jump to navigation

Mengajarkan Anak Dyslexia Keterampilan Hidup Sehari-hari Januari 20, 2010

Posted by indigrow in Specific Learning Disability.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments closed

Fakta tentang anak-anak dyslexia yang mempunyai tingkat intelegensi normal bahkan di atas rata-rata, sungguh terbalik dengan “performance” nya di sekolah ataupun dalam kehidupan sehari-harinya. Secara kasat mata, sungguh sangat mengherankan anak dengan intelegensi bagus tidak bisa menghafal nama-nama hari dalam seminggu atau tidak bisa menyebutkan nama-nama bulan secara berurutan maupun diacak. Ketidakmampuan yang tidak lazim ini tentu saja bisa menjadi sangat memalukan bagi penderita dyslexia itu sendiri, karena dia terlihat sangat berbeda dengan lingkungan dan biasanya orang yang tidak bisa melakukan apa yang dilakukan orang kebanyakan akan dipandang sebagai inferior.

Oleh karena itu penting sekali menyiapkan anak-anak dyslexia agar bisa memenuhi tuntutan lingkungan. Setidaknya ada 6 area, diluar baca-tulis-hitung yang harus dikuasai agar ia tidak menjadi begitu “berbeda” dengan lingkungannya, yaitu :

1. Konsep Waktu

Sebagian besar penderita dyslexia mengalami masalah waktu ini. Saat masih kecil, mereka terlihat tidak bisa memenuhi harapan orangtua dan guru, tetapi ketika dewasa hal ini tentu saja akan sangat berpengaruh pada hubungan sosialnya. Ada 4 hal yang menjadi fokus utama dalam konsep waktu ini, yaitu:

a.   Membaca Jam

Hampir semua anak dyslexia mengalami kesulitan saat harus membaca jam, tetapi  apabila dilakukan dengan pendekatan yang tepat maka mereka pun bisa menguasai kemampuan ini. Sebagian orang mengatakan kenapa harus bersusah payah mengajarkan jam yang konvensional, berikan saja jam digital pada mereka. Dalam masyarakat kita penggunaan jam biasa masih sangat umum digunakan, dan apabila mereka tidak bisa membaca jam di depan banyak orang tentu saja akan menjadi hal yang sangat memalukan dan nantinya akan berdampak pada self concept nya. Selain itu saat anak-anak membaca pada jam digital misalnya 9 : 50, mereka tidak akan memahami maknanya apa, jadi konsep waktunya sendiri justru malah tidak terpelajari. Oleh karena itu penting untuk mengajarkan materi membaca jam ini, yang di sebagian daerah materi ini sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah. Ada beberapa tahapan penting yang harus diperhatikan saat mengajarkan jam ini yaitu :

    • Tahap awal yang harus dilakukan adalah mengecek apakah mereka sudah menguasai konsep angka dan jumlah. Apabila belum, konsep ini merupakan dasar yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum memulai belajar jam, karena dalam jam terdapat angka 1-12, begitupula dalam konsep menit, terdapat angka 1-60.
    • Ajarkan bahwa ada 60 menit dalam 1 jam
    • Kita biasa mengucapkan istilah jam tujuh kurang 10 (06.50) atau lima lebih seperempat (05.15) bahkan pengucapan jam setengah dua (01.30), kita bisa menyampaikannya secara otomatis, tapi tidak begitu bagi anak-anak dyslexia. Hal ini bisa menjadi sesuatu yang sangat membingungkan, oleh karena itu penting sekali untuk mengajarkan istilah-istilah tersebut satu demi satu.
    • Gunakan jam asli atau jam buatan yang menyerupai aslinya, karena dengan memberi kesempatan pada anak untuk mengetahui dan meraba tekstur dari jam akan sangat membantu proses pemahaman itu sendiri. Teknik multisensory sangat penting disini.
    • Perkenalkan ada 2 jarum, yang menunjukkan jam dan menit. Apabila menggunakan jam yang dibuat sendiri, akan lebih baik apabila tampilan jarum jam nya dibuat berbeda antara menit dan jam dengan penggunaan warna yang berbeda ataupun tekstur yang berbeda seperti penambahan butiran pasir pada jarum menit, dll.
    • Tunjukkan pada mereka mengenai pergerakan jarum jam tersebut, beri kesempatan pada mereka untuk melakukannya beberapa kali.
    • Jelaskan mengenai sistem angka pada jam, ada 2 sistem yaitu jam dan menit. Ini biasanya yang membuat belajar jam menjadi sangat susah bagi sebagian orang. Sistem pertama adalah jam, ada angka 1-12 untuk menunjukkan jam. Perkenalkan juga penggunaan angka 13-24 untuk menunjukkan waktu siang sampai malam hari, seperti jam 20.00. Sistem yang kedua adalah menit, perkenalkan bahwa satu perubahan gerakan angka pada jarum menit berarti 5 menit, setelah itu baru masuk pada kelipatannya. Intinya adalah buat sekongkrit mungkin.
    • Gunakan games saat mengajarkan konsep waktu ini, agar anak-anak bisa menikmati proses belajarnya.

b. Ekspresi bahasa waktu

Harus diketahui juga apakah mereka mengetahui konsep waktu yang lain, yang juga sangat penting bagi kehidupan sehari-hari terutama dalam percakapan dengan orang lain, yaitu istilah kemarin, besok, dulu, sekarang, nanti, lama, sebentar karena anak-anak dyslexia juga mengalami kesulitan dalam penggunaan istilah-istilah ini.

c.  Bagaimana Agar bisa tepat waktu

Sebagian besar dari kita mempunyai naluri untuk memperkirakan jam berapa sekarang atau lama sebentarnya sebuah acara walaupun tidak melihat jam. Tidak begitu dengan anak-anak dyslexia, mereka tidak mempunyai naluri ini, sehingga seringkali waktu terus berlalu dan mereka benar-benar tidak menyadarinya. Hal ini tentu saja akan menimbulkan banyak masalah, saat masih kecil mereka sering pulang ke rumah tidak tepat waktu, ketika dewasa mereka akan datang pada sebuah janji dimana orang lain sudah meninggalkannya. Cap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab sangat mungkin terjadi. Sehingga mengatasi hal ini sejak dini dirasa sangat perlu, dengan mensetting alarm atau mengingatkannya seperti “Kamu harus pulang ke rumah saat sudah mulai terdengar adzan ya.” Hal ini akan sangat membantu mereka untuk memahami “time limit.”

d.  Bagaimana agar tidak membuang waktu

Secara ekstrim anak-anak dyslexia tidak bisa merasakan lamanya satu jam dengan beberapa menit saja. Ini disebabkan karena mereka sangat berfokus pada apa yang sedang mereka kerjakan sampai tidak bisa merasakan lamanya waktu. Ini yang sering membuat para orangtua kesal, karena mereka biasanya berpakaian sangat lama, minum susu harus diingatkan terus, asyik menonton televisi padahal harus pergi sekolah, sehingga akhirnya mereka sering datang terlambat ke sekolah. Untuk mengatasinya, harus dimunculkan keinginannya untuk berubah terlebih dahulu dan biasanya setelah didiskusikan coping datang dari mereka sendiri, dengan memberikan usulan seperti saat berpakaian harus cepat atau apabila ingin sedikit lebih santai maka harus bangun lebih pagi.

2. Konsep Uang

Meskipun hampir semua anak-anak dyslexia mengalami kesulitan dalm konsep waktu, tetapi tidak demikian dalam konsep uang, hanya beberapa saja yang mengalami kesulitan. Ada 2 hal penting dalam konsep uang ini, yaitu :

a. Menghitung Uang

Saat disediakan di sebelah kiri 2 uang 500an dan di sebelah kanan 5 uang 100an kemudian ditanyakan mana yang nilanya lebih besar, mereka pasti akan mengalami kesulitan. Dalam belajar uang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti :

    • Cek pemahaman mereka mengenai konsep angka dan jumlah, apabila belum memahami betul, jangan dulu mengajarinya tentang uang, ini tentu saja akan membuat mereka semakin bingung.
    • Cek apakah mereka bisa mengidentifikasi nilai dari setiap bentuk uang yang diperlihatkan dari uang kertas sampai uang koin. Lakukan pengecekan ini dalam area private dan nyaman, jangan sampai ketidaktahuannya membuat mereka malu dan malah menurunkan self esteemnya.
    • Gunakan uang asli atau yang bentuknya benar-benar mirip dengan aslinya saat mulai belajar konsep uang.
    • Minta untuk menukar bentuknya, tapi nilainya sama, seperti uang kertas 500, ditukar dengan uang koin 100 sebanyak lima buah.
    • Berikan banyak kesempatan agar mereka bisa belajar menggunakan uang, terutama dalam setting nyata, seperti lakukan simulasi toko dimana setiap barang-barang yang disediakan ada harganya dan mereka diminta untuk membeli barang-barang tertentu dan tentu saja mereka harus menghitung berapa uang yang harus dikeluarkan dan berapa kembaliannya. Ini akan membuat mereka merasa nyaman dalam menggunakan uang.

b. Pengggunaan Bank

Ini adalah keterampilan yang tidak terlalu sulit untuk dikuasai, tapi memang harus mulai diajarkan. Yang harus dikenalkan pertama kali adalah bentuk-bentuk form yang tersedia, seperti cek, slip penyetoran atau slip pengambilan. Apabila memungkinkan gunakan yang asli sebagai latihan. Seperti yang terjadi di sebuah sekolah, ada pengajaran tentang bank ini, selain itu setiap murid akan diberikan gaji setiap bulan dengan menggunakan uang yang khusus dipakai di sekolah itu. Apabila ingin mendapatkan uang lebih maka mereka harus belajar lebih keras lagi. Uang yang didapat bisa digunakan untuk membeli barang-barang yang diinginkan. Walaupun benda-benda dan uangnya bukan asli tetapi mereka sangat menikmati kegiatan belajar seperti ini.

3. Mengingat detil-detil yang penting

Salah satu bagian dari kelemahan gaya belajar anak-anak dyslexia adalah:

  1. Rote Auditory Memory (hafalan), terutama untuk kata-kata yang tidak terlalu bermakna
  2. Sequencing skills (keterampilan mengurutkan)

Dua kelemahan inilah yang membuat anak-anak dyslexia susah untuk belajar nama-nama hari, bulan dan mengingat nomor teleponnya. Beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengatasi hal ini adalah :

    • Hubungkan masing-masing hari dengan kegiatan yang dilakukan oleh anak. Misalnya hari senin adalah hari pertama dia pergi ke sekolah setiap minggunya, atau selasa adalah kelas robot nya. Buatlah tabel beserta gambarnya, sehingga mereka bisa mengingat bahwa setiap ada kelas robot berarti hari selasa, dll. Untuk setiap anak pasti berbeda-beda karena akan sangat tergantung dari jenis kegiatannya.
    • Buatlah agar mereka familiar dengan nama-nama hari tersebut misalnya dengan menceritakan sejarah pemberian nama-nama hari tersebut.
    • Setelah mereka familiar dengan nama hari, mulailah masuk pada sequencing yaitu dengan diberikan pertanyaan seperti “Kalau sesudah hari rabu hari apa ya? Atau sebelum hari rabu hari apa?” Gunakan tabel hari dan kegiatan di atas

Untuk mengajarkan bulan, tahapannya sama seperti di atas. Penting untuk menghubungkan setiap bulan dengan peristiwa penting di dalamnya. Misalnya untuk mengingat bulan Februari, hubungkan dengan hari Valentine atau untuk mengingat bulan Desember hubungkan dengan Hari Ibu, dll.

Hal penting lainnya adalah mengingat nomor telepon. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka seperti berapa nomor telepon yang ingin kamu ingat?Nomor telepon siapa saja yang ingin kamu ingat?Apa kamu ingin mengingat nomor telepon ibumu, jadi kamu bisa menghubunginya ketika kamu membutuhkannya?Bagaimana caranya agar kamu bisa mengingatnya?Haruskah kamu membawa buku telpon?Arahkan agar mereka sendiri yang menemukan strategi yang tepat yang bisa mereka gunakan untuk mengatasi hal tersebut.

4. Terbiasa dengan tulisan-tulisan di lingkungan

Tidak bisa kita pungkiri di lingkungan kita terdapat banyak sekali tulisan dan angka, contoh pentingnya seperti pada kalender, katalog, menu, koran, panduan acara televisi, dll. Yang bisa dilakukan terhadap hal ini adalah :

    • Latih mereka untuk bisa menggunakan benda-benda tersebut, gunakan yang asli
    • Bahas bagian-bagian dari setiap benda tersebut, seperti saat membaca koran, dimana kita bisa mendapatkan info tentang acara televisi, dll.
    • Gunakan dalam simulasi pretend play, setting mereka sedang berada di restoran dan mereka harus membaca menu untuk memilih jenis makanan dan minuman yang mereka inginkan. Mereka juga bisa sekalian diminta untuk menghitung berapa yang harus dibayar beserta pajak dan tip nya, kemudian kembaliannya berapa. Bisa sekalian belajar konsep uang juga.
    • Minta mereka untuk membuat kalender yang akan dipajang di kelas, atau membuat menu yang akan digunakan di cafetria sekolah. Hal ini akan membuat mereka lebih familiar dengan benda-benda tersebut.

5. Menyimpan barang-barang pada tempatnya

Hal yang sering dikeluhkan oleh para orangtua yang mempunyai anak dyslexia adalah bahwa mereka sering sekali kehilangan barang, buku sekolahnya yang hilang saat berpindah ruang kelas, pensil yang sudah berapa kali ganti, buku PR, dll.

Mengetahui bagaimana perasaan anak tentang hal ini adalah hal pertama yang harus dilakukan. Akan sangat bagus apabila mereka mengatakan merasa tidak nyaman dengan seringnya kehilangan barang-barang tersebut, sehingga mereka bisa termotivasi untuk berubah. Tetapi apabila mereka merasa tidak ada masalah, katakan apa yang kita lihat dengan cara tidak menghakimi mereka, seperti “Saya memperhatikan kamu kemarin tidak membawa pensil dan kehilangan sweater saat istirahat.” Katakan juga jika dia ingin merubah hal ini nanti, dia harus mengatakannya kepada kita dan tentu saja kita akan sangat senang membantunya.

Apabila mereka ingin mencoba untuk berubah maka pilihlah perilaku mana yang ingin sekali diubah, tentunya dengan mendiskusikan terlebih dahulu dengan mereka. Pilihlah hanya satu perilaku misalnya menyimpan buku PR di rak yang telah disediakan, ikuti prosesnya, kalau perlu buat chart. Sangat penting untuk merayakan keberhasilannya menyimpan benda-benda pada tempatnya. Jika dia gagal, katakan kita mengerti bahwa ini sangat susah baginya, tetapi jangan pernah menyerah dan harus tetap berusaha. Setelah selesai satu perilaku tambahkan lagi yang lainnya, tapi tetap tanyakan terlebih dahulu mana yang mau dipilihnya.

6. Area masalah spesifik lainnya

Beberapa area ini bisa menimbulkan pengalaman yang sangat memalukan bagi anak-anak dyslexia, seperti :

  • Pesta

Banyak hal bisa terjadi dalam pesta, saat banyak orang berkumpul. Seperti ketika mereka diberi kado dan yang memberi kado memintanya untuk membacakan kartunya keras-keras, padahal mereka mengalami kesulitan dalam hal ini, tentu saja akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat memalukan.

  • Games

Banyak games yang membutuhkan kemampuan baca, mengeja, dan matematika seperti scrabble, monopoli, dll

  • Mengenalkan Orang

Mengingat ataupun mengucapkan nama orang merupakan hal yang susah untuk anak-anak dyslexia. Mengucapkan nama orang dengan salah tentu akan membuat orang lain marah.

Beberapa hal yang bisa dillakukan untuk mengatasi hal tersebut di atas adalah :

  • Untuk mengingat nama orang, hubungkan nama yang tidak familiar ini dengan sesuatu yang bermakna atau menghubungkan dengan nama teman yang sudah familiar kita dengar.
  • Ajak mereka untuk mau bercerita tentang kesulitannya pada temannya yang bisa dipercaya. Apabila dalam satu kelompok, mungkin bisa bercerita pada ketua kelompoknya. Hal ini tentu saja sangat berguna, agar teman-teman yang lain bisa mengerti kelemahan mereka yang tentunya bisa mengurangi hal-hal memalukan yang mungkin akan terjadi.
  • Buatlah daftar games dan aktivitas yang bisa dilakukan dan membuat mereka nyaman, ajak mereka untuk aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Dengan begitu orang lain tidak akan begitu memperhatikan bahwa mereka menghindari beberapa aktivitas yang lain.

    (Pipik) Team Indigrow

    Pervasive Developmental Disorder (PDD) Desember 24, 2009

    Posted by indigrow in Autis.
    Tags: , , , , , , , , , , , , , ,
    comments closed

    Pervasive Developmental Disorder (PDD)

    Pervasive Developmental Disorder (PDD) merupakan kelompok gangguan perkembangan yang biasanya terlihat nyata ketika anak berumur 3 tahun, namun tanda-tanda gangguan ini biasanya sudah terlihat sebelum anak berusia 3 tahun. Sehingga deteksi dini sebelum anak berusia 3 tahun sangatlah diperlukan agar penanganan yang tepat dapat segera diberikan.

    Secara umum, anak-anak dengan PDD biasanya mengalami tiga gangguan yaitu gangguan komunikasi (misal: kesulitan berbicara), gangguan interaksi (misal: tidak mau bermain dengan anak seusianya atau orang lain), dan gangguan perilaku (misal: perilaku repetitive – stereotipik/perilaku “aneh” yang dilakukan berulang-ulang). Berdasarkan definisi DSM IV(American Psychiatric Association, 1994), PDD merupakan gangguan dalam interaksi social, gangguan dalam berkomunikasi, dan adanya keterpakuan tingkah laku, minat dan aktivitas.

    Berdasarkan klasifikasi DSM IV tersebut terdapat 5 bentuk PDD yaitu:

    1. Autism
    2. Asperger Syndrome
    3. SDD (Childhood Disintegrative Disorder)
    4. Rett Disorder
    5. PDD NOS (Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified)

    (www.toddlerstoday.com)

    Selain kelima bendtuk PDD di atas, ada gangguan yang sering dikaitkan dengan PDD namun bukan termasuk kelompok dengan PDD, yaitu Fragil-X (Handbook KOnferensi Nasional Autisme, Jakarta, 2003). Penjelasan rinci mengenai gangguan ini anakan diuraian lebih lanjut.

    AUTIS

    Gangguan ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak dengan perempuan dengan perbandingan 4 berbanding 1. Sebagian besar anak autis juga mengalami retardasi (keterbelakangan) mental. Angka kejadiannya berada pada rentang 3% -7% dari populasi. Berikut ini adalah gejala-gejala yang Nampak pada anak autis:

    1. Gangguan dalam komunikasi verbal dan non-verbal, misalnya:

    • Ada keterlambatan bicara, atau samasekali tidak berbicara.
    • Kalaupun bersuara, kata-kata yang diucapkan tidak dapat dimengerti atau tidak sesuai kontek pembicaraan.
    • Beberapa anak autis menunjukkan “echolalia” (mengulang), dimana anak mengulang/meniru nyanyian nada, maupun kata-kata tanpa memahami maknanya.
    • Ketika berbicara, biasanya mimik mukanya datar, tanpa ekspresi dan cara berbicaranya monoton

    2. Gangguan dalam interaksi social, misalnya:

    • Anak menghindar dari menatap lawan bicara
    • Tidak menoleh apabila dipanggil (sering diduga anak mengalami masalah dalam pendengaran), sehingga perlu dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah anak memang mengalami gangguan pendengaran dan bukan autis.
    • Pada beberapa anak, menunjukan perilaku menolak apabila dipeluk.
    • Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain.
    • Bila anak menginginkan sesuatu seringkali menarik tangan orang lain (tidak mengekpreikannya dengan cara menunjuk benda yang diinginkan)
    • anak menjauh apabila diajak bermain dan tidak mau berbagi kesenangan dengan orang lain.

    3. Gangguan dalam perilaku, misalnya:

    • Anak memiliki cara bermain yang berbeda dengan anak pada umumnya (contoh: anak pada umumnya memainkan mobil-mobilan dengan cara mendorong sambil berkata “ngeeeng”, namun pada anak autis mobi-mobilan dimainkan dengan cara dibalik dan diputar-putarkan rodanya, atau hanya menderetkan beberapa mobil-mobilan dan melihatnya dengan cara memicingkan matan.
    • Anak memiliki kekakuan terhadap rutinitas (kebiasaan) yang sudah berulang-ulang dilakukan setia hari. (contoh: anak hanya mau mengikuti rute jalan yang sama ketika berpergian, anak menjadi sangat terganggu bahkan “tantrum” (marah) ketika arah rute jalan berubah.

    4. Gangguan dalam perasaan/emosi, misalnya:

    • Anak kurang bahkan tidak memiliki rasa empati (misal: ketika anak lain menangis karena terluka, ia tidak merasa kasihan atau bahkan merasa terganggu dengan anak yang menangis tersebut dan mungkin saja malah memukulnya)
    • Anak autis bisa tiba-tiba tertawa, menangis, atau marah-marah tanpa sebab yang nyata.
    • Pada beberapa anak, anak autis sering menunjukkan perilaku mengamuk tak terkendali apabila ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya bahkan ada yang menjadi agresif dan destruktif (merusak).

    5. Gangguan dalam persepsi sensori, misalnya:

    • Beberapa anak autis suka mencium, menggigit atau menjilati benda apa saja atau beberapa benda yang ia sukai.
    • Pada beberapa anak ada yang menutup telinga apabila mendengar suara yang keras, bergemuruh atau bahkan tangisan.
    • Beberapa anak autis yang sangat tidak menyukai rabaan atau pelukan, jadi apabila digendong anak merasa tidak nyaman dan ingin melepaskan diri.
    • Beberapa anak autis merasa tidak nyaman apabila memakai pakian yang berkerah, berbahan tertentu atau pakaian yang ada label di kerahnya.

    Klasifikasi Autis

    1. Berdasarkan kemampuan interaksi sosialnya, dibagi menjadi:

    • Aloof

    Anak biasanya menunjukkan cirri-ciri autis yang sangat khas, anak terlihat memojok di tempat yang nyaman dan sangat nampak asyik dengan dunianya sendiri.

    • Pasif

    Anak mau bergabung bersama orang lain atau teman sebayanya, namun tidak interaktif (tidak berkomunikasi dengan temannya).

    • Aktif perilaku aneh

    Anak sangat tidak bisa diam, berlari-lari kesana-kemari, atau tiba-tiba melempar benda. Pada autis dengan perilaku seperti ini sering tertukar dengan anak hiperaktif (ADHD).

    2. Berdasarkan tinggat intelegensianya, dibagi menjadi:

    • Low Functioning

    Pada anak autis dengan Low Functioning, biasanya disertai dengan kemampuan bicara yang sangat minim, bahkan tidak berbicara sampai usia dewasa dan hambatan dalam memahami “konsep”. Anak autis dengan Low Funcitoning mencapai 70% dari populasi anak autis.

    Anak autis yang Low Function, biasanya berkomunikasi dengan cara non-verbal. Anak mungkin hanya menggunakan bahasa tubuh yang sangat minim (misal menarik tangan untuk meminta tolong diambilkan benda yang disuka), atau anak mengkomunikasikan ketidak sukannya dengan cara tantrum. Biasanya untuk mengakomodasi hambatannya ini didunakan PECS (Picture Exchange Communication System) atau sistem komunikasi melalui pertukaran gambar. Ini ditujukan untuk anak autis yang Non-Verbal bisa tetap melakukan komunikasi, sehingga ia tidak mengkomunikasikan keinginannya dengan cara yang tidak adaptif.

    • Middle Functioning

    Anak autis dengan medium functioning mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk memahami “konsep”. Sehingga waktu yang diperlukan untuk menguasai suatu pengtehuan (misal: tentang nama-nama benda, anggota tubuh, dll.) membutuhkan yang lebih cepat jika dibandingkan dengan anak autis yang low functioning.

    Pada banyak anak autis dengan medium functioning menunjukkan kemampuan  berbicara, namun biasanya masih sangat terbatas dan lebih bersifat searah (misal: hanya menjawab ketika ditanya, namun tidak bisa membuat pertanyaan apabila ada hal yang tidak ia ketahui).

    • High Functioning

    Anak dengan high functioning, mempunyai kemampuan dalam memahami konsep dengan cukup baik (untuk konsep yang tidak abstrak). Jika anak autis yang high functioning mendapatkan penangan yang tepat sejak dini, mendapat dorongan yang baik dalam keluarga, anak ini dapat hidup mandiri bahkan sampai berkeluarga.

    Asperger Syndrome

    Asperger syndrome merupakan kelompok gangguan perkembangan perpasif (memiliki gangguan komunikasi, interaksi dan perilaku) yang gangguan perililakunya ini nampak sangat jelas terutama di usia sebelum 3 tahun. Anak dengan Asperger tiba-tiba bisa berbicara di usia 3 tahun, dan kemampuan bicaranya langsung berkembang sangat cepat. Hal ini yang sangat jelas membedakannya dengan anak autis yang memiliki perkembangan bahasa yang cenderung lama.

    Anak dengan Asperger syndrome memiliki kecerdasan yang normal, sehingga secara akademik anak tidak mempunyai hambatan yang berarti untuk mengikuti pelajaran di sekolah umum. Biasanya anak ini pun memiliki minat yang sangat kuat pada bidang tertentu dan meikiki kemampuan melebihi anak “normal”  seusianya. Misalnya anak sudah sangat mahir mengoperasikan komputer di usianya yang baru berusia 4 tahun.

    Pada umumnya anak yang sudah besar cukup suka berteman, namun dalam hubungan interaksi dan komunikasinya biasanya cenderung “aneh” karena anak dengan asperger biasanya menggunakan bahasa yang cenderung formal. Mereka pun mengalami kesulitan untuk memahami dan menggunakan kata-kata yang bersifat “humor atau ironi” sehingga cendung terlihat tidak humoris, dan terlihat kaku. Dengan kondisi ini anak biasanya mendapatkan kendala  dalam bersosialisasi dan pada akhirnya merasa tertekan di sekolahnya. Masalah ini biasanya ditemukan saat anak mulai memasuki usia remaja (SMP/SMA).

    Intervensi dan layanan yang diberikan untuk membantu mereka dapat  berupa program terapi yang dilaksanaka dengan tujuan memperbaiki kemampuan yang belum dikuasai, terutama dalam aspek-aspek yang tertinggal. Misalnya dalam aspek sosial, anak banyak dilibatkan dalam kegiatan sosial seperti belajar dalam kelompok kecil, mengikuti aktivitas olah raga dalam satu team sehingga anak belajar berkerja sama dan berbagi pengalaman dengan anak lain.

    CDD (Childhood Disintegrative Disorder)

    Anak yang mengalami gangguan CDC terlihat mengalami perkembangan normal sampai umur dua atau tiga tahun. Setelah usia tersebut (periode normal) anak kemudian mengalami kemunduran dalam perkembangan dan secara signifikan kehilangan minimal dua dari lima hal yang tertera di bawah ini:

    • Bahasa ekspresif dan reseptifnya
    • Kemampuan melakukan interaksi sosial atau tingkah laku adaptif
    • Kontrol terhadap buang air kecil dan buang asir besar
    • Minat untuk bermai
    • Kemampuan motorik

    Selain itu, anak dengan CDC juga mengalami gangguan dalam interaksi sosial (misalnya menyendiri, tidak mau berinteraksi dengan orang lain termasuk anggota keluarga), gangguan dalam komunikasi (anak mulai behenti bicara atau kembali hanya mengungkapkan satu kata), dan melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang, serta usah untuk berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas selanjutnya. Anak menunjukkan masalah dalam profil sensori, seperti mencium-cium atau menjilat-jilat benda yang dipegang.

    CDD bisanya terjadi anara umur 3-4 tahun pada seorang, namun dapat juga terjadi pada anak usia selanjutnya, sampai usia 10 tahun. CDD merupakan kelompok PDD yang sangat jarang terjadi dan memiliki kondisi yang “berat” karena hanya 20% anak yang didiagnosa CDD dan telah menjalani terapi yang dibutuhkan mampu berbicara dalam satu kalimat lengkap. Orang dewasa yang didiagnosis SDD kebanyakan mereka hidupnya menjadi sangat tergantung kepada orang lain, selalu membutuhkan pendampingan dari orang lain untuk melakukan aktivitas-aktivitas kemandirian.

    Rett Disorder

    Rett Disorder merupakan kelainan genetik (pada kromosm X yang disebut MsCP 2) yang ditandai dengan satu periode perkembangan anak yang normal dan kemudian diikuti dengan hilangnya kemampuan komunikasi dan keterampilan motorik. Rett nampak seperti CDD dalam hal ini, namun Rett hanya terjadi pada anak perempuan.  Anggka kejadiannya diperkirakan            1 : 10.000-15.000 dari anggka kelahiran hidup bayi perempuan.

    Rett sering tertukar diagnosis dengan anak autis, anak dengan cerebral palsy, dan anak dengan retardasi mental. Karena memunculkan perilaku stereotipik, gangguan motorik dan kemampuan kognitif yang menurun. Tidak ada uji labolatrorium yang bisa dilakukan untuk menentukan apakah seorang anak Rett atau bukan. Untuk menentukannya hanya bisa dilakukan dengan tes kromosom atau melihat karakteristik berikut:

    • Mengalami perkembangan normal kira-kira dari 6 bulan -18 bulan
    • Memiliki lingkar kepala normal pada saat kelahirannya, namun menunjukkan perlambatan pertumbuhan pada usia 3 bulan hingga 4 tahun, (apabila pada usia di atas 4 tahun di ukur lingkar kepalanya, anak menunjukkan lingkar kepalanya yang lebih kecil dan berada di bawah rata-rata anak seusianya)
    • Menghilangnya kemampuan bahasa ekspresif (yang tadinya bisa bicara jadi tidak bisa bicara) dan menurunnya kemampuan fungsi tangan.
    • Munculnya gerakan tangan yang repetitif/mengulang-ulang seperti: hand washing, hand wringing, hand clapping, and hand mouthing.
    • Menggerak-gerakan tubuh (Shakiness of the torso/body rocking)
    • Jika berjalan, cenderung tidak seimbang dan berjinjit.

    Sayangnya, mereka yang didiagnosa Rett seringkali berakhir dengan meninggal di usia yang masih sangat muda.

    PDD-NOS

    PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified), merupakan diagnosa yang diberikan pada anak  yang tidak memenuhi criteria diagnositik dari ke empat bentuk PDD di atas (Autis, Asperger, CDD dan Rett), tetapi anak memperlihatkan gangguan yang jelas dalam aspek komunikasi, interaksi sosial, minat/perhatian yang merupakan cirri dari PDD. Setiap anak dengan PDD-NOS memiliki intensitas gangguan yang berbeda-beda. Beberapa anak dengan PDD-NOS memiliki hambatan dalam lingkungan sekolah atau rumah saja, sementara yang lain memiliki kesulitan dalam area kehidupanya.

    Fragile-X

    Syndrome Fragile-X merupakan penyakit genetik yang paling sering dihubungkan dengan autis. Pada beberapa anak dengan Fragile-X menunjukkan gambaran kesulitan berbahasan dan berbicara, kurang perhatian dan kesulitan dalam memahami konsep, pemalu dan cenderung terlihat menghindari kontak mata layaknya seperti anak autis. Apabila di amati dengan baik, mereka menunjukkan karakteristik khas yang berbeda dengan anak autis seperti: testis yang besar (pada anak laki-laki) dan mengalami mental retardasi, telingga lebar nampak menggantung dan dagu serta dahi yang memanjang.

    Disebtu Fragile-X karena ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) yang nampak seperti patahan di ujung lengan panjang kromosom X4. Karena syndrome ini terpaut kromosom X, sehingga bisa diturunkan baik oleh laki-laki maupun permpuan.

    Alamat indiGrow Oktober 22, 2009

    Posted by indigrow in Pofil indiGrow.
    Tags: ,
    comments closed

  • Jl. Haruman No. 35 Bandung
  • Telp. (022) 7303244
  • e-mail: indigrow1@yahoo.com
  • Team Indigrow Oktober 21, 2009

    Posted by indigrow in Pofil indiGrow.
    Tags: , , , , , , , , , ,
    comments closed

    Penanggung Jawab: Fisianty Harahap, M.T.

    Penasehat Medis: Dr. Purboyo Solek Sp.A (K)

    Dokter Spesialis Anak: dr. Kristiantini Dewi Sp.A

    Psikolog: Ari Aprilia Adriana, S.Psi

    Team Terapis:

    • Fefi Nuryanti, S.Pd
    • Frandika Dwiarma, S.Psi
    • Sri Laksmi Wulandari, S.Sos
    • Donni Christian
    • Erna Mariana Dewi, A.Md.TW
    • Lidya Linna Harliany, A.Md. TW
    • Nila Kencana Wuri, AMF
    • Anjar Wahyudi Amd. TW
    • Tri Adisty Irriyani Amd. TW
    • Ilma Zaini Napiah
    • Fahmi Nuraqli, S.ST

    Indigrow Child Development Center

    Jl. Haruman No.35 Bandung Tel. 022-7303244

    ANAK ‘CLUMSY’……, kenali mereka yuk…! Oktober 21, 2009

    Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
    comments closed

              Orang tua dan dokter sering “lolos” mengenali adanya gangguan motorik yang tidak terlalu jelas. Padahal sekitar 6% anak usia sekolah mengalami masalah koordinasi motorik yang cukup serius yang mengganggu prestasi akademis dan personal sosial anak tsb. Masalah ini biasanya mulai muncul di tahun-tahun pertama usia sekolah, dan nampak sebagai kesulitan dalam menjalankan tugas motorik yang sederhana seperti berlari, mengancingkan baju atau memegang dan menggunting kertas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan motorik ini akan tetap ada walaupun usia anak menginjak usia remaja sampai dewasa. Bahkan tidak jarang gangguan koordinasi motorik ini malah ditambah dengan masalah lain seperti misalnya gangguan pemusatan perhatian-hiperaktivitas (GPPH) atau yang dikenali juga sebagai attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan belajar, ketrampilan menggambar dan menulis yang buruk dan ketidakmatangan emosi.  Di usia remaja, masalah bisa menjadi tambah pelik, karena anak “clumsy” cenderung memiliki masalah emosi, sosial dan pendidikan yang lebih rumit dibandingkan anak normal yang lain. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk dapat mengenali gangguan ini, sehingga dapat memberikan intervensi yang terbaik bagi putra putri mereka.

     

    Sekitar 6% anak usia sekolah mengalami masalah koordinasi motorik yang cukup serius yang mengganggu prestasi akademis dan personal sosialnya.

     

    BAGAIMANA ORANG TUA MENGENALINYA….

              Perkembangan motorik anak “clumsy” biasanya masih dalam batas normal jika dilihat berdasarkan usianya. Jadi, mereka tidak terlambat duduk, atau terlambat berjalan misalnya.  Namun, keterlambatan akan jadi nampak jelas jika sudah mulai berhubungan dengan perkembangan sosial-adaptif. Anak “clumsy” nampak tidak setrampil anak lain dan harus “berjuang” dulu agar bisa trampil dalam bermain sepeda, menangkap bola, memegang pensil atau menggunting garis lurus pada kertas. Selain itu anak juga terlambat menguasai ketrampilan harian yang diperlukan untuk kemandirian, misalnya mengancingkan baju, melipat baju olah raga, menutup tutup termos minum,  menyimpulkan tali sepatu.  Di sekolah, hampir tiap saat anak “clumsy” menabrak temannya, atau menyenggol sudut meja saat berjalan, atau tidak sengaja membenturkan lututnya ke pinggir meja belajar saat bangkit dari tempat duduknya. Tidak jarang pula anak “clumsy” dilaporkan menjatuhkan atau membenturkan barang yang sedang dipegangnya secara tidak sengaja.  Mungkin juga anak mulai dikucilkan dari pergaulan teman sebayanya karena prilakunya yang cenderung sembrono dan “grasa grusu”. Lama kelamaan mereka menjadi tidak percaya diri, dan mengisolir diri dari keterlibatan aktivitas yang membutuhkan ketrampilan koordinasi motorik, misalnya olah raga. Tabel 1 dan 2 menunjukkan usia rata-rata seharusnya suatu ketrampilan motorik dan sensorik dikuasai oleh anak normal.

     Tabel 1.

    Usia rata-rata pencapaian ketrampilan motorik sosial dan adaptif

     

    Ketrampilan                                                       Usia rata-rata (dalam tahun)

    Mengancing dan melepas kancing                                              4

    Berpakaian                                                                                          4,5

    Bersepeda dengan roda bantuan                                               4,5

    Menggunting kertas dengan gunting                                        4,5

    Mewarnai tidak keluar garis batas                                            4,5

    Menyimpulkan tali sepatu                                                           5,5

    Menulis nama lengkap                                                                  5,5

    Loncat dari ketinggian beberapa anak tangga                    5,5

    Bersepeda tanpa roda bantuan                                                   6

    Adapted from Blondis TA. Motor disorders and attention-deficit/hyperactivity disorder. Pediatr Clin North Am 1999;46:905

     

    Tabel 2.

    Usia rata-rata pencapaian ketrampilan sensoris dan motorik

     

    Ketrampilan                                                       Usia rata-rata (dalam tahun)

    Menggambar kotak                                                                             5

    Berdiri pada satu kaki selama 15 detik                                       5

    Memegang pensil seperti orang dewasa (tripod)                5,5

    Melompat dengan ritmis                                                                6

    Menggambar garis diagonal                                                         

    Dengan mata tertutup, mampu menyebutkan                       7

    Jari mana yang disentuh                                                                 8

    Lompat dengan tumpuan kaki yang bergantian                  8,5

    Menggambar garis silang yang membagi

    Dua bidang sama besar                                                                         9

    Dengan mata tertutup mampu berdiri angkat

    Satu kaki selama 10 detik                                                                   10

    Menggambar kubus 3 dimensi dengan baik                               12

    Adapted from Blondis TA. Motor disorders and attention-deficit/hyperactivity disorder. Pediatr Clin North Am 1999;46:906

     

     

    BAGAIMANA DOKTER MENDIAGNOSISNYA………..

               Istilah anak “clumsy” sudah diperkenalkan sejak tahun 1975 dengan terminologi “clumsy child syndrome”. Istilah ini kemudian berkembang menjadi “developmental coordination disorder” (DCD) dan akhirnya diformulasikan suatu kriteria diagnostik untuk DCD ini dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV (DSM-IV). Yang termasuk dalam kriteria ini adalah anak yang mempunyai tingkat kepandaian normal, tidak mempunyai gangguan kesehatan atau kelainan saraf (neurologis), tapi menunjukkan masalah dalam koordinasi, sehingga mengganggu prestasi akademis, dan atau kehidupan sosial anak tersebut. Gangguan belajar, masalah emosi, conduct disorder, dan oppositional defiant disorder ditemukan lebih sering pada anak DCD ini. Anak DCD yang disertai GPPH pasti berisiko mendapatkan masalah lebih besar dalam kehidupan sosialnya kelak.

               Dokter biasanya akan menggali adanya sifat “clumsy” yang tersembunyi pada anak yang dikonsultasikan dengan keluhan gangguan belajar, anak dengan masalah prilaku, atau anak yang sering mengeluh sakit atau nyeri di bagian tertentu dari tubuhnya tapi sebetulnya tidak mengalami sakit apa-apa (psychosomatic ache or pain).

                Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensif, mulai dari tinggi badan, berat badan, lingkar kepala dan tentu saja pemeriksaan neurologis (saraf) termasuk pemeriksaan mata, saraf-saraf otak, kekuatan dan tonus otot, serta berbagai refleks dan tes-tes keseimbangan. Jika ditemukan adanya kelemahan otot, ketidak seimbangan motorik, atau tonus otot yang melemah atau meningkat, maka anak tidak termasuk kriteria “clumsy” seperti yang disepakati dalam DSM-IV. 

              Sifat “clumsy” pada anak DCD bukan merupakan sesuatu yang progresif atau berlangsung makin lama makin hebat. Jika seorang anak yang tadinya normal lalu tiba-tiba mundur ketrampilannya dari hari ke hari, hal tersebut bukan suatu “clumsy” yang disepakati sebagai DCD dalam DSM-IV.

     

    Gangguan motorik yang disebabkan DCD cenderung bertahan sampai dewasa dan dapat mengakibatkan gangguan fungsi sosial yang bermakna.

     

     APA PENYEBABNYA….?

               Penyebab pasti anak “clumsy” belum diketahui benar. Namun terdapat beberapa teori yang berusaha menjelaskan penyebab terjadinya DCD ini. Sebagian peneliti menganggap DCD disebabkan gangguan fungsi perencanaan motorik, yang dikenal sebagai “dyspraxia”. Peneliti lain mengatakan bahwa anak DCD mengalami gangguan proprioseptif dan gangguan mengintegrasikan berbagai rangsang sensoris. Ada pula penelitian yang menunjukkan bahwa anak “clumsy” mengalami gangguan bermakna dalam memproses input visual.

     

     KONDISI APA SAJA YANG MIRIP DCD…?

                 Banyak kondisi atau penyakit yang menampilkan gejala mirip anak “clumsy”. Yang tersering diantaranya adalah keterbelakangan mental, ADHD, cedera otak (jatuh dari ketinggian, shaken baby syndrome), gangguan penglihatan, gangguan tulang, cerebral palsy ringan, dan hereditary ataxia.

     

    BISA SEMBUH gak….?

               Seperti telah disebutkan tadi, bahwa berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan koordinasi pada anak DCD cenderung menetap sampai dewasa dan berpengaruh terhadap prestasi akademis, fungsi sosial emosi dan prilaku individu tersebut kelak.

     

    APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN UNTUK MEREKA….?

                Yang dapat kita lakukan adalah mengurangi tingkat “keparahan” gangguan koordinasi motorik yang mereka alami. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa terapi okupasi yang disesuaikan untuk setiap individu DCD (individualized occupational therapy)  dapat meningkatkan beberapa ketrampilan motorik tertentu, sehingga menumbuhkan kepercayaan diri pada individu “clumsy” dan kepada keluarganya.

                Dalam kegiatan harian atau sekolah, anak DCD diajak untuk lebih banyak aktif dalam kegiatan olah raga seperti renang atau menunggang kuda. Selain itu dilakukan konseling keluarga untuk memberikan wawasan kepada keluarga mengenai gangguan tersebut, dan mendukung mereka dalam menciptakan kondisi yang lebih baik bagi anak DCD.

     

    Individualized occupational therapy merupakan terapi terbaik bagi anak “clumsy”.

     

     Referensi:

    –   Hamilton SS. Evaluation of clumsiness in children. Am Fam Physician 2002;66:1435-40

    –   Floet AMW. Motor Skills Disorder. www.emedicine.com. Download January 2007.

    –   Lynn D. How to help a clumsy children. Scouting magazine. October 1999

    –   Sigmundsson H, Hansen PC, Talcott JB. Do clumsy children have visual deficits. Behavioural Brain Research 139 (2003) 123-129

    Penulis

    Kristiantini Dewi, dr., SpA

    Tentang indiGrow April 2, 2009

    Posted by indigrow in Pofil indiGrow.
    Tags: , , , , , , , , , , ,
    comments closed

    Setiap Anak Unik

    Setiap anak unik dan berhak tumbuh dan berkembang optimal. Oleh karenanya setiap anak perlu memperoleh stimulasi, pendidikan dan penanganan yang sesuai agar mampu mengembangkan seluruh potensi fisik, emosi, kognisi, bahasa dan kemandiriannya.

    Jika anak memiliki hambatan dalam satu atau lebih aspek perkembangan tentu iaa tidak berkembang optimal sesuai usia dan potensinya. Oleh karenanya hambatan yang dimiliki anak harus dideteksi sedini mungkin sehingga dapat ditangani dengan cepat untuk hasil yang lebih baik.

    Hambatan dan potensi anak berbeda-beda

    maka penangannya pun akan berbeda

    tergantung kebutuhan setiap anak

    Penangan yang terpadu akan memberikan konsistensi dalam pendekatan, penetapan tujuan dan evaluasi secara menyeluruh terhadap setiap anak sehingga diharapkan dapat dicapai proses pengembangan anak secara optimal.

    Pelayanaan Terpadu

    indiGrow hadir sebagai partner orang tua dan sekolah dalam mengembangkan anak mencapai potensinya. indiGrow membantu menangani masalah perkembangan anak secara terpadu dengan tim ahli perkembangan anak dari berbagai disiplin ilmu: Dokter spesialis anak & konsultan syaraf anak, dokter rehabilitasi medik, psikolog, terapis perilaku, terapis okupasi dan sensori integrasi, terapi wicara serta fisoterapi.

    Pemeriksaan dan Assesment

    • Konsultasi dan pemeriksaan tumbuh kembang dan neurologi anak.
    • Konsultasi dan pemeriksaan psikologi, meliputi: tes potensi/intelegensi, tes kepribadian, tes kematangan sekolah, tes minat dan bakat.
    • Pemeriksaan tim (Dokter spesialis anak & konsultan syaraf anak + psikolog/terapis) Khusus untuk anak dengan kesuitan belajar (disleksia, diskalkulia, disgrafia, autis, asperger, PDD-NOS dan ADD/ADHD.

    Terapi dan Stimulasi

    • Terapi perilaku
    • Terapi wicara
    • Terapi okupasi
    • Terapi sensori integrasi
    • Fisioterapi
    • Remdial terapi/paedagogi
    • Home program untuk menstimulasi perkembangan anak di rumah

    Parent Education and Support Group

    • Evaluasi perkembangan anak secara berkala
    • Family Gathering
    • Seminar dan pelatihan untuk orang tua

    Fasilitas

    indiGrow menyediakan tempat yang nyaman, aman dan menyenangkan serta dilengkapi dengan fasilitas:

    • Ruang individual dan group therapy
    • Ruang trampoline, Gym, dan taman senori
    • Ruang konsultasi dokter dan psikolog
    • Berbagai alat dan mainan edukatif yang mendukung kegiatan terapi

    indiGrow

    “We Treat You Like Family”

    Perkembangan Sensori-Motor April 2, 2009

    Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
    Tags: , , , , , , , , ,
    comments closed

    Perkembangan Sensori-Motor

    Dr. Kristiantini Dewi, SpA

    Tidak ada yang lebih penting bagi orang tua selain yakin bahwa pertumbuhan dan perkembangan buah hatinya berjalan normal sesuai dengan tahapan / milestone normalnya. Orang tua bersedia bersusah payah melakukan apa saja demi tumbuh kembang si kecil, mulai dari menyediakan makanan yang segar untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, sampai memutarkan musik klasik ala Mozart dengan harapan dapat meningkatkan intelegensi sang anak. Namun seringkali orang tua tidak terlalu ambil pusing dengan perkembangan sensori-motor anaknya karena berpikir bahwa ketrampilan, kekuatan dan koordinasi motorik akan berkembang dengan sendirinya tanpa masalah yang berarti. Padahal, perkembangan sensori-motor, afeksi (emosi), dan kognisi saling berhubungan erat dalam satu siklus sensory input dan motor output yang berkesinambungan. Input sensoris (misalnya, ibu menyentuh pipi bayi) akan menyebabkan terjadinya output motorik (bayi secara otomatis akan menolehkan kepalanya ke arah sentuhan). Semakin banyak input sensoris yang diterima, makin banyak pula jawaban output motorik yang ditimbulkannya. Sebaliknya, jika perkembangan motorik mengalami hambatan, maka input sensoris pun mengalami hal yang sama. Jika seorang bayi tidak dapat merangkak menuju mainan yang dilihatnya berada di seberang ruangan (berarti terjadi hambatan motorik), maka bayi tersebut cenderung “melupakan” mainan tersebut. Jika dia melupakan mainan tersebut, maka dia tidak dapat mengeksplorasi karakteristik mainan tersebut, baik bentuknya, warnanya, tekstur maupun rasanya (berarti terjadi hambatan sensoris). Dengan demikian jika bayi tidak mampu mengeksplorasi sesuatu objek karena hambatan motoriknya, maka otaknya tidak akan pernah mempelajari karakteristik objek tersebut lebih jauh atau kehilangan input sensorisnya.

    Hubungan yang erat antara pergerakan (motorik) dengan sistem sensoris dapat digambarkan dalam ilustrasi di bawah ini:

    Sensory input

    Motor input Motor input

    Sensory input

    Semakin banyak input selalu menghasilkan lebih banyak output, dan begitu sebaliknya. Siklus ini merupakan landasan bagaimana kita belajar untuk mengeksplor dan memahami lingkungan kita. Supaya siklus ini dapat terus berlangsung, sistem saraf pusat harus memproses dan merespons input sensoris melalui pergerakan motorik yang terjadi. Sedangkan untuk dapat terjadi suatu pergerakan motorik, dibutuhkan berbagai mekanisme yang cukup kompleks dan saling mendukung satu sama lain.

    Banyak orang tidak menyadari bahwa sebetulnya sangat banyak komponen yang dibutuhkan seorang individu untuk dapat melakukan gerakan yang amat sederhana sekalipun. Seorang bayi yang melakukan gerakan berguling dari posisi telentang, sebetulnya melakukan gerakan gerakan kombinasi antara gerakan refleks maupun gerakan yang disengaja (voluntary movements) dan bayi tersebut menggunakan bantuan dari hampir seluruh panca inderanya. Pergerakan berguling tersebut membutuhkan kestabilan di tiap tiap tahap pergerakannya, dan juga membutuhkan tonus otot yang baik. Pergerakan motorik biasanya terjadi sebagai respons terhadap stimulasi sensoris baik visual, taktil, maupun pendengaran. Sebagai contoh, bayi mungkin melakukan gerakan berguling (motorik) karena dia mendengar suara ibunya (sensoris) tapi dia tidak dapat menemukan / melihat di mana ibunya berada. Atau bayi melakukan gerakan tersebut mungkin karena ia ingin meraih mainannya yang tidak mungkin terjangkau jika dia tidak mendekati mainan tersebut. Saat dia berguling, bayi membutuhkan kesadaran persepsi untuk mengetahui tungkai mana yang harus bergerak lebih dulu dan bergerak kemudian. Kemampuan sensoris proprioseptif nya akan membuat dia mengetahui bagaimana dan kemana tungkainya harus bergerak, sedangkan kemampuan sensoris vestibular nya membuat dia merasa aman melakukan gerakan berguling tersebut. Selain itu, gerakan tersebut juga dibarengi dengan kemampuan bayi memperkirakan kecepatan gerakan berguling tersebut dan besarnya usaha/tenaga yang harus dikeluarkan bayi untuk melakukan gerakan motorik tersebut.

    SISTEM SENSORI-MOTOR YANG ”TIDAK KELIHATAN”

    Tidak seperti sistem lain dalam tubuh kita yang mudah terlihat dan dimengerti, yaitu sistem jantung, sistem pernapasan, sistem pencernaan – sistem sensori-motor merupakan sistem yang mempunyai peranan penting dalam pengaturan fungsi tubuh, namun mungkin lebih sulit dipahami karena ”tidak kelihatan”. Sistem sensoris ini merupakan sistem yang terbangun dari berbagai sistem yang saling berhubungan satu sama lain. Jika kita misalkan otak kita sebagai komputer, maka sistem sensoris ini – yaitu mata, kulit, saraf – bertindak sebagai kabel dan konduktor dari komputer tersebut, dan bertanggung jawab pada sistem transmisi semua data yang masuk untuk diteruskan ke dalam komputer dan diproses lebih lanjut. Baik tidaknya integrasi sistem tersebut mempengaruhi sikap, emosi dan kualitas pergerakan motorik individu yang bersangkutan.

    Mudah untuk dimengerti bahwa sistem sensoris (panca indera) berperan ”menolong” kita: indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan dan penghidu melindungi kita dari lingkungan yang membahayakan. Indera-indera tersebut membuat kita menyadari adanya stimulus bahaya di lingkungan kita: misalnya seorang anak menyadari untuk tidak memegang tutup panci yang panas karena tangannya dapat terbakar, kita tahu untuk tidak menyebrang jalan manakala melihat hiruk pikuk kendaraan yang berlari kencang atau mendengar bunyi klakson mendekat ke arah kita, atau kita dapat mencium bau asap dan seketika mampu mendeteksi adanya bahaya jauh sebelum kita mencapai lokasi penyebab kebakaran terjadi.

    BAGAIMANA SISTEM SARAF PUSAT (SENSORIS) MEMPROSES PERGERAKAN (MOTORIK)

    Seperti yang telah dijelaskan, pergerakan motorik terjadi berdasarkan adanya stimulasi input sensoris. Hal tersebut terjadi melalui serangkaian proses yang terorganisasi melalui sistem saraf pusat. Sistem ini menerima input sensori dari reseptor-reseptor eksteroseptif (yaitu reseptor untuk penglihatan, pendengaran, pengecapan, penghidu, rasa nyeri dan reseptor pengenalan suhu), dari propioseptor (reseptor yang terdapat pada otot, tendo, ligamen, sendi dan selaput otot), serta dari sistem vestibular (informasi diterima melalui telinga bagian dalam mengenai keseimbangan, pergerakan dan gravitasi).

    Sistem vestibular terdapat di telinga bagian dalam dan diaktifkan oleh pergerakan kepala dan gravitasi. Sistem ini menolong kita mengetahui apakah kita sedang bergerak atau tidak atau apakah benda benda di sekitar kita sedang bergerak atau tidak. Pergerakan cairan di telinga bagian dalam akan memberi input pada otak tentang ke arah mana kita sedang bergerak – horisontal, vertikal, rotasional. Sistem vestibular mengkomunikasikan perubahan posisi ini kepada otot otot mata dan bagian lain di otak yang mengendalikan pergerakan. Sistem ini juga mengatur kecepatan dan durasi pergerakan yang terjadi, mengendalikan posisi kita untuk berdiri dan melawan gravitasi. Selain itu juga turut berperan dalam mengatur keseimbangan postur tubuh, tonus otot dan pergerakan otot bola mata secara cepat. Dengan adanya sistem vestibular yang berfungsi dengan baik, seorang anak akan tetap merasa aman sekalipun berada dalam ayunan / gendongan orang tuanya, atau saat melompat-lompat di atas tempat tidur, saat memanjat tangga atau bergelantungan di atas pohon.

    Sistem proprioseptif diaktifkan oleh pergerakan yang menstimulasi reseptor-reseptor khusus yang terdapat pada otot, sendi dan kulit. Sistem ini memberitahu kita di mana letak kepala, badan dan tungkai kita tanpa kita perlu melihat ke arah organ organ tersebut berada. Kita tahu bahwa kedua tungkai kita bersilangan di bawah meja, mampu menyalin suatu tulisan tanpa perlu melihat bagaimana jari-jari kita bergerak, mampu membuka pintu atau menyalakan lampu dalam kegelapan sekalipun. Sistem ini juga membuat kita tahu seberapa banyak tenaga yang dipergunakan oleh otot kita untuk bergerak dan seberapa cepat otot tersebut mengalami peregangan. Sistem proprioseptif yang bekerja sama dengan sistem vestibular yang baik membantu kita bergerak dalam koordinasi dan kendali yang baik: tidak terlalu cepat ataupun tidak terlalu lambat. Selain itu, kedua sistem yang berjalan baik ini juga membantu seorang anak untuk melakukan perencanaan gerak yang lebih baik. Kemampuan perencanaan gerak (praxis) adalah kemampuan untuk merencanakan, mengatur dan menjalankan suatu gerakan motorik tertentu. Anak yang memiliki kemampuan praxis yang baik dapat merangkak di bawah meja tanpa membenturkan kepalanya, atau dapat merangkak di sepanjang lorong tanpa kehilangan arah, atau dapat memanjat kursi dan duduk sendiri tanpa terjatuh.

    Kebanyakan orang akan menjawab bahwa indera terpenting adalah indera penglihatan dan pendengaran karena penggunaan dan fungsi kedua panca indera tersebut memang terlihat nyata. Namun sebenarnya indera perabaan (taktil), pergerakan dan posisi tubuh juga memegang peranan sangat penting dalam fungsi kehidupan bayi sehari-hari. Bahkan indera perabaan dan sistem vestibular serta proprioseptif ini sudah mulai berfungsi dalam sistem yang terintegrasi segera setelah bayi dilahirkan.

    Di bulan-bulan pertama kehidupannya, bayi belajar mengenal lingkungannya terutama sekali melalui sentuhan karena sistem sensoris sentuhan (taktil) inilah yang paling banyak berkembang di awal kehidupannya. Sistem taktil ini ada yang berfungsi sebagai sistem proteksi atau perlindungan dan ada juga yang berfungsi sebagai sistem diskriminasi atau pembedaan. Sistem proteksi membuat bayi menyadari adanya stimulasi bahaya. Misalnya bayi menyadari sesuatu benda yang panas dan tidak mau menyentuhnya. Sedangkan sistem diskriminasi memberi tahu bayi mengenai sifat alamiah, kualitas dan kuantitasi stimulus yang masuk. Bayi dapat membedakan di bagian mana tubuhnya sedang dibelai, dicium, merasakan apakah sedang mendapatkan sentuhan ringan atau pelukan erat, dan sebagainya. Bayi juga belajar mengenali bentuk, tekstur serta ukuran suatu objek melalui (awalnya) pengecapan (mouthing object) dan selanjutnya melalui manipulasi objek tersebut menggunakan kedua tangannya.

    Untuk dapat menginterpretasikan seluruh stimulus yang terdapat di sekitarnya secara akurat dan memberi respons terhadap stimulus tersebut dengan akurat juga, maka seluruh sistem sensoris harus dapat berfungsi dengan tepat dan berintegrasi satu sama lain. Kemampuan ini dikenal dengan nama integrasi sensoris (sensory integration).

    PERKEMBANGAN SENSORI-MOTOR

    Di usia satu bulan, otot leher bayi belum cukup kuat untuk menyangga kepalanya untuk waktu yang lama. Bayi hanya dapat mengangkat kepalanya untuk beberapa saat jika dalam posisi telungkup. Pergerakan tungkai dipengaruhi oleh refleks-refleks primitifnya misalnya startle reflex dimana bayi akan merentangkan seluruh tungkai dan tangannya dan meregangkan jari jarinya saat mendapatkan stimulus suara yang keras atau tiba-tiba. Setelah mencapai usia 6 minggu, refleks refleks primitif berangsur menghilang dan kekuatan serta koordinasi bayi menjadi lebih baik.

    Di usia 3 bulan, bayi mulai dapat mengontrol pergerakan kepalanya. Dalam posisi telungkup bayi akan melatih kekuatan otot leher dan pergerakan kepalanya. Sekitar usia 4 bulan, bayi dapat mengendalikan keseimbangan posturalnya antara kepala, leher dan badannya; kebanyakan bayi dapat mengendalikan keseimbangan kepalanya untuk beberapa saat jika berada dalam posisi yang stabil . Di usia ini pula, bayi mulai bermain dengan tangannya dan mulai meraih objek dengan sengaja, bukan merupakan suatu gerakan refleks..

    Antara usia 4-6 bulan, keseimbangan dan pergerakan bayi bertambah baik seiring kemampuannya untuk menggunakan dan mengkoordinasikan otot-otot besar. Bayi mulai dapat berguling dan mungkin dapat belajar duduk dengan sokongan tangan mereka di depan badan (posisi tripod). Bayi mulai meraih objek dengan kedua tangannya atau kedua telapak tangannya.

    Kekuatan dan koordinasi otot makin baik saat bayi memasuki usia 6-9 bulan. Di usia 7 bulan bayi hampir sudah dapat melihat objek sebagaimana kemampuan orang dewasa. Bayi mampu mengkoordinasikan pergerakan tungkai dan batang tubuh, mulai duduk sendiri dengan stabil, merangkak menggunakan bantuan kedua tangan dan kakinya. Sebagian bayi bahkan sudah mulai berusaha melakukan gerakan untuk berdiri.

    Antara usia 9 dan 12 bulan, bayi mulai mengeksplor dunia sekitarnya menggunakan panca indera mereka. Bersamaan dengan itu, bayi semakin pandai mengkoordinasikan gerakan otot otot halus (otot tangan dan jari-jari) sehingga mampu mengambil objek yang lebih kecil dengan ibu jari dan jari jari lainnya. Di usia ini bayi kerap memasukkan objek ke dalam mulutnya untuk “mempelajari” rasa dan tekstur suatu objek. Selain itu, bayi sudah semakin baik mengkoordinasikan otot otot besarnya sehingga mulai mampu berdiri dan merambat dari satu tempat ke tempat lain sambil berpegangan pada kursi/meja untuk kemudian mampu berjalan.

    Sejalan dengan semakin matangnya pertumbuhan dan perkembangan otak, maka anak mulai mampu berjalan di usia rata-rata 12 bulan. Setelah anak mampu mencapai kemampuan berjalan , berarti dia sudah ”siap” untuk mempelajarai ketrampilan-ketrampilan lain yang membutuhkan koordinasi otot otot kecil misalnya ketrampilan memegang alat tulis, memegang sendok untuk makan dan memainkan objek objek kecil lainnya.

    Di usia 12 sampai 15 bulan anak mampu berlutut, membungkuk dan berjalan mundur. Selain itu juga mulai mampu bermain dan melempar bola yang belum terarah, memasukkan benda benda kecil dalam suatu wadah / cangkir, menirukan tepuk tangan dan membuka tutup pintu sendiri.

    Antara usia 15 sampai 18 bulan anak mulai belajar naik turun tangga walau masih menggunakan bantuan kedua tangannya, mampu berjalan mundur sambil menarik mainan dengan tali, menggunakan sendok dengan lebih baik, memindahkan kubus dari satu wadah ke wadah lain, menyusun 4-5 kubus ke atas, dan mulai mengenal satu organ tubuhnya sendiri misalnya mata atau hidung.

    Menjelang usia 24 bulan anak sudah mampu menendang bola yang lebih kecil (ukuran bola tennis) dan mulai mampu melempar bola terarah ke suatu keranjang yang besar. Anak sudah bisa melompat, mulai mampu membuka sepatu dan kaos kakinya sendiri, menggunakan alat makan lebih trampil lagi, mengenal organ tubuh lebih banyak dan menyusun kubus lebih banyak dan lebih rapi lagi.

    Referensi:

    Keterlambatan Motorik: Apakah Suatu Cerebral Palsy (CP)? April 2, 2009

    Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
    Tags: , , , , , , , , ,
    add a comment

    Dr. Kristiantini Dewi, SpA

    INDIGROW – Februari 2009

    Perkembangan mental bayi sampai usia 18 bulan tergantung pada kemampuannya bergerak secara normal. Gangguan (sensori) motor menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk mengenali lingkungannya. Misalnya seorang anak 9 bulan yang belum bisa duduk tegak tidak akan menampilkan respons maksimal jika diajak memanipulasi suatu mainan yang membutuhkan koordinasi lebih kompleks dari kedua tangannya, hal ini disebabkan karena anak tersebut masih sibuk memikirkan upaya untuk menjaga agar postur duduknya mantap terlebih dahulu.

    Kemampuan motorik normal yang ditandai dengan perkembangan tonus otot yang normal, menghilangnya refleks primitif (yaitu reflex yang hanya normal ada pada bayi baru lahir), munculnya reaksi “righting” atau “balancing”, SANGAT BERGANTUNG pada manipulasi / stimulus yang dialami bayi melalui pengasuhan ibu dan lingkungannya.

    Apakah bayi saya berkembang normal…

    • Yang TERPENTING à pelajari, kuasai milestone tahapan perkembangan normal
    • Setiap bayi mempunyai kecepatan perkembangan yang mungkin berbeda tetapi HARUS TETAP DALAM RENTANG NORMAL.
    • Setiap kali ditemukan milestone perkembangan yang terlambat, HARUS DIANGGAP TIDAK NORMAL sampai dibuktikan sebaliknya oleh dokter

    Salah satu bentuk tersering dari suatu keterlambatan motorik adalah suatu Cerebral Palsy (CP). Oleh karena itu mari kita mengenal CP lebih dalam lagi.

    APA ITU CP?

    Suatu gangguan motorik yang ditandai dengan gangguan postur dan gerakan, yang disebabkan adanya cedera pada otak saat otak masih dalam masa pertumbuhan (masih imatur). CP biasanya disertai dengan gangguan lain, dan seringkali diikuti masalah emosi dan kesulitan masalah sosial dalam keluarga.

    Tingkat keparahan suatu CP bervariasi, mulai dari “gak bisa apa-apa sama sekali” , “gangguan berbahasa” , sampai dengan …”bisa jalan, lari, ataupun melakukan ketrampilan lain, walaupun dengan kualitas yang tidak sempurna (clumsy)”.

    Angka kejadian di Amerika: 2-3 bayi per 1000 kelahiran.

    APA PENYEBAB CP ?

    CP terjadi akibat adanya suatu cedera pada otak (sistem susunan saraf pusat) sebelum otak sempurna berkembang (yakni sejak dalam episode janin sampai dengan 2 tahun pertama kehidupannya), berarti cedera tersebut dapat terjadi sebelum lahir, saat lahir, segera setelah lahir atau setelah lahir. Cedera pada otak mengakibatkan perkembangan sistem saraf menjadi terganggu, yang ditandai dengan terganggunya kontrol postural, keseimbangan dan pergerakan. Selain itu otot yang terkena menjadi tidak berfungsi maksimal dan tidak terkoordinasi. Akibatnya, otot jadi lemah, dengan tonus yang tidak normal (tonus terlalu tinggi, atau tonus terlalu lemah)

    FAKTOR RISIKO

    Risiko tertinggi terjadinya CP adalah usia kehamilan < 32 minggu (prematur), kesulitan bernapas saat bayi dilahirkan dan berat janin saat dilahirkan < 2500 gram.

    Faktor Risiko lain……….SANGAT BANYAK, namun TIDAK SEMUA bayi dengan faktor risiko tersebut kelak menjadi CP.

    FAKTOR RISIKO LAIN

    1. Gangguan sistem reproduksi, riwayat kehamilan yang tidak normal sebelumnya, misalnya janin mati dalam kandungan, keguguran
    2. Komplikasi tali pusat (infeksi, perkapuran)
    3. Perdarahan saat trimester terakhir kehamilan
    4. Presentasi bahu
    5. Preeklampsia atau eklampsia
    6. Infeksi janin dalam kandungan (misal:TORCH)
    7. Gangguan kesehatan ibu dengan komplikasi jantung dan paru
    8. Trauma / benturan keras pada perut saat hamil
    9. Konsumsi obat-obatan yang merusak janin
    10. Faktor genetik
    11. Pertumbuhan janin lambat karena malnutrisi
    12. Kehamilan ganda
    13. Malformasi kongenital, misal: gangguan sistem saraf pusat
    14. Faktor sosial ekonomi yang kurang baik

    BAGAIMANA CP DIDIAGNOSIS

    Biasanya penyandang CP datang dengan gambaran klinis yang khas yaitu postur tubuh yang abnormal. Keluhan lain biasanya keterlambatan pencapaian ketrampilan baru sesuai dengan usia anak (terlambat duduk, terlambat merangkak, dsb.

    Dokter yang memeriksa akan menemukan gejala sbb:

    • Menetapnya perilaku infantil (bayi baru lahir) termasuk menetapnya refleks primitif
    • Adanya gambaran perkembangan motorik yang lain, yang tidak seperti bayi /

    anak normal lainnya: hipertonus, hipotonus, gerakan tidak terkendali, dsb

    tanda-tanda lesi upper motor neuron

    Tidak ada uji laboratorium yang spesifik untuk CP

    USIA BERAPA YANG PALING DIPERCAYA UNTUK MENEGAKKAN DIAGNOSIS CP

    Perkembangan fungsi sistem saraf sangat pesat dan mempunyai “rentang” normal yang cukup besar sampai usia 1 tahun, seringkali masih agak sulit untuk menegakkan diagnosis CP sebelum 1 tahun.

    Setelah usia 1-1,5 tahun, keterlambatan motorik lebih jelas, gangguan fungsi sistem saraf lebih spesifik sehingga tidak perlu ada keraguan lagi dalam menegakkan diagnosis CP setelah usia 1 tahun.

    PERUBAHAN MANIFESTASI KLINIS

    Manifestasi klinis CP bisa berubah sejalan dengan kematangan perkembangan sistem saraf pusat. Diagnosis bisa jadi berubah sejalan dengan tumbuh kembang sang bayi menjadi individu anak yang lebih besar dan lebih aktif. Contoh: kekakuan semakin meningkat, gerakan tidak terkendali baru mulai terlihat setelah usia 2 atau 3 tahun, ataksia dapat didiagnosis setelah anak bisa berjalan, atau saat diharapkan kemampuan menggenggamnya menjadi lebih sempurna, kelumpuhan satu tungkai (monoplegia) menjadi satu sisi tubuh (hemiplegia).

    GANGGUAN DAN HENDAYA YANG SERING MENYERTAI CP

    • Gangguan penglihatan
    • Gangguan pendengaran
    • Gangguan berbahasa ekspresif
    • Gangguan berbahasa reseptif
    • Gangguan persepsi (agnosia)
    • Gangguan visual-motor (dyspraxia)
    • Gangguan prilaku
    • Kesulitan belajar
    • Kesulitan komunikasi
    • Epilepsi
    • Gangguan kognisi (retardasi mental)
    • Gangguan kehidupan sosial
    • Gangguan nutrisi

    YANG MEMPENGARUHI LONG-TERM OUTCOME PENYANDANG CP

    • Berat ringannya CP
    • Gangguan yang menyertai: Ada/tidak, jenisnya, jumlahnya
    • Faktor Usia
    • Faktor Sosial
    • Faktor Ekonomi
    • Faktor kepribadian
    • Tingkat kepandaian / kognisi

    TANDA BAHAYA GANGGUAN MOTORIK !!

    • Tubuh terlalu lemas, atau tubuh terlalu kaku
    • Tangan masih mengepal di usia > 4 bulan
    • Terlambat à 3 bulan belum bisa angkat kepala, 9 bulan belum bisa duduk, dsb
    • Gangguan postural
    • Kedua tungkai bawah menyilang (posisi menggunting) jika badan diberdirikan, jika berjalan; berjalan selalu jinjit
    • Berjalan dengan paha dan lutut menekuk
    • Tidak dapat menjumput benda kecil dengan ujung jari sampai usia 1 tahun
    • Adanya dominasi salah satu sisi tangan sebelum usia 18 bulan
    • Tetap memasukkan benda ke dalam mulut disertai ngiler berlebihan sampai usia 2 tahun

    PENTING !

    1. Stimulasi lingkungan SANGAT PENTING bagi perkembangan motorik.
    2. Pencapaian “milestone” perkembangan memang penting, namun lebih penting lagi untuk mengetahui juga KUALITAS perkembangan tersebut.
    3. Penyimpangan perkembangan TIDAK LANGSUNG BERARTI bahwa anak pasti mengalami gangguan neurologis namun TIDAK BIJAKSANA untuk berdiam diri tanpa intervensi.
    4. Ditemukannya suatu deviasi / penyimpangan perkembangan motorik, HARUS dianggap sebagai suatu gangguan motorik akibat gangguan sistem saraf pusat, kecuali jika deviasi tersebut berdiri tunggal.
    5. Penelitian menunjukkan bahwa kecepatan tertinggi manusia mempelajari sesuatu adalah di periode 24 bulan pertama kehidupannya.

    Intervensi dan terapi DINI adalah SANGAT UTAMA jika ditemukan kecurigaan suatu keterlembatan !

    Daftar pusaka

    Menkes JH, Sarnat HB. Perinatal asphyxia and trauma. Child neuroloy, seventh edition. Lippincott Williams & Wilkins, 2006.

    Motor development in children, Ermellina Fedrizzi, Guilano Avanzini and aolo Crenna (Eds), 1994 John Libbey & Company Ltd. pp.51-58.

    Hello world! April 1, 2009

    Posted by indigrow in Uncategorized.
    add a comment

    Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!