jump to navigation

Perkembangan Sensori-Motor April 2, 2009

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , , , , , ,
trackback

Perkembangan Sensori-Motor

Dr. Kristiantini Dewi, SpA

Tidak ada yang lebih penting bagi orang tua selain yakin bahwa pertumbuhan dan perkembangan buah hatinya berjalan normal sesuai dengan tahapan / milestone normalnya. Orang tua bersedia bersusah payah melakukan apa saja demi tumbuh kembang si kecil, mulai dari menyediakan makanan yang segar untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, sampai memutarkan musik klasik ala Mozart dengan harapan dapat meningkatkan intelegensi sang anak. Namun seringkali orang tua tidak terlalu ambil pusing dengan perkembangan sensori-motor anaknya karena berpikir bahwa ketrampilan, kekuatan dan koordinasi motorik akan berkembang dengan sendirinya tanpa masalah yang berarti. Padahal, perkembangan sensori-motor, afeksi (emosi), dan kognisi saling berhubungan erat dalam satu siklus sensory input dan motor output yang berkesinambungan. Input sensoris (misalnya, ibu menyentuh pipi bayi) akan menyebabkan terjadinya output motorik (bayi secara otomatis akan menolehkan kepalanya ke arah sentuhan). Semakin banyak input sensoris yang diterima, makin banyak pula jawaban output motorik yang ditimbulkannya. Sebaliknya, jika perkembangan motorik mengalami hambatan, maka input sensoris pun mengalami hal yang sama. Jika seorang bayi tidak dapat merangkak menuju mainan yang dilihatnya berada di seberang ruangan (berarti terjadi hambatan motorik), maka bayi tersebut cenderung “melupakan” mainan tersebut. Jika dia melupakan mainan tersebut, maka dia tidak dapat mengeksplorasi karakteristik mainan tersebut, baik bentuknya, warnanya, tekstur maupun rasanya (berarti terjadi hambatan sensoris). Dengan demikian jika bayi tidak mampu mengeksplorasi sesuatu objek karena hambatan motoriknya, maka otaknya tidak akan pernah mempelajari karakteristik objek tersebut lebih jauh atau kehilangan input sensorisnya.

Hubungan yang erat antara pergerakan (motorik) dengan sistem sensoris dapat digambarkan dalam ilustrasi di bawah ini:

Sensory input

Motor input Motor input

Sensory input

Semakin banyak input selalu menghasilkan lebih banyak output, dan begitu sebaliknya. Siklus ini merupakan landasan bagaimana kita belajar untuk mengeksplor dan memahami lingkungan kita. Supaya siklus ini dapat terus berlangsung, sistem saraf pusat harus memproses dan merespons input sensoris melalui pergerakan motorik yang terjadi. Sedangkan untuk dapat terjadi suatu pergerakan motorik, dibutuhkan berbagai mekanisme yang cukup kompleks dan saling mendukung satu sama lain.

Banyak orang tidak menyadari bahwa sebetulnya sangat banyak komponen yang dibutuhkan seorang individu untuk dapat melakukan gerakan yang amat sederhana sekalipun. Seorang bayi yang melakukan gerakan berguling dari posisi telentang, sebetulnya melakukan gerakan gerakan kombinasi antara gerakan refleks maupun gerakan yang disengaja (voluntary movements) dan bayi tersebut menggunakan bantuan dari hampir seluruh panca inderanya. Pergerakan berguling tersebut membutuhkan kestabilan di tiap tiap tahap pergerakannya, dan juga membutuhkan tonus otot yang baik. Pergerakan motorik biasanya terjadi sebagai respons terhadap stimulasi sensoris baik visual, taktil, maupun pendengaran. Sebagai contoh, bayi mungkin melakukan gerakan berguling (motorik) karena dia mendengar suara ibunya (sensoris) tapi dia tidak dapat menemukan / melihat di mana ibunya berada. Atau bayi melakukan gerakan tersebut mungkin karena ia ingin meraih mainannya yang tidak mungkin terjangkau jika dia tidak mendekati mainan tersebut. Saat dia berguling, bayi membutuhkan kesadaran persepsi untuk mengetahui tungkai mana yang harus bergerak lebih dulu dan bergerak kemudian. Kemampuan sensoris proprioseptif nya akan membuat dia mengetahui bagaimana dan kemana tungkainya harus bergerak, sedangkan kemampuan sensoris vestibular nya membuat dia merasa aman melakukan gerakan berguling tersebut. Selain itu, gerakan tersebut juga dibarengi dengan kemampuan bayi memperkirakan kecepatan gerakan berguling tersebut dan besarnya usaha/tenaga yang harus dikeluarkan bayi untuk melakukan gerakan motorik tersebut.

SISTEM SENSORI-MOTOR YANG ”TIDAK KELIHATAN”

Tidak seperti sistem lain dalam tubuh kita yang mudah terlihat dan dimengerti, yaitu sistem jantung, sistem pernapasan, sistem pencernaan – sistem sensori-motor merupakan sistem yang mempunyai peranan penting dalam pengaturan fungsi tubuh, namun mungkin lebih sulit dipahami karena ”tidak kelihatan”. Sistem sensoris ini merupakan sistem yang terbangun dari berbagai sistem yang saling berhubungan satu sama lain. Jika kita misalkan otak kita sebagai komputer, maka sistem sensoris ini – yaitu mata, kulit, saraf – bertindak sebagai kabel dan konduktor dari komputer tersebut, dan bertanggung jawab pada sistem transmisi semua data yang masuk untuk diteruskan ke dalam komputer dan diproses lebih lanjut. Baik tidaknya integrasi sistem tersebut mempengaruhi sikap, emosi dan kualitas pergerakan motorik individu yang bersangkutan.

Mudah untuk dimengerti bahwa sistem sensoris (panca indera) berperan ”menolong” kita: indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan dan penghidu melindungi kita dari lingkungan yang membahayakan. Indera-indera tersebut membuat kita menyadari adanya stimulus bahaya di lingkungan kita: misalnya seorang anak menyadari untuk tidak memegang tutup panci yang panas karena tangannya dapat terbakar, kita tahu untuk tidak menyebrang jalan manakala melihat hiruk pikuk kendaraan yang berlari kencang atau mendengar bunyi klakson mendekat ke arah kita, atau kita dapat mencium bau asap dan seketika mampu mendeteksi adanya bahaya jauh sebelum kita mencapai lokasi penyebab kebakaran terjadi.

BAGAIMANA SISTEM SARAF PUSAT (SENSORIS) MEMPROSES PERGERAKAN (MOTORIK)

Seperti yang telah dijelaskan, pergerakan motorik terjadi berdasarkan adanya stimulasi input sensoris. Hal tersebut terjadi melalui serangkaian proses yang terorganisasi melalui sistem saraf pusat. Sistem ini menerima input sensori dari reseptor-reseptor eksteroseptif (yaitu reseptor untuk penglihatan, pendengaran, pengecapan, penghidu, rasa nyeri dan reseptor pengenalan suhu), dari propioseptor (reseptor yang terdapat pada otot, tendo, ligamen, sendi dan selaput otot), serta dari sistem vestibular (informasi diterima melalui telinga bagian dalam mengenai keseimbangan, pergerakan dan gravitasi).

Sistem vestibular terdapat di telinga bagian dalam dan diaktifkan oleh pergerakan kepala dan gravitasi. Sistem ini menolong kita mengetahui apakah kita sedang bergerak atau tidak atau apakah benda benda di sekitar kita sedang bergerak atau tidak. Pergerakan cairan di telinga bagian dalam akan memberi input pada otak tentang ke arah mana kita sedang bergerak – horisontal, vertikal, rotasional. Sistem vestibular mengkomunikasikan perubahan posisi ini kepada otot otot mata dan bagian lain di otak yang mengendalikan pergerakan. Sistem ini juga mengatur kecepatan dan durasi pergerakan yang terjadi, mengendalikan posisi kita untuk berdiri dan melawan gravitasi. Selain itu juga turut berperan dalam mengatur keseimbangan postur tubuh, tonus otot dan pergerakan otot bola mata secara cepat. Dengan adanya sistem vestibular yang berfungsi dengan baik, seorang anak akan tetap merasa aman sekalipun berada dalam ayunan / gendongan orang tuanya, atau saat melompat-lompat di atas tempat tidur, saat memanjat tangga atau bergelantungan di atas pohon.

Sistem proprioseptif diaktifkan oleh pergerakan yang menstimulasi reseptor-reseptor khusus yang terdapat pada otot, sendi dan kulit. Sistem ini memberitahu kita di mana letak kepala, badan dan tungkai kita tanpa kita perlu melihat ke arah organ organ tersebut berada. Kita tahu bahwa kedua tungkai kita bersilangan di bawah meja, mampu menyalin suatu tulisan tanpa perlu melihat bagaimana jari-jari kita bergerak, mampu membuka pintu atau menyalakan lampu dalam kegelapan sekalipun. Sistem ini juga membuat kita tahu seberapa banyak tenaga yang dipergunakan oleh otot kita untuk bergerak dan seberapa cepat otot tersebut mengalami peregangan. Sistem proprioseptif yang bekerja sama dengan sistem vestibular yang baik membantu kita bergerak dalam koordinasi dan kendali yang baik: tidak terlalu cepat ataupun tidak terlalu lambat. Selain itu, kedua sistem yang berjalan baik ini juga membantu seorang anak untuk melakukan perencanaan gerak yang lebih baik. Kemampuan perencanaan gerak (praxis) adalah kemampuan untuk merencanakan, mengatur dan menjalankan suatu gerakan motorik tertentu. Anak yang memiliki kemampuan praxis yang baik dapat merangkak di bawah meja tanpa membenturkan kepalanya, atau dapat merangkak di sepanjang lorong tanpa kehilangan arah, atau dapat memanjat kursi dan duduk sendiri tanpa terjatuh.

Kebanyakan orang akan menjawab bahwa indera terpenting adalah indera penglihatan dan pendengaran karena penggunaan dan fungsi kedua panca indera tersebut memang terlihat nyata. Namun sebenarnya indera perabaan (taktil), pergerakan dan posisi tubuh juga memegang peranan sangat penting dalam fungsi kehidupan bayi sehari-hari. Bahkan indera perabaan dan sistem vestibular serta proprioseptif ini sudah mulai berfungsi dalam sistem yang terintegrasi segera setelah bayi dilahirkan.

Di bulan-bulan pertama kehidupannya, bayi belajar mengenal lingkungannya terutama sekali melalui sentuhan karena sistem sensoris sentuhan (taktil) inilah yang paling banyak berkembang di awal kehidupannya. Sistem taktil ini ada yang berfungsi sebagai sistem proteksi atau perlindungan dan ada juga yang berfungsi sebagai sistem diskriminasi atau pembedaan. Sistem proteksi membuat bayi menyadari adanya stimulasi bahaya. Misalnya bayi menyadari sesuatu benda yang panas dan tidak mau menyentuhnya. Sedangkan sistem diskriminasi memberi tahu bayi mengenai sifat alamiah, kualitas dan kuantitasi stimulus yang masuk. Bayi dapat membedakan di bagian mana tubuhnya sedang dibelai, dicium, merasakan apakah sedang mendapatkan sentuhan ringan atau pelukan erat, dan sebagainya. Bayi juga belajar mengenali bentuk, tekstur serta ukuran suatu objek melalui (awalnya) pengecapan (mouthing object) dan selanjutnya melalui manipulasi objek tersebut menggunakan kedua tangannya.

Untuk dapat menginterpretasikan seluruh stimulus yang terdapat di sekitarnya secara akurat dan memberi respons terhadap stimulus tersebut dengan akurat juga, maka seluruh sistem sensoris harus dapat berfungsi dengan tepat dan berintegrasi satu sama lain. Kemampuan ini dikenal dengan nama integrasi sensoris (sensory integration).

PERKEMBANGAN SENSORI-MOTOR

Di usia satu bulan, otot leher bayi belum cukup kuat untuk menyangga kepalanya untuk waktu yang lama. Bayi hanya dapat mengangkat kepalanya untuk beberapa saat jika dalam posisi telungkup. Pergerakan tungkai dipengaruhi oleh refleks-refleks primitifnya misalnya startle reflex dimana bayi akan merentangkan seluruh tungkai dan tangannya dan meregangkan jari jarinya saat mendapatkan stimulus suara yang keras atau tiba-tiba. Setelah mencapai usia 6 minggu, refleks refleks primitif berangsur menghilang dan kekuatan serta koordinasi bayi menjadi lebih baik.

Di usia 3 bulan, bayi mulai dapat mengontrol pergerakan kepalanya. Dalam posisi telungkup bayi akan melatih kekuatan otot leher dan pergerakan kepalanya. Sekitar usia 4 bulan, bayi dapat mengendalikan keseimbangan posturalnya antara kepala, leher dan badannya; kebanyakan bayi dapat mengendalikan keseimbangan kepalanya untuk beberapa saat jika berada dalam posisi yang stabil . Di usia ini pula, bayi mulai bermain dengan tangannya dan mulai meraih objek dengan sengaja, bukan merupakan suatu gerakan refleks..

Antara usia 4-6 bulan, keseimbangan dan pergerakan bayi bertambah baik seiring kemampuannya untuk menggunakan dan mengkoordinasikan otot-otot besar. Bayi mulai dapat berguling dan mungkin dapat belajar duduk dengan sokongan tangan mereka di depan badan (posisi tripod). Bayi mulai meraih objek dengan kedua tangannya atau kedua telapak tangannya.

Kekuatan dan koordinasi otot makin baik saat bayi memasuki usia 6-9 bulan. Di usia 7 bulan bayi hampir sudah dapat melihat objek sebagaimana kemampuan orang dewasa. Bayi mampu mengkoordinasikan pergerakan tungkai dan batang tubuh, mulai duduk sendiri dengan stabil, merangkak menggunakan bantuan kedua tangan dan kakinya. Sebagian bayi bahkan sudah mulai berusaha melakukan gerakan untuk berdiri.

Antara usia 9 dan 12 bulan, bayi mulai mengeksplor dunia sekitarnya menggunakan panca indera mereka. Bersamaan dengan itu, bayi semakin pandai mengkoordinasikan gerakan otot otot halus (otot tangan dan jari-jari) sehingga mampu mengambil objek yang lebih kecil dengan ibu jari dan jari jari lainnya. Di usia ini bayi kerap memasukkan objek ke dalam mulutnya untuk “mempelajari” rasa dan tekstur suatu objek. Selain itu, bayi sudah semakin baik mengkoordinasikan otot otot besarnya sehingga mulai mampu berdiri dan merambat dari satu tempat ke tempat lain sambil berpegangan pada kursi/meja untuk kemudian mampu berjalan.

Sejalan dengan semakin matangnya pertumbuhan dan perkembangan otak, maka anak mulai mampu berjalan di usia rata-rata 12 bulan. Setelah anak mampu mencapai kemampuan berjalan , berarti dia sudah ”siap” untuk mempelajarai ketrampilan-ketrampilan lain yang membutuhkan koordinasi otot otot kecil misalnya ketrampilan memegang alat tulis, memegang sendok untuk makan dan memainkan objek objek kecil lainnya.

Di usia 12 sampai 15 bulan anak mampu berlutut, membungkuk dan berjalan mundur. Selain itu juga mulai mampu bermain dan melempar bola yang belum terarah, memasukkan benda benda kecil dalam suatu wadah / cangkir, menirukan tepuk tangan dan membuka tutup pintu sendiri.

Antara usia 15 sampai 18 bulan anak mulai belajar naik turun tangga walau masih menggunakan bantuan kedua tangannya, mampu berjalan mundur sambil menarik mainan dengan tali, menggunakan sendok dengan lebih baik, memindahkan kubus dari satu wadah ke wadah lain, menyusun 4-5 kubus ke atas, dan mulai mengenal satu organ tubuhnya sendiri misalnya mata atau hidung.

Menjelang usia 24 bulan anak sudah mampu menendang bola yang lebih kecil (ukuran bola tennis) dan mulai mampu melempar bola terarah ke suatu keranjang yang besar. Anak sudah bisa melompat, mulai mampu membuka sepatu dan kaos kakinya sendiri, menggunakan alat makan lebih trampil lagi, mengenal organ tubuh lebih banyak dan menyusun kubus lebih banyak dan lebih rapi lagi.

Referensi:

%d blogger menyukai ini: