jump to navigation

Retardasi Mental Februari 2, 2010

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments closed

Keterlambatan perkembangan merupakan istilah untuk mengindikasikan adanya perkembangan syaraf yang tidak normal, dimana terdapat kegagalan dalam pencapaian milestones usia yang tepat. Keterlambatan perkembangan atau retarded delay menunjukkan adanya kemampuan yang terlambat antara usia kalender dengan usia mentalnya. Yang terjadi adalah hanya perkembangannya yang terhambat, namun akan ada kemampuan optimal yang dapat dicapai. Dengan stimulasi yang tepat maka akan dapat mengejar ketertinggalannya. Kemampuan yang terlambat ini bukan berarti penderita retardasi mental tidak memiliki potensi. Yang mereka perlukan adalah optimalisasi dari apa yang mereka miliki. Stimulasi yang tepat akan dapat membantu mereka mencapai potensi maksimalnya.

Sebagai ilustrasi, Maria melihat beberapa tanda perkembangan yang tidak normal pada anaknya yang bernama David. Sebagai bayi, David menunjukkan sedikit ketertarikan terhadap lingkungan dan tidak terlalu perhatian. David tahan duduk dalam kursi bayi waktu yang lama tanpa mengeluh. Walaupun Maria berusaha menyusuinya, isapan David lemah, dan ia sering memuntahkan susunya. Untuk perkembangan motorik kasar, David tidak bisa menahan kepalanya sampai di usia 4 bulan (seharusnya sudah bisa di usia 1 bulan), berguling di usia 8 bulan (seharusnya 5 bulan), dan baru dapat duduk di usia 14 bulan (seharusnya 7 bulan). Untuk perkembangan sosial dan motorik halus, David juga mengalami ketertinggalan dari norma usianya. Orang tua David, khawatir mengenai keterlambatan yang dialami anaknya.  Ketika David berusia 15 bulan, mereka mengkonsultasikan kepada dokter anak. Ketika David diberikan tes BSID-2 (Bayley Scales of Infant Development-Second Edition) pada usia 16 bulan, ditemukan bahwa usia mental David berada di usia 7 bulan dan IQ David dibawah 50.

Ketika anak mengalami keterlambatan pada seluruh aspek perkembangan, diagnosanya ia mungkin mengalami retardasi mental. Menurut Batshaw (2000),   Retardasi mental (keterbelakangan mental) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada di bawah rata-rata disertai dengan gangguan terhadap fungsi adaptif paling sedikit 2 misalnya komunikasi, kemampuan menolong diri sendiri, berumah tangga, sosial, pekerjaan, kesehatan dan keamanan, yang mulai timbul sebelum usia 18 tahun. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo=kurang atau sedikit dan fren=jiwa) atau tuna mental.

Menurut J.P. Chaplin, Intelegensi adalah kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara tepat dan efektif, kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, kemampuan memahami dan belajar dengan cepat. Ketiganya tidak terlepas satu sama lain.

IQ (Intelligence Quotient) adalah angka normatif dari hasil intelegensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient).

Cara pengukuran IQ

IQ dapat diukur menggunakan tes intelegensi atau tes IQ yang standar yang banyak digunakan oleh para ahli psikolog di dunia, termasuk di Indonesia.  Tes iQ dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok. Beberapa model tes yang dapat mengukur IQ adalah: Stanford-Binet intelligence scale, The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R), The Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R), The Standard Progressive Matrices, The Kaufman Assessment Battery for Children (K-ABC), Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI) dan masih banyak lagi.

Berdasarkan DSM-IV-TR, terdapat beberapa klasifikasi retardasi mental yaitu :

Klasifikasi IQ

Keterangan

Ekspektasi Pendidikan
Retardasi mental berat sekali (profound) dibawah 20 atau 25 Biasanya tidak dapat berjalan, berbicara atau memahami.

Biasanya tidak mampu belajar walaupun mempunyai kemampuan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Keinginan biasanya membutuhkan perhatian yang penuh dan pengawasan untuk waktu seumur hidup.

Retardasi mental berat (severe) Sekitar 20-25 sampai 35-40 Dapat dilatih meskipun agak lebih susah dibandingkan dengan anak retardasi mental moderat.

Kemampuan belajar hanya pada area bantu diri seperti mandi, buang air, kemampuan terbatas dalam bidang akademik. Kemampuan penyesuaian sosial biasanya terbatas hanya pada anggota keluarga atau orang yang dikenal lainnya. Kemampuan kerja biasanya dapat terlihat ketika bekerja dibawah setting workshop atau naungan suatu lembaga tertentu.

Retardasi mental moderat (moderate) Sekitar 35-40 sampai 50-55 Mengalami kelambatan  dalam belajar berbicara dan kelambatan dalam mencapai tingkat perkembangan lainnya (misalnya duduk dan berbicara). Dengan latihan dan dukungan dari lingkungannya, mereka dapat hidup dengan tingkat kemandirian tertentu.

Dapat mengikuti sekolah sampai kelas dua sampai kelas lima. Dalam hal penyesuaian sosial menampakkan kemandirian dalam komunitas. Dalam hal kemampuan kerja harus didukung secara penuh atau hanya secara parsial.

Retardasi mental ringan (mild) Sekitar 50-55 sampai 70 Bisa mencapai kemampuan membaca sampai kelas 4-6.

Dapat mempelajari kemampuan pendidikan dasar yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memerlukan pengawasan dan bimbingan serta pelatihan dan pendidikan khusus.

Borderline Sekitar 70 sampai 89 Penyesuaian sosial yang tidak berpola akan berbeda dengan populasinya walaupun pada segmen yang lebih bawah penyesuaiannya akan baik, dalam arti lain perkembangan anak dalam penyesuaian sosial akan berbeda dengan teman-teman seusianya yang normal.

Mampu mengikuti kegiatan sekolah sampai pada jenjang tertentu yang dapat dicapai tidak sesuai dengan tahapan usia kalender. Memperoleh kepuasan kerja dibidang non-teknis yang disertai dengan dukungan diri yang penuh bila diperlukan

Penderita mental retardasi memerlukan pendidikan untuk memperoleh keterampilan dan kemandirian. Pendidikan untuk penderita mental retardasi perlu dilakukan berulang-ulang (remedial) agar kemampuan yang telah dicapai tidak menurun.

Tingkat kecerdasan ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Pada sebagian besar kasus retardasi mental, penyebabnya tidak diketahui; hanya 25 % kasus yang memiliki penyebab yang spesifik.

Penyebab retardasi mental

Penyebab retardasi mental dibagi menjadi beberapa kelompok:

  1. Trauma (sebelum dan sesudah lahir) : pendarahan intrakranial sebelum atau sesudah lahir; cedera hipoksia (kekurangan oksigen) sebelum, selama atau sesudah lahir; cedera kepala yang berat.
  2. Infeksi (bawaan dan sesudah lahir) : Rubella kongenitalis, Meningitis, infeksi sitomegalovirus bawaan, Ensefalitis, Toksoplasmosis kongenitalis, Listeriosis, infeksi HIV.
  3. Kelainan kromosom : kesalahan pada jumlah kromosom (Sindroma Down), defek pada kromosom (sindroma X yang rapuh, sindroma Angelman, sindroma Prader-Will).
  4. Kelainan genetik dan kelainan metabolik yang diturunkan: Galaktosemia, penyakit Tay-Sachs, Fenilketonuria ,Sindroma Hunter, Sindroma Hurler, Sindroma Santifilipo, Leukodistrofi metakromatik, Adrenoleukodistrofi, Sindroma Lesch-Nyhan, Sindroma Rett, Sklerosis tuberosa.
  5. Metabolik: Sindroma Reye, Dehidrasi hipernatrenik, Hipotiroid kongenital, Hipoglikemia (Diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik).
  6. Keracunan: pemakaian alkohol, kokain, amfetamin dan obat lainnya pada ibu hamil; keracunan metilmerkuri, keracunan timah hitam.
  7. Gizi: Kwashiorkor, Marasmus, Malnutrisi.
  8. Lingkungan: kemiskinan, status ekonomi rendah, sindroma deprivasi.

Penanganan Retardasi Mental.

Penanganan anak dengan retardasi mental memerlukan integrasi multidisiplin untuk membantu anak-anak ini:

  • Remedial Teaching

Perlu pengulangan secara terus menerus di berbagai situasi dan kesempatan untuk membantu mereka memahami hal-hal yang baru dipelajari.

  • Pelayanan Pendidikan

Pendidikan merupakan aspek yang paling penting berkaitan dengan treatment pada anak penderita retardasi mental. Pencapaian hasil yang “baik” bergantung pada interaksi antara guru dan murid. Program pendidikan harus berkaitan dengan kebutuhan anak dan mengacu pada kelemahan dan kelebihan anak. Target pendidikan tidak hanya berkaitan dengan bidang akademik saja. Secara umum, anak penderita retardasi mental membutuhkan bantuan dalam memperoleh pendidikan dan keterampilan untuk mandiri.

  • Kebutuhan-kebutuhan Kesenangan dan Rekreasi

Idealnya, anak penderita retardasi mental dapat berpartisipasi dalam aktivitas bermain dan rekreasi. Ketika anak tidak ikut dalam aktivitas bermain, pada saat remaja akan kesulitan untuk dapat berinteraksi sosial dengan tepat dan tidak kompetitif dalam aktivitas olahraga. Partisipasi dalam olahraga memiliki beberapa keuntungan, yaitu pengaturan berat badan, perkembangan koordinasi fisik, pemeliharaan kesehatan kardiovaskular, dan peningkatan self-image (gambaran diri).

  • Kontrol Gangguan Tingkah laku

Gangguan tingkah laku dapat dihasilkan dari ekspektasi/harapan orang tua yang tidak tepat, masalah organik, dan atau kesulitan keluarga. Kemungkinan lain, gangguan tingkah laku dapat muncul sebagai usaha anak untuk memperoleh perhatian atau untuk menghindari frustrasi. Dalam mengukur tingkah laku, kita harus mempertimbangkan apakah tingkah lakunya tidak sesuai dengan usia mental anak, daripada dengan usia kronologisnya. Pada  beberapa anak, mereka memerlukan teknik manajemen tingkah laku dan atau penggunaan obat.

  • Mengatasi Gangguan

Jika terdapat gangguan lain- Cerebral palsy; gangguan visual & pendengaran; gangguan epilepsi; gangguan bicara dan gangguan lain dalam bahasa, tingkahlaku dan persepsi- maka yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang optimal adalah diperlukan terapi fisik terus menerus, terapi okupasi, terapi bicara-bahasa, perlengkapan adaptif seperti kaca mata, alat bantu dengar, obat anti epilepsi dan lain sebagainya. Perlu diagnosa yang tepat untuk menetapkan gangguan, diluar hanya masalah taraf intelegensi.

  • Konseling Keluarga

Banyak keluarga yang dapat beradaptasi dengan baik ketika memiliki anak yang menderita retardasi mental, tetapi ada pula yang tidak. Diantaranya karena faktor-faktor yang berkaitan dengan kemampuan keluarga dalam menghadapi masalah perkawinan, usia orang tua, self-esteem (harga diri) orang tua, banyaknya saudara kandung, status sosial ekonomi, tingkat kesulitan, harapan orang tua & penerimaan diagnosis, dukungan dari anggota keluarga dan tersedianya program-program dan pelayanan masyarakat.

Salah satu bagian yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan bagi keluarga penderita retardasi mental, agar keluarga dapat tetap menjaga rasa percaya diri dan mempunyai harapan-harapan yang realistik tentang penderita. Perlu penerimaan orang tua mengenai taraf kemampuan yang dapat dicapai anak. Orang tua disarankan untuk menjalani konsultasi dengan tujuan mengatasi rasa bersalah, perasaan tidak berdaya, penyangkalan dan perasaan marah terhadap anak. Selain itu orang tua dapat berbagi informasi mengenai penyebab, pengobatan dan perawatan penderita baik dengan ahli maupun dengan orang tua lain.

  • Evaluasi Secara Berkala

Walaupun retardasi mental adalah suatu gangguan statis, kebutuhan-kebutuhan anak dan keluarga berubah setiap waktu. Seiring perkembangan anak, informasi tambahan harus diberikan kepada orang tua, dan tujuan harus ditetapkan kembali, serta program perlu diatur.


Tujuan Penanganan

Tujuan penanganan anak retardasi mental yang utama adalah mengembangkan potensi anak semaksimal mungkin. Sedini mungkin diberikan pendidikan dan pelatihan khusus, yang meliputi pendidikan dan pelatihan kemampuan sosial untuk membantu anak berfungsi senormal mungkin.

Pencarian bakat dan minat juga perlu digali dan dikenali agar anak dapat diarahkan pada latihan dan keterampilan yang dapat menunjang kehidupan mereka selanjutnya. Banyak cara dan variasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan adaptasi pada penderita retardasi mental, baik intervensi pribadi atau kombinasi. Terapi perilaku berguna untuk membentuk tingkah laku sosial, mengontrol perilaku agresif atau tingkah laku yang merusak.

Daftar referensi :

  • Children with Disabilities.Batshaw:2000
  • http://www.medicastore.com
  • American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and statistical manual of mental disorders
  • Pengantar Psikologi intelegensi. Drs. Saifuddin Azwar, MA:1999
  • Kamus Lengkap Psikologi.J.P.Chaplin: 1999

Mengajarkan Anak Dyslexia Keterampilan Hidup Sehari-hari Januari 20, 2010

Posted by indigrow in Specific Learning Disability.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments closed

Fakta tentang anak-anak dyslexia yang mempunyai tingkat intelegensi normal bahkan di atas rata-rata, sungguh terbalik dengan “performance” nya di sekolah ataupun dalam kehidupan sehari-harinya. Secara kasat mata, sungguh sangat mengherankan anak dengan intelegensi bagus tidak bisa menghafal nama-nama hari dalam seminggu atau tidak bisa menyebutkan nama-nama bulan secara berurutan maupun diacak. Ketidakmampuan yang tidak lazim ini tentu saja bisa menjadi sangat memalukan bagi penderita dyslexia itu sendiri, karena dia terlihat sangat berbeda dengan lingkungan dan biasanya orang yang tidak bisa melakukan apa yang dilakukan orang kebanyakan akan dipandang sebagai inferior.

Oleh karena itu penting sekali menyiapkan anak-anak dyslexia agar bisa memenuhi tuntutan lingkungan. Setidaknya ada 6 area, diluar baca-tulis-hitung yang harus dikuasai agar ia tidak menjadi begitu “berbeda” dengan lingkungannya, yaitu :

1. Konsep Waktu

Sebagian besar penderita dyslexia mengalami masalah waktu ini. Saat masih kecil, mereka terlihat tidak bisa memenuhi harapan orangtua dan guru, tetapi ketika dewasa hal ini tentu saja akan sangat berpengaruh pada hubungan sosialnya. Ada 4 hal yang menjadi fokus utama dalam konsep waktu ini, yaitu:

a.   Membaca Jam

Hampir semua anak dyslexia mengalami kesulitan saat harus membaca jam, tetapi  apabila dilakukan dengan pendekatan yang tepat maka mereka pun bisa menguasai kemampuan ini. Sebagian orang mengatakan kenapa harus bersusah payah mengajarkan jam yang konvensional, berikan saja jam digital pada mereka. Dalam masyarakat kita penggunaan jam biasa masih sangat umum digunakan, dan apabila mereka tidak bisa membaca jam di depan banyak orang tentu saja akan menjadi hal yang sangat memalukan dan nantinya akan berdampak pada self concept nya. Selain itu saat anak-anak membaca pada jam digital misalnya 9 : 50, mereka tidak akan memahami maknanya apa, jadi konsep waktunya sendiri justru malah tidak terpelajari. Oleh karena itu penting untuk mengajarkan materi membaca jam ini, yang di sebagian daerah materi ini sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah. Ada beberapa tahapan penting yang harus diperhatikan saat mengajarkan jam ini yaitu :

    • Tahap awal yang harus dilakukan adalah mengecek apakah mereka sudah menguasai konsep angka dan jumlah. Apabila belum, konsep ini merupakan dasar yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum memulai belajar jam, karena dalam jam terdapat angka 1-12, begitupula dalam konsep menit, terdapat angka 1-60.
    • Ajarkan bahwa ada 60 menit dalam 1 jam
    • Kita biasa mengucapkan istilah jam tujuh kurang 10 (06.50) atau lima lebih seperempat (05.15) bahkan pengucapan jam setengah dua (01.30), kita bisa menyampaikannya secara otomatis, tapi tidak begitu bagi anak-anak dyslexia. Hal ini bisa menjadi sesuatu yang sangat membingungkan, oleh karena itu penting sekali untuk mengajarkan istilah-istilah tersebut satu demi satu.
    • Gunakan jam asli atau jam buatan yang menyerupai aslinya, karena dengan memberi kesempatan pada anak untuk mengetahui dan meraba tekstur dari jam akan sangat membantu proses pemahaman itu sendiri. Teknik multisensory sangat penting disini.
    • Perkenalkan ada 2 jarum, yang menunjukkan jam dan menit. Apabila menggunakan jam yang dibuat sendiri, akan lebih baik apabila tampilan jarum jam nya dibuat berbeda antara menit dan jam dengan penggunaan warna yang berbeda ataupun tekstur yang berbeda seperti penambahan butiran pasir pada jarum menit, dll.
    • Tunjukkan pada mereka mengenai pergerakan jarum jam tersebut, beri kesempatan pada mereka untuk melakukannya beberapa kali.
    • Jelaskan mengenai sistem angka pada jam, ada 2 sistem yaitu jam dan menit. Ini biasanya yang membuat belajar jam menjadi sangat susah bagi sebagian orang. Sistem pertama adalah jam, ada angka 1-12 untuk menunjukkan jam. Perkenalkan juga penggunaan angka 13-24 untuk menunjukkan waktu siang sampai malam hari, seperti jam 20.00. Sistem yang kedua adalah menit, perkenalkan bahwa satu perubahan gerakan angka pada jarum menit berarti 5 menit, setelah itu baru masuk pada kelipatannya. Intinya adalah buat sekongkrit mungkin.
    • Gunakan games saat mengajarkan konsep waktu ini, agar anak-anak bisa menikmati proses belajarnya.

b. Ekspresi bahasa waktu

Harus diketahui juga apakah mereka mengetahui konsep waktu yang lain, yang juga sangat penting bagi kehidupan sehari-hari terutama dalam percakapan dengan orang lain, yaitu istilah kemarin, besok, dulu, sekarang, nanti, lama, sebentar karena anak-anak dyslexia juga mengalami kesulitan dalam penggunaan istilah-istilah ini.

c.  Bagaimana Agar bisa tepat waktu

Sebagian besar dari kita mempunyai naluri untuk memperkirakan jam berapa sekarang atau lama sebentarnya sebuah acara walaupun tidak melihat jam. Tidak begitu dengan anak-anak dyslexia, mereka tidak mempunyai naluri ini, sehingga seringkali waktu terus berlalu dan mereka benar-benar tidak menyadarinya. Hal ini tentu saja akan menimbulkan banyak masalah, saat masih kecil mereka sering pulang ke rumah tidak tepat waktu, ketika dewasa mereka akan datang pada sebuah janji dimana orang lain sudah meninggalkannya. Cap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab sangat mungkin terjadi. Sehingga mengatasi hal ini sejak dini dirasa sangat perlu, dengan mensetting alarm atau mengingatkannya seperti “Kamu harus pulang ke rumah saat sudah mulai terdengar adzan ya.” Hal ini akan sangat membantu mereka untuk memahami “time limit.”

d.  Bagaimana agar tidak membuang waktu

Secara ekstrim anak-anak dyslexia tidak bisa merasakan lamanya satu jam dengan beberapa menit saja. Ini disebabkan karena mereka sangat berfokus pada apa yang sedang mereka kerjakan sampai tidak bisa merasakan lamanya waktu. Ini yang sering membuat para orangtua kesal, karena mereka biasanya berpakaian sangat lama, minum susu harus diingatkan terus, asyik menonton televisi padahal harus pergi sekolah, sehingga akhirnya mereka sering datang terlambat ke sekolah. Untuk mengatasinya, harus dimunculkan keinginannya untuk berubah terlebih dahulu dan biasanya setelah didiskusikan coping datang dari mereka sendiri, dengan memberikan usulan seperti saat berpakaian harus cepat atau apabila ingin sedikit lebih santai maka harus bangun lebih pagi.

2. Konsep Uang

Meskipun hampir semua anak-anak dyslexia mengalami kesulitan dalm konsep waktu, tetapi tidak demikian dalam konsep uang, hanya beberapa saja yang mengalami kesulitan. Ada 2 hal penting dalam konsep uang ini, yaitu :

a. Menghitung Uang

Saat disediakan di sebelah kiri 2 uang 500an dan di sebelah kanan 5 uang 100an kemudian ditanyakan mana yang nilanya lebih besar, mereka pasti akan mengalami kesulitan. Dalam belajar uang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti :

    • Cek pemahaman mereka mengenai konsep angka dan jumlah, apabila belum memahami betul, jangan dulu mengajarinya tentang uang, ini tentu saja akan membuat mereka semakin bingung.
    • Cek apakah mereka bisa mengidentifikasi nilai dari setiap bentuk uang yang diperlihatkan dari uang kertas sampai uang koin. Lakukan pengecekan ini dalam area private dan nyaman, jangan sampai ketidaktahuannya membuat mereka malu dan malah menurunkan self esteemnya.
    • Gunakan uang asli atau yang bentuknya benar-benar mirip dengan aslinya saat mulai belajar konsep uang.
    • Minta untuk menukar bentuknya, tapi nilainya sama, seperti uang kertas 500, ditukar dengan uang koin 100 sebanyak lima buah.
    • Berikan banyak kesempatan agar mereka bisa belajar menggunakan uang, terutama dalam setting nyata, seperti lakukan simulasi toko dimana setiap barang-barang yang disediakan ada harganya dan mereka diminta untuk membeli barang-barang tertentu dan tentu saja mereka harus menghitung berapa uang yang harus dikeluarkan dan berapa kembaliannya. Ini akan membuat mereka merasa nyaman dalam menggunakan uang.

b. Pengggunaan Bank

Ini adalah keterampilan yang tidak terlalu sulit untuk dikuasai, tapi memang harus mulai diajarkan. Yang harus dikenalkan pertama kali adalah bentuk-bentuk form yang tersedia, seperti cek, slip penyetoran atau slip pengambilan. Apabila memungkinkan gunakan yang asli sebagai latihan. Seperti yang terjadi di sebuah sekolah, ada pengajaran tentang bank ini, selain itu setiap murid akan diberikan gaji setiap bulan dengan menggunakan uang yang khusus dipakai di sekolah itu. Apabila ingin mendapatkan uang lebih maka mereka harus belajar lebih keras lagi. Uang yang didapat bisa digunakan untuk membeli barang-barang yang diinginkan. Walaupun benda-benda dan uangnya bukan asli tetapi mereka sangat menikmati kegiatan belajar seperti ini.

3. Mengingat detil-detil yang penting

Salah satu bagian dari kelemahan gaya belajar anak-anak dyslexia adalah:

  1. Rote Auditory Memory (hafalan), terutama untuk kata-kata yang tidak terlalu bermakna
  2. Sequencing skills (keterampilan mengurutkan)

Dua kelemahan inilah yang membuat anak-anak dyslexia susah untuk belajar nama-nama hari, bulan dan mengingat nomor teleponnya. Beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengatasi hal ini adalah :

    • Hubungkan masing-masing hari dengan kegiatan yang dilakukan oleh anak. Misalnya hari senin adalah hari pertama dia pergi ke sekolah setiap minggunya, atau selasa adalah kelas robot nya. Buatlah tabel beserta gambarnya, sehingga mereka bisa mengingat bahwa setiap ada kelas robot berarti hari selasa, dll. Untuk setiap anak pasti berbeda-beda karena akan sangat tergantung dari jenis kegiatannya.
    • Buatlah agar mereka familiar dengan nama-nama hari tersebut misalnya dengan menceritakan sejarah pemberian nama-nama hari tersebut.
    • Setelah mereka familiar dengan nama hari, mulailah masuk pada sequencing yaitu dengan diberikan pertanyaan seperti “Kalau sesudah hari rabu hari apa ya? Atau sebelum hari rabu hari apa?” Gunakan tabel hari dan kegiatan di atas

Untuk mengajarkan bulan, tahapannya sama seperti di atas. Penting untuk menghubungkan setiap bulan dengan peristiwa penting di dalamnya. Misalnya untuk mengingat bulan Februari, hubungkan dengan hari Valentine atau untuk mengingat bulan Desember hubungkan dengan Hari Ibu, dll.

Hal penting lainnya adalah mengingat nomor telepon. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka seperti berapa nomor telepon yang ingin kamu ingat?Nomor telepon siapa saja yang ingin kamu ingat?Apa kamu ingin mengingat nomor telepon ibumu, jadi kamu bisa menghubunginya ketika kamu membutuhkannya?Bagaimana caranya agar kamu bisa mengingatnya?Haruskah kamu membawa buku telpon?Arahkan agar mereka sendiri yang menemukan strategi yang tepat yang bisa mereka gunakan untuk mengatasi hal tersebut.

4. Terbiasa dengan tulisan-tulisan di lingkungan

Tidak bisa kita pungkiri di lingkungan kita terdapat banyak sekali tulisan dan angka, contoh pentingnya seperti pada kalender, katalog, menu, koran, panduan acara televisi, dll. Yang bisa dilakukan terhadap hal ini adalah :

    • Latih mereka untuk bisa menggunakan benda-benda tersebut, gunakan yang asli
    • Bahas bagian-bagian dari setiap benda tersebut, seperti saat membaca koran, dimana kita bisa mendapatkan info tentang acara televisi, dll.
    • Gunakan dalam simulasi pretend play, setting mereka sedang berada di restoran dan mereka harus membaca menu untuk memilih jenis makanan dan minuman yang mereka inginkan. Mereka juga bisa sekalian diminta untuk menghitung berapa yang harus dibayar beserta pajak dan tip nya, kemudian kembaliannya berapa. Bisa sekalian belajar konsep uang juga.
    • Minta mereka untuk membuat kalender yang akan dipajang di kelas, atau membuat menu yang akan digunakan di cafetria sekolah. Hal ini akan membuat mereka lebih familiar dengan benda-benda tersebut.

5. Menyimpan barang-barang pada tempatnya

Hal yang sering dikeluhkan oleh para orangtua yang mempunyai anak dyslexia adalah bahwa mereka sering sekali kehilangan barang, buku sekolahnya yang hilang saat berpindah ruang kelas, pensil yang sudah berapa kali ganti, buku PR, dll.

Mengetahui bagaimana perasaan anak tentang hal ini adalah hal pertama yang harus dilakukan. Akan sangat bagus apabila mereka mengatakan merasa tidak nyaman dengan seringnya kehilangan barang-barang tersebut, sehingga mereka bisa termotivasi untuk berubah. Tetapi apabila mereka merasa tidak ada masalah, katakan apa yang kita lihat dengan cara tidak menghakimi mereka, seperti “Saya memperhatikan kamu kemarin tidak membawa pensil dan kehilangan sweater saat istirahat.” Katakan juga jika dia ingin merubah hal ini nanti, dia harus mengatakannya kepada kita dan tentu saja kita akan sangat senang membantunya.

Apabila mereka ingin mencoba untuk berubah maka pilihlah perilaku mana yang ingin sekali diubah, tentunya dengan mendiskusikan terlebih dahulu dengan mereka. Pilihlah hanya satu perilaku misalnya menyimpan buku PR di rak yang telah disediakan, ikuti prosesnya, kalau perlu buat chart. Sangat penting untuk merayakan keberhasilannya menyimpan benda-benda pada tempatnya. Jika dia gagal, katakan kita mengerti bahwa ini sangat susah baginya, tetapi jangan pernah menyerah dan harus tetap berusaha. Setelah selesai satu perilaku tambahkan lagi yang lainnya, tapi tetap tanyakan terlebih dahulu mana yang mau dipilihnya.

6. Area masalah spesifik lainnya

Beberapa area ini bisa menimbulkan pengalaman yang sangat memalukan bagi anak-anak dyslexia, seperti :

  • Pesta

Banyak hal bisa terjadi dalam pesta, saat banyak orang berkumpul. Seperti ketika mereka diberi kado dan yang memberi kado memintanya untuk membacakan kartunya keras-keras, padahal mereka mengalami kesulitan dalam hal ini, tentu saja akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat memalukan.

  • Games

Banyak games yang membutuhkan kemampuan baca, mengeja, dan matematika seperti scrabble, monopoli, dll

  • Mengenalkan Orang

Mengingat ataupun mengucapkan nama orang merupakan hal yang susah untuk anak-anak dyslexia. Mengucapkan nama orang dengan salah tentu akan membuat orang lain marah.

Beberapa hal yang bisa dillakukan untuk mengatasi hal tersebut di atas adalah :

  • Untuk mengingat nama orang, hubungkan nama yang tidak familiar ini dengan sesuatu yang bermakna atau menghubungkan dengan nama teman yang sudah familiar kita dengar.
  • Ajak mereka untuk mau bercerita tentang kesulitannya pada temannya yang bisa dipercaya. Apabila dalam satu kelompok, mungkin bisa bercerita pada ketua kelompoknya. Hal ini tentu saja sangat berguna, agar teman-teman yang lain bisa mengerti kelemahan mereka yang tentunya bisa mengurangi hal-hal memalukan yang mungkin akan terjadi.
  • Buatlah daftar games dan aktivitas yang bisa dilakukan dan membuat mereka nyaman, ajak mereka untuk aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Dengan begitu orang lain tidak akan begitu memperhatikan bahwa mereka menghindari beberapa aktivitas yang lain.

    (Pipik) Team Indigrow