jump to navigation

NONTON TV….., dampingi yuk…!! September 30, 2010

Posted by indigrow in Berbagi Ilmu & Pengalaman.
Tags: , , , , ,
comments closed

Banyak orang tua yang sangat mengkhawatirkan kebiasaan putra putrinya menonton televisi. Seperti yang sering kita temui dalam banyak keluarga, anak berteman dekat, bahkan seperti yang “nempel” dengan si kotak ajaib tersebut. Tidak jarang kita lihat anak yang punya kebiasaan bangun tidur langsung nonton tv, lalu makan pagi, makan siang maupun makan malam, semuanya dilakukan sambil nonton tv. Bahkan serin pula kita temukan anak yang belajar nya pun sambil menonton tv. Kalau sudah seperti ini, hirauan dari ayah dan bunda pun sepertinya angin lalu saja, malah kadang-kadang terpaksa harus “mengalah” pada kemauan anak-anaknya… Wah, sepertinya orang tua perlu kiat-kiat khusus ya untuk menyikapi “adat” si kecil…. Kita simak yuk, apa saja sih keuntungan dan kerugian menonton tv bagi si kecil, dan bagaimana trik nya agar putra putri kita mendapatkan manfaat maksimal dari kegiatan yang mengasyikan ini….

Keuntungan dan kerugian :

Tidak dapat disangkal lagi menonton tv memang merupakan kegiatan yang mengasyikkan, tidak hanya untuk anak-anak kita, tapi juga bagi kita orang dewasa. Televisi memang sarat dengan hiburan yang menyenangkan untuk segala usia, dan juga merupakan sarana pendidikan yang cukup efektif. Sebetulnya sudah banyak program pendidikan yang dikemas menarik ditayangkan di televisi, seperti tentang program mengenal huruf, mengenal angka, mempelajari benda-benda dan kegiatan-kegiatan sehari-hari, memperkenalkan adat istiadat tiap suku, sampai dengan program yang memandu anak membuat karya tertentu atau mengajak mereka mengenali dan memahami proses pembuatan suatu hal yang menarik (proses pembuatan film kartun, proses pembuatan coklat, dan lain-lain). Namun, jika kegiatan menonton tv menjadi dominan dalam kehidupan anak, dengan sendirinya akan membatasi peluang anak untuk melakukan kegiatan lain, yang mungkin tidak kalah pentingnya bagi perkembangan sang anak. Menonton tv merupakan kegiatan yang pasif, tidak ada interaksi aktif antara anak dengan acara yang ditontonnya. Padahal anak tumbuh dan berkembang membutuhkan kegiatan lain yang sifatnya interaktif, seperti bermain, berkomunikasi dengan lingkungannya, berolah raga, mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, dan juga butuh pengalaman nyata atas berbagai situasi dan kondisi dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal seperti itu tentu tidak bisa didapatkan dari hanya sekedar menonton tv. Selain itu, respons tiap anak terhadap acara tv sangat tergantung kepada usianya dan kematangan kepribadian / mentalnya. Kalau salah-salah menyajikan tontonan pada putra putri kita, wah…bisa-bisa bukan manfaat yang didapatkan melainkan hanya buang-buang waktu dan energi saja.

Sebetulnya apa saja yang mungkin didapatkan oleh si kecil saat menonton TV, coba simak berikut ini:

  • Menonton tv merupakan media dimana anak menyaksikan sesuatu yang berulang-ulang, misalnya pola prilaku tokoh-tokoh tertentu dalam sebuah film, pola kehidupan para orang dewasa (misalnya artis), pola kejahatan, dan lain sebagainya. Bukan tidak mungkin, akhirnya tanpa kita sadari, anak mengadopsi pola yang disaksikannya tersebut sehingga mempengaruhi cara berpikirnya, cara berbicaranya, cara mengatasi masalah, cara berinteraksi dengan orang lain. Kalau yang disaksikan mereka adalah sesuatu yang bersifat positif, tentu ada kebaikan yang dapat kita petik. Tapi bagaimana kalau yang dilihat berulang-ulang adalah tayangan yang sifatnya negatif, atau tidak sesuai dengan usia anak? Tentunya berpengaruh buruk juga pada perkembangan mereka.
  • Penelitian menunjukkan bahwa anak yang baru saja selesai menonton tv, mengalami kesulitan menekuni „tugas belajar“ atau permainan edukatif tertentu yang sifatnya membutuhkan waktu agak lama, seperti membaca, atau bermain puzzle. Dan anak yang memiliki pesawat tv dalam kamar pribadinya (otomatis pola menonton tv tidak terkendali oleh orang tuanya), memiliki prestasi akademis yang lebih buruk dibandingkan yang tidak melakukan hal yang sama.
  • Anak yang terlalu „nempel“ dengan si kotak ajaib, kehilangan kesempatan untuk bermain, belajar, berkomunikasi, berpikir, bersosialisasi dan berolahraga, atau dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya „active learning“.
  • Anak usia dibawah 6 tahun masih sulit membedakan antara khayalan dengan kenyataan yang ditampilkan di tv. Mereka belum mengerti membedakan sebab dan akibat.
  • Anak usia 6-9 tahun juga masih sering belum dapat menerima suatu tayangan sebagai suatu „rekayasa“, apalagi jika yang ditampilkan tersebut terjadi dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka juga sangat mengagung-agungkan idolanya.
  • Anak baru gede (alias ABG = remaja) sangat terpengaruh dengan tayangan yang sarat dengan unsur materi, dan mereka sangat tertarik pada tayangan yang memuat dunia mereka yaitu tentang pergaulan laki dengan perempuan, tentang hal-hal yang berbau seks dan juga gaya hidup remaja.
  • Anak dibawah 8 tahun „sangat percaya“ pada iklan yang dilihatnya, bahkan „termakan“ rayuan iklan yang belum tentu baik untuk tumbuh kembangnya.
  • Anak di segala usia akan terganggu dan tidak nyaman menyaksikan tayangan yang bermuatan kesadisan atau kekejaman, baik kejahatan yang menimpa binatang, menimpa anak seusianya, atau kejahatan yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Tayangan kejahatan dapat mengakibatkan anak menjadi lebih agresif dalam menyelesaikan masalah, atau mereka menjadi cemas / ketakutan jika membayangkan hal-hal tersebut terjadi dalam kehidupan sebenarnya, atau mereka malah menjadi individu yang „kurang sensitif“ terhadap adanya tindak kejahatan di sekitarnya.
  • Anak yang masih muda cenderung belum siap dan tidak dapat membedakan apakah berita yang terjadi di televisi akan sangat mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari atau hanya peristiwa yang mungkin terjadi namun langka.
  • Jika suatu berita terus ditayangkan berulang-ulang (misalnya: tsunami, gempa bumi, huru hara, dsb), anak bisa berpikir bahwa kejadian tersebut memang secara nyata terjadi berulang-ulang juga
  • Anak laki, anak yang menonton TV 3 jam atau lebih dalam sehari, dan anak-anak dengan latar belakang mengalami kekerasan dalam keluarga, serta anak dari keluarga yang tidak harmonis, merupakan kelompok anak yang paling rentan terpengaruh atas tayangan bermuatan kejahatan.

Kalau begitu, apa yang dapat kita lakukan sebagai orang tua agar mereka mendapatkan keuntungan maksimal dari kegiatan menonton tv, dan sebaliknya, meminimalisasi segala efek buruk yang mungkin didapat putra putri kita?

  • Ajarkan anak untuk ikut mengelompokkan tayangan-tayangan yang mereka sukai menjadi kelompok „Perlu ditonton“ (P), „Boleh ditonton“ (B), dan „Tidak bermanfaat ditonton“ (TB)
  • Ajak putra putri anda untuk ikut merencanakan tayangan mana yang akan ditonton, dan buat kesepakatan berapa jam sehari mereka boleh menonton. Arahkan mereka untuk memprioritaskan menonton tayangan kategori „P“, baru kategori „B“, dan sedapat mungkin meninggalkan tayangan kategori „TB“.
  • Dampingi selalu anak-anak saat menonton TV, pancing mereka agar terjadi dialog interaktif dengan orang tua dengan topik isi tayangan tersebut. Tanyakan apa yang mereka pikirkan tentang tayangan tersebut, dan sampaikan pendapat orang tua mengenai acara tersebut, dst.
  • Tanyakan perasaan anak setelah menonton tayangan tersebut, dan jika mereka menjadi agak stres setelah menonton tayangan tertentu, biarkan anak menceritakan apa yang dirasakannya, dan mengapa dia merasa seperti itu. Anak mungkin pernah mengalami hal yang sama sebelumnya, entah di lingkungan rumah, atau di lingkungan sekolahnya, yang telah membuat dia stres karena takut akan berulang lagi. Bicaralah pada mereka dengan lembut dan tenangkan.
  • Buat peraturan dimana TV tidak akan dinyalakan sebelum seluruh kewajiban selesai dilaksanakan (belajar, makan, les, dsb), atau jika memang belum jadwal nonton TV yang disepakati
  • Tempatkan TV di ruang keluarga, sehingga orang tua dapat mengontrol kapan anak menonton tv.
  • Hindari menonton tv saat sebelum berangkat sekolah, karena dapat berpengaruh terhadap „mood“ anak selanjutnya di hari itu dan mungkin anak jadi terburu-buru sarapan pagi dan tidak siap ke sekolah tepat waktu.
  • Hindari nonton tv berlebihan. Anak dibawah 2 tahun hanya sebentar saja menonton tv, anak usia pra sekolah kurang dari 1 jam per hari waktunya diperkenankan untuk menonton tv, sedangkan anak 5-8 tahun tidak lebih dari 1 jam per hari. Anak yang lebih besar, mungkin dapat diperkenankan menghabiskan 1,5 jam per hari untuk menonton tv.

Ingatlah, bahwa anak masih dalam taraf „meniru“. Jadi kebiasaannya menonton tv pun akan meniru kebiasaan orang tuanya. Jika anda tidak dapat mengendalikan diri di depan putra putri anda, tentu sulit bagi mereka untuk membatasi diri.

Jadi…., boleh aja si kecil nonton tv, tapi…….DAMPINGI YUK !!

Oleh: dr. Kristiantini Dewi, S.PA

indiGrow Child  Development Center

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.