jump to navigation

ANAK GAK BISA DIAM…, apakah termasuk ANAK BERBAKAT ? Februari 2, 2010

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Dari ruang praktek dokter anak

Mamah Rio merasa sudah saatnya berkonsultasi ke dokter mengenai prilaku buah hatinya yang akhir-akhir ini mengkhawatirkannya. Pasalnya, sudah 3 bulan ini, Rio – sekarang berusia 5 tahun 3 bulan – mulai bersekolah di TK B yang baru, setelah setahun sebelumnya bersekolah di tempat lain untuk jenjang TK A. Dan dalam kurun waktu yang cukup singkat itu, Mamah Rio sudah beberapa kali “diundang” oleh pihak sekolah untuk mendiskusikan prilaku Rio. Memang, acara pindah sekolah ini sebetulnya usulan Rio sendiri, karena sekolah yang baru ini lebih banyak mainannya. Begitu kata Rio. Tapi kalau boleh jujur, sebetulnya Mamah Rio menyetujui usulan sang anak karena guru di TK yang lama tersebut pernah mengutarakan mereka kewalahan menghadapi Rio yang tidak bisa diam, selalu bertanya ini itu tidak ada habisnya, bahkan selalu menyerobot kesempatan menjawab yang diberikan bu guru untuk teman-temannya. Tapi ternyata di sekolahnya yang barupun, guru mengeluhkan hal yang sama. Malah keluhan gurunya lebih spektakuler lagi. Menurut laporan guru, kalau aktivitas belajar adalah seputar hal-hal yang baru, Rio pasti semangat sekali mengerjakannya. Apalagi kalau kelihatannya hal baru tersebut cukup menantang atau cukup sulit, seperti menyusun puzzle, membuat model tertentu dari lego, atau menggunting pola dan menempelkannya. Rio bisa asyik sendiri sampai lebih dari setengah jam tanpa teralihkan dengan kegiatan lain. Selain itu Rio sangat suka dan sangat pandai menggambar. Walaupun Rio cenderung tidak menuruti aturan menggambar yang baku, seperti menggambar matahari ada 5, lalu diajarkan berlatih menggambar lingkaran, Rio malah membuat tokoh kartun dari lingkaran yang sudah dibuatnya tersebut. Rio selalu mempunyai alasan menarik atas semua hasil pekerjaannya yang lain dari teman-temannya itu. Walaupun Rio sering mendominasi kelas, tapi dia juga sering tampil bak pahlawan, menolong teman-temannya yang kesulitan, misalnya membantu mewarnai, mengguntingkan pola, atau menyusun puzzle.  Kadang terdengar komentar Rio menasihati temannya, seperti gaya orang dewasa. Tapi, kalau kegiatan yang diberikan guru tidak menarik bagi Rio atau memang sudah pernah diajarkan, maka Rio jadi seperti uring-uringan, hilir mudik di dalam kelas, tidak mau mengerjakan instruksi bu guru, atau malah seperti orang yang melamun dan kebosanan.

Sekilas cerita di atas mencerminkan prilaku anak yang tidak bisa diam, dan jika dokter tidak cermat melakukan penilaian dapat tertukar-tukar menggolongkan Rio sebagai anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau yang dikenal sebagai Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), atau mungkin tertukar dengan gangguan prilaku lainnya. Padahal kita simak tadi, Rio bisa menghabiskan waktu cukup lama pada aktivitas yang disukainya. Tentu hal ini menyingkirkan kemungkinan Rio tergolong anak ADHD.

Setelah dilakukan penilaian dan observasi prilaku yang cermat, juga serangkaian psikotest, ternyata didapatkan tingkat kognisi (IQ) Rio sangat jauh di atas rata-rata, yaitu 147. Level IQ yang lebih dari 130 disebut juga dengan GIFTEDNESS atau ANAK BERBAKAT. Sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan anak berbakat?

Anak berbakat adalah anak yang menunjukkan kemampuan luar biasa di dalam bidang intelektual (level IQ>130; Level IQ normal adalah 90-110), kreatif, atau berprestasi sangat istimewa di bidang akademis tertentu, biasanya disertai kemampuan memimpin, atau berprestasi luar biasa di bidang seni.  Sebanyak 3 sampai 5% dari populasi anak merupakan anak berbakat (di Amerika Serikat) dan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan seorang anak menjadi anak berbakat yaitu faktor genetik, kemampuan untuk mengerti simbol-simbol, adanya kesempatan untuk mengembangkan bakat, dukungan orang tua untuk mengembangkan bakat, adanya aktivitas yang mengakomodasi bakatnya, dan pengaruh positif teman sebaya serta lingkungannya terhadap bakat yang dimilikinya.

Biasanya anak berbakat memiliki kepribadian yang baik, cenderung sensitif dan mudah berempati. Mereka juga biasanya sangat perfeksionis, sangat akurat, sangat mengedepankan logika, tekun dan gigih dalam mengerjakan suatu “tugas” yang menantang. Di satu pihak, mereka sangat semangat mempelajari hal-hal baru, dan memang sangat cepat menangkap pelajaran, namun mereka tidak begitu saja langsung menurut pada instruksi atau aturan yang diberikan. Mereka cenderung mempertanyakan alasan-alasan kenapa peraturan tersebut diberlakukan, atau kenapa mereka harus mengerjakan sesuatu hal, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan lain yang sering diajukan adalah seputar hal-hal yang abstrak atau gaib, seperti pertanyaan mengenai Tuhan, malaikat, dsb. Anak berbakat menunjukkan kemampuan berpikir kompleks dan memiliki kemampuan “judgement” moral yang lebih “advanced” dibandingkan usianya. Misalnya, Rio tidak mau ada keluarga yang main kartu di rumah, karena menurutnya bermain kartu itu sama dengan bermain judi, sedangkan judi adalah kegiatan yang haram, dan Rio tidak suka rumahnya dijadikan tempat kegiatan haram.  Anak berbakat juga sangat kreatif, dan senang bermain konstruktif atau menciptakan sesuatu. Rio bisa asyik bermain lego menghasilkan berbagai model yang menyerupai aslinya, misalnya robot-robotan, jerapah, kereta api, mobil, dll, padahal Rio melakukan itu tanpa mencontoh pola. Rio juga bisa menggambar hal-hal yang tidak sesuai “pakem” yang diajarkan, karena kreativitasnya.

Nah, kalau Rio memang berbakat, kenapa orang tua dan gurunya jadi kewalahan? Ternyata baik Mamah Rio maupun sebagian guru tidak mengenali bakat Rio sehingga Rio sering nampak sebagai anak yang tidak penurut, semaunya sendiri, tidak bisa diam, dan selalu harus terpenuhi keinginannya. Setelah dilakukan pertemuan antara dokter, Mamah Rio dan pihak guru, dibuatlah situasi yang sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi bakat Rio tanpa mengganggu lingkungan sosialnya. Guru memberikan kesempatan pada Rio untuk mengerjakan permainan atau tugas yang sama dengan teman-temannya, tapi khusus untuk Rio, diberikan instruksi yang lebih banyak dan lebih kompleks, sesuai dengan kemampuannya. Rio juga banyak diajak berdialog mengenai hal-hal yang bervariasi, tidak hanya seputar kegiatan sekolah tapi juga mengenai kehidupan sehari-hari yang menarik bagi Rio dan dapat dijelaskan secara logis, misalnya membahas tentang kenapa dan kapan timbul pelangi, membahas kenapa bisa turun hujan, atau bisa terjadi guntur, dan seterusnya. Rio juga diperkenankan membawa buku buku ceritanya ke sekolah dan menceritakannya di depan teman-temannya dan gurunya. Selain itu Rio diperkenankan menjadi “asisten” bu guru jika ada teman-teman yang kesulitan mengerjakan tugas.  Ternyata pola kegiatan baru tersebut sangat menyenangkan bagi Rio. Rio tambah semangat pergi ke sekolah, bahkan sudah “sibuk” menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke sekolah, dan tidak pernah hilir mudik atau bersikap kebosanan di dalam kelas. Dukungan pihak sekolah dan orang tua sangat mempengaruhi sikap, kepribadian dan prestasi Rio di kemudian hari.

Referensi:

Giftedness. JM. Sattler. Assessment of children, behavioral and clinical applications, Jerome M. Sattler, Publisher, Inc, San Diego, 2002

Kristiantini Dewi, dr., SpA

indiGrow Child Development Center

Jalan Haruman 35 Bandung Telp. 022-7303244

%d blogger menyukai ini: