLEKSIA

Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia ini tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya di atas normal. Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan  dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol. Beberapa ahli lain mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi pemprosesan input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali ditandai dengan kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi area kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi dan pengendalian gerak. Dapat terjadi kesulitan visual dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek perkembangan.

Secara lebih khusus, anak disleksia biasanya mengalami masalah masalah berikut:

1. Masalah fonologi

Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran namun berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.

2. Masalah mengingat perkataan

Kebanyakan anak disleksia mempunyai level intelegensi normal atau di atas normal namun mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama teman-temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu cerita namun tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.

3. Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial

Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa” susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal orang tua sudah mengingatkannya bahkan mungkin sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang jam 8 pagi. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung” dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.

4. Masalah ingatan jangka pendek

Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR matematikanya ya”, maka kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya.

5. Masalah pemahaman sintaks

Anak disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan Diterangkan–Menerangkan (contoh: tas merah), namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan Menerangkan-Diterangkan (contoh: red bag).

 

DISLEKSIA DAN OTAK KITA

Pada tahun 1878 dr. Kussmaul dari Jerman melaporkan adanya seorang lelaki yang mempunyai kecerdasan normal tapi tidak dapat membaca, beliau menamakan keadaan ini sebagai “buta membaca” (reading blindness). Tahun 1891 Dejerine telah melaporkan bahwa proses membaca diatur oleh bagian khusus dari system saraf manusia yaitu di bagian belakang otak.  Pada tahun 1896, British Medical Journal melaporkan artikel dari Dr. Pringle Morgan, mengenai seorang anak laki berusia 14 tahun bernama Percy yang pandai dan mampu menguasai permainan dengan cepat tanpa kekurangan apapun dibandingkan teman temannya yang lain namun Percy tidak mampu mengeja, bahkan mengeja namanya sendiri sebagai “Precy”.

Penelitian terkini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan anatomi antara otak anak disleksia dengan anak normal, yakni di bagian temporal-parietal-oksipitalnya (otak bagian samping dan bagian belakang). Pemeriksaan functional Magnetic Resonance Imaging yang dilakukan untuk memeriksa otak saat dilakukan aktivitas membaca ternyata menunjukkan bahwa aktivitas otak individu disleksia jauh berbeda dengan individu biasa terutama dalam hal pemprosesan input huruf/kata yang dibaca lalu “diterjemahkan” menjadi suatu makna.


BAGAIMANA MENGENALI DISLEKSIA

Berikut ini adalah tanda tanda disleksia yang mungkin dapat dikenali oleh orang tua atau guru:

  • Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya
  • Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay
  • Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’
  • Membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya
    • Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).
    • Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”)
    • Tdak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai
    • Tertukar tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama)
  • Daya ingat jangka pendek yang buruk
  • Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar
  • Tulisan tangan yang buruk
  • Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung
  • Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek
  • Kesulitan dalam mengingat kata-kata
  • Kesulitan dalam  diskriminasi visual
  • Kesulitan dalam persepsi spatial
  • Kesulitan mengingat nama-nama
  • Kesulitan / lambat mengerjakan PR
  • Kesulitan memahami konsep waktu
  • Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan
  • Kebingungan atas konsep alfabet dan simbol
  • Kesulitan mengingat rutinitas aktivitas sehari hari
  • Kesulitan membedakan kanan kiri

 

DIAGNOSIS

Tidak ada satu jenis tes pun yang khusus atau spesifik untuk menegakkan diagnosis disleksia. Diagnosis disleksia ditegakkan secara klinis berdasarkan cerita dari orang tua, observasi dan tes tes psikometrik yang dilakukan oleh dokter anak atau psikolog. Selain dokter anak dan psikolog, professional lain seyogyanya juga terlibat dalam observasi dan penilaian anak disleksia yaitu dokter saraf anak (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan neurologis), audiologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan pendengaran), opthalmologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan penglihatan), dan tentunya guru sekolah.

Anak disleksia di usia pra sekolah menunjukkan adanya keterlambatan berbahasa atau  mengalami gangguan dalam mempelajari kata-kata yang bunyinya mirip atau salah dalam pelafalan kata-kata, dan mengalami kesulitan untuk mengenali huruf-huruf dalam alphabet, disertai dengan riwayat disleksia dalam keluarga.

Keluhan utama pada anak disleksia di usia sekolah biasanya berhubungan dengan prestasi sekolah, dan biasanya orang tua  ”tidak terima” jika guru melaporkan bahwa penyebab kemunduran prestasinya adalah kesulitan membaca. Kesulitan yang dikeluhkan meliputi kesulitan dalam berbicara dan kesulitan dalam membaca (table 1).

Tabel 1. Pertanda disleksia pada anak usia sekolah dasar

Kesulitan dalam berbicara

Salah pelafalan kata-kata yang panjang

Bicara tidak lancar

Menggunakan kata-kata yang tidak tepat dalam berkomunikasi

Kesulitan dalam membaca

Sangat lambat kemajuannya dalam ketrampilan membaca

Sulit menguasai / membaca kata-kata baru

Kesulitan melafalkan kata kata yang baru dikenal

Kesulitan membaca kata-kata ”kecil” seperti : di, pada, ke

Kesulitan dalam mengerjakan tes pilihan ganda

Kesulitan menyelesaikan tes dalam waktu yang ditentukan

Kesulitan mengeja

Membaca sangat lambat dan melelahkan

Tulisan tangan berantakan

Sulit mempelajari bahasa asing (sebagai bahasa kedua)

Riwayat adanya disleksia pada anggota keluarga lain

Shaywitz S. Overcoming dyslexia. Ney York: Alfred A Knopf, 2003:12-124

 

JENIS-JENIS DISLEKSIA

Sebagian ahli membagi disleksia sebagai disleksia visual, disleksia auditori dan disleksia kombinasi (visual-auditori). Sebagian ahli lain membagi disleksia berdasarkan apa yang dipersepsi oleh mereka yang mengalaminya yaitu persepsi pembalikan konsep (suatu kata dipersepsi sebagai lawan katanya), persepsi disorientasi vertical atau horizontal (huruf atau kata berpindah tempat dari depan ke belakang atau sebaliknya, dari barisan atas ke barisan bawah dan sebaliknya), persepsi teks terlihat terbalik seperti di dalam cermin, dan persepsi dimana huruf atau kata-kata tertentu jadi seperti “ menghilang”.

Tidak semua anak disleksia menampilkan seluruh tanda / ciri /karakteristik seperti yang disebutkan di atas. Oleh karena itu terdapat gradasi mulai dari disleksia yang bersifat ringan, sedang sampai berat.

 

SIAPA SAJA YANG DAPAT MENGALAMI DISLEKSIA ?

Siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa atau latar belakang sosio-ekonomi-pendidikan, bisa mengalami disleksia, namun riwayat keluarga dengan disleksia merupakan faktor risiko terpenting karena 23-65% orang tua dileksia mempunyai anak disleksia juga. Pada awalnya anak lelaki dianggap lebih banyak menyandang disleksia, tapi penelitian-penelitian terkini menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara jumlah laki dan perempuan yang mengalami disleksia. Namun karena sifat perangai laki-laki lebih kentara jika terdapat tingkah laku yang bermasalah, maka sepertinya kasus disleksia pada laki-laki lebih sering dikenali dibandingkan pada perempuan.

BISA SEMBUH ‘GAK…?

Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. ”Ketidak mampuannya” di masa anak yang nampak seperti ”menghilang” atau ”berkurang” di masa dewasa bukanlah karena disleksia nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya tersebut.

APA YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK ANAK DISLEKSIA

  • Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
  • Anak duduk di barisan paling depan di kelas
  • Guru senantiasa mengawasi/ mendampingi saat anak diberikan tugas, misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
  • Guru dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas)
  • Anak disleksia yang sudah menunjukkan usaha keras untuk berlatih dan belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup
  • Melatih anak menulis sambung sambil memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan sambung memudahkan murid membedakan antara huruf yang hampir sama misalnya ’b’ dengan ’d’. Murid harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung karena kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja. Pembentukan huruf yang betul sangatlah penting dan murid harus dilatih menulis huruf huruf yang hampir sama berulang kali. Misalnya huruf-huruf dengan bentuk bulat: ”g, c, o, d, a, s, q”, bentuk zig zag:”k, v, x, z”, bentuk linear:”J, t, l, u, y, j”, bentuk hampir serupa:”r, n, m, h”
  • Guru dan orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka lebih senang menggunakan sistem belajar yang praktikal. Selain itu kita perlu menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu soal matematika, oleh karena itu tidak bijaksana untuk ”memaksakan” cara penyelesaian yang klasik jika cara tersebut sukar diterima oleh sang anak.
  • Aspek emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman-temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat ”perbedaan” yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak percaya diri. Dan jika hal ini tidak segera diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah orang-orang terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.

 

Mengingat demikian ”kompleks”nya keadaan disleksia ini, maka sangat disarankan bagi orang tua yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda seperti tersebut di atas, agar segera membawa anaknya berkonsultasi kepada tenaga medis profesional yang kapabel di bidang tersebut. Karena semakin dini kelainan ini dikenali, semakin ”mudah” pula intervensi yang dapat dilakukan, sehingga anak tidak terlanjur larut dalam kondisi yang lebih parah.

Kristiantini Dewi dr., SpA (Indigrow Child Development Center)

Referensi:

  • J.H. Menkes, H.B. Sarnat B.L. Maria (2005). Learning disabilities, dalam: JH. Menkes, HB. Sarnat (penyunting). Child neurology, edisi ke-7. Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia
  • Sally, Shaywitz, Bennett (2006). Dyslexia, dalam: KF. Swaiman, S. Ashwal, DM. Ferreier (penyunting). Pediatric neurology principles and practice, volume 1, edisi ke-4. Mosby, Philadelphia
  • S. Devaraj, S. Roslan (2006). Apa itu disleksia, panduan untuk ibu bapa, guru dan kaunselor, dalam: S. Amirin (penyunting).  PTS Profesional, Kuala Lumpur
  • G. Reid (2004). Dyslexia: A complete guide for parents. John Wiley and Sons, Ltd, England
  • R. Frank (2002). The secret life of dyslexic child, a practical guide for parents and educators. The Philip Lief Group, Inc, 2002

MEMBANGKITKAN MINAT BACA PADA ANAK Juli 20, 2010

Posted by indigrow in Specific Learning Disability.
Tags: , , , , , ,
comments closed

Oleh: dr. Kristiantini Dewi., Sp.A

Inginkah anak kita gemar membaca, tanpa beban, tanpa paksaan…? Tentu kita semua tahu manfaat dari kebiasaan baik ini…, namun tidak semua anak atau keluarga mempunyai kebiasaan membaca sejak dini. Ada anak tertentu yang malah nampak seperti ‘tersiksa’ jika diminta untuk membaca. Padahal, membaca merupakan salah satu akses mendapatkan informasi, pendidikan, bahkan permainan dan kesenangan. Dengan banyak membaca, ilmu pengetahuan dan wawasan menjadi bertambah luas, sehingga otomatis anak menjadi lebih pandai. Sebaliknya, anak yang jarang membaca, bahkan tidak senang membaca, akan dekat dengan ketidaktahuan dan mungkin “kebodohan”. Kebodohan ini kelak dapat menjadi dekat dengan kemiskinan. Nah…, berikut ini ada tips buat orang tua yang dapat membantu menciptakan kebiasaan senang membaca pada putra putri anda. Selamat mencoba!

TIPS AGAR ANAK SENANG MEMBACA

  1. Bacakan buku pada anak secara teratur
  2. Menjadi teladan bagi anak bahwa orang tua juga senang membaca
  3. Limpahi anak dengan buku, majalah, koran, komik, dll
  4. Jadikan buku sebagai hadiah
  5. Biarkan anak memilih bukunya sendiri
  6. Awali dengan buku yang mereka sudah pilih sendiri lalu arahkan ke buku yang menurut kita pas untuk anak
  7. Ciptakan waktu khusus untuk membaca yang disepakati (ruangan sunyi, jam tertentu)
  8. Jangan bersikap memaksa, berikan pengertian perlahan tentang pentingnya dan asyiknya membaca, namun katakan pada anak bahwa tidak apa-apa jika tidak terlalu suka buku
  9. Berikan semangat pada anak agar berusaha terus membaca setiap tulisan dimanapun, misalnya di papan iklan, di kardus makanan, dll
  10. Tidak perlu menanyakan „apa pesan moral yang kamu dapatkan dari cerita tsb, Nak?“
  11. Puji anak jika sudah membaca buku dengan baik, namun jangan mengeluh jika anak belum lancar membaca, melainkan bantu mengkoreksinya dan terus berikan semangat pada anak.
  12. Biasakan membacakan cerita dari buku cerita menarik, bukan belajar mengeja atau membaca satu satu kata
  13. Ajak anak untuk membuat catatan pribadi di buku harian masing masing
  14. Biasakan komunikasi tertulis di rumah, misalnya catatan komunikasi ditempel di kulkas, atau di papan komunikasi, catatan daftar kegiatan yang akan dilakukan, catatan daftar belanja, dsb
  15. Baca symbol-simbol visual
  16. Tempel dan perlihatkan hasil karya anak berupa tulisan mereka di dinding atau di papan komunikasi, atau kirim untuk dimuat di majalah anak
  17. Buat situasi atau keadaan dimana anak menjadi “penasaran” dengan kata-kata baru
  18. Ajak anak ke toko buku, perpustakaan dan museum
  19. Ijinkan anak untuk memiliki privasi sendiri untuk membaca dan menulis
  20. Ajak mereka membaca cerita-cerita rakyat
  21. Ajak mereka untuk membaca pertama kali dengan bahasa ibu atau bahasa yang mereka paling kuasai.
  22. Ajak anak berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang mereka sukai, terutama dalam aspek tulis menulis. Misalnya dalam rangka persiapan ulang tahun anak, ajak anak untuk menulis daftar belanja makanan atau kue, daftar undangan, dsb.

“DISKALKULIA: apakah selalu mengikuti disleksia?” Maret 18, 2010

Posted by indigrow in Specific Learning Disability.
Tags: , , , , ,
comments closed

Oleh: Dr. Kristiantini Dewi, SpA

Beberapa waktu yang lalu telah kita bahas mengenai disleksia, yakni suatu kesulitan belajar spesifik berupa kesulitan dalam membaca, mengeja dan menulis yang dijumpai pada anak dengan level intelegensi yang normal atau bahkan pada anak-anak yang cerdas. Disleksia dapat juga bermanifestasi sebagai gangguan berkomunikasi ataupun kesulitan dalam matematika. Kali ini kita akan bahas lebih banyak mengenai kesulitan matematika pada anak penyandang disleksia atau yang dikenal sebagai “diskalkulia”.

Bagi sebagian penyandang disleksia, sukses dalam bidang matematika mungkin merupakan sesuatu yang harus dicapai dengan penuh perjuangan. Terdapat berbagai penelitian yang melaporkan masalah ini. Salah satu peneliti (Steeves, 1983) melaporkan bahwa justru banyak anak disleksia yang  jenius di bidang matematika. Sebaliknya, Joffe (1990) melaporkan bahwa 10% anak disleksia menunjukkan prestasi yang sangat baik di bidang matematika, sedangkan 30% lainnya tidak menunjukkan kesulitan sama sekali di bidang hitung menghitung ini. Namun Miles dan Miles (1992) melaporkan bahwa sebagian besar penyandang disleksia mengalami diskalkulia.

Terdapat mitos yang beredar di masyarakat bahwa disleksia-diskalkulia ini lebih sering disandang oleh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Namun analisis terkini menunjukkan bahwa anggapan tersebut timbul dikarenakan penelitian-penelitian yang menjadi sumber datanya adalah penelitian yang subjeknya berasal dari kelompok anak yang sudah dirujuk untuk suatu gangguan prilaku, dan kebanyakan subjek tersebut adalah laki-laki.  Penelitian terkini menunjukkan bahwa penyandang disleksia-diskalkulia sama banyak laki dan perempuan.

Jika anak disleksia-diskalkulia mendapatkan terapi yang tepat, mereka mampu memahami konsep-konsep perhitungan, mampu mengerjakan tugas matematika dengan benar bahkan akhirnya menunjukkan ke-jenius-an mereka di bidang hitung menghitung ini sesuai dengan potensi kecerdasan yang mereka miliki. Kadang, kita tidak dapat melihat prestasi ini saat anak berada di usia sekolah melainkan terlihat saat anak sudah beranjak besar. Salah satu contohnya adalah .seorang ilmuwan yang terkenal, Albert Einstein, di awal usia sekolahnya menunjukkan kesulitan yang amat sangat di bidang aritmetika. Saat itu ke-jenius-annya di bidang matematika belum nampak karena dia tidak mampu memberikan jawaban yang cepat, akurat dan “hafal mati” seperti yang diharapkan gurunya. Tentu saja hal ini diakibatkan karena Albert Einstein menyandang disleksia. Beruntung, di kemudian hari Albert Einstein tidak membiarkan ke-disleksia-diskalkulia-annya ini menghambatnya untuk terus berkarya di bidang matematika.

Kesulitan-kesulitan matematika yang sering dihadapi oleh penyandang disleksia cukup bervariasi, sehingga satu individu disleksia bisa menunjukkan banyak kesulitan, namun individu disleksia lain mungkin menunjukkan diskalkulia ringan saja.

Berikut adalah berbagai aspek kesulitan yang mungkin ditemukan pada anak penyandang diskalkulia:

  • Membaca kalimat dalam soal matematika
    • Anak disleksia-diskalkulia mengalami kesulitan dalam memaknai kata-kata / istilah-istilah yang sering tampil dalam soal-soal matematika. Anak sulit memahami pengertian-pengertian sebagai berikut: ‘kurang lebih sama dengan’, ‘ diantaranya’, ‘ sejajar’, ‘ jalan lain, ‘sama banyak dengan’, ‘ di pinggir’, ‘ di atas dari’, ‘ di bawah dari’, ‘ di samping dari’, ‘ jauh dari’, ‘ seimbang’,  ‘sama dengan’, ‘ lebih besar dari’, ‘ lebih tinggi dari ‘, ‘di depan dari’, ‘di sudut dari ‘, ‘perkirakan’, ‘kurang dari’,  ‘garis yang simetris’, ‘ganjil’, ‘genap’, ‘simetris’, ‘rata-rata’, ‘secukupnya’, dll
  • Membaca angka, membaca angka dari kanan, menyalin angka
    • Sesuai dengan karakteristik disleksianya, anak seringkali salah “lihat” angka, lalu salah menyalinnya. Sering pula dijumpai mereka tidak dapat mengelompokkan angka dari kanan pada angka dengan jumlah digit yang banyak, misalnya: 752250, seharusnya dituliskan sebagai 752.250.
  • Memahami nilai satuan, puluhan, ratusan sehingga menyulitkan pada penulisan, apalagi pada operasi perhitungan yang lebih kompleks lainnya misalnya pada operasi penjumlahan ke bawah, mereka menyusun nilai satuan di kelompok puluhan, atau nilai ratusan di puluhan.
  • Mengenali simbol operasi perhitungan
    • Anak disleksia-diskalkulia mengalami kesulitan untuk memahami symbol (+), (-), (x), (:), dan symbol-simbol lain yang lebih rumit. Soal-soal yang ditulis dengan symbol (-), mungkin malah dikerjakan  selayaknya instruksi (+). Bahkan pada sebagian anak dengan gangguan berat, mereka merasa tidak yakin apakah yang dimaksud dengan “bertambah” atau “berkurang”.
  • Mengidentifikasi bentuk, apalagi jika bentuknya dibolak balik (missal: segitiga sama sisi, segitiga sama kaki)
  • Mengenali dan memahami tanda “,” sebagai tanda desimal
  • Menghitung ke depan dan ke belakang
  • Melakukan perhitungan di luar kepala
  • Membaca, memahami dan mengingat “time table”
  • Mengatakan hari dalam seminggu, bulan dalam setahun
  • Menyebutkan waktu dan memahami konsep waktu
  • Memahami konsep uang
  • Menggunakan kalkulator dengan benar
  • Memahami persentase
  • Mengestimasi
  • Menggunakan rumus
  • Menggunakan rumus yang sama untuk soal yang berbeda

Selain kesulitan memahami bahasa matematika , anak disleksia-diskalkulia juga mengalami kesulitan dalam memaknai istilah-istilah non matematika, hal ini yang membuat mereka semakin susah menyelesaikan soal-soal matematika, terutama yang berbentuk soal cerita.

Contoh:

  • Untuk belajar membuat robot, Ayah harus membayar seratus ribu rupiah untuk empat kali pertemuan dimana satu kali pertemuan adalah 2 jam lamanya.
  • Anak disleksia bingung memaknai istilah “dimana”, “lamanya”

Apa yang dapat kita lakukan bagi penyandang disleksia-diskalkulia?

  • Gunakan bahasa matematika yang lebih sederhana, jelas dan lebih mudah dipahami anak disleksia
  • Latih anak untuk memahami dan menguasai simbol angka, dan symbol operasi perhitungan matematika
  • Bantu anak memahami soal cerita dengan cara menghadirkan benda-benda yang disebutkan dalam soal secara visual à Belajar praktikal
  • Gunakan kertas berpetak untuk membantu operasi perhitungan susun ke bawah
  • Lakukan fragmentasi soal cerita yang panjang menjadi kalimat kalimat pendek yang mudah dipaham.
  • Latih anak untuk mengerti dan menguasai konsep uang, misalnya dengan berlatih berbelanja sendiri mulai dari sejumlah barang yang sedikit sampai dengan yang cukup banyak
  • Kertas kerja dibacakan dan direkam dalam audio tape, anak membaca sambil menyimak audio tape
  • Gunakan buku agenda untuk mencatat kegiatan kegiatan dan pekerjaan rumah
  • Yakinkan bahwa instruksi disampaikan dengan jelas, perlahan sehingga murid mengerti
  • Gunakan kertas untuk menutup soal yang sudah atau belum dikerjakan, soal yang terlihat hanya soal yang sedang dikerjakan

Selain pendekatan khusus untuk aspek diskalkulianya, jangan lupakan strategi pembelajaran umum bagi anak penyandang disleksia yaitu digunakan pendekatan multisensoris (dapat berupa bantuan gambar, audiotape, dll), mengajarkan anak untuk menggunakan logikanya, bukan menghafal mati, berikan materi bertahap satu per satu, dan berikan materi dalam unit-unit kecil. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah memperhatikan aspek emosi anak. Selalu berikan semangat dan pujian pada setiap usaha perbaikan yang telah mereka tunjukkan.

REFERENSI:

  • Henderson (1998). Maths for the dyslexic. A Practical guide. David Fulton, New York.
  • C.M. Stowe (2000). How to reach & teach children & teens with dyslexia. Jossey-Bass, San Fransisco.

Mengajarkan Anak Dyslexia Keterampilan Hidup Sehari-hari Januari 20, 2010

Posted by indigrow in Specific Learning Disability.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments closed

Fakta tentang anak-anak dyslexia yang mempunyai tingkat intelegensi normal bahkan di atas rata-rata, sungguh terbalik dengan “performance” nya di sekolah ataupun dalam kehidupan sehari-harinya. Secara kasat mata, sungguh sangat mengherankan anak dengan intelegensi bagus tidak bisa menghafal nama-nama hari dalam seminggu atau tidak bisa menyebutkan nama-nama bulan secara berurutan maupun diacak. Ketidakmampuan yang tidak lazim ini tentu saja bisa menjadi sangat memalukan bagi penderita dyslexia itu sendiri, karena dia terlihat sangat berbeda dengan lingkungan dan biasanya orang yang tidak bisa melakukan apa yang dilakukan orang kebanyakan akan dipandang sebagai inferior.

Oleh karena itu penting sekali menyiapkan anak-anak dyslexia agar bisa memenuhi tuntutan lingkungan. Setidaknya ada 6 area, diluar baca-tulis-hitung yang harus dikuasai agar ia tidak menjadi begitu “berbeda” dengan lingkungannya, yaitu :

1. Konsep Waktu

Sebagian besar penderita dyslexia mengalami masalah waktu ini. Saat masih kecil, mereka terlihat tidak bisa memenuhi harapan orangtua dan guru, tetapi ketika dewasa hal ini tentu saja akan sangat berpengaruh pada hubungan sosialnya. Ada 4 hal yang menjadi fokus utama dalam konsep waktu ini, yaitu:

a.   Membaca Jam

Hampir semua anak dyslexia mengalami kesulitan saat harus membaca jam, tetapi  apabila dilakukan dengan pendekatan yang tepat maka mereka pun bisa menguasai kemampuan ini. Sebagian orang mengatakan kenapa harus bersusah payah mengajarkan jam yang konvensional, berikan saja jam digital pada mereka. Dalam masyarakat kita penggunaan jam biasa masih sangat umum digunakan, dan apabila mereka tidak bisa membaca jam di depan banyak orang tentu saja akan menjadi hal yang sangat memalukan dan nantinya akan berdampak pada self concept nya. Selain itu saat anak-anak membaca pada jam digital misalnya 9 : 50, mereka tidak akan memahami maknanya apa, jadi konsep waktunya sendiri justru malah tidak terpelajari. Oleh karena itu penting untuk mengajarkan materi membaca jam ini, yang di sebagian daerah materi ini sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah. Ada beberapa tahapan penting yang harus diperhatikan saat mengajarkan jam ini yaitu :

    • Tahap awal yang harus dilakukan adalah mengecek apakah mereka sudah menguasai konsep angka dan jumlah. Apabila belum, konsep ini merupakan dasar yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum memulai belajar jam, karena dalam jam terdapat angka 1-12, begitupula dalam konsep menit, terdapat angka 1-60.
    • Ajarkan bahwa ada 60 menit dalam 1 jam
    • Kita biasa mengucapkan istilah jam tujuh kurang 10 (06.50) atau lima lebih seperempat (05.15) bahkan pengucapan jam setengah dua (01.30), kita bisa menyampaikannya secara otomatis, tapi tidak begitu bagi anak-anak dyslexia. Hal ini bisa menjadi sesuatu yang sangat membingungkan, oleh karena itu penting sekali untuk mengajarkan istilah-istilah tersebut satu demi satu.
    • Gunakan jam asli atau jam buatan yang menyerupai aslinya, karena dengan memberi kesempatan pada anak untuk mengetahui dan meraba tekstur dari jam akan sangat membantu proses pemahaman itu sendiri. Teknik multisensory sangat penting disini.
    • Perkenalkan ada 2 jarum, yang menunjukkan jam dan menit. Apabila menggunakan jam yang dibuat sendiri, akan lebih baik apabila tampilan jarum jam nya dibuat berbeda antara menit dan jam dengan penggunaan warna yang berbeda ataupun tekstur yang berbeda seperti penambahan butiran pasir pada jarum menit, dll.
    • Tunjukkan pada mereka mengenai pergerakan jarum jam tersebut, beri kesempatan pada mereka untuk melakukannya beberapa kali.
    • Jelaskan mengenai sistem angka pada jam, ada 2 sistem yaitu jam dan menit. Ini biasanya yang membuat belajar jam menjadi sangat susah bagi sebagian orang. Sistem pertama adalah jam, ada angka 1-12 untuk menunjukkan jam. Perkenalkan juga penggunaan angka 13-24 untuk menunjukkan waktu siang sampai malam hari, seperti jam 20.00. Sistem yang kedua adalah menit, perkenalkan bahwa satu perubahan gerakan angka pada jarum menit berarti 5 menit, setelah itu baru masuk pada kelipatannya. Intinya adalah buat sekongkrit mungkin.
    • Gunakan games saat mengajarkan konsep waktu ini, agar anak-anak bisa menikmati proses belajarnya.

b. Ekspresi bahasa waktu

Harus diketahui juga apakah mereka mengetahui konsep waktu yang lain, yang juga sangat penting bagi kehidupan sehari-hari terutama dalam percakapan dengan orang lain, yaitu istilah kemarin, besok, dulu, sekarang, nanti, lama, sebentar karena anak-anak dyslexia juga mengalami kesulitan dalam penggunaan istilah-istilah ini.

c.  Bagaimana Agar bisa tepat waktu

Sebagian besar dari kita mempunyai naluri untuk memperkirakan jam berapa sekarang atau lama sebentarnya sebuah acara walaupun tidak melihat jam. Tidak begitu dengan anak-anak dyslexia, mereka tidak mempunyai naluri ini, sehingga seringkali waktu terus berlalu dan mereka benar-benar tidak menyadarinya. Hal ini tentu saja akan menimbulkan banyak masalah, saat masih kecil mereka sering pulang ke rumah tidak tepat waktu, ketika dewasa mereka akan datang pada sebuah janji dimana orang lain sudah meninggalkannya. Cap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab sangat mungkin terjadi. Sehingga mengatasi hal ini sejak dini dirasa sangat perlu, dengan mensetting alarm atau mengingatkannya seperti “Kamu harus pulang ke rumah saat sudah mulai terdengar adzan ya.” Hal ini akan sangat membantu mereka untuk memahami “time limit.”

d.  Bagaimana agar tidak membuang waktu

Secara ekstrim anak-anak dyslexia tidak bisa merasakan lamanya satu jam dengan beberapa menit saja. Ini disebabkan karena mereka sangat berfokus pada apa yang sedang mereka kerjakan sampai tidak bisa merasakan lamanya waktu. Ini yang sering membuat para orangtua kesal, karena mereka biasanya berpakaian sangat lama, minum susu harus diingatkan terus, asyik menonton televisi padahal harus pergi sekolah, sehingga akhirnya mereka sering datang terlambat ke sekolah. Untuk mengatasinya, harus dimunculkan keinginannya untuk berubah terlebih dahulu dan biasanya setelah didiskusikan coping datang dari mereka sendiri, dengan memberikan usulan seperti saat berpakaian harus cepat atau apabila ingin sedikit lebih santai maka harus bangun lebih pagi.

2. Konsep Uang

Meskipun hampir semua anak-anak dyslexia mengalami kesulitan dalm konsep waktu, tetapi tidak demikian dalam konsep uang, hanya beberapa saja yang mengalami kesulitan. Ada 2 hal penting dalam konsep uang ini, yaitu :

a. Menghitung Uang

Saat disediakan di sebelah kiri 2 uang 500an dan di sebelah kanan 5 uang 100an kemudian ditanyakan mana yang nilanya lebih besar, mereka pasti akan mengalami kesulitan. Dalam belajar uang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti :

    • Cek pemahaman mereka mengenai konsep angka dan jumlah, apabila belum memahami betul, jangan dulu mengajarinya tentang uang, ini tentu saja akan membuat mereka semakin bingung.
    • Cek apakah mereka bisa mengidentifikasi nilai dari setiap bentuk uang yang diperlihatkan dari uang kertas sampai uang koin. Lakukan pengecekan ini dalam area private dan nyaman, jangan sampai ketidaktahuannya membuat mereka malu dan malah menurunkan self esteemnya.
    • Gunakan uang asli atau yang bentuknya benar-benar mirip dengan aslinya saat mulai belajar konsep uang.
    • Minta untuk menukar bentuknya, tapi nilainya sama, seperti uang kertas 500, ditukar dengan uang koin 100 sebanyak lima buah.
    • Berikan banyak kesempatan agar mereka bisa belajar menggunakan uang, terutama dalam setting nyata, seperti lakukan simulasi toko dimana setiap barang-barang yang disediakan ada harganya dan mereka diminta untuk membeli barang-barang tertentu dan tentu saja mereka harus menghitung berapa uang yang harus dikeluarkan dan berapa kembaliannya. Ini akan membuat mereka merasa nyaman dalam menggunakan uang.

b. Pengggunaan Bank

Ini adalah keterampilan yang tidak terlalu sulit untuk dikuasai, tapi memang harus mulai diajarkan. Yang harus dikenalkan pertama kali adalah bentuk-bentuk form yang tersedia, seperti cek, slip penyetoran atau slip pengambilan. Apabila memungkinkan gunakan yang asli sebagai latihan. Seperti yang terjadi di sebuah sekolah, ada pengajaran tentang bank ini, selain itu setiap murid akan diberikan gaji setiap bulan dengan menggunakan uang yang khusus dipakai di sekolah itu. Apabila ingin mendapatkan uang lebih maka mereka harus belajar lebih keras lagi. Uang yang didapat bisa digunakan untuk membeli barang-barang yang diinginkan. Walaupun benda-benda dan uangnya bukan asli tetapi mereka sangat menikmati kegiatan belajar seperti ini.

3. Mengingat detil-detil yang penting

Salah satu bagian dari kelemahan gaya belajar anak-anak dyslexia adalah:

  1. Rote Auditory Memory (hafalan), terutama untuk kata-kata yang tidak terlalu bermakna
  2. Sequencing skills (keterampilan mengurutkan)

Dua kelemahan inilah yang membuat anak-anak dyslexia susah untuk belajar nama-nama hari, bulan dan mengingat nomor teleponnya. Beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengatasi hal ini adalah :

    • Hubungkan masing-masing hari dengan kegiatan yang dilakukan oleh anak. Misalnya hari senin adalah hari pertama dia pergi ke sekolah setiap minggunya, atau selasa adalah kelas robot nya. Buatlah tabel beserta gambarnya, sehingga mereka bisa mengingat bahwa setiap ada kelas robot berarti hari selasa, dll. Untuk setiap anak pasti berbeda-beda karena akan sangat tergantung dari jenis kegiatannya.
    • Buatlah agar mereka familiar dengan nama-nama hari tersebut misalnya dengan menceritakan sejarah pemberian nama-nama hari tersebut.
    • Setelah mereka familiar dengan nama hari, mulailah masuk pada sequencing yaitu dengan diberikan pertanyaan seperti “Kalau sesudah hari rabu hari apa ya? Atau sebelum hari rabu hari apa?” Gunakan tabel hari dan kegiatan di atas

Untuk mengajarkan bulan, tahapannya sama seperti di atas. Penting untuk menghubungkan setiap bulan dengan peristiwa penting di dalamnya. Misalnya untuk mengingat bulan Februari, hubungkan dengan hari Valentine atau untuk mengingat bulan Desember hubungkan dengan Hari Ibu, dll.

Hal penting lainnya adalah mengingat nomor telepon. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka seperti berapa nomor telepon yang ingin kamu ingat?Nomor telepon siapa saja yang ingin kamu ingat?Apa kamu ingin mengingat nomor telepon ibumu, jadi kamu bisa menghubunginya ketika kamu membutuhkannya?Bagaimana caranya agar kamu bisa mengingatnya?Haruskah kamu membawa buku telpon?Arahkan agar mereka sendiri yang menemukan strategi yang tepat yang bisa mereka gunakan untuk mengatasi hal tersebut.

4. Terbiasa dengan tulisan-tulisan di lingkungan

Tidak bisa kita pungkiri di lingkungan kita terdapat banyak sekali tulisan dan angka, contoh pentingnya seperti pada kalender, katalog, menu, koran, panduan acara televisi, dll. Yang bisa dilakukan terhadap hal ini adalah :

    • Latih mereka untuk bisa menggunakan benda-benda tersebut, gunakan yang asli
    • Bahas bagian-bagian dari setiap benda tersebut, seperti saat membaca koran, dimana kita bisa mendapatkan info tentang acara televisi, dll.
    • Gunakan dalam simulasi pretend play, setting mereka sedang berada di restoran dan mereka harus membaca menu untuk memilih jenis makanan dan minuman yang mereka inginkan. Mereka juga bisa sekalian diminta untuk menghitung berapa yang harus dibayar beserta pajak dan tip nya, kemudian kembaliannya berapa. Bisa sekalian belajar konsep uang juga.
    • Minta mereka untuk membuat kalender yang akan dipajang di kelas, atau membuat menu yang akan digunakan di cafetria sekolah. Hal ini akan membuat mereka lebih familiar dengan benda-benda tersebut.

5. Menyimpan barang-barang pada tempatnya

Hal yang sering dikeluhkan oleh para orangtua yang mempunyai anak dyslexia adalah bahwa mereka sering sekali kehilangan barang, buku sekolahnya yang hilang saat berpindah ruang kelas, pensil yang sudah berapa kali ganti, buku PR, dll.

Mengetahui bagaimana perasaan anak tentang hal ini adalah hal pertama yang harus dilakukan. Akan sangat bagus apabila mereka mengatakan merasa tidak nyaman dengan seringnya kehilangan barang-barang tersebut, sehingga mereka bisa termotivasi untuk berubah. Tetapi apabila mereka merasa tidak ada masalah, katakan apa yang kita lihat dengan cara tidak menghakimi mereka, seperti “Saya memperhatikan kamu kemarin tidak membawa pensil dan kehilangan sweater saat istirahat.” Katakan juga jika dia ingin merubah hal ini nanti, dia harus mengatakannya kepada kita dan tentu saja kita akan sangat senang membantunya.

Apabila mereka ingin mencoba untuk berubah maka pilihlah perilaku mana yang ingin sekali diubah, tentunya dengan mendiskusikan terlebih dahulu dengan mereka. Pilihlah hanya satu perilaku misalnya menyimpan buku PR di rak yang telah disediakan, ikuti prosesnya, kalau perlu buat chart. Sangat penting untuk merayakan keberhasilannya menyimpan benda-benda pada tempatnya. Jika dia gagal, katakan kita mengerti bahwa ini sangat susah baginya, tetapi jangan pernah menyerah dan harus tetap berusaha. Setelah selesai satu perilaku tambahkan lagi yang lainnya, tapi tetap tanyakan terlebih dahulu mana yang mau dipilihnya.

6. Area masalah spesifik lainnya

Beberapa area ini bisa menimbulkan pengalaman yang sangat memalukan bagi anak-anak dyslexia, seperti :

  • Pesta

Banyak hal bisa terjadi dalam pesta, saat banyak orang berkumpul. Seperti ketika mereka diberi kado dan yang memberi kado memintanya untuk membacakan kartunya keras-keras, padahal mereka mengalami kesulitan dalam hal ini, tentu saja akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat memalukan.

  • Games

Banyak games yang membutuhkan kemampuan baca, mengeja, dan matematika seperti scrabble, monopoli, dll

  • Mengenalkan Orang

Mengingat ataupun mengucapkan nama orang merupakan hal yang susah untuk anak-anak dyslexia. Mengucapkan nama orang dengan salah tentu akan membuat orang lain marah.

Beberapa hal yang bisa dillakukan untuk mengatasi hal tersebut di atas adalah :

  • Untuk mengingat nama orang, hubungkan nama yang tidak familiar ini dengan sesuatu yang bermakna atau menghubungkan dengan nama teman yang sudah familiar kita dengar.
  • Ajak mereka untuk mau bercerita tentang kesulitannya pada temannya yang bisa dipercaya. Apabila dalam satu kelompok, mungkin bisa bercerita pada ketua kelompoknya. Hal ini tentu saja sangat berguna, agar teman-teman yang lain bisa mengerti kelemahan mereka yang tentunya bisa mengurangi hal-hal memalukan yang mungkin akan terjadi.
  • Buatlah daftar games dan aktivitas yang bisa dilakukan dan membuat mereka nyaman, ajak mereka untuk aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Dengan begitu orang lain tidak akan begitu memperhatikan bahwa mereka menghindari beberapa aktivitas yang lain.

    (Pipik) Team Indigrow

    Tentang indiGrow April 2, 2009

    Posted by indigrow in Pofil indiGrow.
    Tags: , , , , , , , , , , ,
    comments closed

    Setiap Anak Unik

    Setiap anak unik dan berhak tumbuh dan berkembang optimal. Oleh karenanya setiap anak perlu memperoleh stimulasi, pendidikan dan penanganan yang sesuai agar mampu mengembangkan seluruh potensi fisik, emosi, kognisi, bahasa dan kemandiriannya.

    Jika anak memiliki hambatan dalam satu atau lebih aspek perkembangan tentu iaa tidak berkembang optimal sesuai usia dan potensinya. Oleh karenanya hambatan yang dimiliki anak harus dideteksi sedini mungkin sehingga dapat ditangani dengan cepat untuk hasil yang lebih baik.

    Hambatan dan potensi anak berbeda-beda

    maka penangannya pun akan berbeda

    tergantung kebutuhan setiap anak

    Penangan yang terpadu akan memberikan konsistensi dalam pendekatan, penetapan tujuan dan evaluasi secara menyeluruh terhadap setiap anak sehingga diharapkan dapat dicapai proses pengembangan anak secara optimal.

    Pelayanaan Terpadu

    indiGrow hadir sebagai partner orang tua dan sekolah dalam mengembangkan anak mencapai potensinya. indiGrow membantu menangani masalah perkembangan anak secara terpadu dengan tim ahli perkembangan anak dari berbagai disiplin ilmu: Dokter spesialis anak & konsultan syaraf anak, dokter rehabilitasi medik, psikolog, terapis perilaku, terapis okupasi dan sensori integrasi, terapi wicara serta fisoterapi.

    Pemeriksaan dan Assesment

    • Konsultasi dan pemeriksaan tumbuh kembang dan neurologi anak.
    • Konsultasi dan pemeriksaan psikologi, meliputi: tes potensi/intelegensi, tes kepribadian, tes kematangan sekolah, tes minat dan bakat.
    • Pemeriksaan tim (Dokter spesialis anak & konsultan syaraf anak + psikolog/terapis) Khusus untuk anak dengan kesuitan belajar (disleksia, diskalkulia, disgrafia, autis, asperger, PDD-NOS dan ADD/ADHD.

    Terapi dan Stimulasi

    • Terapi perilaku
    • Terapi wicara
    • Terapi okupasi
    • Terapi sensori integrasi
    • Fisioterapi
    • Remdial terapi/paedagogi
    • Home program untuk menstimulasi perkembangan anak di rumah

    Parent Education and Support Group

    • Evaluasi perkembangan anak secara berkala
    • Family Gathering
    • Seminar dan pelatihan untuk orang tua

    Fasilitas

    indiGrow menyediakan tempat yang nyaman, aman dan menyenangkan serta dilengkapi dengan fasilitas:

    • Ruang individual dan group therapy
    • Ruang trampoline, Gym, dan taman senori
    • Ruang konsultasi dokter dan psikolog
    • Berbagai alat dan mainan edukatif yang mendukung kegiatan terapi

    indiGrow

    “We Treat You Like Family”